
Duri Pernikahan
Bab 2
Selama ini, aku selalu menjadi seorang instruktur yoga yang sabar.
Tapi ucapan barusan benar-benar membuatku tersinggung.
Aku jadi tidak bisa mengendalikan nada bicaraku yang menjadi lebih ketus.
"Rachel, kamu jangan asal bicara, ya. Kelas hari ini sudah selesai, silakan pulang."
Aku sebenarnya ingin memberikan jalan keluar agar kami bertiga tidak terlibat pertikaian.
Tapi Rachel malah tidak terima, dan makin menjadi-jadi.
Dia mengangkat alis dan mulai berlagak di depanku.
Dengan nada memelas dia berkata padaku, "Bu Nada, tolong jangan usir aku, ya?"
"Aku sudah salah karena lancang bicara. Seharusnya aku tahu kalau Bu Nada kan sukanya bercanda dengan murid laki-laki daripada membimbingku."
"Kalau Bu Nada tidak mau mengajariku yoga lagi, aku harus belajar yoga ke mana ...."
Rachel mengatakannya dengan tubuh yang terlihat lemah, seolah bisa jatuh kapan saja ke tubuh Nathan.
Perempuan ini terus saja menguji kesabaranku.
"Pak Nathan, biarkan saja Bu Nada pakai pakaian terbuka di sini, ya?"
"Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa tadi. Tolong beri aku kesempatan untuk tetap di sini."
"Aku pernah dengar, Bu Nada pernah ikut kelas belajar menjadi sosialita, dan katanya kelas yoga adalah kelas wajib dan paling eksklusif. Bu Nada benar-benar hebat, makanya aku mau terus belajar yoga darinya."
Raut wajahku langsung berubah saat mendengar ucapan barusan, "Rachel, sebenarnya apa yang sedang kamu ...."
Tapi Nathan yang marah, lebih dulu memotong ucapanku, "Kenapa? Kamu masih mau menyangkal?"
"Pakaian instruktur yoga profesional katamu? Lihatlah gadis ini, dia masih tetap berpakaian sopan, sedangkan kamu, perempuan yang sudah menikah, malah pakai baju terbuka begitu?"
Aku hampir tertawa karena marah dan tidak percaya.
Pakaian ini kan cuma memperlihatkan pusar saja, apa terlalu terbuka?
Pakaian ini dibuat agar pemakainya bebas bergerak dan tidak panas saat dipakai, serta nyaman untuk bernapas saat berolahraga.
Aku rasa tidak ada yang salah dengan pakaian ini.
Sedangkan Rachel, sebelumnya kukira dia adalah seorang gadis polos yang baik.
Hingga suatu hari, aku melihat fotonya di akun sosial media temanku yang kaya raya.
Dari situlah, aku akhirnya melihat foto-foto yang dia bagikan di media sosial.
Aku sama sekali tidak menyangka.
Dia bisa memakai rok super pendek di sebuah acara resmi. Roknya sampai membuat orang tidak nyaman melihatnya.
Dia juga memakai atasan dengan kerah v.
Kerahnya amat terbuka, terlihat betul kalau dia sedang mencari perhatian.
Padahal dia suka terlihat seperti wanita baik-baik kalau di studio yoga. Namun, aku juga tidak membongkar kepura-puraannya.
Siapa sangka dia akan berani bertingkah seperti sekarang.
Rachel sendiri suka pakai pakaian terbuka di luar sana, tapi malah menyebut pakaian yogaku yang masih terbilang wajar ini, sebagai pakaian terbuka.
Dia sengaja mengatakan banyak hal tidak masuk akal di depan Nathan.
Aku menatap tajam Nathan, lalu berpaling menatap ke arah Rachel.
"Rachel, jelaskan padaku, dari siapa kamu mendengar hal barusan?"
"Aku sudah latihan yoga sejak kecil, apa hubungannya dengan kelas belajar menjadi sosialita yang kamu bicarakan?"
Suaraku terdengar naik satu oktaf.
Rachel langsung memasang wajah ketakutan.
Dia segera meminta maaf dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "Maaf ... Bu Nada, ini salahku yang bicara tanpa berpikir panjang. Bu Nada kan nggak belajar yoga dari kelas menjadi sosialita, tapi memang sudah terlahir dengan bakat yoga. Ah, nggak, maksudku, sudah latihan yoga sejak kecil."
Aku tidak tahu apa yang membuatnya jadi gagap begitu.
Penjelasannya barusan sama sekali tidak membantu.
Raut wajah Nathan makin suram, seperti ketika cuaca mendung.
Rachel masih belum selesai dengan dramanya. Dia langsung berlutut di depanku.
"Bu Nada, maafkan aku. Ini salahku yang nggak bisa menjaga rahasia ... ah, nggak, maksudku, aku salah ingat."
"Aku sangat suka yoga. Bu Nada, tolong biarkan aku tetap di sini."
"Aku nggak seperti Bu Nada yang kaya raya, hingga bisa membuka studio yoga sendiri, bahkan mengumpulkan para pemuda tampan yang disukai ... uh, em, a ... maksudku, bisa mengajarkan yoga yang Bu Nada sukai ...."
"Aku hanya gadis biasa yang berusaha mandiri tanpa menghabiskan uang pria."
"Aku nggak tahu kenapa Bu Nada nggak terlalu suka dengan murid perempuan, tapi aku sangat suka belajar yoga di sini."
Ucapannya yang tidak masuk akal ini benar-benar membuatku marah dan mau tertawa mendengarnya.
Aku meliriknya dengan tidak habis pikir.
Akan kuberi perhitungan dia nanti.
Tapi lebih baik aku menjelaskan semuanya pada Nathan dulu.
Namun, Nathan malah langsung mendorong bahuku saat aku berusaha mendekatinya. Dia terlihat marah besar.
"Nada, jadi ini yang kamu sembunyikan dariku?"
"Kamu ikut kelas belajar menjadi sosialita, lalu pura-pura jadi sosialita palsu demi menipuku dan keluargaku?"
Aku tentu tidak terima dengan ucapan Nathan barusan.
Tapi aku tetap bersabar dan berusaha memberikan penjelasan.
"Kelas belajar menjadi sosialita? Kamu percaya hal itu begitu saja?"
"Selain itu, aku juga selalu adil dalam membimbing muridku. Aku nggak pernah mengistimewakan salah satu dari mereka."
"Kita sudah bertahun-tahun hidup bersama, apa kamu masih nggak mengenal seperti apa diriku?"
Nathan mengerutkan kening dan enggan menerima penjelasanku.
"Kalau begitu, coba jelaskan kenapa muridmu tiba-tiba bilang seperti barusan?"
"Bukankah selama ini kamu sering membanggakan dirimu yang luar biasa?"
Aku juga jadi bingung harus menjawab apa kalau ditanya seperti ini.
Aku tahu ada banyak gosip di antara orang-orang kaya. Tapi tidak kusangka kalau kerikil pertama yang muncul dalam kehidupan pernikahanku, akan datang dari murid yang paling kusukai, Rachel.
Saat melihatku diam saja.
Rachel kembali bersikap aneh.
Dia membungkuk pada Nathan dan berkata, "Tolong hentikan, Bu Nada bisa membenciku nanti! Aku cuma ingin belajar yoga dengan baik ...."
Anda Mungkin Juga Suka





