Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Seorang Pelacur

Dendam Seorang Pelacur

Felisha membuktikan bahwa wanita yang tersakiti mampu menjadi sosok yang sangat tangguh. Demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya, ia bergabung dengan Agency The Angel sebagai wanita panggilan kelas atas. Bersama sang adik, Shasya, Felisha rela terjun ke dunia prostitusi elite demi melacak sang pembunuh. Mereka mempertaruhkan segalanya dalam misi berbahaya ini demi mengungkap kebenaran dan membalas rasa sakit hati yang selama ini terpendam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Melihat Deblo sudah mencapai puncak, Katrok dan Supri buru-buru mengepalkan tangan mereka lalu melakukan pengundian lagi. Setelah beberapa kali, akhirnya Katrok yang mendapatkan giliran kedua. Dengan senyum sumriangah, Katrok buru-buru mendorong tubuh Deblo dan mengambil alih posisinya.

Supri yang sudah tidak sabar menahan napsu yang sudah benar-benar meledak di dalam dadanya, tampak bergegas memeluk wajah Felisha dengan tangan kirinya sebelum akhirnya ia mencekik leher gadis malang itu, agar Felisha mau membuka mulutnya.

“Aaaaa... Euuuuummpphh....”

Felisha tampak kesulitan bernapas, lalu ia pun terpaksa harus membuka mulutnya. Disaat itulah Supri bergegas membenamkan batang kelelakiannya ke dalam mulut Felisha dan menekannya, lalu sedetik kemudian ia kembali menarik dan membenamkannya lagi secara berulang. Terus, lagi dan lagi hingga kedua mata Supri terlihat menutup dan membuka setengah merasakan geli yang nikmat dan segala sensasi yang berhasil memecahkan libidonya.

Di bawah kedua pangkal paha Felisha , Katrok sudah siap menikam di posisinya. Lalu, dengan sekali gerakan, ia benamkan seluruh area batang kelelakiannya hingga amblas sepenuhnya ke dalam tubuh Felisha .

“Uuummmmppphh.... huhuhuu....”

Felisha sudah tidak mampu menjerit, apalagi melawan. Ia benar-benar berada di titik keputusaannya yang paling ujung. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya selain kematian.

Katrok dengan sangat kasar melakukan gerakan cepat menikam dan menusuk area kewanitaan Felisha berkali-kali. Hentakan pinggulnya tampak bertenaga, hingga deru napasnya terdengar sangat memburu. Tubuh Felisha terlihat bergoyang secara berulang dari atas ke bawah, membuat dua buah di dadanya pun ikut bergerak naik dan turun dengan cepat.

Sementara itu, mulutnya penuh dengan satu tongkat tumpul dari tubuh Supri yang tanpa henti mencekik leher dan menusukan batang kelelakiannya ke dalam mulut Felisha , lalu menarik dan kembali membenamkannya secara berulang.

“Aaakkkhhhh...bener, bro! cewek ini nikmat bangeett!! Ssshhh... Aakkkhhhh... “

“Lezat, ya bro!? Ahahaha....” sahut Deblo tertawa, sembari menyaksikan penyatuan tubuh rekan-rekannya itu, ia tampak masih mengurut dan menggenggam benda tumpul di pangkal pahanya.

“Huuuh.. Aakkhhh enaak banget.. beda sama cewek di pengkolan... ahhaaa... Ssshhhh Aakkhhh...”

Diantara hentakan pinggulnya, Katrok kembali meracau, mendesis panjang sembari menutup kedua matanya, meresapi kenikmatan yang sangat berbeda dari wanita-wanita panggilan yang selama ini pernah ia “pakai”.

Supri yang sudah tidak sabar ingin segera menenggelamkan tubuhnya ke dalam rongga kewanitaan Felisha , terdengar mengerutu, “Bro! Cepet! Bro!”

“Bentar! Udah di situ aja dulu, ah rese!” tukas Katrok merasa terganggu, lalu kembali membenamkan sebagian tubuhnya yang tumpul itu hingga menyatu tanpa sekat di tubuh Felisha yang sudah terlihat benar-benar tidak berdaya.

Hentakan demi hentakan yang membabi buta membuat Felisha seakan sudah kehilangan nyawanya. Ia benar-benar dalam keadaan setengah sadar. Rasanya, setelah semua ini berlalu ia tidak akan lagi merasa layak berjalan di muka bumi ini.

