
Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
Bab 3
Tiga hari berlalu sejak percakapan terakhir mereka di ruangan itu. Dan sejak itu, Rayhan merasa dirinya seperti hantu di rumah sakit sendiri. Ia datang, ia bekerja, ia menyapa rekan sejawat dengan senyum tipis yang dipaksakan. Tapi sejak kata-kata Elvira menusuknya seperti belati, dunia yang semula hanya abu-abu kini terasa sepenuhnya gelap.
Sementara itu, Elvira kembali menjadi sosok yang semua orang hormati-dingin, tajam, dan efisien. Tapi hanya Rayhan yang tahu bahwa di balik tatapan datarnya, tersembunyi seorang wanita yang pernah tertawa lembut di ujung malam. Seorang wanita yang pernah berkata: "Aku merasa hidup lagi saat ngobrol sama kamu."
Rayhan merasa kehilangan seseorang yang tak pernah benar-benar dimilikinya.
Hari itu, rumah sakit sedang kekurangan staf di IGD. Beberapa dokter sedang izin karena seminar medis di luar kota. Rayhan yang harusnya off dipanggil kembali. Ia datang tanpa banyak protes, seperti biasa. Namun energi dalam dirinya sudah habis.
Pukul 02.14 dini hari, IGD sedang sepi. Ia duduk di sudut ruang staf, membuka kotak makan yang sudah dingin. Baru satu suapan, seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Rayhan."
Ia mengenal suara itu bahkan dalam tidur sekalipun.
Ia menoleh, dan benar saja-Elvira berdiri di ambang pintu. Ia tak mengenakan blazer direktur, hanya blouse biru muda dan celana panjang hitam. Wajahnya tanpa riasan, rambutnya dikuncir rendah. Dan untuk pertama kalinya... ia terlihat seperti El. Bukan Elvira Maheswari, Direktur Utama Rumah Sakit Harapan Sejahtera.
"Aku mau bicara."
Rayhan menutup kotak makan. "Sudah larut. Kita bisa bicarakan besok."
"Rayhan."
Nada suaranya berubah. Lembut. Memohon. Ia jarang seperti ini. Rayhan mendesah dan mengangguk. "Oke. Duduklah."
Elvira menarik kursi dan duduk di seberangnya. Ada jeda lama sebelum ia bicara. Suaranya nyaris tenggelam dalam suara alat medis dari luar ruangan.
"Dulu aku pernah menjalin hubungan dengan dokter junior. Waktu aku masih Kepala Departemen di Jakarta. Awalnya hanya hubungan kasual, tapi... entah bagaimana, kami jadi dekat."
Rayhan menatapnya, tidak berkata apa-apa. Ia tahu Elvira bukan tipe yang membagi masa lalunya dengan mudah.
"Tapi dia menggunakanku," lanjut Elvira. "Dia memanfaatkan kedekatan kami untuk naik cepat. Dia dapat beasiswa ke luar negeri, dan aku mendukungnya penuh. Tapi di belakang, dia menggunjingku. Mengatakan aku menjadikan hubungan pribadi sebagai alat promosi."
Matanya mulai memerah.
"Aku nyaris kehilangan semuanya waktu itu. Karierku, nama baikku. Dan aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi lagi."
Rayhan akhirnya bicara. "Dan kamu pikir aku akan lakukan hal yang sama?"
Elvira menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku takut. Bukan karena kamu. Tapi karena apa yang dunia lihat dari luar. Aku tidak bisa lagi membela diri tanpa kehilangan sesuatu."
Hening.
Rayhan menghela napas panjang. "Kalau kamu takut dunia, kamu akan kehilangan segalanya, Elvira. Termasuk orang-orang yang sungguh melihatmu, bukan posisimu."
Elvira tidak menjawab. Ia hanya menatap Rayhan, dan kali ini tatapannya kosong-seperti seseorang yang sedang tersesat dan tidak tahu jalan pulang.
Hari-hari berikutnya berubah jadi ladang ranjau. Rayhan dan Elvira berusaha bersikap normal, seolah tidak ada percakapan pribadi yang terjadi. Tapi entah mengapa, justru keheningan itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
Hingga satu malam, di tengah konferensi internal rumah sakit, badai datang.
Seseorang-entah dari mana asalnya-menyebarkan rumor tentang hubungan antara direktur baru dan seorang dokter muda. Sebuah tangkapan layar percakapan dari aplikasi kencan anonim beredar diam-diam, dikirim dari ponsel ke ponsel oleh staf-staf yang terlalu penasaran.
Rayhan pertama kali mengetahuinya dari salah satu perawat. "Dok... ini beneran tentang Ibu Direktur dan... Anda?"
Ia menatap layar ponsel itu. Dan hatinya tenggelam.
Itu benar-benar tangkapan layar obrolan mereka-nama samaran, tanggal, semuanya. Bahkan potongan percakapan saat Elvira mengatakan, "Aku suka caramu dengar ceritaku. Rasanya aku bukan siapa-siapa lagi saat bicara denganmu."
Rayhan tak butuh waktu lama untuk tahu siapa yang menyebarkannya. Dan ia juga tahu-ini bukan kebetulan. Seseorang ingin menjatuhkan Elvira. Dan mereka menggunakan dia sebagai peluru.
Rayhan langsung menuju lantai delapan, ke ruangan Elvira. Ia mengabaikan tatapan para staf dan ketukan pelan dari mulut ke mulut. Ketika ia tiba, Elvira sudah berdiri dengan mata merah. Wajahnya tak lagi tenang. Tidak ada topeng.
"Aku sudah tahu," katanya sebelum Rayhan bicara. "Komite Etik sudah panggil aku untuk rapat besok."
Rayhan mengatup rahang. "Ini bukan salahmu. Aku yang harusnya melindungimu."
Elvira menggeleng. "Aku bisa hadapi ini. Aku sudah terlalu sering jatuh."
"Bukan ini maksudku!" Rayhan menaikkan suaranya. "Kalau kamu terus berpikir kamu harus hadapi semuanya sendirian, kamu akan hancur sendiri."
Elvira menatapnya tajam. Tapi bukan dengan amarah. Dengan luka. "Karena kamu tak tahu bagaimana rasanya berdiri di tempat setinggi ini dan dilihat dengan kecurigaan. Setiap niat baik selalu dicurigai sebagai kepentingan pribadi."
Rayhan maju satu langkah. "Tapi aku di sini. Aku satu-satunya yang tahu kamu sebenarnya. Jangan usir aku."
Elvira membuka mulut, ingin bicara. Tapi tak ada suara keluar. Hanya air mata yang jatuh perlahan di pipinya. Untuk pertama kalinya, ia runtuh di depan Rayhan. Bukan sebagai direktur. Tapi sebagai El-wanita yang pernah mencintai diam-diam, dan kini terluka karena mencoba berpura-pura kuat terlalu lama.
Rayhan mendekat, menggenggam tangannya.
"Aku gak akan ke mana-mana, El."
Tapi di dalam hati mereka berdua tahu... besok pagi, semuanya akan berubah.
Dan tidak akan ada yang sama lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





