
Ending Scene: Wanita Terakhir di Hati Presdir
Bab 3
***
“Pak Hary tidak bisa bantu papa untuk bebas?” tanya Kirei.
Hary menghela napas berat, dan langsung menggelengkan kepalanya. “Maaf, Kirei. Saya tidak bisa membantu lagi, dan saya juga bukan kuasa hukum dari Tuan Nakomoto lagi.”
Kirei tersenyum tipis, dia tahu semenjak papanya masuk penjara, Hary Tobing bukan jadi kuasa hukum dari papanya lagi. Pria itu seolah lepas tangan dan tidak mau tahu lagi dengan urusan papanya. Padahal dulu bisa dibilang Hary adalah orang yang sangat loyal pada keluarga besarnya. “Bapak masih menganggap kami keluarga, kan?”
“Maaf, Kirei. Saya memang menganggap kalian itu seperti saudara, tapi situasinya berbeda kali ini. saya tidak mau mengorbankan karier saya hanya karena membela seorang penipu, saya tidak mau mengorbankan nama baik saya selama jadi lawyer.”
“Tapi papa saya difitnah, Pak. Ada orang yang sengaja menjebak papa saya agar perusahaan jatuh ke orang lain. Papa saya bukan seorang penjahat,” tukas Kirei dengan suara yang bergetar.
“Maaf. Tapi semua bukti terlalu kuat dan saya tidak mau ambil resiko, saya yakin tidak ada pengacara yang mau membantu Tuan Nakomoto meski dibayar mahal karena kasus ini jadi isu yang hangat saat ini,” balas Hary.
“Jadi Pak Hary benar-benar menolaknya?”
Hary langsung mengangguk. “Maaf, saya memang tidak bisa,” balasnya. “Saya pamit duluan karena ada klien yang ingin bertemu, saya doakan semoga Tuan Nakomoto bisa menerima dengan lapang atas kasusnya saat ini,” tambahnya sambil beranjak dari duduknya dan langsung pergi begitu saja.
Kirei menatap kepergian Hary dengan perasaan yang kecewa luar biasa, padahal hanya Hary lah, satu-satunya harapan untuk bisa membebaskan papanya dari jerat hukum. Di saat semua orang meninggalkan keluarganya yang sedang terpuruk, Kirei pikir hanya Hary lah yang tulus, nyatanya sama saja. Hary dan yang lainnya langsung mencampakan keluarganya. “Kalian sama saja! Bajingan,” lirihnya tanpa sadar. Kirei mengatur napasnya agar bisa menormalkan hatinya, dia tidak boleh larut dalam kesedihan, dia tidak ingin pasrah dengan keadaan karena hanya dirinya lah satu-satunya harapan untuk keluarganya. Kirei ingin mengembalikan semuanya, dia ingin papanya bebas dari penjara, dan Cleopatra-kakak satu-satunya bisa sadar dari komanya, dan dia ingin melihat senyum mengembang di kedua sudut mamanya. “Aku janji akan mengembalikan keadaan seperti semula lagi, aku tidak akan membuat luka menghampiri kalian. Tunggu aku ya! Aku pasti akan berjuang demi keluarga kita,” lirihnya.
Kirei langsung berlari ke toilet café karena dia ingin bersembunyi, wanita itu ingin menangis seorang diri, dia tidak ingin siapapun melihat tangisannya. Kirei langsung masuk ke toilet, dia langsung menangis. Tak berselang lama samar-samar ada suara seseorang yang sangat familiar. Kirei langsung menempelkan daun telinganya di dingding kamar toilet dan benar saja suara itu adalah suara Andien, mantan calon mertuanya! Kenapa Andien menyebut namanya?
***
“Bagus, Pak Hary. Saya senang karena Bapak tidak sudi membantu keluarga pembohong itu. Pak Nakomoto memang terlibat skandal penipuan, penggelapan pajak yang membuat negara kita rugi, kalau Pak Hary membantunya ya reputasi Bapak sebagai lawyer top akan dinilai buruk oleh masyarakat,” ucap Andien diujung telepon. “Pak Hary, saya begini bukan karena Sky dulu sama Kirei ya! Saya hanya ingin menyelamatkan Bapak saja. buktinya keluarga kami selamat dan Sky tidak jadi menikah dengan Kirei. Saya bersyukur karena saat ini Sky dan Luna akan menikah, nanti saya undang Bapak ya!”
“Luna? Luna Claudya anaknya Pak Menteri?” tanya Hary.
“Iya, betul. Luna Claudya, anaknya Pak Dewa yang juga seorang pemilik MIT TV. Luna dan Kirei beda kelas, dan yang lebih layak jadi istrinya Sky ya hanya Luna saja,” jawab Andien.
“Wah, kalau Sky dan Luna menikah, pasti akan membuat publik heboh, dan juga perusahaan Ibu akan menjadi lebih kuat. Saya tidak sabar mendapatkan undangan pernikahan mereka.”
