Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Berondong Bucin

Dinikahi Berondong Bucin

Mentari Harsaya, janda cantik yang sering digunjingkan, terus dikejar oleh Ranggi, pemilik kafe muda yang pantang menyerah. Meski lelah menolak, Mentari akhirnya menerima Ranggi dengan asumsi pria itu akan segera bosan. Namun, pengabdian Ranggi yang tulus perlahan meluluhkan hatinya. Di tengah kebahagiaan, sebuah rahasia masa lalu muncul mengancam keutuhan pernikahan mereka. Mampukah cinta mereka bertahan menghadapi ujian yang begitu hebat?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bisa-bisanya Ranggi mengaku sebagai calon suami Mentari di hadapan orang lain!

"Kalau mau ngomong itu, ya, dipikir dululah, Ranggi," ucap Mentari kesal.

"Mau bagaimana lagi, Mbak? Aku teringat ucapan Sasi yang bilang kalau Mbak harus menikah biar tidak dicurigai terus." Ranggi membela diri.

"Om Ranggi sudah melakukan hal yang benar, Bun. Buktinya mereka langsung pergi," kata Sasi.

Ini lagi! Mentari mendengkus.

Anak itu melanjutkan, "Lagian, Om Ranggi bilangnya calon. Calon itu, kan, belum tentu jadi suami."

"Jangan bilang begitulah, Calon Anak." Ranggi seketika melayangkan protes. "Doakan aku biar jadi ayah sambungmu."

Namun, gara-gara jawaban Ranggi yang asal bicara itu Mentari justru mendapat teror lain. Kali ini dari sekumpulan lelaki hidung belang yang sering meminta Mentari menjadi istri kedua. Beberapa bahkan ada yang bersedia meninggalkan istri pertama mereka.

Akun media sosial khusus bisnis dessert-nya dibombardir oleh pesan dari mereka yang meminta penjelasan.

[Tari, benar kamu mau menikah? Lelaki mana yang berhasil merebut kamu dari Abang?]

[Mentari, Akang kurang apa sampai kamu memilih laki-laki lain?]

[Sayang, Mas akan menceraikan si Buntelan Kentut saat ini juga kalau kamu memang tidak mau jadi istri kedua Mas.]

Dengan sangat terpaksa Mentari harus mem-privat medsosnya untuk sementara waktu, padahal akun itu sangat berguna sebagai sarana promosi.

"Bunda, coba lihat ini," ucap Sasi sambil menuruni tangga dari ruang tamu ke dapur. Anak itu lalu menunjukkan layar ponselnya. "Berita soal Bunda yang mau menikah menggonjang-ganjingkan grup RT."

Mentari menyipit membaca pesan demi pesan yang sedang menggibahi dirinya. Tidak sedikit dari mereka terkejut karena 'calon suami' Mentari masih terlihat muda. Sebagian ada yang menuduh jika Mentari memakai guna-guna.

Beberapa ada yang membela jika Mentari tidak perlu menggunakan ajian atau apapun. Tentu saja yang membela Mentari adalah kaum pria. Mereka sontak diserbu emak-emak barbar.

"Kamu belum keluar dari grup itu? Kita sudah bukan warga sana," kata Mentari.

"Ini juga baru mau keluar, Bun. Tapi karena Bunda yang jadi topik hangat, aku penasaranlah."

"Keluar dari grup itu sekarang juga," pinta Mentari tegas.

Sasi langsung memberi hormat tangan di kening. "Siap laksanakan, Bunda."

Mentari menghela napas. Apa ada perempuan semerana Mentari karena kecantikannya? Tahu begini Mentari ingin jadi biasa-biasa saja. Mungkin hidupnya sedikit lebih tenang.

Wajah Mentari memang tidak seperti pribumi. Dia memiliki garis kaukasia dari ayahnya yang pulang ke negeri asal dan tidak pernah kembali lagi.

Kecantikannya itu tentu diwariskan kepada sang putri. Makanya sekarang Mentari sedikit cemas. Banyak anak yang naksir dan menyatakan cinta kepada Sasi. Mentari sudah mewanti-wanti agar Sasi lebih berhati-hati.

"Tolak mereka secara halus. Orang zaman sekarang ngeri-ngeri." Mentari selalu memberi nasihat seperti itu.

"Bunda, ponselnya nyala, tuh." Sasi menunjuk benda yang tergeletak di meja makan.

Mentari segera mengelap tangannya ke celemek yang sedang dia kenakan. Ada sebuah chat dari pelanggan yang hendak memesan dessert-nya.

