
Dosen ku
Bab 3
"Terus apa? Coba kamu buka pintu dulu baru kamu cerita sama bunda nak" kemudian Zahra pun membukakan pintu kamarnya dan memeluk bundanya
"Hiks...hiks..." Tangisan Zahra yang mengeras sampai orang bawah mendengarkannya
"Ada apa sayang cerita sama bunda" bundanya mengelus kepala anaknya itu dengan penuh sayang"bos aku ngajak aku nikah Bun" bunda pun senang mendengarnya akhirnya anaknya bisa nikah
"Itu bagus dong akhirnya kamu nikah tapi kenapa kamu malah nangis Ra" bundanya pun bingung dengan anaknya seharusnya kan senang kenapa malah nangis gini
"Ihh bukan itu bunda aku gak cinta bunda dengannya baru kemarin kita ketemu dan kenapa malah dia langsung ngajak aku nikah aku gak mau salah pilih bunda"
"Kamu berdoa sama Allah semoga ini yang terbaik menikah dengan bos kamu bos kamu seperti apa sih bikin bunda penasaran aja deh" bundanya pun penasaran kaya gimana sih wajah calon menantunya itu
"Tapi bunda kalo aku ngajak nikah sama dia sama aja aku nyakitin sahabatnya dia juga menyukai aku bunda" ujar Zahra dengan bingung harus pilih yang mana
Disisi lain vino yang sedang berada dirumah membujuk Vani sarapan pagi tapi di tetap gak mau vino pun mengetuk pintu kamar Vani tapi tetap aja dia gak mau makan
"Sayang makan dulu yuk" ajak ayahnya itu yaitu vino yah dia sudah menganggap Vani itu ankanya
"Gak mau aku mau disuapin bunda" sahut Vani yang berada di dalam kamarnya itu
"Vani jangan bikin ayah pusing" bentak ayahnya yang sedang berdiri di depan kama anaknya
"Ayah jahat aku gak bolehin ketemu bunda hiks...hiks..." Tangisan Vani mulai memecah
"Dia itu bukan bunda kamu" vino mengungkapkan sejujurnya tapi tetap saja Vani gak percaya dengan ucapan ayahnya
"Gak itu memang bunda ayah aku melihat foto bunda mirip banget sama yang difoto itu dia itu bunda aku ayah"
"Ok ok kita ke rumah bunda tapi kamu makan dulu yah" vino pun pasrah dengan anaknya dan menurutinya
"Gak mau aku mau disuapin bunda ayah" teriak Vani
"Yasudah kamu siap-siap kita ke rumah bunda sekarang" ujar vino tiba-tiba pintu kamar anaknya pun terbuka
"Yang benar ayah terima kasih aku sayang ayah" Vani membuka pintunya dan memeluk ayahnya akhirnya dia bisa bertemu dengan bundanya
"Kamu siap-siap yah ayah tunggu dibawah" Vani pun mengangguk dan ayahnya menunggu dibawah setelah Vani siap-siap dia turun melihat ayahnya yang sudah menunggu di sofa dengan memainkan handphonenya itu
"Ayo ayah" Vani menghampiri ayahnya kemudian mereka pun berangkat dengan mobilnya
"Vani nanti kalo di rumah bunda jangan bandel yah kasihan bunda kamunya" pesan ayahnya
"Vani gak akan bandel kok ayah" Vani ingat pesan ayahnya itu setelah sampai di depan rumah Zahra kami pun turun dan memasuki rumahnya didepan pintu vino mengetuk pintu rumah Zahra dan keluarlah ayahnya Zahra dia juga bingung kenapa anak dari sahabatnya ke sini dengan membawa anak apa maksudnya itu ada hubungan apa dia dengan putrinya"Assalamu'alaikum om" vino bersalaman dengan ayahnya Zahra dan Vani pun sama bersalaman juga dua mengikuti ayahnya
"Wa'alaikumussalam, ada apa kamu ke sini nak" tanya ayahnya Zahra dengan bingung kenapa dia ke sini dengan membawa anaknya
"Saya mau bertemu Zahra boleh" jawab vino
"Ada hubungan apa kamu dengan Zahra nak" sembari mengangkat kedua alisnya
"Saya dengan Zahra sekedar bos dengan karyawan om"
"Lalu ada apa kamu ke sini" ayahnya melihat seorang anak kecil yang disamping vino sepertinya dia habis nangis juga
"Gini om Vani mau ketemu Zahra boleh"
"Boleh silahkan masuk yuk" ajak ayahnya dan masuk ke dalam rumahnya
"Kita ke atas aja yah Zahra tadi belum keluar kamar dari semalam dia juga gak mau makan" Zahra persis dengan Vani sifatnya sama-sama keras kepala kami pun menaiki tangga dan melihat bundanya sedang mengobrol didepan pintu kamar Zahra yang sedang memeluk bundanya dan menangis Vani pun berteriak memanggil bundanya
