Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dia Bukan Suamiku

Dia Bukan Suamiku

Dalam pernikahan hasil perjodohan, Shafa mendambakan kesetiaan dan kasih sayang tulus dari Alby. Meski awalnya Alby tampak sangat mencintai Shafa, pria itu ternyata menyimpan pengkhianatan di balik sikap manisnya. Kepercayaan yang diberikan Shafa pun hancur seketika. Walau Shafa telah mencoba memaafkan demi cinta, ia justru terus tenggelam dalam luka yang mendalam. Kini, di tengah kehancuran, mungkinkah Alby meraih kembali hati Shafa dan menemukan akhir bahagia?
Bab
Bagikan

Bab 1

Sonya kesal saat mengetahui Shafa akan menikah minggu depan. Sonya marah sebab Shafa tidak memberitahunya dari jauh-jauh hari. Karena ingin membicarakan masalah tersebut, Sonya mengajak Shafa untuk mengobrol di kafe.

Tidak menunggu lama, Shafa datang dan langsung bertemu dengan Sonya yang duduk di tempat paling belakang. Sonya seperti mengabaikan temannya itu.

"Sonya, jangan marah, dong." Shafa memegang tangan Sonya, namun sahabatnya itu menolak. "Kamu belum dengar alasan kenapa aku mendadak kasih kabar itu 'kan?"

"Kalau gitu, jelasin aja sekarang. Aku dengerin, kok," jawab Sonya yang menyibukkan diri dengan ponselnya.

"Aku dijodohin."

"Apa?! Kamu dijodohin?!" Mata Sonya membulat.

"Iya, aku dijodohin sama anak kenalan ibu aku dua hari lalu. Besok, aku mau lamaran yang cuma ngundang keluarga dan kerabat dari pihak aku dan calon aku." Sonya terlihat sangat terkejut dengan apa yang penjelasan Shafa.

"Secepat itu? Kenapa kamu enggak nolak, Shaf? Kamu suka sama dia?"

"Aku enggak bisa nolak. Kamu inget? Aku pernah bilang, kalau aku mau nikah di usia muda. Umur aku sekarang udah 24 tahun, udah pantas untuk nikah, 'kan? Usia calon aku cuma 3 tahun lebih tua dari aku. Dia juga cowo pilihan ibu aku. Jadi, aku percaya sama keputusan ini."

"Oh, gitu?

"Kamu dukung keputusan aku, 'kan?"

"Kalau kamu udah yakin, aku pasti dukung kamu."

"Beneran? Terima kasih, Sonya!" Shafa memeluk Sonya penuh kebahagiaan. Awalnya, dia sangat takut kalau Sonya tidak mau memaafkannya.

"Siapa cowo itu? Aku juga harus kenal sama calon suami sahabat aku, 'kan?"

"Namanya Alby Andris Bachtiar. Dia guru SMA di Malang. Lumayan ganteng, sih," ucap Shafa sembari tertawa kecil.

"Siapa namanya?"

"Alby Andris Bachtiar kalau enggak salah," ulang Shafa.

Sonya kembali terlihat kaget. "Kamu baru kenal sama dia?"

"Iya, aku baru kenal beberapa hari lalu."

"Shaf, tiba-tiba aku punya firasat buruk tentang cowo itu. Aku takut, kamu kenapa-kenapa setelah nikah sama dia. Mending, kamu batalin aja pernikahannya."

"Batalin? Mana bisa, Sonya? Besok dia mau lamar aku dan minggu depan kita nikah. Semua udah direncanain sama keluarga kita. Mana bisa aku tiba-tiba batalin pernikahannya?"

"Jadi, kamu tetap mau nikah sama dia disaat aku enggak setuju?! Aku ini sahabat kamu dari kecil! Aku punya firasat yang kuat tentang kamu, Shafa."

"Bukannya tadi kamu udah dukung aku buat nikah sama dia?"

"Tapi, firasat aku tiba-tiba enggak enak. Mending, kamu batalin aja, ya? Lagi pula, kalian belum lamaran, 'kan?"

"Enggak bisa, Sonya. Aku tetap akan nikah sama dia. Doain aja, semoga firasat kamu salah."

"Ini demi kebaikan kamu, Shaf."

"Maaf, Sonya. Aku tetap enggak bisa. Ini menyangkut nama baik keluarga aku."

"Terserah kamu aja!" Sonya bangun dari duduknya.

***

Shafa tidak bisa menghubungi Sonya sampai tiba acara lamaran. Disatu sisi, Shafa merasa senang karena lamarannya berjalan lancar dan tinggal menunggu hari pernikahan. Disisi lain, dia merasa sedih karena Sonya benar-benar marah padanya. Tapi, Shafa juga tidak bisa membatalkan acara pernikahannya.

"Shafa, ayo makan dulu. Nanti kamu sakit, loh? Banyak hal yang harus kamu selesain untuk pernikahan nanti," ucap Fatma sembari mengelus tangan putri bungsunya.

