
Derita Cinta Sang Pelakor
Bab 3
Via berjalan menuju ke kasurnya, ia merebahkan dirinya disana, bayangan Dimas bersama dengan sang istri terus saja terbayang di pelupuk matanya.
Membuat hatinya menjadi tak karuan, gadis itu merasa kesal, marah, dan juga sedih mengetahui fakta yang ada di depan matanya.
Selama ini Dimas selalu bilang hubungannya tak harmonis dengan istrinya karena mereka menikah karena perjodohan.
Namun nyatanya tak seperti yang dia lihat saat ini, hubungan mereka baik-baik saja bahkan terlihat bahagia, Dimas pun memperlakukan istrinya dengan mesra.
"Aaaaaah ...," Via berteriak lirih sambil mendesah.
Ia begitu emosi, namun Via pun sadar tak mampu berbuat apa-apa, karena dirinya hanyalah yang kedua bagi Dimas, walaupun lelaki itu selalu berkata bahwa dirinya nyaman bersama Via.
Ponsel Via berbunyi, namun gadis itu enggan untuk mengangkatnya, Via pikir itu Jason, setelah nada dering mati, ponselnya kembali berdering namun via lagi-lagi mengabaikannya, hingga dering yang ke tiga barulah Via mengangkat telepon itu.
"Dimas." Kening Via berkerut saat membaca nama yang terpampang di layar ponselnya.
Dengan enggan Via mengangkatnya, perasaanya masih teramat kesal pada Dimas, mengubah seketika moodnya.
"Hallo," ucapnya dengan nada yang kasar, "Ada apa lagi menelevonku," ucap Via masih begitu kesal dengan Dimas.
"Kau kenapa sayang, marah-marah seperti itu, aku merindukanmu, bisakah kita bertemu hari ini?" tanya Dimas diseberang sana.
"Enak sekali pria ini, sudah jalan dengan istrinya dan sekarang menelevonnya dan berkata jika dia merindukannya," batin Via, kekesalan dihati Via bertambah, namun ia tak bisa menolak keinginan Dimas yang ingin bertemu dengannya.
"Aku ingin pergi jalan-jalan, tak ingin ke hotel," ucap Via mulai merajuk.
"Baiklah, kita pergi jalan-jalan, bagaimana jika kita ke puncak?" Usul Dimas, yang langsung di setujui oleh Via.
Gadis itupun segera bersiap, karena Dimas akan menjemputnya, via dandan begitu cantik hari ini, ia pun mengenakan baju yang tadi ia beli bersama Jason.
Setelah hampir dua jam menunggu akhirnya Dimas datang juga, via langsung bergegas menghampiri Dimas yang menunggunya di mobil.
Via duduk di sisi kemudi, dan menutup pintu mobil, Dimas tersenyum melihat Via, ia mendekatkan diri dan mengecup keningnya.
Dimas lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan pelataran kosan Via. Dimas memegang tangan via menautkan jemarinya pada jemari Via sambil menyetir.
Lelaki itu tersenyum namun arah pandangan matanya menatap lurus ke depan, via memperhatikan Dimas ada rasa sedih di hatinya.
"Andai Dimas belum memiliki istri, andai dirinya yang terlebih dulu mengenal dan bertemu dengan Dimas."
Suasana hati Via saat ini benar benar kacau, ia merasa teramat kesal dengan takdir yang mempermainkannya.
Mengapa ia harus bertemu dengan Dimas, saat dimana lelaki itu telah memiliki pasangan, bahkan
Dengan bodohnya ia mau saja menjalani hubungan terlarang ini dengannya.
Setelah melakukan tiga jam perjalanan tibalah mereka di puncak, Dimas menyewa sebuah Villa disana, untuk mereka berdua.
Perlahan Dimas mendekati Via memeluk wanita itu dari belakang saat Via sedang melihat pemandangan di sekitar Villa itu.
"Kau kenapa? Suasana hatimu sepertinya sedang buruk saat ini, apa ada yang mengganggumu?" Sambil membalikkan badan via untuk menghadapnya.
Dimas memperhatikan raut wajah via yang tak biasa,Dimas tersenyum dan semakin gemas di buatnya.
Ia langsung mendekatkan wajahnya ke arah via hendak mencium bibir gadis itu, namun tiba-tiba Via menghindarinya.
