
Dua Takdir, Satu Malam
Bab 2
Beberapa bulan berlalu sejak hari-hari kelam itu. Kyra, meskipun terpuruk, berusaha untuk bertahan. Setiap pagi, ia berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, meski selalu berakhir dengan penolakan. Setiap pintu yang ia coba buka selalu tertutup rapat, dan setiap hari rasanya semakin sulit untuk mengabaikan kenyataan bahwa ia sedang membawa seorang anak-tanpa sumber daya apapun, tanpa dukungan siapa pun.
Hari demi hari berlalu dengan peluh dan air mata, namun Kyra tetap berdiri. Ia mulai menumpang tinggal di rumah seorang teman lama yang bisa memberikan sedikit perlindungan, meskipun dalam kondisi yang tak lebih baik. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, ia mencoba yang terbaik untuk menjaga kandungannya.
Pernah ia menangis semalaman, merasa hancur, namun keesokan harinya ia bangun, mencoba menata kembali hidupnya dengan kekuatan yang ia temukan dalam dirinya sendiri. Setiap kali rasa putus asa datang menggerogoti, ia teringat pada ibunya yang sakit parah, yang selalu menjadi alasan ia harus tetap hidup, harus tetap bertahan.
Namun, kehidupan memang tidak pernah bisa ditebak. Suatu pagi, saat Kyra tengah berjalan menyusuri jalan setapak menuju toko kelontong, tak sengaja ia berpapasan dengan Damar.
Kyra terkejut melihatnya. Damar, yang selama ini hanya ia kenal sebagai seorang pria yang memegang kendali atas segala sesuatu, kini berdiri di hadapannya. Tentu saja, ia mengenali Kyra. Meskipun tak melihat Kyra sejak hari itu, wajahnya tak pernah bisa dilupakan. Di matanya, Kyra adalah wanita yang telah merusak segalanya-setidaknya, itu yang ia percayai.
Damar terdiam sejenak. Seakan dunia berputar terlalu cepat. Ia tidak mengira akan bertemu dengan Kyra di tempat seperti ini, di jalan yang sepi, dengan wajah yang tampak berbeda-lebih dewasa, lebih tegar. Kyra yang dulu selalu tampak takut dan rapuh kini terlihat lebih kuat, meskipun ia tahu bahwa Kyra membawa banyak luka yang tersembunyi.
Kyra menundukkan kepala, berusaha untuk menghindari tatapan Damar. Ia tahu betul bahwa pertemuan ini akan mengungkit semua luka yang ia coba sembunyikan. Namun, Damar memanggilnya dengan suara yang penuh tekanan.
"Kyra," ucapnya pelan, membuat Kyra berhenti. "Kau... kau terlihat berbeda."
Kyra terdiam. Rasanya tidak ada kata yang cukup untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Bahkan jika ia mencoba berbicara, kata-kata itu tidak akan cukup untuk menjelaskan penderitaan yang ia alami selama ini. Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan, menghindari tatapan Damar.
"Kau... apa yang terjadi denganmu?" Damar bertanya, meskipun nada suaranya terasa seperti sebuah perintah, lebih dari sekedar pertanyaan.
Kyra menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir menetes. Apa yang harus ia katakan pada pria yang telah menghancurkan hidupnya? Apa yang bisa ia katakan kepada orang yang telah membuatnya kehilangan segalanya?
"Saya..." Suaranya serak, hampir tak terdengar. "Saya hamil."
Kata-kata itu menggantung di udara, menghantam Damar seperti petir. Semua rasa marah dan kebencian yang pernah ia rasakan terhadap Kyra seolah sirna dalam sekejap, digantikan dengan rasa bingung yang mendalam. Ia terdiam lama, memandang Kyra seolah tidak percaya. Tidak mungkin. Kyra hamil? Hamil oleh siapa? Oleh dirinya?
"Damar..." Kyra melanjutkan dengan suara yang gemetar, "Saya... saya tidak tahu apa yang terjadi malam itu, tapi saya tahu satu hal, saya... saya tidak ingin ini terjadi. Tidak seperti ini."
Damar merasa seluruh tubuhnya kaku, tidak tahu apa yang harus ia katakan. Hatinya bergejolak. Ia tidak tahu harus merasa marah atau kasihan. Selama ini, ia hanya melihat Kyra sebagai seorang yang telah mengkhianatinya, namun kenyataan baru ini-bahwa ia akan menjadi seorang ayah-mengubah segalanya.
"Maksudmu..." Damar mencoba mencari kata yang tepat. "Kamu... hamil anak saya?"
Kyra mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di matanya. "Saya tidak ingin ada masalah lagi, Damar. Saya hanya ingin hidup saya kembali normal."
Damar merasakan sebuah keheningan yang berat. Sebuah keheningan yang penuh dengan kebingungan dan penyesalan. Ia ingin berteriak, mengutuk, namun di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang merasa terluka lebih dalam daripada sebelumnya. Semua yang telah terjadi, semua yang telah ia lakukan, kini menghadirkan sebuah kenyataan yang jauh lebih rumit dan lebih menyakitkan.
Sementara itu, Kyra menunggu reaksi Damar, meskipun ia tahu tidak ada jawaban yang akan membuat semuanya baik-baik saja. Tidak ada jalan yang mudah. Hidup mereka kini terjalin dalam sebuah takdir yang tak terduga.
"Kyra..." Damar akhirnya berbicara, namun suaranya terdengar seperti sebuah beban yang berat. "Kau tahu aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja. Tidak setelah semua yang telah terjadi."
Kyra menatapnya dengan mata yang penuh harapan dan ketakutan. Apa maksud kata-kata Damar itu? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Anda Mungkin Juga Suka





