Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikira Miskin Oleh Keluarga

Dikira Miskin Oleh Keluarga

Penampilan sederhana Gunawan sering kali membuat orang tuanya salah paham hingga mereka menganggapnya hidup dalam kemiskinan. Namun, di balik kesederhanaan yang ia tunjukkan sehari-hari, tersimpan sebuah rahasia besar mengenai status finansialnya yang sesungguhnya. Siapa sangka bahwa pria yang dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri ini sebenarnya adalah seorang miliarder sukses dengan kekayaan yang sangat luar biasa melimpah.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Maaf, ya, Mbak. Waktu Mbak nikah aku gak datang. Kata ibu, nikahan Mbak termasuk dadakan, ya?" tanya Yuni.

"Gak papa, Yun. Hem, dadakan sih enggak. Cuma kurang persiapan aja." Riska tersenyum pasi meski hatinya menahan perih bila mengingat kejadian masa itu. Terlebih soal ibu mertua yang sama sekali tak menghargainya.

"Mbak katanya punya usaha di Jakarta, boleh dong nanti suami aku ikut sama Mbak. Siapa tahu bisa berhasil kaya Mbak."

"Insya allah, boleh, Yun, tapi harus sabar. Ya, namanya kerja itu kan, butuh usaha."

"Sebenernya, aku pengen banget cerita banyak sama Mbak. Kalo Mbak ada waktu."

"Cerita apa, Yun? Kayaknya penting."

Yuni mendekat kepada Riska. Diliriknya susana sekitar. Saat ia mendapati pintu terbuka, buru-buru ia tutup dan kembali duduk di tempat semula.

"Sebenernya, Mas Imran itu bukan orang kaya, Mbak."

"Imran calon suami kamu?"

"Iya. Orang tuanya di kampung cuma petani biasa. Sedangkan dia di sini, cuma pegawai toko swalayan."

"Terus masalahnya di mana?"

Yuni memegang tangan Riska. Matanya mulai berkaca-kaca dengan bulir bening yang akan tumpah.

"Ibu gak setuju, Mbak kalo aku nikah sama orang yang biasa-biasa aja."

Riska menghela napas. Ia tak menyangka keluarga besar ibu mertuanya itu memang sama-sama hanya memikirkan harta duniawi saja. Dihadapan Riska, Yuni menangis tersedu menceritakan hal ini.

"Aku sama Mas Imran berbohong, Mbak. Aku bilang sama ibu kalau Mas Imran anak yatim piatu dan pemilik swalayan di mana dia bekerja." Bahu Yuni naik turun sembari tangannya menyeka air mata yang berjatuhan.

Riska bingung hendak berkata apa. Dalam diam, ia mengelus bahu adik sepupu iparnya itu. Kasihan betul, karena gadis yang akan melepas masa lajangnya ini harus berbohong hanya karena ambisi sang ibu.

"Kamu tau, kan apa yang kamu lakuin ini salah, Yun?"

"Tau, Mbak. Terus Yuni sekarang harus gimana?"

Riska kembali diam. Kedatangannya ke sini justru harus membuatnya ikut campur dalam masalah Yuni. Di sisi lain dia merasa kasihan, namun di sini lainnya ia juga tak membenarkan kelakuan yang diperbuat Yuni.

"Aku sangat cinta dengan Mas Imran, Mbak. Biaya skripsi aku bahkan sebagian besar dia yang biayai. Walaupun kami masih pacaran, uang gaji sebagian besar dia kasih ke aku. Katanya supaya aku bisa lulus dan jadi sarjana dan gak seperti dia yang cuma lulusan SMA."

"Oke, mbak akan bantu kamu. Kamu mau mbak gimana?"

Beberapa saat kemudian, Yuni bertanya-tanya kepada Riska. Ia ingin meminjam mobil Riska. Tadinya ia hanya ingin meminjam mobil yang Riska pakai pulang kampung, tapi Riska menawarinya mobil lain yang ia miliki.

Bukan hanya itu, Yuni juga meminjam sejumlah uang untuk membeli mas kawin. Dengan senang hati Riska menyetujuinya. Bukan bermaksud membela kebohongan adik sepupunya, hal ini ia lakukan demi cinta kedua anak muda ini. Melihat Yuni begitu sedih meratapi nasibnya, Riska takut apabila Yuni tak berjodoh dengan Imran, mereka bisa berbuat nekat.

"Mbak akan turutin semua mau kamu, Yun. Asalkan pernikahan kamu lancar, tapi, mbak ada satu syarat."

"Apa, Mbak?"

