Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ditinggal 17 Kali, Kini Aku Pemimpin Mafia

Ditinggal 17 Kali, Kini Aku Pemimpin Mafia

Tiga tahun mendampingi Lewis dan mengandung lima bulan tidak menjamin Merry mendapatkan pernikahan impiannya. Lewis telah membatalkan pernikahan mereka sebanyak enam belas kali demi Agnes, adik angkatnya, dengan berbagai alasan remeh. Kini, menjelang percobaan pernikahan ke-17, Lewis kembali mengumbar janji setianya. Namun, Merry tidak lagi sama. Berbekal undangan pulang dari ayahnya, kepala Keluarga Damian di Vireka Utara, Merry bersiap pergi selamanya jika Lewis kembali berpaling demi Agnes.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dapur. Aku menyenandungkan lagu Vireka Utara sambil perlahan menggoreng daging sapi dan telur setengah matang.

Ini adalah pesta perpisahan yang kusiapkan untuk diriku sendiri.

Aku menarik kursi dan duduk. Saat garpuku nyaris menyentuh telur.

Klek.

Pintu terbuka.

Lewis masuk, membawa harum parfum Agnes yang masih melekat pada tubuhnya. Di tangannya, dia membawa sebuket bunga.

Sebuket besar bunga cendrawasih yang terlalu mencolok. Warna kuning keemasan berpadu dengan merah-oranye, tangkainya yang keras menjulang.

Aku benci bunga itu. Bagiku, mereka tampak seperti sekumpulan kalkun malang yang dipaksa berdandan untuk dipajang di meja makan, canggung dan norak.

Namun, Agnes menyukainya. Katanya bunga itu kuat, seperti dirinya yang selalu berharap bisa begitu.

"Pagi, Merry." Suaranya serak karena begadang, tetapi suasana hatinya sedang bagus. Dia meletakkan bunga yang mengganggu pandangan itu di meja, lalu duduk di hadapanku.

"Agnes rewel lagi semalam," katanya setengah mengeluh dan setengah menjelaskan. "Katanya obat penghilang sakit yang baru diganti nggak manjur. Tubuhnya itu sedikit terpaan saja langsung tumbang."

Sambil berbicara, dia meraih rotiku.

Aku mengangkat piringku, menghindari tangannya.

Dia tertegun, baru sadar di meja hanya ada satu porsi sarapan.

"Sarapanku mana?" Alisnya terangkat, dengan nada manja yang sudah dianggap wajar. "Merry, masa kamu cuma memikirkan diri sendiri dan anakmu, terus biarkan suamimu kelaparan?"

Melihat ekspresiku yang dingin, Lewis seperti baru teringat sesuatu.

"Soal di gereja kemarin, aku minta maaf, Merry." Dia menggenggam tanganku. "Agnes benar-benar sakit waktu itu. Paman Martin meninggalkannya sendirian..."

Lagi-lagi alasan yang sama.

"Bunga ini," ucapnya. Karena aku tetap diam, dia buru-buru mengganti topik. Dia mengambil buket bunga yang menyilaukan itu dan menyodorkannya ke pelukanku. "Ini buatmu. Kesukaanmu, 'kan? Di dalamnya ada kejutan. Mau lihat?"

Dia tersenyum misterius, lalu merangkulku dari belakang. Tangannya menuntunku membuka satu kelopak bunga di tengahnya. "Ada di sini."

Aku membukanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru merah tua.

Di dalamnya ada sepasang anting.

Aku terpaku menatapnya.

Tingkat kemurniannya lumayan, tetapi di bawah cahaya terlihat ada serat halus di dalamnya.

Warna dan potongannya yang seperti ini...

Seketika sebuah rasa dingin yang absurd menyelimuti diriku.

"Suka?" tanya Lewis dengan nada terdengar sedikit ingin dipuji.

Seluruh tubuhku gemetar karena marah. Aku menatap anting-anting itu lekat-lekat. Tentu saja cocok untukku karena ini adalah rubi merah darah merpati milikku yang kubawa sebagai maskawin!

Enam bulan lalu, Lewis bilang permata itu dikirim ke desainer untuk dijadikan perhiasan. Aku sempat menantikan hari dia menyerahkannya padaku.

Kini aku mengerti, bagian utama batu itu ada di meja rias Agnes. Sedang yang kubawa ini, hanyalah potongan sisa.

Dia berani menggunakan barang-barang seperti ini untuk menipuku? Mengambil milikku, lalu memberikannya padaku seakan-akan cuma amal?

