Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN

DILEMA SUAMI BAYARAN

Barra Farzan, seorang duda yang mendambakan kebahagiaan, akhirnya menikahi Astra, putri konglomerat cantik. Namun, saat resepsi pernikahan berlangsung penuh tawa, seorang wanita tiba-tiba muncul dan menampar Astra. Ia mengaku sebagai istri sah Barra yang ditinggalkan bersama anak mereka. Tuduhan pelakor pun seketika menghancurkan suasana. Rahasia gelap apa yang disembunyikan Barra? Sanggupkah mereka bertahan, atau Barra hanya akan menjadi suami bayaran?
Bab
Bagikan

Bab 2

Dua tahun berpisah dari Annisa, hidup Barra dan keluarga naik satu tingkat. Uang perjanjian itu membawa manfaat untuk Barra dan keluarganya. Ibunya berhasil melakukan transplantasi jantung. Alby adik pertama Barra masuk salah satu universitas dengan jurusan sesuai bidang yang ia sukai. Dan Ervi adik bungsu Barra berhasil lulus sekolah menengah atas tanpa hambatan.

Barra patut bersyukur atas pengalaman tersebut. Kalau dibilang menyesal, tentu ada. Tapi ya sudah, semua telah terjadi. Barra niatkan saling membantu, simbiosis mutualisme, tak ada pihak yang dirugikan. Satu tahun itu Barra lalui penuh kesakitan. Sakit yang tampak oleh mata, Annisa meninggalkan banyak goresan di tubuh Barra. Untungnya ada di dalam, bukan wajah atau tangan yang bisa dilihat banyak orang.

Barra duduk di atas Vespa bututnya, di pinggir sawah. Jangan salah, meski Jakarta adalah ibukota negara Indonesia. Kota metropolitan, namun Jakarta masih memiliki sawah yang menjadi akses jalan tikus yang dilalui Barra setiap hari saat berangkat kerja. Cukup membantu Barra mendapat oksigen segar pagi hari.

Barra menatap langit jingga, kemarin merupakan hari bersejarah bagi Barra. Ia meminang adik dari CEO perusahaan yang memberinya pekerjaan. Masih tak percaya, ia menaklukkan hati seorang anak ningrat. Astra, gadis dengan ukiran sempurna, kulit putih bersih dan hidung mancung bak kuncup bunga telah membuat Barra cinta setengah hidup. Seperti gayung bersambut, Astra pun memiliki perasaan yang sama.

Kalau jodoh memang tidak kemana. Menurut Barra seperti itu. Barra merebahkan tubuhnya di jok vespa, ada kegalauan. Mengusik pikiran dan batin Barra. Tanggal pernikahan sudah ditentukan, tapi Barra tak memiliki tabungan lebih untuk hari bahagia itu. Barra tak pernah bebankan masalah pribadi pada ibu maupun adiknya. Saat pikirannya kacau maka di sinilah ia akan menenangkan diri. Otaknya kembali bekerja keras, mencari solusi darimana ia bisa dapatkan uang untuk menyokong hajat besar Astra dan dirinya.

Semua sudah diobrolkan saat perwakilan keluarga Barra meminang Astra. Pak Abbas yang merupakan Ayah Astra akan bertanggung jawab penuh atas pernikahan Barra bersama putrinya. Pak Abbas meminta keluarga Barra tak perlu pusing memikirkan perihal biaya. Barra cukup menyiapkan mahar yang ia mampu. Bagi Pak Abbas urusan uang hanya masalah simpel. Barra senang punya calon mertua sebaik Pak Abbas. Masalahnya Barra itu pria, harga dirinya ada pada tanggung jawab. Saat pria berhasil menunaikan tanggung jawabnya, maka disitulah ia akan dihargai dan dihormati.

Minimal Barra butuh lima puluh juta, dari mana ia mendapat uang sebanyak itu dalam waktu sepuluh hari. Otaknya berjubel, pusing. Tabungan Barra tinggal sepuluh juta, itupun anggaran khusus pengobatan sang ibu. Ibunya harus rutin kontrol ke rumah sakit. Sang ibu mengidap berbagai penyakit, dokter bilang komplikasi. Barra harus membawanya ke poli penyakit dalam setiap bulan sekali. Mungkin ada uang simpanan dari rumah makan. Barra belum bertanya pada Alby sang adik, yang menjalankan usaha rumah makan Minang.

