Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Burik

Ditinggalkan Karena Burik

Andra tega menceraikan Aisyah hanya karena penampilan fisiknya yang dianggap tidak menarik. Namun, roda kehidupan berputar cepat saat Aisyah bertransformasi menjadi sosok yang mempesona hingga membuat sang mantan suami didera penyesalan mendalam. Di tengah situasi tersebut, keduanya justru terjebak dalam sandiwara rumit. Mereka terpaksa berpura-pura tetap harmonis demi menjaga perasaan orang tua, meski luka lama dan kenyataan pahit menghantui hubungan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ditengah-tengah makanan yang sedang kunikmati ini, tiba-tiba saja air mataku berjatuhan melewati pipiku. Mengingat bagaimana sikap Mas Andra kepadaku, tak ayal membuatku sakit hati sekaligus sedih. Apalagi aku yang tidak biasa dikasari oleh orang lain, membuatku kesulitan dan mencerna semua keadaan ini.

Apalagi perkataan Mas Andra itu membuatku merasa sangat nyeri. Hanya karena kulitku yang burik ini, hingga dia tega memperlakukan aku secara buruk, dan bersikap dingin selama berbulan-bulan ini.

Menghela nafas berat, aku menghentikan makanku kemudian menyimpan piring yang berisi sayur kangkung dan tempe itu, dan menyimpannya begitu saja di dapur. Mencuci tangan, dan segera kembali ke ruang tengah di mana putraku Farel tengah tertidur dengan lelapnya.

Sejak Mas Andra membenciku dan mulai menjaga jarak padaku serta bersikap dingin selama lima bulan ini, pria itu sama sekali tidak pernah berbicara lagi padaku maupun menggendong bayi yang berusia dua bulan itu.

Padahal pertama menikah, pria itu malah tidak mengizinkanku untuk memasang alat kontrasepsi karena menginginkan keturunan sesegera mungkin, mengingat usianya yang hampir menginjak dua puluh tujuh tahun. Mas Andra pernah bilang jika dia ingin menjadi seorang ayah di usianya yang masih muda. Tapi sekarang, sikap pria itu baru jauh berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dia lakukan sebagai perannya seorang suami.

Bahkan ketika aku melahirkan pun, pria itu sama sekali cuma datang sebentar menunggu di rumah bidan, dan segera pergi dengan alasan harus bekerja.

Padahal dalam keadaan urgent seperti itu, aku sangat membutuhkan kehadirannya di sisiku. Sedangkan untuk menghubungi orang tua dan meminta bantuan, sangat tidak memungkinkan, karena kedua orang tua kami berada di pulau seberang dan harus menggunakan kapal laut jika ingin sampai ke ibukota ini.

Mendesah nafas berat, aku memutuskan untuk berbaring di samping Farel. Layar televisi masih menyala dan masih mempertontonkan sinetron yang sama tak hingga tanpa terasa aku terpejam, karena rasa kantuk yang teramat berat.

******

Entah jam berapa aku terbangun karena suara di depan televisi terasa berisik masuk ke telingaku, ditambah Farel yang tiba-tiba menangis dan ingin menyusu.

Ya Tuhan, rupanya aku ketiduran. Saat kulirik jam dinding hampir menunjukkan pukul 11.30 malam. Bahkan aku belum menunaikan ibadah sholat isya.

Farel menyusu sangat kuat hampir setengah jam lamanya. Suara TV sudah kupelankan agar anakku itu tidak terganggu dalam tidurnya. Aku memutuskan untuk melanjutkan tidur di sini setelah melaksanakan kewajibanku nanti. Karena Mas Andra pasti tidak akan membuka pintu kamarnya, kebiasaan baru ketika dia marah kepadaku.

Jangan mengharapkan belas kasihannya karena itu sama sekali tidak akan mempan. Mas Andra akan tidur dengan nyaman sambil mendengarkan musik dari ponselnya, dia tidak akan peduli meskipun aku menggedornya untuk mengambil perlengkapan Farel ataupun untuk mengambil selimutku. Entah terbuat apa hatinya, hingga dia tega melakukan hal ini kepadaku dan juga darah dagingnya sendiri.