"Sejak kita pindah, Bunda semakin kebanjiran orderan," kata Sasi, "Om Ranggi berjasa banget."

Pria itu memang membantu memasarkan dessert Mentari ke penghuni kompleks yang lain.

"Bunda, apa, sih, kurangnya Om Ranggi?" tanya putrinya sambil mencomot buah strawberry yang sudah dibelah dua, kemudian memakannya.

Mentari yang sedang menata buah strawberry ke dalam cup berisi bolu dan cream cheese menjawab, "Ranggi tidak kurang apa-apa. Makanya dia pantas dengan perempuan yang lebih baik."

"Jadi Bunda merasa lebih buruk dan tidak pantas untuk Om Ranggi? Apa karena Bunda lebih tua? Dari dulu sudah banyak pernikahan beda usia."

"Bagi seorang janda yang punya anak itu agak susah. Ayah sambung tidak wajib menafkahi anak bawaan istrinya."

"Tapi Om Ranggi baik ke aku."

"Sekarang. Nanti siapa yang tahu? Kalau pun Ranggi bersedia, bagaimana dengan orang tuanya? Keluarganya yang lain? Apa mereka mau menerima kamu?"

Sasi tampak merenungi ucapan Mentari. Keduanya lalu diam dengan pikiran masing-masing. Namun, tidak sampai satu detik karena di depan pintu dapur suara Ranggi mendadak terdengar.

"Kedua orang tuaku sudah meninggal dari dulu, Mbak," ungkap pria itu dari luar, "Satu-satunya kakak perempuanku juga meninggal tiga tahun yang lalu. Sedangkan om dan tanteku semuanya ada di kota lain."

"Om Ranggi?" Sasi lekas beranjak membuka pintu dapur. "Sejak kapan Om Ranggi ada di sini?"

"Ranggi, saya tahu ini rumah kamu. Tapi, bukan berarti kamu bisa menguntit kami seperti ini," ucap Mentari dingin.

"Aku tidak menguntit, Mbak. Sumpah. Aku baru ke sini, terus tidak sengaja dengar obrolan kalian." Ranggi mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang hendak ditangkap polisi.

Mentari menghela napas. "Lantas ada perlu apa kamu ke sini?"

Pria itu justru cengengesan. "Kangen Mbak Tari," jawabnya, yang membuat Mentari langsung memutar bola mata.

"Masuk, Om."

Ranggi tentu senang dipersilakan masuk. Dia langsung menarik salah satu kursi makan, lalu mendudukinya. "Oh, lagi buat pesanan, ya, Mbak. Aku saja nanti yang antar."

"Daripada sibuk kelayapan jadi kurir dadakan, sebaiknya kamu mengurus kafe dan distro kamu," kata Mentari menolak.

"Mbak tidak usah khawatir dengan bisnisku. Sambil merem juga aku bisa mengurusnya," sahut Ranggi jemawa, "Ayo, lanjutkan obrolan yang tadi, soal pernikahan kita."

"Saya tidak bilang akan menikah dengan kamu," ucap Mentari cepat.

"Bunda takut Om Ranggi tidak mau membiayai hidupku," tutur Sasi setelah mengambil air minum untuk menyediakan pria itu.

"Hari ini juga aku akan membuatkan tabungan atas nama Sasi."

"Sasi sudah punya tabungan," jawab Mentari seraya memasukkan strawberry dessert cup ke dalam dus kemas.

"Kalau begitu aku minta nomor rekeningnya. Akan aku transfer sekarang juga."

Mentari mengangkat sebelah alis. Dia lalu tersenyum meremehkan. "Berapa, sih, yang akan dikirim pria itu?" batinnya.

Mentari lalu memberi tahu nomor rekening milik Sasi yang memang dikhususkan untuk pendidikannya hingga kuliah nanti.

"Sudah, Mbak," ucap Ranggi, kemudian menunjukkan bukti transaksi.

Mentari seketika membelalak.

"Sekarang segini dulu. Nanti akan aku tambah lagi setiap bulan," sambung Ranggi.

"100 juta? Om tidak sayang uang? Apa jangan-jangan itu uang haram?" tanya Sasi.

Dia ikut melotot melihat nominal yang menurutnya sangat besar. Memegang satu juta di tangannya langsung saja jarang. Lumayan bisa membeli ponsel keluaran terbaru.

"Halal, dong, Sasi."

"Kamu gila, Ranggi," ujar Mentari.