"Bunda" Zahra melepaskan pelukan bundanya DNA melihat Vani berada di sini dengan ayahnya
"Bunda" Vani langsung memeluk bundanya dengan erat seperti tidak mau berpisah lagi dengannya
"Bunda?" Kedua orang tua Zahra heran kenapa anak kecil itu menyebut Zahra bundanya ada hubungan apa mereka
"Vani kamu sama bunda dulu yah ayah mau ngobrol sama nenek dan kakek kamu" ujar vino lalu Vani pun mengangguk dan mereka mengobrol di ruang tamu
"Bunda aku kangen sama bunda hiks...hiks..." Vani menangis di pelukan Zahra
"Maafin bunda yah semalam ninggalin kamu soalnya bunda buru-buru" Zahra melepaskan pelukannya dan menghapuskan air mata Vani
"Iya gapapa bunda" Vani tersenyum dengan menderetakan gigi nya dan memperlihatkan lesung pipinya
"Kamu seperti ayah sayang ada lesung pipinya" Zahra memegang kedua lesung pipinya milik Vani dia pun terkekeh
"Iya lah Bun kan aku anak ayah" dengan sombongnya Vani mengakui vino ayahnya
"Kasihan kamu nak kalo kamu tahu aku bukan bunda kamu dan vino juga bukan ayahmu apakah kamu akan membenci kita berdua aku sudah terlanjur sayang sama kamu nak" gumam bunda
"Bunda kenapa melamun" Vani melihat bundanya melamun yang sedang memikirkan nasib anak kecil itu
"Gapapa kok kamu sudah makan belum" tanya Zahra kepada anak kecil itu sembari mengusap kepanha dengan lembut
"Belum bunda" Vani menggelengkan kepalanya
"Kenapa gak mau makan sayang" tanya Zahra
"Aku mau disuapin bunda Bun" jawab Vani dengan menunjukkan kepalanya
"Yasudah kita makan yuk dibawah" lalu Vani mengangguk kami pun menuruni tangga menuju ruang makan sebelum melewati ruang makan dia lewat ruang tamu yang melihat mereka sudah selesai mengobrol
"Nenek kakek ayo kita makan" ajak Vani padahal dia belum kenal dengan keluarga Zahra
"Ayo kita makan" bundanya menyetujui ajakan vani dua sudah tau sebenarnya Vani itu siapa kami pun berjalan ke ruang makan Vani menguruh ayahnya agar duduk disampingnya serta bundanya juga
"Bunda aku mau disuapin bunda" Vani melihat bundanya yang sedang makan juga
"Makan sendiri Vani kasihan bundamu lagu makan tuh" kata vino dan Vani pun menundukkan kepalanya Zahra yang melihat Vani sedih diapun menyuapi anak kecil itu"gapapa kok pak biar saya saja yang suapin" ucap Zahra dengan tersenyum dan menyuapi Vani setelah menyuapi Vani dia pun melanjutkan makanannya kemudian mencuci piringnya Vani mengikuti bundanya pergi ke dalam dapur yang melihat bundanya sedang cuci piring
"Bunda aku boleh bantu gak" ujar Vani yang sudah ada di dapur
"Jangan nak kamu temani ayah aja yah bunda mau cuci piring dulu" tolak Zahra sembari mencuci piring
"Kenapa bunda" tanya Vani dengan bingung yang menolak bantuan Vani
"Gak usah yah kamu kan masih kecil takutnya piringnya pecah loh" Zahra menjelaskan penolakannya itu
"Aku mau nunggu bunda aja disini" Vani duduk di dapur yang ada bangkunya disitu sedangkan Zahra melanjutkan aktivitasnya
"Bunda udah belum aku bosen tau" lirih Vani yang bosen melihat bundanya cuci piring
"Bentar yah sebentar lagi selesai nih" dan akhirnya Zahra selesai mencuci piringnya kami pun berjalan ke ruang tamu yang sudah pada berkumpul Zahra duduk di samping Vino Karena hanya itu yang tempat kosong dan memangku Vani
"Kamu Sama ayah aja dipangkunya kasihan bundanya cape loh"
"Gapapa kok pak" Zahra tersenyum
"Kamu sama ayah aja yah" bujuk vino lalu Vani mengangguk dan berpindah dipangkuan ayahnya kedua orang tua Zahra hanya tersenyum
"Gimana nak apa kamu setuju menikah dengan vino" tanya ayahnya kepada Zahra
"Mau nunggu apa lagi sayang kita menyetujui restu kalian kok" ujar bundanya
"Aku gak ada perasaan apa-apa sama dia Bun" lirihku sambil menundukkan kepalanya