"Setelah kalian resmi menikah, tolong ceritakan yang sejujurnya sama ibu kamu. Kamu gak mau kan, selamanya berbohong?"

Yuni menunduk. "Iya, Mbak. Insya allah, Yuni akan cerita nanti. Gak mau Mbak kalau Yuni berbohong terus. Yuni juga takut dosa."

"Oke. Mbak harap kamu tepati janji."

Yuni memeluk kakak sepupunya dengan rasa lega luar biasa. Ia akhirnya mendapatkan jalan keluar atas masalahnya. Lewat Riska Yuni bisa mempertahankan Imran. Lelaki bertanggung jawab yang ia cintai.

*****

"Enak bener di kamar ngobrol. Aku aja udah bau asep," ucap Eva yang memergoki Riska keluar dari kamar Yuni.

"Gak sayang ama bajunya kok dibau-bauin asep? Mahal kan, itu pasti." Riska tersenyum melihat eskpresi Eva. Ia setengah terkejut dan merasa kesal.

"Gaklah. Baju aku emang mahal semua sih, kalo rusak, tinggal buang aja terus beli lagi."

"Iyalah. Kan, uangnya banyak."

Eva semakin kesal karena Riska menjawab apa yang ia katakan.

"Iya, dong. Ini tuh belinya di butik. Mahal, mana mampu Mbak Riska beli yang kaya gini. Paling juga baju Mbak itu beli di tana* abank, ya, yang grosiran itu?"

"Tau aja kamu. Abis mbak suka beli di sana. Tawar menawar itu asik buat mbak." Riska tersenyum. Eva tak tau gamis yang dipakai Riska cukup bermerek dan hanya dibuat satu warna dengan satu ukuran. Hanya saja ia sengaja merendah di depan adik iparnya yang bermulut bak silet itu.

"Iyalah. Beda sama aku. Gak suka sih belanja di pasar. Gerah."

"Eh, Eva. Gimana kabarnya?" tanya Yuni yang keluar dari kamar karena tidak sengaja mendengar obrolan Riska dan Eva.

"Baik, kok. Kamu sendiri gimana? Eh, selamat, ya bentar lagi jadi istri orang."

"Iya, makasih. Eh, ngomong-ngomong baju kamu samaan lho sama baju ibu aku cuma beda warna aja. Belinya di pasar tana* abank kan?"

Eva terkejut mendengar perkataan Yuni. Wajahnya memerah seketika dengan bola mata yang berpindah ke sana ke mari.

"E-ehm. Masa sih? I-ni buatan butik, kok. Ah, m-mungkin banyak yang jiplak aja." Ia tampak salah tingkah dengan sesekali tersenyum, namun dengan terpaksa.

"Eh, aku lupa tadi dipanggil sama ibu. Aku ke dapur dulu, ya, Yun."

Dengan cepat, Eva berjalan ke arah dapur. Riska dan Yuni terheran-heran melihat tingkah Eva. Sampai batang hidung Eva tak nampak, keduanya tertawa keras sambil memandang satu sama lain.

"Hahahahahahaha."

Riska segera menutup mulut dengan telapak tangannya setelah ia tertawa.

"Kamu nguping, ya?" tanya Riska.

"Gak nguping, Mbak. Cuma gak sengaja denger aja. Abis dia kan, ngomongnya keras. Mbak juga kalau ada di dalem pasti kedengeran."

"Ada-ada aja kamu ini. Eh, emang bener baju bi Mar samaan sama punya Eva?"

"Sama Mbak. Persis banget modelnya juga. Cuma beda warna aja. Lagian ngapain juga aku bohong."

Riska menggelengkan kepalanya.

"Eh, Mbak emang si Eva itu gitu, ya? Kalo ngomong suka gak dipikir. Seenaknya aja bilang baju Mbak beli di pasar. Aku lihat baju Mbak ini mahal kok, kayaknya. Iya, kan?"

"Ah, enggak kok, Yun. Biasa aja. Standar. Sama kok beli di pasar juga."

"Gak mungkin Mbak. Aku kenal kok bahan sama model gamis yang Mbak pake ini. Paling adanya juga di mall, ya, kan?" tebak Eva.

"Udah, jangan bahas baju mbak. Gak enak nanti kalo Eva denger."

Tak lama berselang, Eva kembali muncul dengan baju yang berbeda. Bibirnya tampak tertekuk ke bawah dengan memandang Riska.

"Lho, Va kok ganti baju?" tanya Yuni.

"Ini, baju yang tadi kena minyak. Karna aku bawa ganti, ya, udah aku ganti aja. Gak enak pake baju kotor."

