Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Drive Back To December

Drive Back To December

Gayatri Rumi Rahardjo tak menyangka akan dipersunting kembali oleh mantan suaminya, William Alansyah, setelah tiga tahun berpisah. Demi rasa sayangnya pada mantan ibu mertua, ia sepakat membina rumah tangga untuk kedua kalinya. Namun, pernikahan ini dihantam tekanan perihal keturunan. Di tengah kemelut tersebut, Gayatri mencurigai rahasia besar yang disembunyikan William. Akankah kenyataan pahit ini memicu perceraian kedua yang ingin ia hindari?
Bab
Bagikan

Bab 3

(PoV Rumi)

Entah, aku tak sanggup mendeskripsikan perasaanku saat ini. Hancur semuanya. Tapi aku masih bersyukur karena kebusukan Henry terbongkar ketika aku belum menikah dengannya. Baiklah, aku harus segera kembali ke Jogja, menata hidupku lagi.

"Tenang ya, Rumi. Jodohmu pasti akan datang lagi suatu saat nanti," monologku, mencoba menguatkan diri sendiri.

Sebelum aku pergi, aku mengunjungi sebuah tempat yang mungkin saja tak akan ku datangi lagi. Ya, taman sakura favoritku. Tempat yang selalu berhasil membuatku tenang, dulu. Aku ingin sedikit melupakan bebanku dan pulang ke Jogja dengan perasaan lebih baik.

Ku hirup udara pagi hari kota ini. Tenang sekali. Kenapa lagi-lagi aku harus pergi membawa luka hati. Apa aku tak pantas bahagia? Ahh sudahlah, tak berguna juga aku meratapi nasibku.

"Rumi!" Panggil seseorang, aku menoleh pada sumber suara. Seorang pria tepat di belakangku. Pria yang sesungguhnya tak ingin ku temui lagi, terlebih sejak kejadian semalam.

"Mas Wilan!"

"Aku kira kamu sudah kembali ke Jogja, Rum. Boleh aku duduk di situ?" Aku menggangguk dan Mas Wilan segera duduk di bangku yang sama denganku.

"Nanti sore aku berangkat, Mas. Kamu ngapain disini?"

"Entah kenapa pagi ini aku ingin sekali kesini. Mengingat kejadian semalam, aku khawatir dengan perasaanmu. Dan ternyata kamu malah sudah disini lebih dulu."

"Aku sudah lebih baik, Mas. Semua ini memang sangat sulit. Hubunganku dengan Henry sudah cukup serius. Tapi, ya aku harus lupakan." Aku tersenyum, menertawai diri sendiri di tengah kegetiran ini.

"Oh ya, aku turut berduka atas kepergian Mama Ageng. Beliau orang yang sangat baik sekali. Pernah menjadi menantunya adalah sebuah kehormatan untukku."

"Makasih, Mas. Kamu tahu dari mana kalau Mama udah pergi?"

"Aku ke Jogja beberapa waktu yang lalu. Aku mampir ke rumah yang di Jalan Paris, ternyata sudah ditempati oleh Mas Karno dan keluarganya. Aku ngobrol banyak dengan Mas Karno, Rum."

"Iya, rumah itu dibeli Mas Karno karena dia percaya suatu saat aku bisa membeli rumah itu kembali."

"Kamu kok nggak hubungin aku waktu Mama Ageng meninggal?"

"Maaf, Mas. Kejadian itu sangat berat buat aku. Nggak kepikiran ngabarin kamu."

"Ehh, kamu mau main ke rumahku? Ya mumpung kamu di Surabaya. Aku nggak tahu apa kamu akan kesini lagi atau tidak setelah semua kejadian ini. Ada Mama lho di rumah."

"Mama udah nggak di Singapura?" Ibu mertuaku dulu memang tinggal di Singapura untuk menemani adik iparku sekolah disana.

"Udah 2 tahun ini Mama di Surabaya. Gimana?"

"Ngg, gimana ya."

"Kenapa?"

"Ya udah, boleh deh. Tapi aku nggak bisa lama ya, Mas."

"Oke. Ayo." Mas Wilan berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku meraih tangannya tapi segera aku lepaskan. Mas Wilan menyadari kegugupanku, dia berjalan lebih dulu di depanku.

Aku mengikuti langkah Mas Wilan menuju mobilnya. Sedikit takjub melihat mobil Mas Wilan yang sudah berganti dengan mobil sport keluaran terbaru sebuah brand ternama. Yang ku tahu harganya miliyaran rupiah. Dulu saat kami berpisah, Mas Wilan memang sedang merintis usaha ekspor-impor yang kini sepertinya sudah sukses.