“Tenang saja, Pak. Saya pasti mengundang Pak Hary karena sudah mau membantu saya, dan saya tadi lihat kalau Kirei duduk melamun dengan raut wajah yang kalut. Saya senang karena dia mendapatkan karmanya. Terima kasih atas bantuannya,” balas Andien.
“Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu Ibu dan keluarga,” jawab Hary.
Panggilan telepon keduanya akhiri. Andien langsung membuka pintu toilet dan pergi dengan wajah yang sumringah.
Sedangkan di bilik kamar toilet lainnya ada seseorang yang menitikan air matanya dengan deras, dia tidak menyangka jika pertemuan tadi adalah pertemuan yang direncakan oleh Andien. Kirei menepuk-nepuk dadanya yang sangat sakit. Dulu Andien sudah dia anggap seperti ibu kandungnya, bahkan biaya pergi ke Paris saat itu dia tanggung, dan saat itu Andien terus saja memujinya sebagai wanita idela bagi Sky. Tapi, kenapa seuanya berubah? Kenapa semua orang seakan membunuh bahagianya?
“Kata kalian kalau kepedihan yang kami ini adalah karma?” tanya Kirei dengan suara terisak. “Aku akan membuktikan bahwa karma akan berbalik menuju kalian, aku tidak akan membiarkan kalian menari-nari di atas luka kami. Aku tidak akan membiarkan kalian tertawa bahagia lebih lama. Lihat saja!”
***
“Mereka sudah bergerak dengan cepat, dan juga Nyonya Andien sudah mendapatkan banyak dukungan agar Sky naik jadi presiden direktur yang sah,” ucap Thomas.
“Dia tidak akan jadi presdir jika belum menikah dan mempunyai anak laki-laki,” balas River.
“Tapi Tuan. Ini… “ Thomas menjeda ucapannya, kali ini dia bingung menjelaskan semuanya pada atasannya itu.
“Katakan semuanya apa yang ingin kamu katakan! Jangan merasa sungkan, aku tidak masalah,” ucap River.
Thomas menghela napas panjang, dia tahu pasti apa yang nanti akan dia katakan membuat tuannya itu terluka lagi. “Tuan… saya… “
“Kamu tahu kalau aku benci dengan orang yang bertele-tele?” tanya River.
Thomas mengangguk. “Nyonya Andien sudah mendapatkan dukungan penuh dari MIT Group, dan keduanya akan bekerja sama untuk membangun bisnis kerajaan yang baru.”
“MIT Group? Pak Hutama Cakrawala?”
“Iya, Tuan. Pak Hutama langsung memberi pinjaman modal pada Tuan Sky karena putri mereka akan menikah dengannya,” balas Thomas, volume suaranya merendah, dia tidak tega mengatakan kalimat yang baginya itu pasti luka untuk River.
River terdiam beberapa detik, dia menghela napas panjang. “Luna yang akan menikah dengan Sky?”
“Iya, Tuan. Kedua pihak keluarga sudah bertemu, dan pertemuan minggu depan akan membahas tentang lamaran dan juga hari pernikahan keduanya.”
“Luna menyetujuinya?”
“Iya, Nona Luna menyetujuinya, bahkan kemarin malam Nona Luna dan Tuan Sky sudah mengadakan pertemuan dengan pergi kencan,” balas Thomas.
“Berarti kita harus selangkah lebih cepat dari rencana mereka. Aku harus menikah lebih cepat agar posisiku sebagai presdir tidak tergeser oleh Sky,” tukas River. “Dia harus mempunyai anak laki-laki untuk jadi presdir, sedangkan aku hanya butuh menikah saja. Jadi, posisi itu memang ditakdirkan untukku!” tambahnya dengan suara berat. “Thomas, aku ingin segera bicara dengan wanita itu, dan kuharap dia setuju dengan kerja sama yang akan kutawarkan untuknya. Atur pertemuan rahasiaku dengannya, dan juga dengan Paman Albert!”
“Baik, Tuan.”
“Biarkan aku sendiri sampai besok pagi, jangan biarkan siapapun masuk ke kamarku!” perintah River.
“Baik, Tuan,” jawab Thomas. Pria itu langsung pergi meninggalkan River yang masih duduk di atas kursi roda. Thomas menatap sejenak tuannya yang masih mengenakan kacamata hitamnya itu. Hatinya perih karena kemalangan terus saja dirasakan oleh River. Thomas sudah berjanji pada dirinya. Jika dia akan mengabdi dan mengorbankan segalanya untuk menjaga River.
Sedangkan River masih termenung di atas kursi rodanya. Dia mengembuskan napasnya dalam-dalam. Kenangan bersama cinta pertamanya itu langsung terekam di pikirannya. Kenapa malam uini dia sangat terluka dalam?
***
Anda Mungkin Juga Suka