Riska dan Eva tambak membulatkan bibir sambil mengangguk bersama.

"Aku ke sana dulu, ya. Disuruh bawa kopi ini ke depan."

"Iya, Va"

Dengan percaya diri Eva berjalan melewati Riska dan Eva hingga tak sadar kakinya menginjak plastik putih lalu jatuh tersungkur. Beberapa cangkir kopi yang ia bawa tumpah mengenai tubuhnya.

"Aaaaa, bajuku kena kopi. Huaa, ini kan baju mahal!" teriak Eva. Ia bahkan menangis sambil meratapi bajunya yang mahal.

Bersambung.....

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95EMJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95EMJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendamnya, Cinta Abadinya
9.5
Darma Wijoyo dan Jihan Prameswari menguras harta keluargaku serta menghancurkan karierku lewat jebakan kejam. Demi pengobatan ibu, aku terpaksa menuruti ancaman Darma untuk mengakui kesalahan yang tak kuperbuat. Ternyata, janji manis bosku itu palsu; aku hanya dianggap alat tak berharga. Kini, di tengah puing kehancuran dan pengkhianatan pahit, aku bangkit. Rasa sakit ini berubah menjadi tekad membara untuk membalas dendam pada mereka yang telah merenggut segalanya.
Sampul Novel Kau Bukan Sahabatku-Kau Perusak Rumah Tanggaku
9.5
Putri Wijaya mengira empat tahun pernikahannya dengan Dimas Satria, seorang CEO sukses, adalah kebahagiaan yang sempurna. Namun, dunia wanita cerdas dan lembut ini runtuh seketika saat sebuah video membongkar pengkhianatan suaminya. Dimas ternyata telah menikah lagi secara diam-diam dengan Rina, sahabat yang sudah dianggap Putri seperti adik sendiri. Di tengah hancurnya kepercayaan, Putri harus menghadapi kenyataan pahit bahwa orang terdekatnya adalah perusak rumah tangganya.
Sampul Novel Lepas dari Cintaku yang Pahit
8.3
Pasca kecelakaan tragis, Clara harus menelan kenyataan pahit saat suaminya, Daniel, justru lebih memilih menemani wanita lain di rumah sakit. Setelah tiga tahun pengabdian yang sia-sia, Clara justru diancam akan dipenjara oleh pria yang dicintainya itu. Tak sudi lagi bertahan, Clara menuntut cerai dan menggunakan uang kompensasi satu triliun rupiah miliknya untuk membalas penghinaan Daniel. Ia bertekad mengakhiri pernikahan beracun ini selamanya.
Sampul Novel Membakar Habis Rumah Empat Kekasih Gadunganku
8.4
Alina Barata, pewaris tunggal kerajaan bisnis, dikhianati Damian Adiputra dan tiga pria pelindungnya. Damian justru mencintai Luna dan merencanakan kecelakaan demi menguasai harta Alina. Saat nyaris tewas, Alina sadar bahwa mereka semua bersekutu melawannya. Di sebuah pesta yang dirancang untuk mempermalukannya melalui video pribadi, Alina tidak lagi tunduk. Ia siap membalas dengan rekaman rahasia yang akan menghancurkan reputasi kotor mereka selamanya.
Sampul Novel Menjadi Istri Dadakan Presdir Tampan
8.7
Demi ketenangan sang kakak, Embun harus segera angkat kaki dari rumah iparnya dengan syarat ia wajib menikah terlebih dahulu. Di tengah keputusasaan karena tidak memiliki kekasih, takdir mempertemukannya dengan seorang kakek pelanggan kafe tempatnya bekerja. Sang kakek menawarkan putra bungsunya, seorang presdir kaya bernama Kaisar Rahardja, untuk menjadi suaminya. Embun pun menyetujui pernikahan dadakan ini. Namun, ia segera menyadari adanya kejanggalan di balik kemudahan keputusan Kaisar untuk menikahinya.
Sampul Novel Michael Obsession
9.7
Michael Yates Hutomo telah lama memendam obsesi pada Casandra, menanti saat yang tepat untuk memilikinya. Kesempatan itu tiba ketika bisnis Casandra terancam bangkrut. Michael menawarkan bantuan, namun dengan syarat pernikahan mutlak. Casandra terpaksa meninggalkan kekasih lamanya demi menyelamatkan aset keluarga. Meski raganya kini terikat dalam kuasa sang miliarder, Casandra bersumpah bahwa Michael takkan pernah bisa memenangkan hati yang ia miliki.