
Donat Penyelamat
Bab 3
"Itu tadi siapa?"
Mas Danang yang tengah menonton televisi, menoleh padaku.
"Bude Lasmi." Jawabku singkat.
Kutinggalkan mas Danang kembali ke kamar. Tia terlihat sudah tidur lelap. Syukurlah. Aku harus ke dapur untuk mengadon donat. Ada yang pesan satu box dari perumahan sebelah.
Aku beranjak ke dapur. Menyiapkan semua bahan, dan segera mengeksekusinya. Setelah selesai menguleni, ku diamkan adonan beberapa menit.
Aku memang masih menggunakan tangan untuk mengadon. Selain belum kebeli mikser, keuntungannya yang tak seberapa aku berniat akan dikumpulkan untuk membeli kursi roda buat mas Danang.
Kecelakaan setahun yang lalu memang sangat menguras banyak hal. Kami bahkan diusir oleh ibu mertua supaya tidak lagi menempati rumah yang memang pemberian orang tua mas Danang. Ibu bersikeras bahwa kecelakaan yang menimpa mas Danang adalah murni kesalahanku, yang memaksa meminta pulang ke rumah emak dan bapak.
Ibu meminta mas Danang menceraikan aku, baru ia mau membawa mas Danang berobat hingga bisa berjalan lagi. Namun mas Danang menolak mentah-mentah. Ia lebih memilih tetap bersamaku, meski dengan segala resiko yang sekarang harus kami tanggung.
Uang tabungan yang kami kumpulkan bersama selama mas Danang bekerja di kebun cengkeh bapaknya, lambat laun semakin menipis. Selain digunakan untuk terapi yang meski sampai saat ini belum ada perubahan berarti, kami juga gunakan untuk mengontrak rumah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Padahal rencananya, uang tabungan itu kami peruntukkan bagi sekolah Tia saat sudah besar nanti. Kami ingin Tia kuliah yang tinggi.
Untuk itulah akhirnya aku memutar otak, mencari resep dan mencoba banyak kue untuk dijual agar bisa menutupi biaya hidup kami kedepannya. Lalu pilihanku jatuh pada donat. Makanan yang disukai oleh banyak orang.
Meski cuma berjualan lewat ponsel, namun syukurlah setiap hari ada saja tetangga yang minta dibuatkan.
"Mas, uang tabunganku baru ada segini. Kira-kira cukup nggak ya, buat beli kursi roda?" Aku menghampiri mas Danang. Membawa kaleng biskuit berisi uang sebanyak enam ratus ribu rupiah.
Mas Danang mendesah. Ia menatapku tanpa ekspresi beberapa lama.
"Cit, kalau kamu merasa mengurusi aku nggak ada gunanya, aku rela jika kamu mau cari suami lagi." Ujarnya pelan. Namun tegas. Aku terhenyak mendengar penuturannya.
"Astagfirullah mas, kamu itu ngomong apa? Apa selama ini kamu lihat aku mengeluh? Istigfar mas, nyebut!" Mataku berkaca-kaca. Sakit sekali mendengar mas Danang berkata demikian.
Suamiku memalingkan wajah. Namun dapat kulihat ada air mata menggenang disana.
Aku berdiri, kumasukkan segera uang ke dalam saku daster lusuhku. Lalu kutinggalkan dia. Aku harus segera menggoreng donat dan mengirimnya.
*
"Aku titip Tia sebentar. Cuma ke kompleks sebelah anter donat. Ini, mas harus makan."
Kuletakkan piring kecil berisi tiga buah donat. Rasa kacang dan keju kesukaannya. Serta segelas teh tawar hangat di atas meja kecil di samping tubuh mas Danang. Ia hanya mengangguk lemah, dan menatap kepergianku.
Kupacu motor matic satu-satunya barang berharga yang kami miliki. Meski termasuk jadul, namun aku bersyukur masih memilikinya. Motor ini membantuku untuk mengantar pesanan.
Kutepikan motor setelah memasuki kompleks perumahan, lalu kuambil ponsel di saku jaketku. Kubaca lagi alamat yang tertera, lalu kembali kulajukan motor secara perlahan. Sambil menoleh kiri kanan.
Setelah berputar-putar, akhirnya dapat kutemukan rumah si pemesan. Kutepikan kembali motor lalu turun dan menghampiri pagar tinggi.
"Assalamualaikum, pak. Saya mau antar pesanan." Ucapku pada satpam rumah yang mengintip dari balik pagar besi.
"Waalaikumsalam. Pesanan siapa?" Tanyanya.
"Bu Nadia." Jawabku.
Satpam mengangguk lalu mengeluarkan HT dan berbicara dengan seseorang. Sementara itu, kuedarkan pandangan ke dalam bangunan di dalam sana. Terkagum aku, sampai tak sadar pak satpam memanggilku.
"Hey mbak, jadi berapa?"
"Oh eh, maaf. Jadi tiga puluh ribu pak." Jawabku.