Kecepatan pinggul Katrok dalam menikam dan mencabut batang kelelakiannya semakin bertambah cepat, keringat tampak menetes dari dahi dan ujung kepalanya cukup deras. Dengan napas yang terdengar tersenggal-senggal, ia terlihat menambah kecepatannya. Tubuh Felisha kembali bergoyang sangat cepat mengikuti irama hentakan pinggul Katrok.

Lalu, beberapa menit kemudian tubuh Katrok menegang, satu teriakan panjangnya sampai terdengar menggema dari dalam ruangan kamar itu.

“Aaaaaaakkhhhh... enaaaaakkkhhh....”

Jeritan panjang terdengar dari mulut Katrok saat ia sudah mencapai puncak, sementara Felisha terdengar semakin merintih, menjerit tanpa suara. Airmatanya sudah benar-benar kering, ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya.

Melihat Katrok sudah sampai di ujung puncak, Supri dengan segera bergerak mengambil posisi sembari mendorong tubuh Katrok agar segera menjauh dari tubuh Felisha . Supri benar-benar sudah sangat tidak bisa menahan diri. Dengan terburu-buru ia menancapkan batang kelelakiannya dengan sekali hentakan hingga amblas seluruhnya, dilanjutkan dengan gerakan menusuk dan menarik bagian tubuhnya yang tumpul itu berkali-kali dengan kecepatan turbo.

Karena rangsangan dalam dirinya yang sudah mencapai puncak ubun-ubun, Supri hanya mampu bertahan tidak lebih dari satu menit. Ia terlihat mengerang dan menjerit saat sesuatu yang mendesak keluar dari dalam tubuhnya. Cairan lahar putih yang kental seketika menyembur dan melesat ke dalam tubuh Felisha yang terkulai lemas tanpa mampu melakukan perlawanan yang tidak berarti.

Tanpa mereka ketahui, Fredy Diam-diam merekam semua kejadian itu. Dari wajahnya tampak sebuah lengkungan senyum yang sangat lebar. Seperti biasa, ia berniat menyimpan video itu sebagai jaminan, agar Felisha selalu menuruti semua kehendaknya. Termasuk melayani para hidung belang yang rata-rata pengusaha dan penguasa di kota ini.

Felisha yang mempunyai wajah cantik dengan kulit putih dan bentuk tubuh sempurna, tidak akan sulit untuk dijual kepada para hidung belang yang memiliki kuasa dan uang berlimpah. Berapapun angka yang akan ia tawarkan, rasanya mereka tidak akan pernah berpikir sampai dua kali untuk menolaknya.

Malam ini benar-benar menjadi malam terpanjang untuk Felisha . Seakan tidak merasa puas, Katrok, Deblo dan Supri kembali menggilirnya hingga berkali-kali. Mereka berempat melakukan itu sembari menikmati berbagai macam minuman, obat-obatan serta barang terlarang, hingga mereka benar-benar terbang sampai jauh ke angkasa sana.

Sampai pada puncaknya, mereka akhirnya tidak sadarkan diri. Katro, Deblo dan Supri terkulai saling menindih. Sementara Eddie, dengan kepala menyamping terduduk di kursi di depan ranjang kayu di dalam kamar gudang itu.

Beberapa jam berlalu, saat ayam berkokok dengan nyaring, Felisha mendapati seluruh tubuhnya nyeri, ngilu dan perih pada setiap bagian tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya, menatap penuh dendam dan amarah ke empat orang preman yang tergeletak sembarang saling menindih. Perlahan, ia berusaha bangkit dan berdiri sembari menyingkirkan tubuh-tubuh yang menghalangi gerakannya.

Langkahnya tampak tertatih-tatih merasakan perih yang sangat luar biasa, Felisha memilih pakaian mereka yang dirasa cukup untuk tubuhnya. Setelah dengan susah payah, akhirnya ia berhasil mengenakan pakaian sekenanya.

Lalu, dengan pandangan nanar, ia memandang satu persatu manusia laknat di dalam kamar gudang itu, tatapannya benar-benar menyala penuh api dendam dan amarah yang sangat luar biasa. Hidupnya telah hancur dan tidak lagi mempunyai arti berkat mereka.

Felisha hanya memiliki dua pilihan, kematian untuknya atau kematian untuk keempat manusia laknat itu. Lalu, ia kembali menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Dengan langkah tertatih menahan perih di sekujur tubuh, ia mulai menyusuri ruangan didalam kamar itu.