"Iya, Bu, nanti aku makan, kok."

"Hari ini kamu mau pergi, 'kan, sama Alby?"

"Iya, nanti sore dia jemput."

"Pokoknya, kamu enggak usah mikirin Sonya. Ini hidup kamu dan kamu yang menentukan. Ibu akan berdoa supaya rumah tangga yang kamu bina bersama Alby, langgeng dan bahagia. Sahabat yang baik adalah dia yang ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia. Kalau emang dia punya firasat buruk, seharusnya dia berdoa supaya kamu baik-baik aja. Bukannya malah nyuruh kamu buat batalin pernikahan." Fatma sebenarnya kesal dengan sikap Sonya yang membuat anaknya ragu untuk menikah.

Tiba-tiba, Galih datang memanggil adik satu-satunya itu. "Shaf, ada Alby, tuh. Dia nunggu di ruang tamu."

"Loh, kata kamu perginya sore?" tanya Fatma pada Shafa.

Setelah merapikan rambutnya, Shafa langsung turun menyusul ibunya yang sudah lebih dulu menyapa Alby. Wajah calon suaminya itu terlihat cerah dan tampan. Senyumnya manis dan menyejukkan. Sepertinya, akan banyak orang yang bilang 'Shafa, kamu beruntung, deh, bisa jadi istrinya Alby' setelah mereka menikah nanti.

"Mas Alby? Kamu bilang, perginya nanti sore?" Shafa duduk di samping Fatma.

"Siang ini aku ada waktu luang. Jadi, kita pergi sekarang aja, gimana?"

"Yaudah, aku siap-siap dulu, ya?" Dengan cepat, Shafa kembali menuju kamarnya.

"Al, Shafa belum makan dari kemarin. Nanti, kamu suruh dia makan, ya?" Suara Fatma terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang.

"Iya, Bu. Gimana keadaan Ibu?"

"Ibu baik-baik aja. Tolong jaga Shafa, ya, Al? Ibu kasih kepercayaan sama kamu untuk jaga dia."

"Iya, aku akan jaga Shafa demi Ibu."

"Ayo, kita berangkat?" Shafa kembali dengan pakaian sederhana, namun membuatnya terlihat sangat cantik. Karena Alby terus melihatnya, Shafa merasa malu.

"Ada apa?"

"Kamu cantik banget."

***

Shafa dan Alby datang ke sebuah butik tempat mereka memesan baju pengantin. Baru 3 hari, gaun yang akan Shafa pakai hampir selesai. Lagi-lagi, Alby terpanah melihat betapa cantik calon istrinya itu saat mencoba gaun pengantin.

"Cantik, Shaf."

"Gaunnya atau akunya?" tanya Shafa dengan sedikit candaan.

"Kamu, dong. Gaunnya bikin kamu tambah cantik. Bener, 'kan, Mbak?" tanya Alby pada perancangan gaun tersebut yang berdiri di samping Shafa.

Setelah selesai mencobanya, Alby mengajak Shafa untuk jalan-jalan dan mampir ke sebuah restoran pinggir pantai. Lokasinya lumayan jauh dari rumah mereka. Alby sengaja, agar mereka lebih dekat dan tidak canggung lagi.

Tanpa ragu, Alby terus menggandeng Shafa sambil berjalan di atas pasir putih. Rambut Shafa yang terurai, tertiup angin sampai menutupi wajahnya.

"Kamu pernah ke sini?"

"Pernah, pas Kak Galih ulang tahun."

Kaki Alby yang panjang, membuat Shafa sulit menyesuaikan langkahnya. Alhasil, dia terjatuh karena berjalan terburu-buru. Alby malah tertawa sambil menolongnya untuk bangun.

"Jalannya yang bener, dong."

"Kamu jalannya cepet banget!" omel Shafa.

"Aku jalannya biasa, kok. Kamu aja yang langkahnya kecil." Alby tertawa dan Shafa cemberut dengan manisnya. "Udah, jangan cemberut gitu."

Karena gemas melihat tingkah calon istrinya, Alby langsung menggendong Shafa lalu berlari pelan. Walau tubuh Shafa kecil, Alby tetap kesulitan menggendongnya. Hal itu membuat mereka tertawa dan akhirnya terjatuh bersama di atas putihnya pasir pantai.

"Kamu beneran nerima perjodohan ini?" tanya Alby sambil melihat wajah Shafa dari samping.

"Kenapa tiba-tiba kamu kayak ragu gitu?"

"Aku cuma mau memastikan aja. Shaf, aku janji akan berusaha untuk mencintai dan menerima kamu sebagai istri aku nantinya."

"Aku juga janji akan jadi istri yang baik buat kamu, Mas."

***

Beberapa hari sebelum pernikahan, Alby memberitahu Shafa mengenai tempat tinggal mereka nanti. Sejak kuliah sampai bekerja, Alby tinggal di Malang dan jauh dari keluarganya. Jadi, Shafa harus ikut Alby untuk tinggal di sana.

