
Dia Bukan Suamiku
Bab 3
Shafa bangun lebih pagi. Dia masih berada di pelukan Alby. Otot tangan Alby yang besar, menjadi bantalan untuk tidurnya semalam. Saat ingin bangun, Alby malah mengeratkan lagi pelukannya.
"Mas Alby, aku mau belanja. Kayaknya, ada tukang sayur, tuh, di depan."
"Cium aku dulu," pinta Alby dengan mata yang masih terpejam.
Sebelum menciumnya, Shafa melihat wajah Alby yang masih tertidur. Bibirnya yang pucat tetap terlihat menggoda untuknya. Walau sedang tidur, Alby masih terlihat tampan. Saat itulah Shafa merasa sangat beruntung bisa memilikinya. Seorang pria asing yang tiba-tiba menjadi suaminya. Seperti cerita sebuah novel, 'kan?
Bibir mereka bertabrakan dan Alby memegang kepala Shafa agar tautan bibirnya tidak terlepas. Hampir kehabisan napas, Alby langsung melepaskan Shafa. "Maaf, ya, Sayang?"
"Aku mau belanja dulu."
Shafa segera keluar rumah saat mendengar suara teriakan tukang sayur yang lewat di depan rumahnya. Banyak ibu-ibu yang sudah lebih dulu datang, salah satunya Mbak Jelita.
"Bang, ada bayam?" tanya Shafa pada tukang sayur yang sudah setengah tua.
"Ada, Mbak. Di depan, tuh, deket kangkung."
"Mbak Shafa mau masak sayur bening, ya?" tanya Jelita yang baru saja datang dengan dandanan seperti ingin pergi pesta.
"Iya," jawab Shafa singkat dan tanpa melihat wajah jelita di sampingnya.
"Itu siapa, Jel?" tanya seseorang pada Jelita.
"Ini Mbak Shafa, istrinya Mas Alby."
"Loh, emangnya kapan Mas Alby nikah?" tanya salah satu ibu-ibu dengan terkejut, mewakili ibu-ibu yang lainnya.
"Sekitar seminggu yang lalu. Pasti, ibu-ibu kaget, ya? Ibu-ibu pasti nyangkanya kalau Mas Alby bakal nikah sama saya, 'kan? Tapi sayangnya, kita enggak berjodoh, Bu." Apa yang Jelita ucapkan, mulai membuat Shafa kesal.
Shafa mencoba menahannya dan segera membayar sayuran yang dia beli. "Bang, saya beli ini aja. Semuanya berapa?"
Tukang sayur tersebut menghitungnya dengan cepat. "32 ribu, Mbak."
Setelah Shafa membayar dengan uang pecahan 50 ribu, "Ambil aja kembaliannya, Bang."
"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak."
"Ibu-ibu, saya duluan, ya? Mau bangunin Mas Alby. Dia susah banget kalau dibangunin. Mungkin kecapean gara-gara semalem kali, ya? Habisnya, dia nafsu banget. Sampai enggak ingat waktu." Mata Shafa melirik ke arah Jelita.
"Aduh, pengantin baru bikin iri aja, nih," ucap seorang wanita yang sedang hamil.
Shafa tersenyum ramah. "Kalau gitu, saya permisi, ya, Ibu-ibu?" Shafa merasa puas mengatakan hal tersebut di depan Jelita.
***
Setelah selesai memasak sayur bening dengan beberapa potong jagung, tempe goreng, dan sambal, Alby yang sudah selesai bersiap untuk berangkat kerja, langsung datang ke meja makan.
"Aku cuma masak itu. Soalnya, Mbak Jelita bikin telinga aku panas," kata Shafa yang duduk di hadapan Alby, sambil mengambilkan nasi untuk suaminya itu. "Aku enggak habis pikir, deh. Kok, kamu bisa betah punya tetangga kayak dia?"
"Emanya kenapa lagi?" Alby lagi-lagi meledek istrinya yang mudah marah itu.
"Gimana aku enggak marah coba? Dia ngomongin kamu di depan ibu-ibu. Dia ngomong seakan aku merebut kamu dari dia."
"Kalau kenyataannya bener gimana?" tanya Alby yang mulutnya terisi penuh oleh nasi.
"Aku udah nyangka kalau kamu pasti suka sama dia." Shafa bangun dari duduknya, pergi ke dapur meninggalkan Alby yang masih sibuk makan. "Kamu seneng kalau digodain sama dia, 'kan?
"Shaf, aku cuma bercanda tau." Gemas melihat istrinya saat sedang marah, Alby mendekat dan memeluknya dari belakang. Kepalanya dia sandarkan pada bahu Shafa. "Jangan marah, dong. Aku cuma bercanda, Sayang."
"Sana berangkat, nanti terlambat." Shafa pergi saat Alby mendekatinya.
Tapi, Alby terus mengejar Shafa. "Cium dulu," pinta Alby yang saat itu memeluk Shafa dari depan.
Wajah suaminya yang tampan dan menawan, membuat mata Shafa sulit untuk berpaling. "Pergi, enggak?"
"Cium dulu."
"Pergi!"
"Cium dulu!"
Shafa hanya mengabaikannya. Tanpa izin, Alby mendekap wajah Shafa dan mencium bibir istrinya yang cantik itu. Berkali-kali dan dengan kuat menahan Shafa yang mencoba berpaling. Semakin lama, Shafa merelakan Alby menyentuhnya. Dia berharap, cara itu bisa membuat cinta segera hadir di dalam pernikahan mereka.
"Permisi, Mas Alby!" teriak Jelita dari depan gerbang rumah Alby.