Farel berhenti menyusu dan dia kembali terlelap dalam tidurnya. Untung selimutnya masih di sini, jika di kamar mungkin aku akan kesulitan dan kasihan kepada putraku karena kedinginan. Untuk masalah mengganti kain jika dia basah, aku biasa mengambilnya yang masih tergantung di jemuran bagian belakang. Kebiasaanku yang tidak mau menumpuk pakaian kotor, maka jika senggang satu atau dua kain yang basah terkena ompol Farel, aku lebih sering mencucinya segera dan menjemurnya.

Aku berdiri dengan nyawa yang masih belum berkumpul. Segera berjalan menuju ke kamar mandi di bagian belakang, saat sayap-sayup terdengar suara orang yang tengah mengobrol dengan mesra. Kupikir itu suara televisi,namun ketika di layar hanya tengah menceritakan tentang dialog seputar pemerintahan, fokusku teralihkan pada seseorang yang berada di balik pintu kamar. Yah aku tidak salah lagi itu suara mas Andra namun dia sedang berbicara dengan siapa.

Ya Tuhan kenapa perasaanku tiba-tiba saja menjadi gelisah seperti ini. Aku mau makan dada berusaha untuk menormalkan detak jantungku dan berusaha untuk berpikiran jernih. Namun laki-laki suara itu membuat ketik fokusku terpecah dan aku ingin mencari tahu lebih lanjut. Jangan sampai aku bersuudzon kepada suamiku sendiri.

Bismillah, kudekati pintu kamar yang tinggal tiga langkah dari tempatku ini saat suara itu terdengar jelas masuk ke dalam telingaku.

" …. Iya, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu."

….

"Hmm, besok sehabis pulang kerja ya aku pasti turutin kemauan kamu!"

….

"Iya, aku juga cinta sama kamu. Sekarang kamu bobo yang nyenyak ya. Aku juga udah ngantuk nih.

….

"Eh, nggak deng. Punyaku sampai berdiri gara-gara kangen sama kamu. Tau nggak, uara kamu itu seperti desahan di telingaku.

"Ya ampun, Mas … teganya kamu …!" Aku menutup mulutku rapat-rapat, agar suara teriakanku tidak terdengar oleh seseorang yang tengah bicara di balik pintu ini.

Entah kenapa aku harus mendengar percakapan ini, dan entah kenapa Mas Andra berbicara sangat menjijikan seperti itu, dengan seseorang yang kuyakini dia berada di balik telepon.

Ya Tuhan, apakah ada sesuatu hal yang tidak aku ketahui dibalik perubahan sikap suamiku itu. Yang aku yakini, dia membenci dan marah padaku bukan hanya sekedar karena kulitku yang burik, lebih dari itu, ada sesuatu hal yang dia sembunyikan dariku.

Tanpa terasa air mataku lolos begitu saja dan membasahi pipi. Dengan berat melangkahkan kakiku dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Tangisku sumpah seiring dengan air keran yang sengaja aku nyalakan dengan cukup besar, agar menyamarkan suara tangisanku. Betapa apa yang sudah dikatakan oleh Mas Andra barusan membuatku sangat lebih sakit dari sebelumnya.

Puas menangis, segera mengambil wudhu untuk bersuci dan kembali ke ruangan di mana segala sesuatu kulakukan di sana, entah itu makan, berbaring, menonton TV ataupun mengerjakan apa saja.

Mukena berada di dalam kamar dan tak mungkin jika aku mengerjakan shalat dengan baju yang aku karenakan, karena takut terkena najis dari ompol Farel.

Namun aku masih berpikir ulang untuk mengetuk pintu kamar, di mana alat yang kubutuhkan itu berada. Namun jika tidak mengambilnya, aku tidak bisa menjalankan kewajibanku yang sudah sangat telat ini.

Kuputuskan untuk mengetuk pintu kamar dan ingin melihat reaksi yang ditunjukkan oleh suamiku. Bagaimana jika kelakuan buruknya sudah aku ketahui?

Tok tok tok!