Acara pernikahan dimulai. Jas abu-abu yang melekat ditubuh kekarnya, membuat Alby terlihat lebih keren. Peci yang menutupi rambutnya, membuatnya terlihat jauh lebih tampan.

Alby dan kedua orang tuanya berjalan menuju meja yang dimana sudah duduk beberapa saksi, penghulu, dan ayah Shafa sebagai wali nikahnya. Alby menjabat tangan calon mertuanya dengan kuat.

"Ananda Alby Andris Bachtiar bin Fahri Bachtiar. Saya nikahkan dan kawinkan, anak kandung saya Shafa Akdzaa Zahirrah binti Yunus Darmawan pada engkau, dengan maskawin berupa logam mulia 30 gram, uang 50 juta 578 ribu rupiah, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Yunus dengan penuh keyakinan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Shafa Akdzaa Zahirrah binti Yunus Darmawan, dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" balas Alby dengan tegas dan lantang dalam satu tarikan napas.

"Sah! Alhamdulillaah."

Kembali berdoa dengan khidmat. Shafa yang menunggu di ruangan lain bersama keluarganya menangis terharu menyaksikan ijab kabul itu. Alby datang menjemput Shafa dan mereka berjalan menuju bangku pengantin di atas panggung, diiringi penari yang gemulai.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO lumpuh itu, suamiku
9.5
Rachel Martinique, seorang dokter bedah, terjebak dalam pernikahan paksa sebagai alat penebus hutang keluarganya. Ia harus bersuami dengan seorang CEO lumpuh yang tidak ia kenali sebelumnya. Kehidupan baru ini penuh ketegangan karena sang suami menyimpan kebencian mendalam terhadap dirinya. Tanpa landasan cinta, Rachel harus menghadapi ketidakpastian dalam rumah tangga mereka. Akankah kasih sayang tumbuh seiring waktu, ataukah nasib buruk yang menanti?
Sampul Novel Diceraikan Tanpa Alasan
9.0
Tiga tahun Elira mencintai Kael Virendra dalam kesunyian sebelum akhirnya diceraikan tanpa belas kasih. Saat Kael memilih kembali pada sang mantan, Elira pergi dan mengungkap identitas aslinya sebagai Seraphina Remos, pewaris takhta miliarder yang jenius dan berbakat. Ketika Kael menyadari kesalahannya dan memohon kesempatan kedua, Seraphina yang kini telah bangkit tak lagi sudi menoleh. Masa lalu telah terkubur, dan ia sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang Miliarder
9.4
Mimpi Arabella Balqis untuk dicintai hancur saat Leonard Abraham datang membawa dendam. Leonard menyelinap ke rumahnya, namun justru memutarbalikkan fakta hingga warga memaksa mereka menikah siri akibat fitnah tersebut. Sebagai yatim piatu, Arabella terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh penderitaan. Di tengah nasib buruk yang kian mengepung, mampukah ia bertahan menghadapi kekejaman suaminya dan menemukan kebahagiaan yang selama ini ia idamkan?
Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Pasca penglihatannya pulih, Della terkejut mendapati Hurst Owen, adik kekasihnya, yang justru menjadi suaminya. Rahasia terbongkar saat ia mendengar Brady Owen lebih memilih Betty Kirk ketimbang dirinya yang buta demi dia. Meski Brady berjanji kembali dalam sebulan dan menganggap pernikahan adiknya palsu, Hurst mulai menyimpan rasa. Tanpa mengungkap kesembuhannya, Della justru membawa Hurst meresmikan ikatan mereka demi menjadi istri sejatinya.
Sampul Novel MANDUL
9.7
Kehidupan Izza penuh dengan tekanan karena ia tak kunjung hamil meski sudah lama menikah. Setiap hari, ia harus menelan hinaan dan cibiran dari orang-orang di sekitarnya. Keadaan semakin berat saat ia terus dibanding-bandingkan dengan Asih, menantu baru yang langsung mengandung di bulan pertama pernikahannya. Di tengah rasa sakit hati dan ekspektasi keluarga, mampukah Izza bertahan? Ikuti perjuangan emosional Izza demi mendapatkan garis dua yang dinanti.
Sampul Novel Seriusin Aja, Nikahnya
8.9
Kara merasa bimbang saat Soni menyatakan perasaannya. Meski sangat berutang budi atas kebaikan Soni, ia tetap tak bisa membalas cinta pria tersebut. Masalah semakin rumit ketika Hendra muncul dan membongkar rahasia Kara hingga Soni memutuskan untuk mundur. Tak disangka, Hendra justru bertekad untuk menikahi Kara. Akankah pernikahan mereka nantinya hanya sekadar perjanjian kontrak belaka, atau justru menjadi awal kebahagiaan sejati bagi Kara?