Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dipatahkan Oleh Cinta

Dipatahkan Oleh Cinta

Permintaan maaf sang suami karena ucapan kasarnya terasa hambar bagi sang istri. Luka hatinya kian mendalam saat suaminya memutuskan untuk membawa Charissa, selingkuhannya yang tengah hamil, tinggal bersama mereka. Sang istri dipaksa menerima kehadiran madunya di bawah satu atap demi alasan kesehatan. Di balik kepatuhannya, ia meratapi nasibnya yang hancur. Ia merasa tak sanggup berbagi kasih sayang dan rumah dengan wanita lain yang telah merebut kebahagiaannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kecewa, terluka, patah, semua melebur menjadi satu.

Aku melihat sendiri siluet tubuh itu. Aku tidak mungkin salah mendengar juga bagaimana ia menceritakan niatnya untuk menikah lagi kepada wanita yang ada di depannya. Aku berusaha meredam isak tangisku, aku tidak ingin kepergok mengikutinya, namun aku menajamkan pendengaran.

Batinku semakin hancur di saat mendengar percakapannya mereka.

"Apa istri kamu setuju, Pak?" kata wanita itu.

"Setuju gak setuju, dia tetap harus setuju," ucap Bagas suamiku seraya menggenggam erat tangan kekasihnya. Aku duduk tepat dibelakang kursi yang mereka duduki. Aku mendengar dengan jelas perkataan mereka, mungkin juga jika wanita itu mengenalku atau jika aku tidak menggunakan pakaian tertutup, aku akan ketahuan mereka. Beberapa kali aku mengelap tangan dengan tisu yang ku bawa, sampai tisu itu terguling dan berakhir menumpuk di tasku, karena aku beberapa kali menggantinya karena tanganku terus berkeringat. Gugup, gelisah, takut jika Bagas mengetahui keberadaanku di sini.

Aku telah lancang mengikuti Bagas yang keluar rumah dengan baju rapi. Aku curiga dengan kepergian Bagas karena ini bukan kali pertama Bagas pergi di siang hari setelah zhuhur di hari weekend, tanpa sepengetahuannya aku mengikuti Bagas.

"Ta-tapi .…" Bagas meletakan jari telunjuknya di bibir wanita itu. Hal yang membuatku semakin muak, aku memalingkan muka, dan membetulkan kacamata hitam yang kukenakan.

"Aku cinta sama kamu, Sa. Aku gak mau kehilangan kamu, aku cuma mau menikah denganmu dan hidup bahagia denganmu." Aku berusaha menguatkan diri agar tidak melabrak mereka, terlalu memalukan rasanya jika aku bertengkar di depan umum hanya karena melabrak pelakor, masih untung kalo suamiku memilihku, mungkin aku tidak akan terlalu malu, tetapi jika suamiku memilih pelakor itu? Entah apa yang akan terjadi dengan perasaan ku.

"Tanpa memikirkan hati yang lain?" Bagas terdiam mendengar penuturan kekasihnya. Aku tersenyum kecut mendengar wanita itu berbicara seperti itu.

Aku yakin wanita itu justru dalam hatinya sedang bahagia mendengar Bagas akan menikahinya, hanya saja wanita itu pura-pura bertanya seperti itu agar wanita terlihat simpati padaku di mata Bagas.

Bagas mempererat genggaman tangannya pada wanita itu, dan aku yakin matanya menatap dalam Charissa-kekasih sekaligus sekretaris baru Bagas.

"Kamu mau 'kan, aku mohon. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, jangan pikirkan yang lain, yang penting itu kita, aku dan kamu," rayu Bagas.

'Lantas Kenapa ia bisa hidup bahkan sampai titik ini jika dia tidak bisa hidup tanpa wanita itu. Lalu apakah aku tidak penting lagi bagi Bagas. Dasar laki-laki buaya,' sanandikku dalam hati.

Wanita itu berpikir lama, sebelum kemudian ia mengatakan. "Iya, aku mau."

Dasar pelakor, sudah tahu Bagas sudah punya istri, masih saja di embat. Benarkan apa yang ku katakan tadi, keraguan wanita itu hanya kepura-puraan, karena pada nyatanya ia menerima juga.

Tidak ingin berlama-lama menjadi kambing conge diantara dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu. Aku segera pergi meninggalkan tempat mewah yang membuatku tidak nyaman. Entah suasana hatiku yang sedang kacau atau bagaimana? Aku benar-benar tidak menyukai tempat ini.

