Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ditalak Tiga Lewat Telepon

Ditalak Tiga Lewat Telepon

Atira melepas impian karier demi mengabdi sebagai istri, namun pengorbanannya berakhir tragis saat sang suami menjatuhkan talak tiga hanya melalui telepon. Di tengah penderitaan tanpa nafkah, ia harus menghadapi kenyataan pahit: ibu mertuanya koma dan anak sulungnya hilang diculik. Kini, Atira berada di titik terendah hidupnya. Mampukah ia bangkit dari kehancuran ini untuk membuktikan kekuatannya kepada dunia? Simak perjuangan emosionalnya dalam kisah ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Ah, baik saya ke sana sekarang!” ucap Atira sambil terus berpikir bagaimana dengan Davin.

“Masuklah! Biar ibu hubungi Danu untuk jemputkan Davin.”

Atira mengangguk tanpa menolak tawaran bantuan dari bu RT. Danu adalah anak pertama bu RT yang kini bekerja di balai desa.

Saat memasuki ruangan penghubung, Atira diminta untuk mencuci tangan dan mengenakan pakaian khusus pengunjung pasien di ruang ICU.

Setelah itu, Atira dibawa masuk ke tempat dimana brankar bu Asih diletakkan.

“Mohon maaf, dari tadi pasien mengigau memanggil-manggil nama Bayu. Dokter menyarankan agar keluarga pasien diminta untuk menemani bu Asih guna memberikan rangsangan dengan harapan agar pasien segera sadar.” Perawat itu menjelaskan dengan cukup rinci, hanya saja hati Atira yang kini bertambah hancur saat mendengarkan penjelasannya. Ibu mertuanya terus memanggil nama Bayu.

“Bagaimana, Bu? Bisa menghadirkan Bayu?” tanya perawat itu lagi.

“Emmhh, gimana ya Sus? Dari tadi saya sudah coba hubungi mas Bayu tapi enggak nyambung.” Ada air mata yang berusaha meringsek keluar, namun berhasil Atira tahan.

“Kalau begitu, cobalah oleh ibu sebagai anaknya untuk mengajaknya berbicara. Saya tinggal dulu!” ucap suster itu lagi. Atira hanya mengangguk setuju.

Atira duduk di sebuah kursi plastik yang disiapkan. Ia pun mengelus lembut lengan bu Asih.

“Bu, ini Tira Bu. Tolong bangun! Jangan membuat Tira semakin takut sendirian. Ibu kuat dan harus kuat! Tira sendirian Bu!” ucap Atira sambil terisak.

Atira mengusap lembut punggung tangan bu Asih. Sebenarnya ia bukan sekedar menguatkan bu Asih, lebih dari itu, justru ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.

“Bu, Tira sayang sama Ibu. Hanya Ibu, keluarga Atira saat ini. Tira takut kalau mas Bayu menceraikan Tira, ibu ikut pergi menjauh. Ibu, jangan tinggalin Tira! Tira sayang sama ibu!” ungkap Atira dengan air mata yang telah menganak sungai.

“Bu, coba dibacakan ayat-ayat suci kepada pasien!” ucap suster sambil memeriksa kembali lembar anamnesa yang tadi ditulis bersama dokter.

“Iya, Sus. Nanti saya coba. Tapi, bolehkah sekarang saya pulang dulu? Saya harus jemput anak saya dari sekolah.” Pikiran Atira terus mengingat keadaan anaknya saat ini, anak itu pasti sudah bubar.

“Oh, tidak ada yang menggantikan Bu?” tanya suster itu lagi.

“Tadi bu RT bilang mau minta tolong anaknya buat jemputkan, tapi enggak tahu kenapa hati saya enggak tenang.”

“Baik, silakan Bu. Hanya saja saya minta ibu cepat kembali, atau keluarganya yang lain. Kondisi pasien sangat lemah.”

“Baik, sus!” ucap Atira dengan cepat. Ia pun segera berdiri setelah mengelus lembut punggung tangan ibunya. “Tira pamit sebentar, Bu. Mau jemput Davin dulu. Besok Davin mau izin dulu sekolahnya, mau Tira titip sama bu Retno sekalian sama Daffa. Ibu cepat sembuh ya, biar kita cepat sama-sama lagi.”

Ucapan terakhir Atira membuat ia meringis sendiri. Bisakah mereka masih sama-sama dengan status yang berbeda? Ditambah lagi ada perempuan lain yang tadi mengangkat telepon mas Bayu.

