
Edoraded Distance
Bab 2
Rio tertawa pelan, namun hal yang mengejutkan sekar mendekati ku. Wajah nya yang semula menunduk tiba-tiba terangkat ke atas.
"Senior, kamu tidak papa?, apa kamu sakit..?" ucap sekar, aku tertegun saat kedua mata ku bersitatap dengan safire mata sekar.
Safire mata sekar terlihat berbinar, aku tak bisa berkutik kala itu. Aku tertegun sesaat, "Senior.." ucap sekar, "Eh.." aku tersadar.
Ku turun kan tangan ku dari wajah ku sendiri, aku dan dia saling menatap. Sekar terlihat cemas, "Apa ini yang di namakan perhatian?" batin ku.
"Eh, aku ngak papa.." ucap ku. Sekar tersenyum, "Syukurlah, jika senior baik-baik saja.." ucap nya. Aku tersenyum.
Tint..tint..!!
Suara klakson mobil membuyarkan fikiran ku, kami bertiga seketika menoleh ke arah jalanan. Sebuah taxsi sudah berhenti tepat di dekat kami, "Akhir nya, taxsi nya datang juga" ucap sekar.
Sekar langsung menghampiri taxsi itu, dia hendak membuka pintu nya. Namun sekar berhenti lalu menoleh ke arah ku dan Rio, dia tersenyum ke arah kami.
"Senior, aku duluan ya. Sampai jumpa lagi..!" ucap sekar. "Ya, sampai jumpa.. " ucap Rio lantang, aku enggan untuk menjawab kata perpisahan dari sekar. Aku terdiam sambil terus menatap sosok nya yang mulai masuk ke dalam taxsi.
Rio tiba-tiba menghalangi pandangan ku, aku pun merasa terganggu. "Mingir, aku masih pengen lihat dia..!!" ucap ku sedikit ngegas, Rio mengacuhkan perintah ku.
"Mingir dulu gih, aku mau lihat dia..!" ucap ku setengah marah. Rio menghela nafas nya, aku mencoba mendorong tubuh nya agar menyingkir dari pandangan ku.
"Kamu mau sampai kapan diam begini, usaha dikit donk jadi cowok. Kata nya suka, kog diem aja tadi..?" ucap Rio, aku tersentak.
"Maksut mu apa..?"ucap ku, aku menatap nya jengah. Rio menatap ku tajam, sorot mata nya terasa menekan ku. "Dengar ya bang, dari pada kamu ngelihatin dia terus. Lebih baik kita ikut saja taxsi itu, supaya kita tau alamat rumah nya..!" ucap Rio.
Aku terhenyak, "Astaga, kenapa aku ngak kefikiran sampai ke situ ya haha.." ucap ku.
Rio menghela nafas nya, "Kamu sih terlalu polos jadi cowok, seharus jadi cowok tuh gerak cepat, sat set gitu..." ucap Rio.
"Ah, terserah lah. Yuk, ke mobil..!" ucap ku, ku tarik tangan Rio agar dia mengikuti ku hingga sampai ke mobil ku yang masih terparkir di parkiran.
Aku dan Rio segera masuk ke dalam mobil, dengan sangat tergesa ku lajukan mobil ku ke arah barat.
Ku kemudikan mobil ku melewati jalanan pusat kota S, mata ku ku edarkan ke segala arah sambil mencari-cari keberadaan taxsi itu. "Ya tuhan, semoga saja taxsi tadi bisa ku kejar.." batin ku.
Tiba-tiba Rio berteriak sambil menujuk-nunjuk ke arah selatan, "Bang! Bang!, itu dia taxsi nya.Di sana..!" ucap Rio.Langsung ku edarkan pandangan ku ke arah selatan, terlihat jelas taxsi itu mulai bergerak masuk ke dalam kompleks Taman Sari.
Langsung ku tancampatkan lagi gas pada mobil ku, ku percepat laju nya agar kami tak tertinggal. Mobil ku mulai berbelok ke arah selatan dan bergerak masuk ke dalam area kompleks.