Dimas merasa heran dengan sikap Via hari ini, tak seperti biasanya gadis itu bersikap cuek padanya, bahkan mengabaikannya.
Biasanya Via akan bergelayut manja padanya, dan senyuman selalu menghiasi wajah gadis itu, mengapa gadis itu berubah sekarang, apa yang menganggu fikirannya saat ini.
Namun Dimas segera membujuknya, mengajaknya jalan-jalan mengitari vila itu, melihat pemandangan di sekita vila, hamparan tanah luas yang di tumbuhi dengan tanaman teh.
Merek berjalan menyusuri tempat itu, lalu berhenti di dekat ayunan yang sengaja di buat untuk pengunjung di sana.
Gadis itu naik ke ayunan dan Dimas mendorongnya dari belakang.
Sejenak Via merasa bahagia, gadis itu bisa menghilangkan kesedihannya dengan tertawa bersama Dimas saat ini.
Tak hanya itu, Via pun mencoba untuk naik kuda bersama dengan Dimas, mereka menyusuri hamparan kebun teh yang sangat luas.
"Ya Tuhan jika aku boleh meminta, aku ingin terus bersamanya, egoiskah aku jika ingin memilikinya dalam hidupku?" Perasaan sedihnya belum sepenuhnya hilang.
Setalah puas menyusuri kebun teh Dimas mengajak Via untuk makan, mereka duduk di sebuah saung ditengah-tengah kebun teh itu.
Sambil menunggu pesanan Dimas mendekat ke arah Via dan merangkulnya yang sedang duduk di sisi Dimas.
"Apa kau merasa senang?"
Via langsung menoleh ke samping melihat kearah Dimas, Via menganggukkan kepalanya ambil tersenyum.
"Dimas, apa kau benar-benar menyayangiku?" Tiba-tiba dengan lancangnya mulut Via bertanya pada Dimas.
Dimas lantas melepas pelukannya, lalu memegang dagu Via mengarahkan pandangannya untuk melihat ke arahnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, tentu saja aku menyayangimu, aku nyaman bersamamu," jawab Dimas mata mereka saling memandang satu sama lain.
Via mencoba melihat ke arah mata itu mencari sebuah kebohongan di sana, namun sayangnya ia tak bisa membaca sorot mata Dimas.
Hatinya merasa tak yakin setelah melihat perlakuan Dimas pad istrinya saat di mall, seketika hatinya meragu akan kata-kata yang di usapkan pria di hadapannya saat ini.
"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?"
"Katakanlah Via, apapun yang kau inginkan akan aku penuhi," ucap Dimas ia memegang wajah Via dengan kedua tangannya.
"Jika benar kau menyayangiku, dan nyaman bersamaku, bisakah kau meninggalkan istrimu untukku?"
Dimas langsung melepas kedua tangannya dari wajah Via, lelaki itu tak menyangka jika Via akan meminta itu darinya.
"Tak semudah itu Via, aku meninggalkannya, aku,-
"Kenapa, kau bilang sayang padaku, dan kau bilang hubunganmu dengannya tak baik-baik saja, maka tinggalkan dia Dimas, dan kita bisa bersama-sama." Via memotong ucapan Dimas, nafasnya begitu memburu saat berbicara pada Dimas.
"Tidak semudah itu Via, aku harus memiliki alasan untuk meninggalkannya," dengan nada lembut Dimas menjelaskannya pada Via.
"Maka tinggalkan aku Dimas, kita akhiri saja semuanya."
"Via!" Dimas sedikit berteriak kepada wanita di hadapannya, ia menyugar rambutnya dengan kasar.
Menarik nafas dan membuangnya dengan kasar ia mengusap wajahnya, "Kau ini kenapa Via, kenapa tiba-tiba kau menjadi seperti ini, ada apa denganmu sebenarnya."
"Sampai kapan Dimas, kita harus menjalani hubungan ini, hubungan yang bahkan aku sendiri tak tahu kemana arahnya."
Via begitu kesal, ia merasa sesak di dadanya, tanpa terasa air matanya menetes.
Dimas melihat itu, ia lalu mendekat ke arah Via lalu memeluknya, luruh sudah air mata Via, gadis itu menangis dalam pelukan Dimas.
Anda Mungkin Juga Suka





