
Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta
Bab 2
Arsyila POV
Aku masih dalam keadaan syok. Hendra membuka tutup botol air mineral lalu menyodorkannya padaku.
Sebuah lagu rock yang keras tiba-tiba menggelegar dari radio mobil. Suaranya memecah keheningan yang menyesakkan.
"Terima kasih," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
Dia hanya mengangguk, lalu memejamkan mata lagi. Punggungnya bersandar di kursi. Aku menebak dia pasti sangat lelah. Semalaman sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitek ternama.
Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya. Garis kelelahan tergambar jelas di wajahnya yang tegas.
Aku meneguk air perlahan. Air dingin itu seperti obat penenang bagiku. Aku merasa sedikit lebih baik.
Mobil kembali berjalan, melaju di jalan utama. Perjalanan menuju Bali berlanjut.
Aku tahu ini adalah hadiah ulang tahun untuk Lydia. Fredi sendiri yang mengaturnya. Aku merasa seperti orang ketiga di perjalanan ini.
Lydia dan Fredi di depan, tertawa-tawa. Suara musik yang keras menutupi percakapan mereka. Tapi aku bisa tahu dari ekspresi Fredi, dia sangat menikmati obrolan dengan Lydia.
Aku dan Fredi sering bertengkar karena kedekatannya dengan Lydia. Setiap kali, Fredi selalu berjanji akan menjaga jarak. Tapi janji itu selalu buyar saat Lydia muncul.
Air mataku terasa menggenang. Semua usahaku sia-sia. Fredi tidak pernah berubah.
Aku tersenyum miris. Kenapa aku masih berharap?
Aku memalingkan wajahku ke jendela, mencoba mengalihkan perhatian. Pemandangan gunung yang berkelok-kelok terlihat indah. Ada beberapa bebatuan kecil yang meluncur dari tebing.
Mobil sedikit bergoyang. Lututku kembali menyentuh paha Hendra. Kali ini, sentuhannya lebih kuat, lebih lama.
Lutut kami menempel erat. Aku merasakan panas menembus kain celanaku. Aku ingin menarik diri.
Tapi mataku tidak sengaja melihat ke arah Lydia. Ada tanda kemerahan di lehernya. Sebuah cupang.
Hatiku mencelos. Aku tahu itu dari siapa. Fredi.
Darahku mendidih. Amarah yang selama ini kupendam, tiba-tiba melonjak. Aku tidak akan lagi menarik lututku.
Hendra tiba-tiba membuka matanya. Matanya menatapku lekat.
Aku berusaha terlihat tenang, membuang muka. Tapi aku tahu, pipiku pasti sudah memerah. Aku merasa terhina.
Aku menekan lututku ke pahanya. Aku ingin membalas dendam.
Aku merasakan otot pahanya menegang. Panas tubuhnya meresap ke kulitku.
Sensasi hangat itu merambat ke seluruh tubuhku. Aku merasa disengat listrik. Ada semacam rasa sakit yang menyenangkan di ujung-ujung sarafku.
Anda Mungkin Juga Suka