"Rum, kenapa?" tanya Mas Wilan karena aku tak kunjung masuk mobilnya.

Aku tersenyum canggung, menyadari pikiranku telah berkelana sedikit jauh. "Maaf, Mas. Aku nggak papa kok." Aku segera masuk mobil, disusul Mas Wilan lalu mobil itu melesat pergi.

Mobil itu mulai memasuki perumahan rumah Mas Wilan. Perasaanku sangat berdebar seiring dengan kenangan-kenangan yang mulai hadir kembali. Aku terus saja memandang jalanan, banyak yang telah berubah rupanya.

Akhirnya kami sampai di depan rumah Mas Wilan. Aku memejamkan mata sebentar untuk menenangkan hatiku.

"Ayo, Rum."

"Iya, Mas."

Perlahan aku melangkahkan kaki memasuki rumah yang pernah menjadi tempat bahagiaku. Memori rumah ini memutar kembali di ingatanku bagai roll film. Tentang indahnya pernikahanku dengan Mas Wilan hingga hari kemurkaannya menalak cerai aku. Interior yang masih sama dengan saat aku tinggalkan dulu. Bahkan aroma pengharum ruangan yang masih sama kucium menambah obat rindu yang ku rasakan.

"Masya Allah, Nduk Rumi." Minda, ART Mas Wilan begitu terkejut melihat kedatanganku. Minda inilah yang memelukku erat hari itu saat Mas Wilan mengucapkan talak lalu pergi meninggalkan rumah. Minda terlihat semakin tua namun tetap cantik. Aku berhambur memeluk Minda.

"Rumi! Ya Allah, Nak. Ini Gayatri Rumi Rahardjo 'kan?" Kali ini Mama Arini yang langsung menangis melihat kedatanganku. Dia adalah Mama mertuaku, dulu. Aku juga segera memeluk beliau. Aku ingin tertawa sebenarnya mendengar Mama Arini menyebut lengkap namaku yang panjang itu. Dulu jika sedang menggodaku, Mama memang memanggil namaku selengkap itu. Lucu sekali.

"Sama siapa kamu, Rum?"

"Sama Wilan, Ma," sahut Mas Wilan yang muncul dari pintu depan. Aku memang masuk lebih dahulu karena Mas Wilan harus mengambil beberapa barang di bagasi mobilnya.

"Kok isa, Nyo? Ketemu ndek mana?" Mama Arini selalu memanggil Mas Wilan dengan sebutan Sinyo. (Kok bisa, Nyo? Ketemu dimana?)

"Panjang banget Mah critanya. Minda masak apa? Aku laper. Rumi juga kayaknya."

"Ya uwes, ayo makan dulu." (Ya sudah, ayo makan dulu)

Banyak yang kami ceritakan setelah makan siang. Tentang apa yang kami jalani setelah perpisahan itu. Dan hal yang sangat aku hindari terjadi. Mama membahas masa lalu kami dan tak lupa di akhir cerita Mama mengutarakan harapannya untuk Mas Wilan menikah lagi denganku.

Aku hanya tersenyum simpul. Mana mungkin itu dapat terjadi? Malam dimana aku bertemu Mas Wilan di restoran steak itu, dia duduk bersama dengan seorang perempuan. Setelah aku ingat lagi perempuan kemarin itu usianya terlihat jauh lebih muda dariku.

Ahh sudahlah, memang perempuan itu jauh lebih muda dan cantik dibandingkan denganku. Cocok dengan Mas Wilan yang masih saja tampan sejak dulu.

Dua jam lagi jadwal keberangkatan keretaku. Aku segera berpamitan pada Mama dan lagi, beliau menangis. Memintaku untuk tinggal di rumahnya semalam saja tak apa. Masih rindu katanya.

"Maaf, Ma. Tapi Rumi ada keperluan besok, jadi nggak bisa tinggal lebih lama," tolak ku.

"Wil, Mama masih kangen sama Rumi." Kali ini Mama merajuk pada Mas Wilan.

"Tolong ya, Rumi." Mas Wilan merajuk padaku. Memang ya ibu dan anak ini sedikit menyebalkan. Dengan berat hati kuputuskan untuk tinggal di rumah Mas Wilan. Tapi semalam saja, tidak lebih.

"Makasi, Rum. Mama seneng sekali. Kalau bisa lebih dari semalam usahain ya, Rum." Aku tersenyum menanggapi ucapan Mama Arini. Aku tak tahu harus bahagia atau sedih di perlakukan seperti ini.

