
Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan
Bab 8
Yovan terkejut dan refleks melirik Rachel melalui kaca spion.
Rachel menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah dan tidak berani berkomentar.
"Asistenku menggunakan mobil ini beberapa hari yang lalu. Kurasa dia membiarkan orang lain duduk di kursi ini. Aku pasti akan memarahinya nanti," ujar Yovan berpura-pura tenang.
"Sungguh?"
"Bagaimana kalau aku minta asistenku menemuimu besok untuk menjelaskannya?"
"Nggak usah."
"Sayang, kamu boleh mencurigai pria lain berselingkuh, tapi kamu nggak boleh mencurigaiku, karena aku paling mencintaimu."
"Paling mencintaiku? Jadi, selain aku, kamu juga mencintai orang lain?"
"Kata yang aku gunakan salah. Seharusnya, aku hanya mencintaimu."
Kiana berpura-pura berhasil dibujuk, lalu dengan senang hati mengamati lipstik itu.
"Eh, merek ini sering dipakai Rachel."
Rachel terperanjat. "Be… benarkah?"
"Hm, sepertinya pacar Pak Steven Andrea punya selera yang bagus."
Begitu sampai di kompleks perumahan mewah, di mana Rachel tinggal, Kiana bilang dia khawatir dan meminta Yovan untuk mengantar sahabatnya sampai ke atas.
Setelah keduanya naik ke atas, Kiana memiringkan kepalanya dan melihat ke jendela rumah Rachel, yang segera menjadi terang benderang.
Dia menyipitkan matanya. Apa yang akan mereka berdua lakukan di sana?
Mungkin keduanya akan berpelukan dan saling menenangkan. Lagian, dia sudah membuat keduanya ketakutan di sepanjang perjalanan. Mungkin keduanya sudah basah oleh keringat.
Namun, demi mencegah Kiana curiga, Yovan tidak tinggal lama dan langsung turun.
Mobil meluncur dan membawa keduanya pulang ke rumah. Saat mobil berhenti di garasi bawah tanah, Kiana membalikkan badan dan duduk di atas kaki Yovan.
"Sayang, sudah berapa lama kita nggak melakukan itu?"
Rambut panjangnya tergerai dan mengenai wajah Yovan.
Yovan memegang pinggang Kiana dengan kedua tangannya. Pria itu langsung tersentuh.
"Kiana, aku mencintaimu."
"Aku tahu."
Yovan mengulurkan tangannya ke bawah rok Kiana. Namun, baru saja Yovan menyentuh kakinya, dia langsung dicengkeram oleh Kiana.
"Ada apa?" Napas pria itu agak memburu.
Kiana berusaha menahan rasa jijik. Dia tersenyum pada Yovan, lalu bergerak mendekati leher pria itu, dan hendak menciumnya...
Yovan mengeratkan cengkeraman di pinggang Kiana, seakan menunggu untuk diberi hadiah oleh wanita itu. Seluruh tubuhnya melonjak kegirangan. Detik berikutnya…
"Sayang, kenapa ada bekas di lehermu? Apa karena terbentur? Eh, kalau terbentur, seharusnya bukan seperti ini. Tunggu sebentar, aku foto pakai ponselku."
Kiana buru-buru mencari ponselnya di tasnya. Yovan tiba-tiba teringat sesuatu. Dia merasa marah, cemas, dan juga bersalah.
"Mu... mungkin itu gigitan nyamuk. Ayo kita ke atas dulu."
Tanpa menunggu Kiana mengatakan apa pun, Yovan bergegas membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu.
Kiana mencibir dalam hati. Rachel sudah diprovokasi olehnya malam ini. Tak disangka, Rachel berani berinisiatif membongkar kebenaran, tetapi Kiana tidak akan termakan tipuannya.
Setelah kembali ke rumah, ayahnya Yovan sudah beristirahat, jadi mereka berdua langsung naik ke atas.
Yovan mandi di kamar tamu. Selesai mandi, dia bilang dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi dia meminta Kiana untuk tidur lebih dulu. Pria itu pun pergi ke ruang kerja.
Kiana berbaring di tempat tidur. Dia menggunakan ponselnya untuk melihat rekaman CCTV di ruang kerja.
Yovan memasuki ruang kerja. Pria itu menendang kursi dengan marah, tetapi dengan cepat meluruskannya karena takut mengejutkan Kiana. Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon Rachel. Begitu Rachel mengangkat telepon, pria itu langsung menggeram. "Rachel, kamu sengaja melakukannya, 'kan? Kamu sengaja meninggalkan bekas di leherku agar Kiana sadar dan membongkar hubungan kita berdua?"
Entah apa yang dikatakan Rachel di ujung sana, Yovan langsung memukul meja dengan marah. "Sudah kubilang, aku akan jujur pada Kiana. Jadi, kamu nggak usah ikut campur!"
"Aku sudah menikah denganmu dan membiarkanmu memiliki anak, apa kamu masih belum puas? Yang kuberikan pada Kiana hanyalah cinta. Kamu masih ingin merebutnya?"
"Jangan gunakan trik seperti ini lagi. Kalau nggak, aku nggak akan segan-segan lagi!"
Selesai berbicara, Yovan menutup telepon. Pria itu duduk di kursi dan mengepalkan tangannya dengan marah.
Kiana merasa geli sekaligus tidak tahu harus berkata apa. Benarkah Yovan mencintainya? Ya, tentu saja. Namun seperti yang Yovan katakan, itu tidak menghalanginya untuk menikah dengan wanita lain dan punya anak dengannya.
Anda Mungkin Juga Suka





