
Dosa Dalam Pelukan Brondong
Bab 2
Beberapa hari setelah malam itu, Sheana mengira kehidupannya akan kembali normal. Dia bahkan mengira pertemuan dengan Ellan hanya akan jadi satu cerita absurd yang akan ia simpan di sudut paling gelap dalam pikirannya-dan dilupakan.
Dia salah.
Pagi itu, Sheana berdiri di samping Dirga, suaminya, di depan pintu sebuah rumah mewah bergaya kolonial modern. Pekarangan luas, pohon palem simetris, dan seorang satpam berjas hitam yang membungkuk hormat ketika membuka pintu gerbang otomatis. Sejak awal, Sheana sudah merasa tidak nyaman.
"Kenapa aku harus ikut, Ga?" gumamnya sambil membetulkan scarf tipis di leher.
Dirga tersenyum singkat. "Pak Alvino itu orang penting. Beliau pemilik salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara. Beliau juga sangat menghargai gesture kekeluargaan. Kalau aku datang sendiri, itu terasa terlalu formal."
"Dan membawa istri akan membuatnya tampak lebih... hangat?"
"Lebih manusiawi," jawab Dirga, sebelum mengetuk pintu besar dengan ukiran khas Eropa itu.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi membukakan pintu. "Silakan masuk. Tuan sedang di ruang tengah."
Interior rumah itu tak kalah megahnya. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal, lukisan cat minyak di setiap dinding, dan aroma lembut sandalwood yang menguar dari diffuser mahal.
Di ruang tengah, Alvino duduk bersandar di kursi empuk, selimut tipis menutupi kaki. Wajahnya tampak pucat, tapi senyum yang ia berikan cukup hangat.
"Sheana, ini Pak Alvino," Dirga memperkenalkan.
"Senang berkenalan, Nyonya Sheana," ucap Pak Alvino dengan suara serak namun berwibawa.
Sheana membalas dengan senyum sopan. "Saya juga, Pak."
Mereka berbincang cukup lama. Pak Alvino sempat tertawa pelan ketika Dirga bercerita soal kampanye sosial yang melibatkan perusahaan media mereka. Tapi kemudian suasana menjadi lebih tenang, bahkan sedikit berat, saat Pak Alvino mengalihkan topik.
"Kadang saya berpikir, buat apa semua ini kalau anak sendiri malah seperti orang asing."
Dirga tertawa pelan. "Yang mana? Yang bungsu atau-"
"Yang satu-satunya," potong Alvino dengan nada getir. "Ellandra. Dia lebih suka jadi seniman jalanan ketimbang meneruskan bisnis yang sudah kubangun tiga puluh tahun ini."
Sheana yang sedari tadi menatap jendela berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ellandra?
"Dia jarang pulang. Lebih sering hidup entah di mana. Katanya ingin 'menemukan dirinya'. Kalau bukan anakku sendiri, pasti sudah kutendang keluar dari hidupku," lanjut Alvino.
Dirga menanggapi dengan hati-hati, "Anak Anda belum ingin mengurus perusahaan?"
"Dia bahkan nggak mau pulang."
Sheana memperhatikan perubahan ekspresi Pak Alvino. Ada rasa kecewa yang tak ia tutupi. "Dia bilang ingin hidup bebas, menjelajah dunia. Tapi saya tahu... dia hanya kabur dari tanggung jawab."
Belum sempat Sheana merespons, seorang asisten rumah tangga datang dengan langkah tergesa.
"Maaf, Tuan... Tuan muda sudah pulang."
Pak Alvino mendongak. "Suruh dia ke sini. Sekarang."
Semua kepala menoleh.
Langkah kaki terdengar menyusuri lorong marmer. Dan kemudian, pintu dibuka perlahan. Ellan masuk dengan jaket kulit disampirkan di bahu dan rambut sedikit acak seperti baru bangun tidur. Matanya yang tajam segera menangkap sosok Sheana-yang sama terkejutnya.
"Ellan," panggil Alvino.
Ia mengangguk. "Dad."