***

Karena aku menginap di rumah Mas Wilan, jadi aku harus ke hotel untuk checkout dan mengambil barang-barangku. Aku di antar Mas Wilan. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Mungkin dia sedang berkonsentrasi dengan kemudi. Tapi aku, aku sangat berdebar. Berkali-kali aku meminta maaf pada jantungku karena telah membuatnya bekerja ekstra keras hari ini.

Aku masih asyik dengan lamunanku sampai aku mendengar intro sebuah lagu yang sangat aku kenal. Lagu Coldplay berjudul The Scientist sangat berhasil membawaku kembali ke masa lalu. Membuat rindu akan masa itu semakin besar. Mas Wilan memang sengaja menyalakan radionya. Kemudian dengan santainya Mas Wilan bernyanyi, meniruka suara vokalis itu. Astaga, apa dia sengaja?

Aku paling lemah untuk tidak ikut bernyanyi jika mendengar lagu ini. Ini adalah lagu favorit kami.

Aku akhirnya memberanikan diri untuk menatap Mas Wilan dan dia pun juga sedang menatapku. Kami bersilang pandangan.

"Kamu nggak nyayi? Masih suka 'kan sama lagu ini?"

"Masih kok, cuma lagi sakit tenggorokan," jawabku asal.

"Lhoh kamu sakit? Mau ke dokter?"

"Nggak usah, Mas. Aku minum vitamin sama banyakin air putih aja udah sembuh kok."

"Kalau mau ke dokter bilang ya." Aku mengangguk kemudian memejamkan mata untuk menikmati semua kenangan itu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BERBAGI RANJANG DENGAN KAKAK TIRI
8.2
Kebahagiaan rumah tangga Kenanga hancur seketika saat Dion, suaminya, mengkhianati janji suci mereka. Luka itu kian mendalam karena wanita yang menjadi selingkuhan Dion adalah kakak tiri Kenanga sendiri. Di tengah kemelut poligami yang menyakitkan, Devano hadir kembali. Sahabat masa kecilnya itu datang membawa perasaan lama dan mencoba mengejar cinta Kenanga. Kini, Kenanga terjebak dalam dilema antara mempertahankan pernikahan atau berpaling pada Devano.
Sampul Novel Black White Life
9.5
Zee Rain adalah gadis konglomerat yang terjebak dalam kesepian di balik kekayaan melimpah. Hidupnya penuh cobaan akibat perebutan kekuasaan licik yang berdampak buruk pada banyak pihak. Di tengah konflik harta tersebut, hadir bumbu asmara yang mewarnai perjalanan hidupnya. Akankah misi balas dendam dan pengungkapan fakta rahasia mampu mengakhiri penderitaannya? Ikuti perjuangan Rain dalam mencari kebahagiaan sejati di tengah misteri yang menyelimuti keluarganya.
Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Ruela sangat menjunjung tinggi kesetiaan, namun dikhianati oleh Frans, suaminya, yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih terpuruk, Ruela bangkit untuk membalas dendam. Tak disangka, takdir membawanya pada Felix, pemuda yang menghabiskan malam penuh gairah bersamanya. Di tengah kemelut hati dan ambisi untuk menghancurkan para pengkhianat, mampukah Ruela menuntaskan dendamnya? Sebuah kisah tentang luka, pembalasan, dan pertemuan yang tak terduga.
Sampul Novel Dari Pion Milik Pria, Menjadi Ratu Milik Wanita
9.5
Kania Halim, jurnalis pemberontak, terjebak dalam hubungan rahasia dengan CEO Elang Solehudin. Ternyata, ia hanyalah alat bagi Elang untuk melindungi Clara. Pengkhianatan Elang mencapai puncaknya saat ia membiarkan Kania dipenjara hingga membiarkannya terluka dalam kecelakaan demi menyelamatkan Clara. Sadar hanya menjadi beban yang dikorbankan, Kania bangkit dari kehancuran. Ia menghancurkan dunia Elang dan memulai hidup baru melalui pernikahan dengan miliarder lain.
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel Di Jual Suamiku
7.9
Apa yang akan Anda lakukan saat mahligai rumah tangga yang selama ini menjadi impian indah justru berubah menjadi kenyataan yang sangat rumit? Kisah ini mengikuti perjalanan emosional seorang wanita yang harus menghadapi lika-liku kehidupan pernikahan yang tak terduga. Alih-alih menemukan kebahagiaan sejati, ia justru terjebak dalam situasi pelik yang menguji kesabaran serta kesetiaannya sebagai seorang istri dalam menghadapi badai konflik.