Satpam mengeluarkan uang selembar lima puluh ribuan. Untung di saku jaket ada kembalian.
Setelah mengucapkan terimakasih, aku pun kembali pulang. Sambil berharap semoga si pemesan tidak kecewa dengan donat bikinanku.
*
Tin tin tin
"Woi!"
"Astagfirullah, ya Allah ya Allah ya Allah!" Aku begitu panik.
Ya Allah, motor yang dikendarai tiba-tiba saja mati di tengah jalan. Hampir saja mobil di belakangku menabrak jika saja pengemudi tidak fokus pada jalanan.
Aku segera turun dari motor dan menepikannya. Kubuka helm bermaksud meminta maaf pada si pengemudi. Namun tak lama, penumpang di belakang sana membuka pintu lalu turun. Aku sudah pasrah, andai si nyonya tersebut memarahiku.
Mataku membulat begitu si penumpang berjalan semakin mendekat.
Ibu?
"Lho, Cita?!" Ibu juga sepertinya tak kalah kaget.
"Pantesan aja! Begitu kalau orang kampung bawa motor di jalanan kota. Pake ini, bukan cuma tangan sama kaki!" Lanjutnya.
Jarinya menunjuk kepalanya sendiri. Aku terhenyak. Kupikir pertemuan pertama kami setelah satu tahun berlalu, akan dipenuhi haru. Namun nyatanya tidak Sama sekali.
Aku yang bermaksud meraih tangannya, seketika terdiam. Sementara orang-orang yang menyaksikan insiden tadi, menatap kami.
"Sudahlah Bu, motornya mungkin mati tiba-tiba. Udah damai aja damai!" Seru seorang lelaki bertubuh kurus. Yang kemudian dianggukkan oleh orang-orang.
"Heh, kalian itu nggak tau dia siapa! Saya kenal baik sama dia. Dia itu orang kampung yang sok sok an bawa motor di jalanan! Untung saja saya yang hampir jadi korban, kalau orang lain, bisa jadi dia dipenjarakan!" Sahutnya galak.
Wajahku merah padam. Tega sekali ibu mencaci maki di depan banyak orang.
"Maaf Bu, Cita nggak tahu tiba-tiba motornya mati." Jawabku pelan. Malu sekali jadi pusat perhatian orang-orang.
"Mbak, coba motornya bawa ke bengkel tuh di depan sana!" Ujar seseorang sambil menunjuk sebuah bengkel. Aku mengangguk.
"Bu, maaf Cita duluan ya. Tia di rumah sama mas Danang. Takut rewel nanti." Pamitku. Jika tidak begitu, ibu bakalan terus mengoceh.
"Dasar kampungan!" Sahutnya lalu pergi.
Kutatap kepergian mobil ibu. Ibu memang seringkali ke kota untuk menandatangani beberapa surat perjanjian dengan perusahaan yang menampung cengkeh milik bapak. Atau ke bank pusat, atau sekedar jalan-jalan belanja. Namun tak kuduga akan bertemu dengannya. Dengan kondisi yang seperti ini.
Kudorong motor menuju bengkel dengan mata basah. Ibu sama sekali tak menanyakan Tia, atau mas Danang, anak kandungnya. Apa benar ibu sudah membuang mas Danang sebagai anaknya, hanya karena lelaki itu memilih untuk mempertahankan rumah tangga?
"Wah, ini mah aki nya udah Soak, mbak."
Si Abang tukang bengkel menunjuk ke arah motor yang baru saja dibongkarnya.
"Berapa kalo di betulin, mas?" Tanyaku.
Cemas melanda sebab di kantong jaket ku cuma ada uang lima puluh ribu rupiah.
"Sekitar seratus lima puluhan ribu." Jawabnya.
Ya Allah, kupijat keningku yang berdenyut serta berkeringat. Helm yang sedari tadi kupakai, segera kulepas. Kemudian kuletakkan di atas pangkuan.
"Uang saya cuma ada lima puluh ribu. Kalau motornya ditaruh disini dulu, bisa bang?" Tanyaku harap-harap cemas.
"Bisa aja sih. Tapi nanti sore harus diambil ya. Soalnya udah nggak ada tempat lagi buat ngaruh motor kalau sampai harus diinapkan." Jawabnya. Aku mengangguk. Nggak ada pilihan lagi kecuali mengiyakan.
"Iya bang. Saya cuma pulang buat ambil uang kok. Ini sekalian titip helm ya." Aku berdiri.
"Oke siap. Taruh disitu aja. Aman kok." Jawabnya. Aku mengangguk lantas keluar dari bengkel.
Kubawa langkah menuju pangkalan ojek yang tak jauh dari pertigaan. Setelah sepakat soal ongkos, segera kuminta bapak ojek mengantarkan pulang.
Sepanjang perjalanan pikiranku tak tenang. Bagaimana kukatakan pada mas Danang soal kejadian ini? Haruskah juga kuceritakan soal pertemuanku dengan ibunya?
Anda Mungkin Juga Suka