Di bawah guyuran hujan aku pulang sendiri, meninggalkan pasangan yang sedang memadu kasih di restoran ternama di kota Jakarta. Bahkan aku lupa kemana aku melangkah, pandangan ku kosong, perasaan sesak melingkupi hatiku, menumpul 'kan semua indra-indraku, bahkan aku tidak sanggup berdiri lagi dengan kedua kakiku. Kepalaku semakin pening bersamaan dengan perut seperti dipelintir. Aku terjatuh di pinggir jalan dekat pedagang kaki lima. Aku mendengar suara seseorang berteriak bersamaan juga kesadaranku mulai menghilang.

*****

Aku membuka mataku dengan pelan, bias cahaya lampu membuatku menyipitkan mata sayu.

Aku melihat langit-langit kamar yang nampak berbeda dengan kamarku, warna putih lebih dominan di ruangan ini, terbangun dengan keadaan pusing, langit-langit kamar tampak berputar di mataku, bau sesuatu membuatku mual, mulut ku pahit bagaikan baru makan pare mentah tanpa sambal. Aku menyesali 1 hal, sedari pagi aku belum mengisi perutku, aku lupa.

Aku buru-buru bangun dari tidurku, aku ingin ke kamar mandi untuk membuang isi perut yang sudah ada di mulutku minta di keluarkan. Namun, tiba-tiba saja seseorang menahanku dengan menggenggam pergelangan tanganku.

"Diajeng, kamu udah sadar, Sayang?" Aku melihat suamiku sedang duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan ku. "Kamu mau kemana, sini aku bantu?" Bagas berdiri hendak membantuku. Namun, aku segera menepis tangannya. Dia terlihat terkejut dengan apa yang aku lakukan, tapi aku tak peduli. Aku segera turun dari ranjang, yang baru aku sadari ternyata aku berbaring di ranjang rumah sakit.

Aku kebingungan di mana letak kamar mandi setelah turun dari ranjang. Kepalaku pusing membuat jalanku sedikit oleng.

"Sayang-sayang hati-hati, dong, emang kamu mau kemana hmm …" Bagas buru-buru membantuku disaat aku mulai oleng berdiri sendiri.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kepalaku benar-benar pusing.

"Hmmm, hoeek." Aku muntah di lantai.

"Yaampun, Sayang."

Bagas dengan pelan menuntunku ke kamar mandi, aku segera memuntahkan yang ingin dimuntahkan namun ternyata tidak ada sama sekali yang keluar karena mungkin sudah keluar tadi di luar. Aku membersihkan wajahku di wastafel. Aku lelah tenggorokanku sakit karena tidak memuntahkan apa-apa selain air.

Aku menatap wajahku di cermin, menghela nafas kasar saat melihat wajah Bagas di cermin, Bagas berdiri tepat di belakangku.

Selama ini, aku berusaha menjadi istri yang baik untuk Bagas. 2 tahun bukan waktu sebentar untuk sebuah hubungan rumah tangga. Mengetahui laki-laki yang selama ini mengisi hari-hariku telah berkhianat, sudah sangat menghancurkan hatiku jutaan keping, tak menyangka suami yang begitu aku cintai telah menghianatiku.

"Kamu kenapa ngeliatin aku kaya gitu banget?" tanya Bagas seraya memelukku dari belakang, ia meletakkan dagunya di pundakku. Menerima pelukan Bagas Entah kenapa membuat jantungku berdetak lebih cepat, entah perasaan yang sama seperti biasanya atau perasaan marah yang tidak bisa ku luapkan.

"Aku gak papa," ucapku dengan senyum tipis, namun banyak kepahitan yang ku rasakan dibalik senyumku itu.

"Kamu kenapa hujan-hujanan di jalan?" tanya Bagas.

'itu karena kamu mas," sanandikku dalam hati.

Aku melepaskan tangannya perlahan dari perutku, aku segera berbalik dan menatap wajahnya. Bagas langsung memelukku kembali.

"Aku gak papa, Mas." Aku tersenyum pada Bagas dan melepaskan diri dari pelukannya. Aku berjalan ke arah pintu dan dari kamar mandi diikuti oleh Bagas.

Bagas hendak membantuku kembali berjalan, tapi aku dengan cepat berjalan.

"Aku baik-baik saja, tidak apa!"

"Baiklah," lirih Bagas.

Di luar kamar ternyata sudah ada ibu mertuaku.