"Merry?" Lewis, karena melihatku lama terdiam, menyentuh lembut pundakku.

Aku menutup kotak itu, lalu melemparkannya begitu saja ke meja dengan bunyi yang nyaring.

"Nggak suka?" tanyanya sambil mengerutkan dahi, tampak bahwa dia merasa aku bertingkah aneh.

Lewis meletakkan anting itu, raut wajahnya yang dipenuhi kehangatan yang dipaksakan sedikit memudar, digantikan oleh kejengkelan. Dia berdeham, sepertinya akhirnya teringat urusan utama hari ini.

"Merry, ada hal lain. Bulan depan di Festival Panen Lestari, Agnes bilang padaku, tahun ini dia ingin memerankan Dewi Kesuburan."

Aku tertegun.

Festival Panen Lestari adalah perayaan terpenting di Vireka Selatan.

Dia terus saja berbicara, "Kamu tahu sendiri, kondisi Agnes... Belakangan ini suasana hatinya sedang buruk. Dia sudah dua kali bilang padaku kalau dia selalu ingin berperan sebagai Dewi Kesuburan."

Menurut tradisi, dalam perayaan tersebut, peran Dewi yang melambangkan kesuburan bumi dan kemakmuran keluarga selalu diperankan oleh istri sang bos mafia. Jika belum menikah, peran itu bisa diambil oleh saudara perempuannya.

Sedangkan aku, Merry Damian sedang mengandung anak Lewis Ricardo, bahkan belum sempat mengadakan pernikahan sah sekali pun.

Jadi secara teori, Agnes memang berhak merebutnya.

"Kamu tahu, 'kan?" Lewis mengamati ekspresiku, nada suaranya agak tidak sabar saat berkata, "Kesehatannya kurang baik dan jarang ada hal yang membuatnya senang. Selain itu, sejak kecil dia memang ingin sekali memerankan Dewi. Waktu Paman Martin masih hidup..."

Dia memberiku bunga yang paling kubenci.

Dia menggunakan sisa-sisa maskawinku untuk membuat perhiasan murahan dan mencoba menipuku, tetapi memberikan bagian yang paling berharga kepada wanita lain.

Sekarang, dia bahkan ingin merampas kehormatan dan status yang seharusnya menjadi hakku dan anakku dalam festival yang melambangkan kehormatan keluarga dan pewarisan garis keturunan ini.

Hanya untuk membuat wanita lain bahagia sebentar.

Aku merasakan kelegaan yang aneh.

Aku tak pernah peduli pada gelar atau peran tertentu, tetapi saat ini aku menyadari dengan jelas bahwa betapa timpangnya posisiku dan Agnes di hatinya.

"Oke, aku setuju." Aku menatapnya sambil tersenyum dengan ketenangan yang luar biasa, bahkan bisa dibilang lembut.

Lewis sepertinya tidak menyangka aku akan setuju dengan begitu mudahnya, bahkan sempat tertegun.

"Kamu setuju?"

"Hmm." Aku menyeka mulutku dengan serbet dan berdiri. "Itu 'kan cuma peran. Kalau dia mau, berikan saja padanya."

Raut wajah Lewis langsung berseri, kekesalannya lenyap begitu saja. Dia mengulurkan tangan ingin memelukku. "Sudah kuduga! Merry, aku tahu kamu yang paling pengertian. Inilah wibawa yang seharusnya dimiliki oleh istri bos mafia yang sejati..."

Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.

Drrt!

Ponsel di sakunya berdering lagi.

Nada dering eksklusif itu adalah lagu piano yang dimainkan dan direkam sendiri oleh Agnes, berjudul: [Untuk Ricardo yang Terkasih].

Ekspresi wajahnya menunjukkan sedikit terganggu, tetapi lebih dominan ke perasaan tak berdaya karena selalu dibutuhkan.

"Maaf, Merry." Dia menatapku dengan ekspresi paham maksudnya, 'kan? Sambil menjawab telepon, dia berjalan ke pintu. "Halo? Agnes? Ada apa lagi? Oke, oke, aku segera ke sana."

Setelah menutup telepon, dia buru-buru mengambil kunci mobil, berjalan ke pintu, lalu kembali menekankan, "Ini yang terakhir kalinya! Merry, aku janji! Besok kita akan menikah. Setelah anak kita lahir, aku akan mencurahkan semua waktuku untuk kalian berdua!"

Nada suaranya tegas, tatapannya tulus, seolah itu benar-benar janji yang bisa ditepati.