Barra memejamkan matanya sebentar, jalanan ini cukup sepi. Tak banyak kendaraan yang lewat. Barra meresapi oksigen yang ia hirup dalam-dalam, ia keluarkan pelan.

"Woy k*m****." Umpatnya saat kaget akan bunyi ponsel. Ia sampai terjatuh ke tanah, beruntung motornya selamat.

* *

"Bagaimana tawaran, saya?" Tanya Tuan Hiro. Barra berpikir ulang, bimbang dan butuh menjadi dua kata yang beradu di otak besarnya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan Barra, apakah ia siap masuk kembali ke lubang yang sama?

"Baik. Saya terima. Tuan." Ungkap Barra setelah beberapa saat menimbang. Dua pria dewasa itu saling berjabat. Tuan Hiro memesankan minum dan makan untuk Barra. Mereka menikmati makan malam bersama di restoran seafood. Barra langsung meluncur setelah Tuan Hiro meneleponnya tadi.

Barra memegangi perutnya yang terasa penuh. Ia habiskan semua menu yang Tuan Hiro pesan, sedang Tuan Hiro hanya meneguk sedikit jus kiwinya. Bagi Barra pantang membuang makanan. Tuan Hiro merogoh selembar kertas dari tasnya. "Jika setuju, kamu tanda tangan di sini." Ucap Tuan Hiro menunjuk sisi bawah kertas.

Tak ingin terkecoh lagi, Barra membaca detil kalimat yang tertuang di kertas itu. Surat perjanjian lagi, tapi isinya masih bisa Barra toleransi. Sangat menguntungkan untuk Barra. Barra setuju. Ia mulai menggoreskan tinta hitam milik Tuan Hiro.

"Sekalian salinannya, ada di bawahnya." Tambah Tuan Hiro.

Barra lanjut menandatangani lembar kedua, dia tak membacanya lagi. Bukankah itu salinan? Buang-buang waktu saja kalau harus baca ulang.

Tuan Hiro tersenyum miring, Barra memang ceroboh. Semua yang dilakukan Tuan Hiro demi putrinya, Annisa. Tuan Hiro sangat menyayangi putrinya itu, namun banyak hal yang mengharuskan ia menyembunyikan identitas Annisa. Hari ini Tuan Hiro menemui Barra untuk Annisa. Setelah urusannya dengan Barra selesai, Tuan Hiro menyerahkan amplop coklat. Amplop itu tampak mengembang.

Semangat Hiro bergelora. Ia akan pakai uang itu untuk membeli mahar. Selain uang tunai, Tuan Hiro juga menawarkan tunjangan bulanansebesar lima puluh juta. Air liur Barra hampir menetes mendengar nominal tersebut. Barra meninggalkan vespanya di restoran, ternyata restoran itu milik Tuan Hiro. Orang kaya tujuh turunan, asetnya ada di mana-mana.

Supir melajukan mobil. Tak ada obrolan di dalam mobil, Tuan Hiro sibuk dengan iPad-nya. Wajar. Kan Tuan Hiro adalah seorang bos, Tuan Hiro terlihat serius mengerjakan sesuatu di sana. Barra melirik ke luar jendela saat laju mobil melambat. Rumah besar, tapi bukan rumah yang pernah Barra tempati.

Barra mengikuti langkah Tuan Hiro, di dalam sudah ada penghulu. Barra dituntun duduk di kursi dekat para saksi. Bahkan Barra belum menyapa siapapun.

"Sah.." Barra masuk kandang buaya untuk kali kedua. Seperti pernikahan pertama dulu. Setelah acara inti selesai, semua keluar. Ada yang membedakan, semua saksi dan satu penghulu mendapat amplop dari asisten Tuan Hiro. Barra tak ikut campur. Tuan Hiro berikan kembali kertas persis dengan tanda tangan Barra.