"Bunda kapan pulang aku mau kita berkumpul lagi" tanya Vani dan Zahra pun menengok ke arah vino dia bingung harus jawab apa dengan anak kecil ini masa iya dia harus tinggal bersama dengan bosnya sih kan belum halal
"Zahra apa kamu tega melihat Vani yang membujuk kamu untuk berkumpul bersamanya" bundanya menasehati anaknya
"Tapi Bun aku gak cinta sama dia"
"Kamu bukan gak cinta Ra tapi belum aku akan bikin kamu cinta sama aku Ra kamu mau kan menikah denganku" bujuk vino
"Tapi aku gak mau nyakitin sahabat kamu pak" kata Zahra
"Tenang saja Raka sudah ikhlas kok semalam dia menelpon saya kalo dia sudah ikhlas mungkin kamu bukan jodoh dia" ucap vino"hmm... Iya aku mau" vino langsung bahagia mendengar ucapan Zahra jika dia mau menikah dengannya
"Makasih" vino tersenyum dan Zahra pun tersenyum
"Alhamdulilah ayah senang akhirnya kamu menikah dengan anak sahabat ayah" jelas ayahnya Zahra baru tau jika vino itu anak dari sahabatnya
"Ayah kenal dengan vino" tanya Zahra dengan bingung apa yang dikatakan oleh ayahnya
"Iya kenal lah nak vino itu anak dari sahabatnya ayah" jawab ayahnya Zahra yang berhadapan dengannya
"Nanti malam saya akan membawa orang tua saya ke sini" kata vino
"Untuk apa" Zahra mengangkat kedua alisnya yang bingung dengan vino kenapa malah bawa orang tuanya ke sini
"Untuk melamar kamu" ujar vino dengan tersenyum dan membuat Zahra salah tingkah
"Om akan tunggu kamu dengan orang tua kamu malam ini" balas ayahnya Zahra dengan tersenyum
"Ayah kita jalan-jalan yuk sama bunda" ajak Vani yang masih dipangkuan ayahnya
"Tanya bunda kamu dulu mau gak" sindir Vino dengan menengok ke arah Zahra
"Bunda mau kan jalan-jalan sama kita" Vani menatap bundanya dengan bingung
"Hmm...gimana yah" Zahra bingung takutnya gak dibolehin oleh orang tuanya tapi bundanya langsung menyetujuinya
"Sudah kamu jalan-jalan sana kasihan vani nanti sedih lagi loh" bujuk bundanya Zahra pun menengok ke arah ayahnya yang mengangguk saja
"Ok hmm...gimana kalo kita main ke taman" saran Zahra Vani pun mengangguk kemudian kami pamit jalan-jalan ke taman dekat rumahnya.
Sampai ditaman Vani menyuruh bundanya dan ayahnya juga bermain bersama Zahra duduk diayunan dengan Vani sedangkan Vino yang mengayunkannya sambil melirik Zahra dengan tersenyum hari ini dia bahagia banget tidak biasanya dia bahagia seperti dengan kekasihnya dulu
"Ayah kenapa liatin bunda terus sih" tanya Vani yang heran melihat ayahnya menatap ke arah bundanya terus-menerus
"Bunda kamu cantik" puji vino
"Bunda memang cantik ayah kan anaknya juga cantik ya kan Bun" tanya Vani yang melihat bundanya salah tingkah dan blushing
"Muka kamu kenapa merah Ra padahal kamu gak pake blush on loh" vino melihat Zahra salah tingkah dan membuat pipinya merona
"Eh enggak kok aku eh mau ke sana dulu yah" Zahra yang salah tingkah pun beranjak dari ayunan dan duduk dikursi taman yang kosong sungguh dia malu banget kejadian tadi
"Ayah sih kan bundanya pergi" Vani marahi ayahnya yang membuat bundanya pergi
"Kok ayah sih kan ayah gak apa-apain bunda" vino pun merasa tidak bersalah karena dia tidak melakukan apapun yang membuat bundanya pergi
"Tau ah tetap aja ayah yang salah" bela Vani dengan wajah cemberutnya itu
"Yaudah ayah bujuk bunda dulu yah biar gak ngambek lagi bundanya mau gak" tawaran vino kepada anaknya dia pun mengangguk kemudian vino mengejar Zahra dia melihat Zahra yang sedang duduk di bangku kosong dengan sendirian
"Saya boleh duduk disini" izin vino yang melihat sebelah Zahra kosong Zahra bingung harus jawab apa
"Tenang aja saya duduknya agak jauhan kok" Zahra pun mengangguk vino duduk disamping Zahra yang kosong itu
"Kamu kenapa pergi gitu aja" tanya vino yang bingung melihat Zahra pergi tadi
"Gapapa pengen sendirian aja" jawab Zahra yang masih menundukkan kepalanya
