
Di Balik Topeng Bodyguard
Bab 2
"Leo, jangan mendekat! Jangan sampai Deny tahu hubungan kita. Tubuhku rasanya sakit sekali. Tapi, aku sayang kamu, Leo," bisik Alice ke telinga Leo.
Tiga bulan kemudian...
"Deny, cepat ke sini! Cepat! Kamu kenapa lama sekali!" teriak Alice membuat seluruh rumah mendengar teriakannya. Terutama Nyonya Deborah, ibu sambung Alice.
"Kamu ini sama sekali gak punya etika! Bisa tidak, kalau mulutmu tidak teriak!" bentak Nyonya Deborah sembari menutup kedua telinganya.
Deny sudah berdiri di belakang Nyonya Deborah. Ia tak bisa melanjutkan langkah kakinya karena terhalang tubuh Nyonya Deborah di depan pintu.
"Deborah, aku gak minta kamu datang ke sini! Keluar dari kamarku!" teriak Alice dengan muka pucat.
Hubungan Alice dengan mama sambungnya memang tidak pernah baik. Bahkan, Alice dengan lantang selalu memanggil namanya. Bukan Mami, Mama, atau Ibu. Salah satu sikap Alice itu yang membuat Deborah semakin membencinya.
"Anak kurang ajar kamu, Alice! Aku sudah bilang berkali-kali agar tidak memanggil namaku!" bentak Deborah menendang pintu kamar Alice. Lalu keluar dari kamar Alice. Deny menggeser tubuhnya satu langkah.
Alice lari ke kamar mandi. Terdengar seperti suara orang yang muntah. Deny berlari mengikutinya dari belakang. Dia mengetuk pintu kamar mandi memastikan keadaan Alice.
"Nona, apa kamu baik-baik aja?" tanya Deny panik. Tak berselang lama, Leo masuk ke kamar Alice.
"Den, suara Nona Alice terdengar sampai ke bawah. Ada apa?" tanya Leo cemas.
"Aku juga tidak tahu. Tapi, sepertinya Nona Alice kurang sehat," sahut Deny menduga.
Alice keluar dari kamar mandi dengan lemas.Tubuhnya sempoyongan hampir terjatuh. Dengan sigap, Deny dan Leo menyanggah tubuhnya. Air mata keluar dari netra Alice. Menetes menyusuri bekas tetesan air mata sebelumnya.
"Nona, apa perlu saya panggilkan Dokter?" Deny mencoba menawarkan saran ke Alice.
"Jangan, aku tidak ingin membuat Papi khawatir. Papi, masih sibuk di Hongkong," sahut Alice lemas.
Leo minta izin untuk melanjutkan makan yang sempat tertunda. Deny menjaga Alice di samping tempat tidurnya. Ia tidak tega melihat Alice yang mondar mandir ke kamar mandi untuk muntah. Alice juga mengeluh kalau kepalanya sakit sekali.
"Semoga dugaan ku tidak benar. Apa malam itu aku sempat lalai? Sepertinya tidak," gumamnya sangat pelan.
Alice tampak kesakitan hingga wajah cantiknya terlihat sangat pucat. Ia sesekali mengelus perutnya yang terlihat sedikit buncit. Kedua tangan sibuk memijit kepalanya sambil sesekali merintih.
"Apa perut Nona Alice memang segitu? Sepertinya tidak. Dia sering olahraga dan perutnya rata," batin Deny semakin cemas.
"Semoga dugaan ku tidak benar," lanjutnya.
"Deny, aku mual sekali dan rasanya kayak mau mati!" seru Alice sambil memejamkan mata.
"Nona, makan sedikit saja, ya? Muntah berkali-kali akan membuat Nona semakin lemas." Deny menatap Alice dengan rasa iba.
Alice pribadi yang ceria, periang, dan tidak bisa diam. Dalam sekejap terlihat lemah, rapuh, dan putus asa. Siapa pun yang mengenalnya pasti akan merasakan hal yang sama, iba.
"Aku mual sekali, Den. Aku gak muntah! Gak ada yang keluar dari perutku!" keluh Alice kesal.
Deny melebarkan netra semakin yakin dengan dugaannya. Ia menggelengkan kepala tanpa sadar juga menepuk dahinya pelan. Alice melirik Deny dengan perasaan bingung akan tetapi tidak ada tenaga untuk bertanya.
"Nona, saya permisi keluar sebentar, ya?" izin Deny berharap disetujui Alice untuk keluar kamar sebentar.
"Den, jangan tinggalkan aku! Kalau aku mati, gimana?" lirih Alice memyeka air matanya.
Deny menahan tawa sambil membekap mulutnya sendiri. Wajahnya memerah saat menahan tawa atau tertawa. Dalam keadaan sakit, Alice masih bisa membuat orang di sekitarnya tertawa.
"Tidak akan mati. Nona Alice, hanya kurang istirahat saja," hibur Deny seraya senyum.