Mencoba bersikap biasa saja, akhirnya aku memilih untuk mengetuk pintu. Suara di dalam sana yang tengah asyik mengobrol, langsung terhenti dan berganti dengan hening. Setelahnya, kudengar kunci diputar dan Mas Andra berdiri dengan rambutnya yang acak-acakan. Namun fokusku justru menatap ke arah bawah. Dimana dibagian pusaka miliknya tampak menggembung, apalagi Mas Andra hanya mengenakan kolor pendek.

"Ada apa, Aisyah?" Wajah dingin itu memicing menatap ke arahku. Berbeda sekali dengan apa yang dia lakukan beberapa saat yang lalu pada seseorang.

Aku memejamkan mata, sekilas mengambil nafas panjang demi memberi ruang agar sesak sedikit lega.

Jangan sampai emosi terarah padanya. Saat ini aku belum memiliki bukti yang jelas. Bisa saja jika aku langsung bertanya kepada Mas Andra, tapi bukan tidak mungkin dia akan balik membentak dan marah-marah padaku yang ujung-ujungnya dia akan semakin kalap dan mengusirku dari rumah kontrakan tiga petak ini.

"Kenapa kau mengetuk pintu jika tidak ada alasan, hmm? Kau membangunkanku yang sudah terlelap, tahu nggak. Padahal kau tahu kan seharian aku bekerja keras di kantor dan sangat lelah?!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pelakor.
9.3
Hidup Nada hancur seketika saat hari pernikahan yang seharusnya indah berubah menjadi petaka. Kehadiran sosok wanita yang mengaku sebagai istri sah calon suaminya membongkar rahasia kelam di hadapan semua tamu, meninggalkan rasa malu mendalam bagi keluarganya. Kini, Nada terjebak dalam dilema batin yang menyakitkan. Di tengah rasa kecewa dan pengkhianatan itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung benih dari pria tersebut.
Sampul Novel Bukan Pelayan Biasa
8.8
Dunia Amanda Felicia runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan di hari kelulusannya. Kesedihannya kian mendalam ketika Fanny, sahabat setianya, harus pergi ke luar negeri. Di tengah keterpurukan, Amanda mencoba bangkit dengan bekerja sebagai pelayan di kediaman Alexander Mattew. Namun, pria kaya itu justru kerap menyulitkan hidupnya dan sengaja membuat Amanda tidak betah. Mampukah Amanda bertahan menghadapi sikap dingin Alex demi menyambung hidupnya?
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Claritta Indriana, model populer, terjerat dalam pernikahan rumit dengan pewaris Andromeda Group, Aslan Teryeka. Meski mengaku cinta, Aslan memperlakukan Claritta semena-mena dan bersikap posesif, bahkan tega berselingkuh dengan sekretarisnya. Di tengah pengkhianatan dan kebencian Aslan yang membara, Claritta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia bertahan sebagai boneka dalam hubungan hancur ini, atau memilih menghilang selamanya demi meraih kebebasan?
Sampul Novel Duri Pernikahan
8.6
Sasy Mentari, mahasiswi berusia 19 tahun, mantap menikahi Satya setelah setahun menjalin kasih. Meski sosok dosen itu tampak sempurna, segalanya berubah drastis tepat setelah janji suci diucapkan. Satya yang semula hangat mendadak bersikap dingin dan kasar, seolah cintanya hilang dalam semalam. Di tengah luka batin yang kian mendalam, Sasy harus mencari tahu alasan di balik perubahan sikap suaminya. Mampukah ia bertahan saat setiap detik pernikahannya terasa bagai duri?
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel Kekasih Gelap yang Dicampakkan
8.8
Saat menjemput kakaknya, seorang wanita tidak sengaja mendengar percakapan rahasia. Oscar Nando, pria yang telah dikencaninya secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun, dengan santai menyatakan bahwa hubungan mereka hanyalah cara untuk menghabiskan waktu tanpa ada niat untuk menikah. Kenyataan pahit ini menghancurkan harapan sang wanita yang selama ini rela menyembunyikan status mereka. Didorong oleh rasa sakit hati dan harga diri yang terluka, dia memutuskan untuk langsung membuka pintu dan menghadapi Oscar.