Atira menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Tira pamit Bu,” ucapnya seraya mengecup lembut kening bu Asih. Setelah mengucapkan salam, Atira pun bangkit dari kursi.

Sesaat sebelum ia keluar dari ruangan tempat bu Asih dirawat, Atira berbalik dan menatap bu Asih dengan lekat. “Selamat tinggal, Bu!” air matanya mengalir deras sejalan dengan arah langkahnya yang kini kian menjauh.

***

Atira segera memacu kuda besi butut miliknya. Pikirannya terus menjejaki keadaan Davin yang mungkin sudah sendirian di sekolah.

“Tira, maaf anak ibu enggak bisa dihubungi dari tadi. Mau ngabarin kamu enggak boleh masuk ke dalam sama suster. Tadi ibu mau pergi jemput Davin sendiri, tapi dompet ibu ketinggalan, enggak ada ongkos. Jadi ibu masuk lagi.”

Ucapan bu RT saat ia baru keluar dari ruangan tempat bu Asih dirawat terus terngiang-ngiang. Atira betul-betul khawatir dengan Davin. Meskipun dia anak lelaki, tapi usianya baru 7 tahun dan baru masuk SD dua bulan ini. Setiap hari selalu ia yang mengantar jemput Davin.

Tiiinnn...

Gubrakk!

“Aduh!”

Atira meringis saat ia baru menyadari jika dirinya berada di tepi jalan dalam keadaan terjatuh dari motornya.

“Awww... “ ia mencoba menggeser motornya yang sedikit menghimpit kaki kirinya.

“Enggak apa-apa, Mbak?” tanya seorang lelaki sambil membantu mengembalikan posisi motor Atira sebagaimana mestinya.

“Ya.” Atira segera berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor karena terkena tanah. Ia jatuh ke sisi jalanan yang tak teraspal.

“Mbak nya terluka!” ucap lelaki yang mengurungkan niatnya untuk memarahi Atira. Lelaki bermobil sedan mewah itu terhalangi jalannya oleh Atira yang sedang melamun, menjalankan motor ke kanan dan ke kiri tanpa fokus. Sebenarnya lelaki itu sudah mengklakson Atira sampai dua kali, tapi pikiran Atira sedang tak berada di sana.

“Maafin saya, Pak!” ucap Atira yang menyadari kesalahannya.

“Enggak apa-apa. Tapi, mbaknya terluka!” tunjuk sang lelaki pada betis kiri Atira yang tertutup celana. Dari celana itu nampak merembas darah segar.

“Enggak apa-apa. Sekali lagi saya minta maaf, pak!” ucap Atira mengulangi permintaan maafnya.

“Mbak!” panggil lelaki itu saat melihat Atira buru-buru naik lagi ke motornya.

“Maaf Pak, saya buru-buru!” ucap Atira seraya menancap gas.

Dari kaca spion, Atira sempat melihat lelaki tadi terdiam di tempat sambil memandanginya yang semakin menjauh. Tak apa ia terluka, masih bisa diobati nanti saat Davin sudah ia jemput.

Sesampainya di sekolah, nampak pak Ari, satpam sekolah sedang mengunci pagar sekolah dari dalam.

Tinnn... Tinnn...

Pak Ari menoleh ke arah bunyi klakson dan mendapati Atira yang menghentikan motornya tepat di depan gerbang.

“Pak Ari, lihat Davin?” tanya Atira dengan nafas yang memburu.

“Kelas berapa Bu?” tanya pak Ari yang memang belum mengenal Davin. Bahkan, ada banyak siswa-siswi yang tak dikenali oleh pak Ari saking banyaknya anak yang bersekolah di sini.

“Kelas 1, Pak. Matanya coklat, kulitnya putih, rambutnya baru saya cepak kemarin.” Atira menjelaskan kondisi fisik anaknya. Ia mengungkapkan warna mata karena orang yang bermata coklat itu cukup sedikit dan hampir mudah dikenali.

“Wah, enggak tahu ya. Tapi, semua anak sudah dijemput, ada juga yang pulang sendiri, yang rumahnya dekat atau yang udah besar gitu.”

“Anak saya biasa saya jemput, Pak! Tiap hari saya antar jemput,” jelas Atira.

“Hari ini ibu terlambat jemput?” tanya Pak Ari.

“Iya, Pak. Ibu saya sedang dirawat di ICU, tadi saya harus menemani ibu saya terlebih dulu.”