Tanpa ia duga, di dalam laci meja samping kursi tempat duduknya Eddie, ia menemukan satu buah pistol lengkap dengan alat peredam di ujungnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sepucuk pistol itu dan mulai menodongkannya ke arah kepala Eddie.

Pistol di tangannya tampak bergetar, Felisha berusaha untuk menguatkan diri. Sembari menahan getir yang sangat mendalam, ia menaruh telunjuk tangan kanannya di pelatuk pistol. Satu detik kemudian, ia menembakan pelurunya tepat di kepala Fredidengan menutup kedua matanya.

Seketika itu juga kepala Fredi hancur dan berlubang. Katrok, Deblo dan Supri yang terkulai dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh minuman dan obat-obatan terlarang, sama sekali tidak bereaksi. Lalu, dengan langkah perlahan dan masih tertatih, Felisha mendekati mereka ke arah ranjang dan mulai menembaki Katrok, Deblo dan Supri dengan membabi buta.

Seketika itu juga ranjang kayu dengan kasur busa berwarna putih itu tidak lagi berwarna putih. Ranjang itu kini sudah berubah menjadi ranjang berdarah. Penuh dengan bercak dan semburan darah kental yang mengalir deras dari tubuh Katrok, Deblo dan Supri.

Felisha menangis, tubuhnya tampak bergetar dengan sangat hebat. Untuk beberapa saat, ia hanya menekukan kedua kakinya dan memeluk kedua lututnya dengan erat di bawah lantai yang penuh darah.

Lalu, setelah beberapa saat lamanya, perlahan-lahan Felisha mulai kembali bangkit dan berdiri. Dengan sekuat tenaga ia mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, dan mulai berjalan tertatih-tatih menyusuri gudang terkutuk itu hingga akhirnya ia sampai di ujung jalan.

Sembari menyeret langkah kakinya yang terseok-seok, Felisha berusaha dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa, menembus malam ke arah hutan di seberang jalan samping gudang terkutuk itu. Ia tidak berani membayangkan hari-hari yang akan dijalaninya setelah malam ini.

Trauma yang mendalam telah berhasil membuatnya menjadi seorang pembunuh. Rasanya itu masih belum setimpal dengan semua yang diterimanya malam ini.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Darah Sang Mafia
8.9
Dastan, sang pembunuh berjuluk The Black Wings, terpaksa menampung Dara di kediamannya sebagai jaminan utang. Meski awalnya membenci Dara karena dianggap wanita simpanan ayahnya, Dastan mulai luluh setelah kebenaran terungkap. Dara tetap mencintai Dastan walau sering diperlakukan kasar. Di tengah ancaman maut dan dunia mafia yang kelam, mampukah Dara membawa Dastan menuju cahaya, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya dalam kegelapan?
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?
Sampul Novel Kisah Sang Penguasa
9.4
Demi menyelamatkan ekonomi keluarga Vegas dan membalas budi Dimitri, Fugaku rela menikahi Vior dari klan Diningrat. Namun, pernikahan itu hanyalah jebakan kejam Vior untuk mencuri rahasia bisnis keluarganya. Di hari bahagia tersebut, Fugaku justru disiksa, diracun, hingga dibuang ke laut. Secara ajaib ia selamat dan bangkit menjadi bagian dari pasukan elite Celestial di Kota Kastiya. Kini, sang penyintas misterius ini memulai babak baru dalam hidupnya.
Sampul Novel Kronik Kenikmatan Abadi
9.6
Di balik harapan tinggi dan persahabatan baru, ia menyembunyikan sisi manipulatif yang luar biasa. Meski terlihat mendukung orang-orang di sekitarnya, ia sebenarnya mengendalikan setiap aspek kehidupan mereka melalui rangkaian pesta mewah dan perjalanan panjang. Dengan mendominasi festival serta hari libur di kotanya, ia mengubah tatanan dunia demi kepentingan pribadi. Bagi para mantan penjahat, ia adalah mimpi buruk nyata yang mengatur takdir mereka dalam kendali absolut.
Sampul Novel PEDANG HALILINTAR
8.4
Jalu tumbuh sebagai pejuang aliran hitam di bawah asuhan guru abadi yang terasing di Pulau Tengkorak. Sang guru mengutusnya menaklukkan dunia persilatan, namun perjumpaan dengan pertapa Gunung Pesagi mengubah haluan hidup Jalu menuju jalan kebenaran. Saat sang guru berhasil bebas berkat bantuan iblis, Jalu harus menghadapi sosok yang membesarkannya itu dalam pertempuran besar demi menjaga kedamaian dunia yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.