Kini mobil ku berada tepat di belakang taxsi itu, komplek taman sari sangatlah luas. Ku lewati jajaran bangunan rumah di sisi kiri dan kanan yang nampak berdiri kokoh.
"Bang, bang. Mobil nya jangan terlalu dekat ya, takut nya nanti kita ketahuan..!" ucap Rio, aku melirik nya. "Kamu tenang saja, aku ahli dalam hal ini.." ucap ku.
Rio tersenyum tipis, "Ahli dari mana nya, ketemu cewek aja kayak robot.." batin Rio.
Pelan-pelan taxsi yang ku ikuti mulai berhenti di depan rumah No. 12, dengan cepat ku hentikan mobil ku di depan rumah no. 10.
Aku dan Rio masih mengawasi taxsi itu, tak berselang lama seorang gadis bergerak keluar dari dalam taxsi. Ya, gadis itu adalah sekar. Sekar baru saja keluar dari taxsi itu lalu mengobrol sebentar dengan sang sopir.
Setelah itu, taxsi nya beranjak pergi. Namun ada yang aneh sekar tak kunjung masuk ke dalam rumah. Dia masih berdiri di depan gerbang, tiba-tiba dia menoleh ke arah mobil ku.
Aku dan Rio langsung gelagapan, "Duh, dia lihat ke sini lagi. Mampus kita..!" ucap ku. Aku dan Rio saling pandang, kami merasa seperti maling yang ke pergok.
"Bang, lebih baik kita segera pergi dari sini. Dari pada kita ketahuan, yang penting kita sudah tau alamat rumah nya.." ucap Rio.
"Ya, ya okay.." ucap ku, aku pun segera menyalakan mobil ku, mobil ku perlahan beranjak pergi dari tempat pemberhentian ku tadi.Di sisi lain sekar nampak berjalan masuk ke dalam rumah nya, aku merasa lega melihat nya.
_________________________________________
Sekar
Sekar menghentikan langkah nya, ia berhenti tepat di depan teras rumah. Ia terdiam sesaat lalu menoleh ke arah gerbang.
"Mobil tadi, rasa nya aku pernah melihat nya. Tapi, di mana ya..?" batin sekar. Sekar mencoba mengingat-ingat ingatan nya, namun hasil nya nihil.
Sekar menghela nafas nya, "Hah, kenapa aku jadi kefikiran mobil itu ya. Toh, bukan urusan ku juga.. ".Sekar mengusap-usap kepala nya, sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
_________________________________________
Kevin
Di tengah perjalanan, Rio berniat mengajak ku nongkrong di coffee shop terdekat." Bang, kita jangan pulang dulu ya, gue masih pengen nyebat nih. Mampir ke coffee shop deket sini yuk ..!" ucap Rio.
Aku melirik nya, lalu ku anggukkan kepala ku. Ku kemudikan mobil ku menuju sebuah cafe yang tak jauh dari persimpangan jalan, tepat nya mobil ku berhenti di cafe Retro.
Ckitt, setelah mobil ku berhenti. Aku dan Rio beranjak keluar dari mobil kemudian melangkah masuk ke dalam cafe.
20.01 a.m.
"Bang, duduk di situ yuk..!" ucap Rio sambil menujuk-nunjuk ke arah meja kosong dekat jendela. "Ya, ayo.." ucap ku. Aku pun mengekori Rio hingga akhir nya kami duduk di sana, di tempat pilihan nya.
Aku dan Rio duduk berhadapan, Rio mulai nyebat di depan ku. "Bang, lo mau rokok ngak. Gue ada Malioboro nih, rokok kesukaan lo kan..?" ucap Rio sambil meletakkan sebungkus rokok ke atas meja.
"Aku ngak deh, lo aja.."ucap ku. Entah kenapa aku mendadak tak selera malam itu, ku biar kan saja Rio menikmati sendiri nikmat nya rokok Malioboro, rokok favorite ku.
Sejujur nya aku masih berkutat pada fikiran ku. Sudah lama sekali, sekitar 7 tahun sudah berlalu namun kenyataan nya rasa cinta ku pada sekar masih tetap sama.
Masih ada benih cinta untuk nya..!.
Anda Mungkin Juga Suka