"Silahkan baca lagi dan, simpan!" Tutur Tuan Hiro memberikan salinannya. Barra berikan anggukan. Ia membaca lagi, masih sama. Kertas kedua, ia baca dengan benar. Mata Barra membulat sekilas, hampir lompat dari kelopaknya. Apa ini, perjanjian macam apa. Bukankah pernikahan siri yang berkuasa penuh adalah suami. Ah bodoh, Barra tertipu lagi. Di dalam lembaran kedua tertulis bahwa Barra wajib datang ketika Annisa membutuhkannya. Kalau sampai terlambat, ancamannya adalah hubungan Barra dengan Astra akan menjadi taruhan.

Dan, parahnya Barra adalah suami ketiga. Oh astaga. Mimpi buruk macam apa ini? Barra meremas kuat kertas itu, hatinya sangat kesal. Marah, emosi menggunung di dada Barra. Barra di tinggalkan sendiri, di ruang tamu rumah megah milik Annisa. Ingin sekali tangannya meraih vas yang berisi bunga sintetis. Ia ingin melemparnya ke lemari kaca di pojok ruangan tersebut. Agar semua tahu akan kemarahannya.

"Den, minum dulu." Bi Sumi membawa nampan berisi es jeruk dan camilan. Bi Sumi memang asisten setia, ia sabar menghadapi Annisa yang kadang tak bisa dikontrol. Bukan sekedar asisten, Bi Sumi menjadi ibu pengganti untuk Annisa. Sejak remaja hidupnya di abdikan untuk keluarga Tuan Hiro. Bi Sumi merawat Annisa sejak Annisa masih duduk di sekolah dasar. Bi Sumi pernah cerita, ia sampai tak ada keinginan menikah hingga sekarang. Demi siapa, ya demi Annisa. Tuan Hiro tak mengizinkan istri dan adik dari Annisa menemuinya. Bu Laksmi yang merupakan Ibu dari Annisa bahkan sering mencuri kesempatan untuk bertemu putrinya. Tentu dengan bantuan Bi Sumi. Tapi setelah ketahuan Tuan Hiro, hal seperti itu tak pernah terjadi lagi.

Bi Sumi menenangkan Barra, seakan Bi Sumi tahu kemarahan yang belum tumpah itu. Mata Barra menyorot aura emosi. Akhirnya Barra kembali duduk tenang di sofa ruang tamu tersebut. Bi Sumi berikan satu gelas es jeruk pada Barra. Barra meneguknya hingga tandas, batu esnya ia kunyah. Dingin dan ngilu tak ia rasakan, emosi seakan mematikan indera pengecapnya.

"Den, kenalin ini. Aden Ken. Suami pertama Nyonya muda." Ucap Bi Sumi pelan-pelan, sangat pelan malah. Takut kalau Barra sampai meledak.

Barra reflek berdiri. Emosinya mendekati puncak. "Jadi, kau itu suami Annisa yang pertama? Apa kau benar-benar waras?!!" Tanya Barra dengan nada paling tinggi.

"Saya, cuma jaga Mbak Annis. Mas. Ma'af kalau saya cuma diam." Ken mengerti arah bicara Barra. Ken pun hanya menjalankan tugas, tapi Ken sebenarnya memiliki perasaan tulus untuk Annisa. Ia setia mendampingi Annisa, meski saat Annisa bercinta dengan lelaki lain. Ken adalah supir pribadi Annisa, yang berakhir sebagai suami. Campur tangan Tuan Hiro tak lepas dari semua ini. Bisa di pahami saat orangtua menyayangi anaknya, namun cara yang Tuan Hiro pakai salah. Di mata hukum dan agama jelas tindakannya tidak di benarkan. Barra dan Ken adalah korban, termasuk Annisa sendiri.

Tuan Hiro yang berperan penting pada kondisi Annisa, justru mendorong Annisa ke lembah kehancuran. Karena kurangnya interaksi antara orangtua dan anak, Tuan Hiro hanya menekan tindakan pendek yang Annisa lakukan. Tapi Tuan Hiro menambah panjang rentetan penyebab gagalnya pengobatan tersebut.

Barra mengepal kuat, ia sudah tak mampu menahan gemuruh di dada. "Dasar, Hiro brengsek!" Umpat Barra keras. Ia melemparkan semua benda di meja tamu, ia membuangnya ke sembarang arah. Sekuat tenaganya, ada yang menghantam lemari hias, ada yang menghantam jendela kaca. Akhirnya ruangan tersebut penuh dengan serpihan kaca. Setelah meluapkan kemarahannya, Barra menghambur keluar dari rumah tersebut.