“Gimana ya, Bu? Guru-guru juga sudah pulang semua, pak kepala sekolah juga. Di dalam sudah saya periksa, kosong semua.”

Atira kembali menghubungi bu Retno dan memintanya untuk memeriksa di rumah apakah Davin sudah ada di rumah atau belum. Lagi-lagi jawaban bu Retno menegaskan bahwa Davin belum ada di rumahnya.

“Mang Sahrul!”

Pak Ari kembali membuka gembok dan mempersilakan mang Sahrul, OB sekolah untuk masuk.

“Mamah nya Ujang Davin ganteng ya?” tanya mang Sahrul tiba-tiba, sebelum ia melewati gerbang.

“Iya. Mang Sahrul lihat anak saya?” tanya Atira berharap.

“Bukannya tadi sudah dijemput pake mobil? Katanya dijemput Mamah, pake mobil hitam.”

“Saya belum jemput, Mang! Siapa yang jemput anak saya?”

Dunia Atira terasa berhenti di detik ini.

*Bersambung*

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FVN" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FVN
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Menantu Idaman
7.9
Kisah asmara dewasa ini mengikuti pemuda blasteran Rusia-Bali penganut Hindu dan gadis Nasrani putri pejabat Indonesia. Keduanya bertemu saat menempuh studi di Rusia. Meski terpisah perbedaan keyakinan dan latar belakang keluarga yang kontras, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan cinta yang tak terelakkan. Di tengah konflik identitas dan tekanan sosial, mereka harus menghadapi konsekuensi dari perasaan yang tumbuh di antara mereka berdua.
Sampul Novel Cinta wanita kutubuku
8.6
Elia menghabiskan hari-harinya bekerja di sebuah gedung perkantoran megah tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, segalanya berubah saat ia dipertemukan dengan Edward, putra dari pemilik perusahaan tersebut. Keduanya mulai menjalin kedekatan intens karena harus mengelola sebuah proyek besar yang sama. Tanpa disadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Elia terhadap Edward, dan ternyata sang pewaris kaya itu pun merasakan hal yang sama.
Sampul Novel Dendam di Balik Cinta
8.8
Pasca kehancuran bisnis keluarga, aku memilih menikahi Kade Mitchell dan meninggalkan Jase Mitchell yang menangis pilu. Empat tahun berlalu, Kade wafat. Ibu tirinya, Katie Fuller, tega mengusirku dan anakku dari rumah. Terdesak tanpa perlindungan, aku terpaksa mendatangi Jase yang menyambutku dengan nada menggoda. Di balik keputusasaan ini, aku menyusun rencana untuk merebut kembali warisan yang dicuri Katie melalui tangan anaknya sendiri.
Sampul Novel Gairah Baby Maker
9.1
Aida sesekali melirik dan memberi kode melalui gerakan alisnya yang menggoda. Dari posisi jongkoknya, pemandangan di balik daster tipisnya terpampang nyata, memperlihatkan lekuk paha mulus dan detail pakaian dalamnya yang tersorot cahaya matahari sore. Pemandangan spektakuler itu membuatku terpaku dan harus menahan hasrat liar yang mulai bergejolak. Aku berulang kali meneguk ludah karena merasa sangat haus akan godaan yang ada di depan mata saat ini.
Sampul Novel Ikatan Yang Ditakdirkan
9.6
Zayyad, CEO muda penderita gynophobia, terpaksa menikah demi menepis rumor miring. Di sisi lain, Alina yang misandris merelakan prinsipnya demi sang nenek. Pertemuan antara rasa takut dan benci ini membawa mereka ke dalam ikatan pernikahan yang kontradiktif. Zayyad mendambakan keluarga normal selamanya, sementara Alina justru merencanakan perceraian setelah tugasnya usai. Akankah takdir menyatukan hati mereka atau justru berakhir tragis sesuai rencana awal Alina?
Sampul Novel Kabut Cinta Riana
9.2
Riana yang cantik jelita harus menelan pil pahit saat harapannya hancur berkeping-keping. Sang kekasih justru memilih wanita lain, meninggalkan luka mendalam yang mengubah hatinya menjadi sedingin es. Meski dikhianati, ia terus berjuang dengan ketabahan dan pengorbanan yang luar biasa. Akankah ketulusan Riana mampu menyibak kabut duka dan menuntunnya menemukan cinta sejati yang selama ini ia dambakan di tengah dinginnya kesendirian?