"Yang benar kirain saya kamu ngambek gitu" goda vino yang melihat Zahra menundukkan pandangannya Vani pun datang duduk di tengah-tengah mereka berdua
"Ayah bunda" panggil Vani dan duduk di tengah mereka
"Kalian kenapa sih malah ninggalin aku kalian jahat tau" Vani pura-pura ngambek agar bisa mendapatkan kasih sayang dari mereka"bapak kok tinggalin Vani sih kasihan kan dia kalo hilang gimana coba" omel Zahra
"Maaf hehe tadi ketinggalan" maaf vino dengan menggaruk kepalanya
"Kamu gapapa kan sayang ditinggal ayah tadi" tanya Zahra sambil mengusap kepala Vani dengan lembut
"Gapapa kok bunda" jawab Vani dengan tersenyum dia tertawa melihat ayahnya diomelin bundanya
"Ayah aku mau es krim itu" Vani menunjukkan tukang es krim yang digerobak itu
"Nanti kita beli di cafe aja yah takutnya gak sehat sayang es krim dipinggir jalan" kata vino lalu Vani pun sedih tidak dibolehkan oleh ayahnya membeli es krim itu
"Kata siapa gak sehat malah sehat kok saya aja selalu makan dipinggir jalan kalo kita makan di cafe kasihan kan yang tukang dipinggir jalan sedang kesusahan ekonomi nya" jelas Zahra kemudian vino pun sadar dia orang kaya tapi gak pernah sedikit pun membantu orang kesusahan dia baru sadar semenjak Zahra ada di kehidupannya
"Terima kasih sudah menasehati saya" ucap terima kasih vino dengan tersenyum dia bahagia karena perempuan yang sekarang ia temui itu bisa merubahnya Zahra itu beda dengan perempuan lainnya dia sederhana, cantik, baik, pintar agama, dan berpakaian syar'i
"Ayah ayo beli es krim itu yah" ajak Vani dengan memegang lengannya
"Ok ayahnya belikan yah tapi Vani disini aja yah jagain bunda" pesan vino untuk anaknya
"Iya aku bakal jaga bunda kok yah" kemudian vino pun membeli es krim setelah itu kembali lagi ke tempat tadi dengan membawakan tiga es krim coklat dia memberikan kepada anaknya dan Zahra
"Ini untuk Vani dan ini untuk bunda" vino memberi es krim itu keduanya Zahra pun bingung padahal dia tidka memesannya
"Saya kan gak minta es krim pak" tanya Zahra yang bingung diberikan es krim itu dari vino
"Buat kamu" vino tersenyum
"Makasih pak" Zahra pun membalas senyumannya lalu kami makan es krim bersama di taman ini sekali-kali vino melirik Zahra yang sedang memakan es krim seperti anak kecil
"Saya kagum sama kamu Ra kamu cantik, pintar agama, baik, dan suka anak kecil pantaskah say untuk mendapatkan kamu semenjak saya bersama mu saya kembali ingat tentang agama dulu saya memang pintar agama tapi dengan kesibukan di dunia hingga saya melupakan itu semua terima kasih Ra kamu sudah ingatkan saya" gumam vino ddngan tersenyum memperlihatkan lesung pipinyaبسم الله الرحمن الرحيم
Dengan menyebut nama Allah yang lagi maha penyayang
Hari ini adalah hari pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh Zahra dan Vino yah mereka akan menikah hari ini sekarang Zahra sedang di make upin oleh penata riasnya mamah vino kagum dengan kecantikan Zahra yang begitu bersinar
"Ra kamu pakai cream apa sih sampe mukamu cerah gitu tanpa make up juga" mamahnya vino bingung dengan menantunya yang berbeda dengan kekasih-kekasih vino yang dulu mereka menghabiskan uang untuk perawatan kecantikan dirinya agar vino selalu tertarik kepadanya
"Enggak kok mah aku enggak pake apa-apa" ujar Zahra dengan tersenyum
"Anak saya gak pernah pake apa-apa loh ran, aku tawarin cream aja buat dia eh dia malah gak mau katanya takut kenapa-kenapa sama mukanya yaudah dia gak pake deh palingan juga cuma pake bedak sama Vaseline yang pink itu doang" bunda Zahra menceritakan kegiatan Zahra sehari-harinya mamahnya vino masih bingung dengan ucapan mereka kalo memang gak pakai apa-apa lalu kenapa wajah Zahra seperti bidadari yang selalu cerah
"Tapi kok muka kamu selalu cerah Ra apa sih prinsip nya" balas mamahnya vino yang sudah duduk dihadapan Zahra dengan sedikit keponya itu
Anda Mungkin Juga Suka