"Membuat seribu candi atau membendung sebuah sungai juga aku rela, Mbak. Apa, sih, yang tidak buat Mbak Tari?" Ranggi menaik turunkan alisnya.

"Tidak perlu candi atau sungai, Om. Rumah ini juga bisa."

"Sasi!" Mentari langsung menatap tajam.

Gadis itu justru membuat tanda damai menggunakan jarinya. "Bercanda, Bunda."

"Kalau Mbak Tari mau, aku bisa mengubah kepemilikan rumah ini," ucap Ranggi seolah apa yang dia katakan sama sekali bukan masalah besar.

"Tidak. Tidak perlu." Mentari cepat-cepat menukas. Dia lumayan panik. Ranggi ternyata sudah tidak waras.

Namun, beberapa hari setelahnya, Ranggi kembali menemui Mentari untuk memberi tahu jika rumah yang ditempatinya itu sudah atas nama Mentari Harsaya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amarah Dan Cinta
9.5
Bagi Yasnina, mencintai Devan adalah berkah sekaligus luka karena cintanya tak pernah terbalas. Saat mendengar kabar pernikahan Devan, hatinya hancur berkeping-keping. Didorong amarah yang mendalam, Yasnina nekat menjebak pria itu dalam hubungan satu malam tepat sebelum hari pernikahannya. Akankah tindakan berisiko ini membuahkan cinta yang ia dambakan, atau justru membuat Devan semakin membencinya dan menjauh selamanya dari hidup Yasnina?
Sampul Novel Bukan Menantu Idaman Mama
8.6
Seorang anak laki-laki dengan tegas melawan kendali ibunya demi menentukan jalan hidupnya sendiri. Meski Mirna mendesak agar dia menikah demi stabilitas perusahaan, sang putra bersikeras memilih Alya sebagai pendamping hidup. Mirna sangat menentang hubungan ini karena latar belakang Alya yang merupakan yatim piatu miskin. Bagi Mirna, pernikahan adalah alat bisnis, namun putranya menolak menyerah pada tuntutan keluarga demi mengejar cinta sejatinya.
Sampul Novel Cathleen secret
8.1
Cathleen rela berperan sebagai antagonis demi melindungi Rikkard, pangeran kampus pujaannya, dari para wanita yang berniat buruk. Meski dibenci, ia bertahan hingga lembaran cintanya mencapai angka 3650. Akhirnya, Cathleen memilih mundur dan merelakan Rikkard bagi wanita lain yang tulus. Saat rahasia pengorbanannya terungkap, dunia Rikkard seketika terguncang. Akankah pandangan Rikkard terhadap sosok yang ia anggap iblis ini berubah selamanya?
Sampul Novel Cinta Kedua
8.0
Kehilangan Clarissa akibat leukemia membuat Anton menutup hatinya selama dua tahun. Namun, pertemuannya dengan Luna, barista cerdas dan menawan, perlahan mengubah dunianya hingga ia kembali jatuh cinta. Sayangnya, hubungan mereka ditentang oleh Renata karena perbedaan usia dan status sosial. Renata justru menjodohkan Anton dengan Raisa yang dianggap lebih setara. Kini, Anton dan Luna harus berjuang keras demi mendapatkan restu di tengah tekanan keluarga.
Sampul Novel GAIRAH LIAR PENGANTIN PENGGANTI
9.7
Demi membiayai operasi sang nenek, Belia Anastasya terpaksa menerima tawaran Bianca untuk menjadi pengantin pengganti. Ia harus menikahi Arkan Devano Haditama, pewaris takhta Haditama Group, dengan syarat mutlak: dilarang jatuh cinta. Arkan yang dingin awalnya membenci perjodohan ini, namun sebuah malam intim mengubah segalanya. Belia kini terjebak dalam dilema perasaan saat identitas aslinya terancam ketika Bianca menuntut posisinya kembali.
Sampul Novel Hasrat Terlarang Dalam Keluarga
9.1
Dalam jalinan hubungan keluarga yang seharusnya penuh kasih, muncul sebuah gejolak perasaan yang tidak semestinya. Kisah ini mengajak pembaca untuk merenungkan batas-batas emosi dan moralitas saat keinginan hati mulai melanggar norma yang ada. Di tengah konflik batin yang mendalam, setiap tokoh harus menghadapi konsekuensi dari perasaan mereka. Sebuah narasi romansa modern yang menantang nurani tentang cinta yang tumbuh di tempat yang salah.