
Dokter Forensikku, Kakakku
Bab 3
Aku benar-benar tidak tahu kenapa setelah Yani mendorongku masuk ke dalam kamar mandi waktu itu, pintunya langsung terkunci dari dalam dan tidak bisa dibuka. Semuanya terjadi begitu mendadak dan ponselku tertinggal di luar. Sampai sekarang, jeritan Yani masih terngiang di telingaku.
Aku terus berteriak meminta pertolongan sampai tenggorokanku berdarah, sebelum akhirnya kelelahan dan pingsan. Saat aku sadar kembali, polisi yang sedang menginterogasiku mengatakan bahwa pintunya terkunci dari dalam. Kakakku nyaris mencekikku di tempat saat mendengar itu.
Kini, tubuhku memang telah terbakar, meski tidak sepenuhnya menjadi abu. Namun jika identitasku berhasil ditemukan, mungkin Kakak akan merasa sedikit lega, 'kan? Namun sekarang, fokus mereka adalah memecahkan kasus ini.
Timmy menarik napas dalam-dalam, "Maaf, aku terlalu banyak bicara. Akhir-akhir ini kamu sibuk sekali. Pulanglah dan istirahat."
Kakakku tidak menjawab. Dia hanya langsung berbalik dan turun ke lantai bawah. Namun saat itu, ponselnya kembali berbunyi. Nomor tak dikenal. Biasanya kakakku langsung menutup telepon seperti itu, tapi kali ini panggilan terus berulang-ulang.
Setelah beberapa kali, akhirnya sebuah pesan singkat masuk.
[ Halo, saya staf dari bank. Bu Suzanne belum melunasi cicilan rumah bulan ini dan sudah melewati batas akhir pembayaran. Kami telah mencoba menghubungi dan mendatangi rumahnya, tapi tidak berhasil menemukan orang yang bersangkutan. ]
[ Setelah memeriksa data, kami menemukan bahwa Anda adalah kakaknya. Mohon bantu menginformasikan bahwa jika keterlambatan ini berlanjut, akan memengaruhi catatan kreditnya. ]
Ekspresi kakakku langsung berubah menjadi sangat kelam setelah membaca pesan itu. Dengan penuh amarah, dia langsung menelepon balik, "Dengar, aku nggak ada hubungan apa pun sama manusia nggak berguna itu!"
"Uangnya mau dibayar atau nggak, aku nggak peduli! Jangan hubungi aku lagi! Kalau kalian telepon lagi, aku akan melaporkan kalian!"
Timmy yang sudah hampir masuk ke kantornya, kembali mundur dengan berat hati sambil mengusap keningnya yang terasa tegang. "Suzanne utang apa?"
"Itu bukan urusanku," jawab kakakku dingin sambil menatapnya tajam. "Pak Timmy, kalau kamu masih mau pecahkan kasus jasad terbakar ini, lebih baik jaga ucapanmu."
Kerutan di dahi Timmy semakin dalam. Namun kali ini, dia hanya menghela napas panjang, lalu berbalik kembali ke dalam kantornya.
Saat itu, suara tangisan pria dari lantai bawah terdengar jelas.
"Pak, tolong bantu aku! Adik perempuanku hilang! Pagi-pagi dia bilang mau pergi jalan-jalan sama temannya, tapi sampai sekarang belum pulang. Teleponnya juga nggak bisa dihubungi. Aku ... aku nggak bisa hidup tanpa dia!"
Timmy segera bergegas turun, sementara kakakku yang sepertinya teringat sesuatu, mengikuti di belakangnya.
"Jangan panik dulu. Tolong tunjukkan foto adikmu. Lebih bagus lagi kalau ada foto yang memperlihatkan dia tersenyum sambil menunjukkan giginya," ujar Timmy dengan suara tegas.
Permintaan itu jelas mengarah pada sesuatu, tetapi pria itu terlalu cemas untuk menyadarinya. Sambil menangis, dia buru-buru membuka ponselnya, "Orang tua kami sudah lama meninggal, satu-satunya yang kupunya cuma dia. Kalau terjadi sesuatu sama dia, gimana aku bisa menghadapi mereka di alam sana nanti?"
Aku tersenyum pahit sambil melayang untuk melihat fotonya. Gadis di foto itu terlihat sangat imut. Dia memeluk leher kakaknya sambil membuat tanda V dengan satu tangan dan wajahnya terlihat gembira.
Aku juga pernah mengalami masa-masa seperti itu ....
Timmy dan kakakku saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut. Setelah beberapa saat, Timmy berkata dengan perlahan, "Hari ini kami menerima jasad seorang korban yang terbakar parah, identitasnya belum bisa dikenali. Tapi ... ada tanda pada giginya ...."
Ya, gigi gadis di foto itu juga hilang sebagian.
"Adikku!!!"
Pria itu langsung histeris mendengar pernyataan tersebut. Dia terduduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu, "Kalau benar begitu, gimana aku harus hidup ke depannya?!"
Kakakku mengerutkan kening lebih dalam dan memalingkan wajah. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Melihat kasih sayang antara kakak dan adik lainnya hanya akan membuat dia semakin merasa jijik padaku.
Timmy menghela napas, "Turut berduka cita. Tapi untuk memastikan identitasnya, kami masih membutuhkan lebih banyak detail tentang adik Anda."
Setelah itu, dia memberi isyarat kepada salah satu petugas yang ikut turun, "Lakukan pencatatan lengkap."
Namun jelas terlihat, kakakku enggan tetap berada di situ. Hanya saja, sebagai seorang ahli forensik, dia tahu bahwa setiap kata yang diucapkan pria itu mungkin menjadi petunjuk penting dalam mengungkap kasus ini.
Dia harus mendengarnya. Bahkan merekamnya untuk didengar berulang kali. Itu adalah kebiasaannya yang unik untuk membuat jasad "berbicara".
"Adikku, dia ...." Pria itu membuka mulutnya dengan hati yang remuk, tetapi seolah kehilangan kemampuan untuk melanjutkan. Saat itu, ponselnya berdering.
Anda Mungkin Juga Suka