Ibu mertuaku dengan sigap berdiri dan membantuku melangkah ke keranjang, ia memegang selang infus ku.

"Aku nggak apa-apa, Bu."

"Udah gak papa," Ibu Miranda tetap saja mau membantuku meskipun aku sudah mengatakan jika aku tidak apa-apa.

Aku melihat lantai yang tadi aku muntahi ternyata sudah bersih.

"Ibu, sudah bereskan," ucap ibu seraya tersenyum. Aku juga ikut tersenyum padanya.

Ibu mertuaku ini memang sangat baik, beliau juga menganggapku seperti anak sendiri. Entah bagaimana perasaannya jika tahu anaknya berselingkuh dariku. Apakah dia akan menyetujui anaknya menikah lagi dengan wanita lain, dan menganggap istri kedua Bagas juga anaknya sepertiku, atau ibu mertuaku akan memilih aku seorang diri.

Drttt Drtttt Drttt

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexa
9.2
Alexandra Delacroix Adams, si tomboy dari klan ternama, dihukum menjadi Jamilah di Desa Pelem selama setahun. Ia harus menukar jaket kulitnya dengan kebaya sambil berjuang mengubah pola pikir kolot wanita desa tentang dominasi pria. Di sana, Alexa terlibat konflik sengit dengan Jenggala Buana Sagara, petani modern yang meremehkan kecerdasan gadis kota. Meski dituduh sebagai provokator, Alexa tetap teguh memperjuangkan kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Janda
8.7
Rio Darmawan adalah CEO muda sukses yang jenuh dengan tekanan perjodohan dari orang tuanya. Selama ini ia selalu menolak setiap calon pilihan keluarga karena merasa tidak ada yang serasi. Namun, pendiriannya goyah setelah bertemu Denanda Kusuma, seorang ibu tunggal yang tangguh dan memikat. Meski mendapat tentangan keras dari keluarganya, Rio bertekad memperjuangkan cintanya pada Denanda. Kini ia terjebak dalam dilema antara mengikuti kata hati atau patuh pada kewajiban keluarga.
Sampul Novel Cinta yang Kadaluarsa
9.6
Setelah sepuluh tahun sia-sia mengejar Kevin Sentosa, Diana Karin akhirnya menyerah dan berpaling kepada Adrian Wisak, pria yang melamarnya di sebuah pulau pribadi dengan kemegahan kembang api. Namun, menjelang pernikahan, Adrian mendadak hilang. Saat melacaknya, Diana justru mendengar rencana busuk Adrian yang hanya memanfaatkannya demi membuat Kevin jijik dan berniat kabur di hari pernikahan mereka. Menolak dipermalukan, Diana memilih melarikan diri lebih dulu, meninggalkan Adrian yang kini frustrasi mencari pengantinnya yang hilang di seantero Kota Jama.
Sampul Novel Doa Istri Pertama
8.2
Kehidupan Annisa berubah drastis sejak Hamza memutuskan untuk berpoligami dengan menikahi Aina. Alih-alih membenci madunya, Annisa justru memanjatkan doa unik yang menargetkan dirinya sendiri. Ia memohon agar setiap kepedihan dan luka batin yang ia rasakan akibat pengkhianatan suaminya dikonversi menjadi tumpukan dosa bagi Hamza. Ini adalah kisah tentang perjuangan batin seorang istri pertama yang melawan kedzaliman lewat kekuatan doa dan air mata.
Sampul Novel Gurauan yang Berakhir Tragis
8.6
Pernikahan dalam novel Gurauan yang Berakhir Tragis retak setelah sang suami tega membeberkan trauma masa sekolah istrinya sebagai lelucon di depan teman-temannya. Merasa dihina dan diremehkan saat meminta cerai, sang istri akhirnya kehilangan kesabaran. Jika sang suami menganggap penderitaan masa lalu hanyalah candaan untuk bersenang-senang, kini giliran sang istri yang akan membalasnya dengan membongkar skandal gelap milik teman masa kecil suaminya.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Lara terpaksa menceraikan Elara akibat tekanan sang ibu mertua yang memandang rendah statusnya sebagai putri sopir. Elara yang dulu hangat berubah menjadi dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam tak terduga yang dianggap Elara sebagai momen bersama Elena, ia resmi bertunangan dengan wanita itu. Lara yang patah hati memilih mengasingkan diri ke desa untuk membuat sabun organik, tanpa menyadari bahwa dirinya tengah mengandung pewaris suaminya.