Dengan kuat, Shafa mendorong Alby. Dia berlari menuruni anak tangga, menuju lantai bawah. Namun, Alby berhasil menarik tangannya.
"Kamu mau ngapain?"
"Aku mau cakar mukanya!"
Saat hendak lanjut pergi, Alby memeluk Shafa dan kembali menciumnya. Jelita yang berkali-kali memanggil, mereka abaikan. Bibir mereka saling bertautan. Tangan Shafa memukul pelan punggung lebar suaminya, walau sebenarnya, dia sangat menikmati itu.
***
Sebelum Alby pulang, Shafa membersihkan rumah, khususnya kamar mereka. Saat selesai, Shafa duduk di sofa depan televisi, memakan cemilan yang dia beli. Saat sedang santai, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Pintu dibuka, namun tidak ada siapa pun di sana. "Mas Alby? Kamu, 'kan, yang ketuk pintunya?" Shafa melangkah ke luar, menuju halaman depan rumah.
Shafa terkejut menerima pelukan suaminya. Alby memeluk dan mencium pipinya dari belakang. Tangan Alby yang melingkar di pinggang Shafa, dielus lembut olehnya.
Karena lokasi rumah mereka selalu sepi, Alby berani untuk melakukan hal itu di luar rumah. Lagi pula, itu hal wajar untuk pasangan yang baru menikah. Keromantisan mereka lagi-lagi dihancurkan oleh suara si janda anak 1. Dia datang membawa mangkuk berisikan makanan.
"Mas Alby!" Jelita mendekati tembok pembatas rumah mereka. "Saya masak semur daging, loh! Mas Alby mau enggak?" Jelita seperti tidak melihat kehadiran Shafa yang masih berada dipelukan Alby.
Karena kesal, Shafa menggenggam tangan Alby yang melingkar di perutnya dengan kuat. "Ayo, sayang, kita makan bareng!" Shafa langsung menarik Alby masuk ke dalam rumah.
"Kamu cemburu lagi, ya?"
"Enggak, kok!" Dengan kasar, Shafa menyalakan kompor untuk menghangatkan soto yang dia buat.
"Ternyata, kamu beneran udah jatuh cinta sama aku, ya?"
Sepertinya, Alby sudah tau bagaimana cara memanjakan istrinya. Dia berdiri di belakang Shafa. Setelah mematikan kompor, tangan Alby kembali melingkar di pinggang Shafa.
"Sayang, aku cinta sama kamu."
"Aku juga." Tapi, Shafa menjawabnya seperti tidak serius.
"Bohong."
"Ngapain aku bohong?"
Alby mencium leher putih dan harum milik istrinya. Shafa memejamkan matanya, saat Alby menciumnya semakin dalam. Mereka sama-sama menikmatinya. Semakin lama, Shafa mulai mengeluarkan suara lembut yang masih terdengar samar.
"Sayang, aku mau sekarang," pinta Alby dengan suara lembut.
"Sekarang? Tapi, kamu baru pulang kerja, Mas."
"Kamu mau atau enggak?"
"Terserah. A-aku, ikutin mau kamu aja."
Alby mengangkat tubuh mungil Shafa menuju kamar mereka. Shafa bisa merasakan tubuh kekar suaminya itu. Untuk kedua kalinya, tubuh Shafa dihempaskan keatas kasur.
"Shafa, kamu udah percaya sama aku?" Wajah Alby berada di atas Shafa. Bahkan, napasnya terasa sangat hangat.
"Emangnya kenapa?"
"Kalau kamu belum cinta dan percaya sama aku, kita jangan lakuin sekarang."
"Emangnya, kamu udah cinta sama aku?"
"Aku tanya kamu, Shaf. Jangan tanya balik."
Shafa diam sejenak, menatap mata Alby yang indah. "A-aku ... Aku udah cinta sama kamu. Kalau kamu?"
"Aku juga. Aku sangat mencintai kamu. Jadi, aku boleh lakuin sekarang?
"Iya, boleh, Mas."
Lebih dulu, Alby membuka seragam kerjanya. Otot tangan dan tubuhnya yang kekar, membuat Shafa selalu terpukau. Shafa masih merasa malu, padahal dia sudah beberapa kali melihat Alby tidak mengenakan pakaian.
"Kenapa muka kamu jadi merah gitu?"
"A-aku takut."
"Enggak usah takut . Aku bakal pelan-pelan, kok."
Shafa menahan tangan Alby yang hendak menyentuhnya lebih jauh. "Mas, kamu ada hubungan apa sama Mbak Jelita?"
"Eum?" Alby terlihat terkejut sampai-sampai membuka matanya lebar-lebar. "Hubungan? Tetangga aja."
"Ih, serius, Mas."
Alby bangkit dan duduk di pinggir ranjang membelakangi Shafa. "Beneran, Shaf. Dia yang suka sama aku. Pernah dua kali dia bilang kayak gitu."
"Terus kenapa kamu masih aja respon perlakuan dia?"
"Aku enggak enak aja kalau harus menunjukkan rasa risih aku ke dia." Perlahan, Alby membawa Shafa dalam dekapannya. "Bahkan aku udah bilang ke dia untuk jangan deketin aku lagi. Tapi, ya, sekarang masih aja. Jadi aku harus gimana? Pindah rumah? Enggak semudah itu, Shaf."
Merasa tidak enak kalau pertanyaannya ternyata membuat Alby takut, Shafa memulainya lebih dulu. Mencium sang suami dengan lembut. "Aku percaya sama kamu, kok, Mas."
***
Anda Mungkin Juga Suka