Matanya sekilas beradu pandang dengan Sheana. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk menyampaikan ribuan kalimat yang tak bisa diucapkan di ruangan itu.
Sheana seketika menolak irama normal jantungnya.
Itu benar-benar Ellan yang ia kenal beberapa malam lalu.
Wajah pemuda itu tampak sedikit lelah, tapi masih sama. Matanya menyapu ruangan dengan tenang.
Keduanya terdiam. Mata mereka terkunci satu sama lain. Sekilas, napas Sheana tertahan. Ellan pun tampak membeku di tempat, seolah waktu di sekitarnya berhenti berdetak.
Dirga menoleh, heran melihat keheningan yang aneh itu.
"Kamu kenal?" tanyanya pelan pada Sheana.
Sheana cepat-cepat menggeleng. "Nggak. Cuma... kaget aja."
Ellan tersenyum. Bukan senyum gigolo. Tapi senyum anak muda yang baru saja menemukan sesuatu yang tak terduga. Ia melangkah masuk, menyapa ayahnya dengan cepat, lalu-dengan penuh kesadaran-berdiri tepat di depan Sheana.
Dirga bangkit, menjabat tangan Ellan. "Akhirnya bisa bertemu juga. Aku Dirga, sahabat ayahmu."
Elan mengangguk sopan. "Ellandra."
Lalu ia menoleh ke Sheana.
"Tante?" gumamnya pelan.
Sheana menegang.
Ellan tersenyum tipis, lalu buru-buru menambahkan, "Ah, maaf, saya kira Anda ibu teman saya. Mirip sekali."
Dirga tertawa. "Istriku. Sheana."
"Pantas," bisik Elan, matanya tak lepas dari Sheana. "Pantas... terlalu cantik untuk seorang ibu teman."
Sheana menyunggingkan senyum datar.
Alvino kembali sibuk bicara dengan Dirga, menuntunnya untuk melihat koleksi lukisan di ruang tengah. "Kamu ikut, Ell?"
"Nanti nyusul," sahut Ellan santai. Begitu dua pria itu berjalan menjauh, keheningan menggantung.
Sheana memalingkan wajah, berdiri sambil merapikan roknya. "Kecil dunia ini, ya?"
Ellan menyeringai. "Sheana... dramatik banget. Aku suka," katanya pelan, seperti mengomentari dialog film.
"Biasa aja," sahut Sheana, agak ketus.
Ellan menyandarkan diri di dinding, menyilangkan tangan. "Kau kelihatan gugup. Tapi tenang, aku jago jaga rahasia."
Sheana mendesah. "Bagus. Karena kalau kau buka mulut, aku juga bisa buka semuanya."
"Oh?" Ellan menaikkan alis. "Maksudmu... kamu akan bilang ke Daddy kalau aku kerja sambilan?"
Sheana menatapnya tajam. "Kalau perlu, iya."
Ellan melangkah pelan, memperkecil jarak. "Dan aku akan bilang... kamu salah satu klienku. Gimana? Mau sama-sama hancur atau-kita main aman?"
Sheana tercekat. Ini bukan lagi permainan biasa.
"Kamu brengsek," bisiknya, tapi tak bergeming.
"Dan kamu cantik sekali waktu marah," gumam Ellan, lebih rendah. "Ayo, kasih nomormu. Biar aku pastikan kamu nggak nyasar lagi ke tempat begitu."
Sheana mendelik. "Jangan berharap aku akan datang lagi."
"Aku nggak berharap," Ellan tersenyum miring. "Tapi... berharap itu gratis."
Ia menyodorkan ponsel. Dengan kesal, Sheana mengetik nomornya, lalu menyerahkan kembali tanpa berkata apa-apa.
"Terima kasih, Nyonya Dirga," bisik Ellan, lalu berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan jejak tawa di balik bibirnya yang tak sepenuhnya ramah.
Di luar sana, suara Alvino dan Dirga mulai terdengar kembali, menghapus keintiman singkat yang barusan terjadi.
Anda Mungkin Juga Suka





