
Dicerai Suami, Dipinang Sultan
Bab 3
Hening malam di apartemen Asha terasa begitu sunyi, hampir menyakitkan. Setelah pertemuannya dengan Rafael dan Rania pagi tadi, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang tak mampu ia abaikan. Suara tawa kecil Rania, tatapan tajam Rafael, dan kehangatan yang mereka bawa seolah menciptakan sebuah kekosongan baru dalam hidupnya.
Asha menyalakan lampu kecil di sudut ruang tamu, duduk di atas sofa usang yang sudah mulai kehilangan empuknya. Di atas meja tergeletak album foto pernikahannya dengan Raka. Ia tak tahu kenapa benda itu masih ia simpan. Ia bahkan tak punya keberanian untuk membukanya lagi.
Namun, malam ini, entah karena dorongan rasa sakit atau keinginan untuk menutup luka, tangannya bergerak dengan ragu-ragu membuka sampul album itu.
Di halaman pertama, terlihat foto pernikahan mereka. Ia tersenyum, berdiri di samping Raka yang tampak gagah dengan setelan jas putih. Di foto itu, matanya bersinar penuh harapan. Seakan aku lupa kalau sinar itu akan dipadamkan oleh orang yang ada di sampingku sendiri, pikir Asha, perih.
Ia membalik halaman demi halaman, melihat senyuman palsu yang dulu ia pikir nyata. Setiap foto adalah pengingat akan mimpinya yang hancur berkeping-keping.
Namun, di halaman terakhir, sebuah catatan kecil tertempel di sudut. Tulisan tangan Raka yang rapi menghiasi kertas itu:
"Asha, terima kasih sudah mau berjalan bersamaku. Aku tidak tahu apa masa depan akan selalu mudah, tapi aku tahu, dengan kamu di sampingku, aku bisa menghadapi apa pun."
Air mata Asha jatuh begitu saja. Kebohongan macam apa ini? Jika kau percaya aku adalah kekuatanmu, kenapa kau pergi? Kenapa aku yang kau salahkan atas kegagalanmu?
Ia menutup album itu dengan kasar, membiarkan isakannya memenuhi ruangan yang kosong. Di tengah tangisnya, sebuah kenangan tiba-tiba muncul-malam terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah.
Malam itu
"Aku ingin kita bercerai, Asha," kata Raka tanpa basa-basi, tatapannya dingin seperti es.
Asha menatapnya dengan mata yang mulai memerah. "Kenapa, Raka? Apa aku begitu buruk sebagai istrimu?"
Raka mendengus, melipat tangan di dada. "Kamu bukan buruk, Asha. Kamu... biasa saja. Hidupku terlalu besar untuk seseorang yang biasa-biasa saja seperti kamu."
Kalimat itu menghancurkan Asha lebih dari apa pun yang pernah ia dengar. Selama tiga tahun, ia mencurahkan segalanya untuk mendukung Raka-membantunya mengelola jadwal, menjaga rumah tetap nyaman, dan selalu berusaha menjadi istri yang baik. Tapi semua itu ternyata tidak cukup.
"Kamu pernah bilang aku rumahmu, Raka," bisik Asha, mencoba menahan air matanya. "Apa itu hanya omong kosong?"
Raka mengangkat bahu, tidak terganggu oleh tangisannya. "Aku salah. Rumah yang aku butuhkan bukan kamu. Aku butuh kebebasan, bukan beban."
Asha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kata-kata Raka menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan. Malam itu, ia hanya berdiri diam, menatap punggung Raka yang berjalan menjauh, meninggalkannya dengan luka yang tak pernah sembuh.
Kembali ke masa kini, Asha memejamkan matanya, mencoba menghapus kenangan itu. Tapi bayangan Raka dan kata-katanya terus menghantuinya, seperti bayangan gelap yang tak mau pergi.
Ia menghela napas panjang, memutuskan untuk mengambil selimut dan memaksakan dirinya tidur. Tapi sebelum ia bisa benar-benar terlelap, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.
Rafael:
"Miss Asha, maaf mengganggu malam Anda. Saya hanya ingin memastikan Rania tidak merepotkan Anda tadi pagi. Dia terus membicarakan Anda sepanjang hari."
Asha membaca pesan itu beberapa kali, merasakan sesuatu yang hangat di balik kata-kata sederhana itu. Sudah lama sekali tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya. Bahkan perhatian sekecil ini terasa asing dan menakutkan.
Dengan ragu, ia mengetik balasan:
Asha:
"Rania tidak merepotkan sama sekali, Pak Rafael. Dia gadis kecil yang luar biasa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."
Tak lama setelah ia mengirim pesan itu, ponselnya kembali berbunyi.
Rafael:
"Saya tahu ini mungkin tidak pada tempatnya, tapi jika Anda butuh seseorang untuk berbicara, saya selalu siap mendengar. Saya mengerti bagaimana rasanya berjuang sendiri."
Kata-kata itu menghentikan napas Asha sejenak. Ia tidak tahu harus merasa apa-lega, terharu, atau justru lebih takut. Membuka diri pada orang baru bukanlah sesuatu yang mudah setelah apa yang ia alami.
Namun, di lubuk hatinya, ia tahu bahwa tawaran Rafael tulus. Ia mengingat tatapannya tadi pagi, penuh ketegasan tapi juga kehangatan yang sulit dijelaskan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Asha merasa ada secercah harapan. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, hidupnya belum benar-benar berakhir.
Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi kali ini, suara tetesan air itu terdengar lebih seperti melodi daripada tangisan. Asha memandang ke luar jendela, membiarkan hujan itu menjadi saksi dari awal langkah kecilnya menuju pemulihan.**Bab 3: Luka yang Perlahan Terbuka**
Hening malam di apartemen Asha terasa begitu sunyi, hampir menyakitkan. Setelah pertemuannya dengan Rafael dan Rania pagi tadi, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang tak mampu ia abaikan. Suara tawa kecil Rania, tatapan tajam Rafael, dan kehangatan yang mereka bawa seolah menciptakan sebuah kekosongan baru dalam hidupnya.
Asha menyalakan lampu kecil di sudut ruang tamu, duduk di atas sofa usang yang sudah mulai kehilangan empuknya. Di atas meja tergeletak album foto pernikahannya dengan Raka. Ia tak tahu kenapa benda itu masih ia simpan. Ia bahkan tak punya keberanian untuk membukanya lagi.
Namun, malam ini, entah karena dorongan rasa sakit atau keinginan untuk menutup luka, tangannya bergerak dengan ragu-ragu membuka sampul album itu.
Di halaman pertama, terlihat foto pernikahan mereka. Ia tersenyum, berdiri di samping Raka yang tampak gagah dengan setelan jas putih. Di foto itu, matanya bersinar penuh harapan. *Seakan aku lupa kalau sinar itu akan dipadamkan oleh orang yang ada di sampingku sendiri,* pikir Asha, perih.
Ia membalik halaman demi halaman, melihat senyuman palsu yang dulu ia pikir nyata. Setiap foto adalah pengingat akan mimpinya yang hancur berkeping-keping.
Namun, di halaman terakhir, sebuah catatan kecil tertempel di sudut. Tulisan tangan Raka yang rapi menghiasi kertas itu:
_"Asha, terima kasih sudah mau berjalan bersamaku. Aku tidak tahu apa masa depan akan selalu mudah, tapi aku tahu, dengan kamu di sampingku, aku bisa menghadapi apa pun."_
Air mata Asha jatuh begitu saja. *Kebohongan macam apa ini? Jika kau percaya aku adalah kekuatanmu, kenapa kau pergi? Kenapa aku yang kau salahkan atas kegagalanmu?*
Ia menutup album itu dengan kasar, membiarkan isakannya memenuhi ruangan yang kosong. Di tengah tangisnya, sebuah kenangan tiba-tiba muncul-malam terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah.
---
**Malam itu**
"Aku ingin kita bercerai, Asha," kata Raka tanpa basa-basi, tatapannya dingin seperti es.
Asha menatapnya dengan mata yang mulai memerah. "Kenapa, Raka? Apa aku begitu buruk sebagai istrimu?"
Raka mendengus, melipat tangan di dada. "Kamu bukan buruk, Asha. Kamu... biasa saja. Hidupku terlalu besar untuk seseorang yang biasa-biasa saja seperti kamu."
Kalimat itu menghancurkan Asha lebih dari apa pun yang pernah ia dengar. Selama tiga tahun, ia mencurahkan segalanya untuk mendukung Raka-membantunya mengelola jadwal, menjaga rumah tetap nyaman, dan selalu berusaha menjadi istri yang baik. Tapi semua itu ternyata tidak cukup.
"Kamu pernah bilang aku rumahmu, Raka," bisik Asha, mencoba menahan air matanya. "Apa itu hanya omong kosong?"
Raka mengangkat bahu, tidak terganggu oleh tangisannya. "Aku salah. Rumah yang aku butuhkan bukan kamu. Aku butuh kebebasan, bukan beban."
Asha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kata-kata Raka menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan. Malam itu, ia hanya berdiri diam, menatap punggung Raka yang berjalan menjauh, meninggalkannya dengan luka yang tak pernah sembuh.
---
Kembali ke masa kini, Asha memejamkan matanya, mencoba menghapus kenangan itu. Tapi bayangan Raka dan kata-katanya terus menghantuinya, seperti bayangan gelap yang tak mau pergi.
Ia menghela napas panjang, memutuskan untuk mengambil selimut dan memaksakan dirinya tidur. Tapi sebelum ia bisa benar-benar terlelap, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.
**Rafael:**
_"Miss Asha, maaf mengganggu malam Anda. Saya hanya ingin memastikan Rania tidak merepotkan Anda tadi pagi. Dia terus membicarakan Anda sepanjang hari."_
Asha membaca pesan itu beberapa kali, merasakan sesuatu yang hangat di balik kata-kata sederhana itu. Sudah lama sekali tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya. Bahkan perhatian sekecil ini terasa asing dan menakutkan.
Dengan ragu, ia mengetik balasan:
**Asha:**
_"Rania tidak merepotkan sama sekali, Pak Rafael. Dia gadis kecil yang luar biasa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."_
Tak lama setelah ia mengirim pesan itu, ponselnya kembali berbunyi.
**Rafael:**
_"Saya tahu ini mungkin tidak pada tempatnya, tapi jika Anda butuh seseorang untuk berbicara, saya selalu siap mendengar. Saya mengerti bagaimana rasanya berjuang sendiri."_
Kata-kata itu menghentikan napas Asha sejenak. Ia tidak tahu harus merasa apa-lega, terharu, atau justru lebih takut. Membuka diri pada orang baru bukanlah sesuatu yang mudah setelah apa yang ia alami.
Namun, di lubuk hatinya, ia tahu bahwa tawaran Rafael tulus. Ia mengingat tatapannya tadi pagi, penuh ketegasan tapi juga kehangatan yang sulit dijelaskan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Asha merasa ada secercah harapan. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, hidupnya belum benar-benar berakhir.
Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi kali ini, suara tetesan air itu terdengar lebih seperti melodi daripada tangisan. Asha memandang ke luar jendela, membiarkan hujan itu menjadi saksi dari awal langkah kecilnya menuju pemulihan.
Anda Mungkin Juga Suka