Aku menatap punggungnya yang tergesa-gesa pergi. Ekspresiku datar tanpa ekspresi.

Terakhir kali?

Tidak ada lagi kesempatan berikutnya, Lewis.

...

Keesokan harinya, di Gereja Luminara.

Gereja itu dihias lebih mewah daripada sebelumnya.

Mawar putih dan bunga anggrek membentang dari pintu masuk hingga altar, udara dipenuhi aroma wewangian yang mewah.

Para tamu saling berbisik, sesekali melirik ke area tunggu pengantin wanita.

Lewis berdiri di depan altar, mengenakan jas hitam yang sempurna dan dengan sabar merapikan lengan bajunya.

Suasana hatinya sedang baik.

Semalam Agnes cuma sedikit uring-uringan, tetapi dia berhasil menenangkannya setelah beberapa percakapan. Aku pun sangat pengertian dan tidak membuat keributan.

Hari ini, segalanya akan berjalan sempurna.

Kecuali bahwa pengantin perempuannya sampai sekarang belum juga muncul.

Tiba-tiba Anton, orang kepercayaannya, dengan wajah pucat menembus barisan tamu dan cepat-cepat menghampirinya. Dia merendahkan suaranya dan berkata dengan nada mendesak.

"Bos! Nona Merry, dia nggak ada di vila! Kamarnya kosong. Barang bawaannya juga hilang!"

"Apa katamu?!"

"Orang yang kita kirim bilang kalau sepertinya Nona Merry pergi ke rumah sakit kandungan."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B26677" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B26677
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat
9.7
Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat menyajikan kisah kelam pembalasan dendam. Akibat ulah ayahnya yang menyakiti putri Om Charlie, protagonis kini harus menanggung hukuman pahit. Ia dipaksa tunduk dalam posisi memalukan oleh sosok berkuasa tersebut. Sembari mendengar suara kemesraan sang ayah dengan sahabatnya dari dalam kamar, ia hanya bisa pasrah dan menyerah sepenuhnya pada setiap perlakuan intim serta kendali mutlak dari Om Charlie.
Sampul Novel Budak Seksi Tuan Cedric
8.2
Falisha Marbella, mahasiswi berusia 19 tahun, terjebak dalam tragedi saat kekasihnya, Ben Andrigo, meninggal dunia di sisinya. Ayah Ben, Cedric Andrigo, seorang miliarder kejam yang menguasai bisnis ilegal, menyalahkan Falisha atas kematian putranya. Didorong dendam membara, pria arogan ini bersumpah menyiksa hidup Falisha. Cedric menjadikan Falisha budak pemuas nafsu demi membalas dendam. Mampukah Falisha lepas dari jerat penderitaan dan kekejaman Cedric?
Sampul Novel Calamity Of Love
9.4
Camilio Danielle Osvaldo adalah jenius ber-IQ 150 dengan prestasi militer gemilang. Namun, patah hati mendalam akibat ditinggal wanita tercinta mengubah hidupnya. Mike, petinggi Black Nostra, mengajaknya bergabung ke sindikat mafia global tersebut. Meski awalnya menolak karena nurani, Camilio akhirnya luluh setelah melihat solidaritas luar biasa di sana. Di balik aksi kriminal, ia menemukan kehangatan keluarga yang tak terduga dalam kelompok tersebut.
Sampul Novel GADIS PENURUT TUAN MAFIA
7.9
Calvin adalah pemimpin mafia yang sangat ditakuti. Keluarganya dikenal kejam, bahkan ada yang memakan jasad lawan. Bisnisnya meliputi kebun ganja hingga senjata ilegal yang sulit dilacak polisi. Namun, sisi gelapnya terusik saat bertemu gadis cantik yang patuh layaknya robot. Meski masa lalunya kelam, senyum jujur sang gadis mulai meluluhkan hati Calvin. Akankah hubungan unik ini bertahan di tengah dunia kriminal mereka yang sangat berbahaya?
Sampul Novel Gairah Liar sang Mafia
8.0
Arnius Nagendra dihantui masa lalu kelam akibat ulah Janied Marques, sepupunya yang mengepalai sindikat perdagangan manusia. Demi membalas kematian istrinya, Arnius menyamar jadi guru dan melibatkan seorang guru TK cantik dalam misi berbahaya ini. Identitas aslinya pun tersembunyi di balik dunia abu-abu. Akankah kerja sama ini memicu benih cinta di tengah dendam yang membara, atau justru menyeret sang wanita ke dalam lingkaran hitam yang mematikan?