"Enggak, Den. Kamu tetap di sini aja! Apa kamu ingin melihat wajah bahagia Deborah melihatku meninggal?" celetuk Alice.
"Deborah, pasti akan senang sekali kalau aku mati," lanjutnya.
Deny menghela napas panjang dengan anggukan. Menandakan kalau dia tidak tega meninggalkan Alice. Ia tidak kuat melihat Alice yang terlihat kesakitan. Seorang Ibu sambung yang diharapkan bisa menggantikan posisi Ibu kandungnya ternyata meleset seratus persen. Bisa dikatakan kalau Tuan Alfred salah memilih Ibu sambung untuk Alice. Tapi, bisa dikatakan juga dia memilih istri yang baik untuk dirinya. Perlu digaris bawahi, istri bukan Ibu.
"Nona, mau makan apa? Sedikit saja." Deny masih terus berusaha merayu Alice.
"Iya, sudah saya bawakan makanan yang enak-enak," kata Pamela, koki keluarga besar.
Alice tidak merespon sama sekali. Deny dan Pamela saling berpandangan. "Den, Nona Alice masih muntah? " tanya Pamela pelan. Tapi, suaranya masih bisa didengar Alice.
"Masih. Sakit kepala, lemas, perut sedikit sakit dan kembung. Muntah tidak keluar apa pun dari perutnya," terang Deny seraya menoleh ke Alice.
"Nanti kalau sudah mau makan, tolong disuapi ya, Den? Makanan saya taruh di sini," pesan Pamela sebelum keluar kamar.
Saat melewati kamar Deborah, tiba-tiba saja tangannya ditarik ke dalam kamar. Pamela tersentak kaget dadanya berdebar kencang.
"Pamela, Alice masih muntah? Keadaan dia bagaimana?" tanya Deborah penasaran. Bukan cemas, tapi penasaran.
"Nona Alice, masih muntah-muntah, mual, lemas. Tapi, waktu muntah tidak keluar apa-apa," terang Pamela.
Deborah mengangguk lalu mengibaskan tangan menyuruh Pamela keluar dari kamarnya. Senyum mekar tergambar jelas di raut wajahnya.
Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat ke kamar Alice. Hingga Alice menoleh ke arah pintu. Deny melirik dengan tatapan tajam. Selang beberapa detik, pintu terbuka.
"Pakai ini! Kalau sudah siap kamu bisa pakai alat itu!" suruh Deborah dengan kasar. Melemparkan benda kecil panjang ke atas tubuh Alice. Lalu ia meninggalkan kamar putri sambungnya dengan mengumpat.
Alice mengambil alat itu dengan raut wajah bingung. Ia membolak balik berkali-kali tidak menemukan jawaban dan tetap tidak paham. Lalu ia memberanikan diri tanya ke Deny.
"Den, ini apa? Terus cara pakainya, gimana?" Alice menggaruk kepala bingung.
Deny mendekati Alice dengan gugup. Akahkah ia berani memberitahu ke Alice kegunaan alat itu? Batinnya sedang berperang. Satu sisi tidak ingin memberitahukan pada Alice, khawatir jika nanti dia terkejut dan marah. Satu sisi ingin mengetahui kondisi Alice yang sebenarnya.
"Deny, kok kamu diam? Kamu tahu kegunaan alat ini untuk apa?" tanya Alice penuh penekanan.
"Maafkan saya, Nona Alice? Saya tadi juga sedang memikirkan kegunaan alat itu," sahut Deny cepat.
"Ini apa, ya? ditaruh di ketiak atau di mulut?" Alice mempraktekkan. Deny memalingkan muka tak enak hati sudah membohongi Alice.
"Nona, alat itu untuk... "
Alice serius sekali mendengarkan ucapan Deny. Ia sama sekali tak berkedip. Alat kecil itu masih dipegang erat di genggaman tangannya.
"Den, untuk apa?" tanya Alice sangat penasaran.
"Nona, alat itu untuk tes ke.... "
"Den, kalau ngomong yang jelas!" bentak Alice.
"Untuk tes kehamilan," lanjut Deny dengan mata terpejam.
Alat itu jatuh perlahan dari tangan Alice. Dadanya berdebar kencang merasakan emosi yang membuncah. Tangannya mengepal berteriak memanggil ibu sambungnya.
"Deborah!" Teriakannya sangat keras membuat semua orang tidak sengaja berkumpul di ruang tengah. Dua koki, lima asisten rumah tangga, tiga supir pribadi, dan tak ketinggalan Leo. Langkah kaki Deborah terhenti di salah satu anak tangga. Dia menoleh ke belakang.
"Deborah!"
"Deborah!"
"Deborah!"
"Dasar nenek sihir!"
Alice terus menerus mengeluarkan kata Deborah. Sepertinya dia tidak memanggil mama sambungnya. Hanya ingin berteriak menumpahkan kekesalannya. Teriakannya semakin kencang membuat semua orang menutup telinganya, kecuali Deborah.
Anda Mungkin Juga Suka