Brakkkkk!! Barra membanting pintu kayu. Barra mengayunkan kaki menuju rumahnya yang berjarak cukup jauh, ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Barra memikirkan apakah ia akan lanjut atau berhenti sebelum terlambat.

* *

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Ava dan Jay terjebak dalam pernikahan paksa selama dua tahun. Sementara Jay terus berselingkuh, Ava membalasnya dengan memadu kasih bersama pria kaya dari keluarga terpandang. Meski keduanya mendambakan perpisahan, perceraian bukanlah sebuah pilihan. Jay pun akhirnya setuju membiarkan Ava menjalani hubungan tersembunyi dengan lelaki lain. Namun, mampukah rahasia besar ini bertahan selamanya tanpa terungkap ke permukaan? Akankah sandiwara mereka terus berjalan?
Sampul Novel Ceraikan Suami, Nikahi Adiknya
9.8
Setelah sepuluh tahun, Chloe Carlson memutuskan bercerai dari suaminya yang tidak setia, Vincent. Meski dituduh mengincar harta, Chloe pergi hanya demi membawa putri mereka, Mackenzie. Menjadi ibu tunggal tanpa kualifikasi membuatnya sulit mencari kerja. Terdesak, Chloe meminta bantuan adik iparnya, CEO muda Vernon Phoenix Gray. Namun, Vernon menawarkan posisi asisten pribadi dengan syarat pemuasan hasrat di ranjang. Kini Chloe terjebak antara rayuan Vernon atau kembali pada Vincent.
Sampul Novel Crossing Love
9.6
Miya Tamama adalah gadis polos yang menyimpan trauma masa kecil hingga dunianya kehilangan warna. Di tengah hidup yang kelabu, muncul Tamama Kunai, putra konglomerat sekaligus investor di sekolahnya yang memberi warna baru di hati Miya. Meski mendapat kasih sayang dari kakaknya, dokter Koko Tamama, ternyata ada pria lain yang juga mengamati Miya secara rahasia. Akankah cinta sang pewaris mampu menyembuhkan luka lama dan mengubah takdir hidup Miya selamanya?
Sampul Novel Fake Marriage
9.3
Dikhianati calon suaminya tepat sebelum hari bahagia, Lunar melarikan diri hingga sebuah insiden menyeretnya ke dalam pernikahan kontrak dengan Arkan, pebisnis kaya raya. Di sisi lain, Arkan terpaksa membatalkan rencana lamaran bagi kekasihnya demi kesepakatan ini. Saat sandiwara mereka perlahan berubah menjadi perasaan tulus, keduanya terjebak dalam dilema emosi yang rumit. Akankah ikatan palsu ini berakhir menjadi kebahagiaan sejati bagi mereka?
Sampul Novel Jebakan Ibu Susu Bayiku
8.6
Demi biaya pengobatan ibunya, Elara terpaksa menjadi ibu susu bagi anak Viktor Laxmere, miliarder penuh misteri. Pekerjaan yang semula dianggap penyelamat justru menjerumuskannya ke dalam pusaran manipulasi dan intrik gelap. Di tengah kekuasaan Viktor yang absolut, Elara terjebak dalam dilema antara benci dan perasaan yang mulai tumbuh. Kini ia harus mengungkap rahasia besar di balik tawaran tersebut sebelum dirinya hancur sebagai pion dalam permainan berbahaya Viktor.
Sampul Novel Malaikat dalam Gaun Baru
9.0
Keajaiban pertukaran jiwa membawa seorang wanita masuk ke tubuh istri miliarder ternama. Meski hidup bergelimang harta, ia justru menghadapi sikap dingin sang suami. Saat kekasih lama suaminya kembali, permintaan cerai pun diajukan. Ia setuju untuk pergi tanpa beban, namun takdir cinta berkata lain. Perpisahan itu justru menjadi awal dari babak baru yang tak terduga dalam hubungan mereka. Kisah romansa penuh kejutan ini baru saja dimulai.