
Dibuang Suami Diratukan Boss
Bab 2
Malam itu, Alya terisak sendirian di kamar. Seluruh pikirannya berputar tak tentu arah. Bayangan Raka yang menatapnya dengan kebencian, wajah mertuanya yang tak pernah puas, hingga senyuman sinis Adrian, semuanya berputar bagai mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Rasa sakit dan kehancuran yang ia rasakan selama bertahun-tahun kini memuncak, membuatnya lelah.
"Kenapa harus begini?" bisiknya pelan sambil memegangi perutnya yang baru saja ia ketahui menjadi tempat bertumbuhnya kehidupan kecil. Keajaiban yang ia nantikan selama delapan tahun, tapi sekarang datang di saat yang paling tak terduga, di tangan pria asing yang bahkan tak mengenalnya.
Alya menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang memuncak. Namun, ia sadar bahwa dia harus segera membuat keputusan. Bagaimana ia akan menjalani hidup dengan anak ini? Bagaimana jika Raka mengetahui dirinya hamil dari pria lain? Rasa takut dan kebingungan menyelimuti pikirannya, namun di balik semua kekacauan itu, Alya merasa ada kehangatan di dalam dirinya-sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun bersama Raka.
Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengusap air matanya, dan mengambil ponsel. Satu nama terpampang di layar: Raka. Ada dorongan dalam hatinya untuk menghubungi pria itu, memberitahunya tentang kehamilan ini, meski ia tahu jawabannya akan penuh dengan kebencian dan amarah.
Namun, jemarinya terhenti. Hatinya bergetar, menyadari bahwa keputusannya untuk menelepon Raka adalah karena ia masih berharap mendapatkan sedikit penghargaan atau mungkin kehangatan dari pria itu. Tapi, setelah semua yang terjadi, haruskah ia masih mengharapkan itu?
Sambil menatap layar ponsel, Alya menekan nomor Raka dengan ragu. Panggilan tersambung, namun suara yang menjawab adalah suara wanita lain.
"Halo?" suara asing itu terdengar lembut namun angkuh. "Ada yang bisa saya bantu?"
Alya terdiam. Napasnya tercekat, ia mencoba menenangkan diri, meski perasaannya sudah terombang-ambing. "Bisakah saya berbicara dengan Raka?" tanyanya dengan nada pelan namun terdengar tegas.
"Oh, kamu pasti Alya, kan?" suara itu terdengar sinis. "Aku dengar dari Raka kalau kamu sudah tidak ada urusan lagi dengannya."
Jantung Alya berdegup keras. "Siapa kamu?" tanyanya, meski ia sudah bisa menebak jawabannya.
Wanita di seberang sana tertawa kecil, suaranya penuh dengan kepuasan. "Aku Nadya, tunangan Raka. Raka sudah tidak memikirkanmu lagi, Alya. Jadi, kuharap kamu tidak mengganggu kami lagi."
Panggilan terputus, dan Alya berdiri kaku. Semua harapan yang sempat ia bangun hancur berkeping-keping. Bukan hanya dirinya yang disingkirkan, tetapi Raka bahkan sudah melangkah lebih jauh dengan wanita lain, tanpa sedikit pun perasaan bersalah.
Malam itu, Alya merasa dirinya berada di dasar paling kelam dalam hidupnya. Namun, di balik perasaan sakit dan kecewa yang begitu mendalam, perlahan-lahan tumbuh kekuatan yang tak pernah ia sadari. Bayangan akan seorang anak di dalam rahimnya menjadi satu-satunya harapan yang tersisa-harapan yang ia yakini akan memberinya tujuan hidup baru.
Hari demi hari berlalu, Alya mulai menjalani hidup yang tak lagi bergantung pada Raka ataupun masa lalunya. Ia fokus pada kehamilannya, menghadapi segala tantangan yang ada seorang diri. Selama berbulan-bulan, Alya menghindari kontak dengan Raka dan keluarganya, mencoba membangun kembali hidupnya yang baru, meskipun harus mulai dari nol.
Suatu pagi, saat Alya sedang berjalan di taman, ia bertemu dengan Adrian. Pria yang dulu membelinya, pria yang awalnya ia benci dan tak ingin ia temui lagi. Namun, Adrian menatap Alya dengan ekspresi berbeda kali ini. Ada kelembutan dan ketulusan dalam sorot matanya, jauh berbeda dari kesan dingin yang ia tunjukkan saat pertemuan pertama mereka.
"Alya," panggil Adrian pelan sambil mendekatinya. "Kau baik-baik saja?"
Alya terkejut mendengar nada suaranya yang hangat. Ia tak tahu harus berkata apa, namun ada sesuatu dalam tatapan Adrian yang membuatnya merasa nyaman. "Aku... aku baik-baik saja," jawabnya pelan, mencoba tersenyum.
Adrian menatap perut Alya yang kini sudah terlihat jelas. Tatapan kagum terpancar dari matanya, namun ada juga kekhawatiran yang tersembunyi. "Itu... anakku, kan?" tanyanya pelan, suaranya bergetar, seolah menahan emosi.
Alya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Meski kehamilan ini adalah hasil dari malam penuh keterpaksaan, Alya sadar bahwa anak ini juga adalah bagian dari Adrian. "Iya," jawabnya akhirnya, lirih namun penuh keyakinan.
Tatapan Adrian melembut. Ia menarik napas dalam, seolah sedang mencerna kenyataan bahwa ia akan menjadi seorang ayah. "Alya, biarkan aku bertanggung jawab. Aku tahu ini semua bermula dari hal yang salah, tapi aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak ini. Dan juga... untukmu."
Alya terkejut mendengar kata-kata itu. Pria yang dulu ia anggap kejam dan tak berperasaan kini berbicara seolah-olah benar-benar peduli padanya dan calon anak mereka. Namun, ia masih ragu. Perasaan sakit dan pengkhianatan dari masa lalunya masih membekas, membuatnya takut untuk percaya lagi pada siapa pun.
"Aku tak butuh belas kasihan," jawab Alya sambil menatap Adrian dengan mata tajam. "Aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku."
Adrian mengangguk perlahan, memahami keraguan di mata Alya. "Aku tahu kau butuh waktu untuk percaya, Alya. Tapi, aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan selalu ada di sini, kapan pun kau membutuhkan aku."
Kata-kata itu perlahan meresap ke dalam hati Alya. Untuk pertama kalinya sejak malam kelam itu, ia merasa sedikit lebih kuat, sedikit lebih yakin bahwa mungkin, di tengah semua penderitaan ini, ada harapan baru yang bisa ia bangun, bersama dengan anak yang tumbuh di dalam rahimnya dan pria yang berjanji akan selalu ada di sisinya.
Anda Mungkin Juga Suka





