
Dendam dan kehilangan
Bab 3
Saat dikantor, Ardian Mendapat laporan dari warga jika ada penemuan mayat kembali. Ardian dan Ferdian bergegas ke lokasi, hancur hati Ardian melihat sang istri terbujur kaku di TKP. Dengan mengepal tangan Ardian berjanji didepan jasad istrinya akan menangkap pelakunya sendiri.
Ardian yang saat itu masih emosi mendapatkan laporan dari pihak forensik mengatakan sang istri tewas dengan setengah telanjang, luka tusuk didadanya, leher terjarat dan ditemukan ada sperma di baju atasan yang dikenakan saat itu serta peralatan jurnalistiknya berupa kamera dan buku catatan yang bertebaran.
Kemungkinan besar sang pelaku ini membunuh korbannya dulu baru diperkosa semakin marah Ardian mendengar semua yang dikatakan oleh forensik, baru 1 tahun Ardian menikah, Mira istrinya pergi meninggalkan dengan cara mengenaskan seperti itu. Tak lama setelah itu terdengar ribut ribut dari kejauhan ternyata sang mertua dan atasan Mira memohon mohon untuk melihat jasad anak nya.
Ardian memberikan isyarat pada petugas jaga agar dipersilahkan masuk akhirnya dipersiahkan masuk. Ardian pun berlari kecil memeluk ayah mertuanya Dandy sambil menangis dan berlutut didepan ayah mertuanya.
“Ayah, maafkan Ardian, Ardian tidak bisa menjaga Mira dengan baik ayah. Ardian akan menangkap sendiri pelaku pembunuh Mira yah,” ucap Ardian sambil menangis. Dengan mengusap air matanya, ayah Mira membantu Ardian berdiri.
Ayah Mira berkata, “sudah lah nak ini semua bukan kesalahanmu, Mira memang anaknya begitu terlalu berani. Nanti jika sudah selesai pulang ke rumah ya, ayah ingin menunjukkan sesuatu padamu siapa tahu bisa jadi pentunjuk untukmu.”
Sambil mengusap air mata Ardian berkata, “Baik yah Ardian akan pulang nanti dan menemani ayah.”
Setelah ayahnya melihat jasad Mira lalu masuk mobil ambulans dan ayahnya ikut dimobil itu. Ardian mengikuti dari belakang bersama teman temannya.
Selesai diotopsi Mira pun dibawa pulang dan dimakamkan dekat dengan ibu dan kakaknya. Ardian menatap semua ini sambil menangis.
“Sayang terlalu cepat kamu pergi kita belum menikmati semuanya,” ucap Ardian sambil mencium pusara istrinya.
“Aku akan kembali setelah aku menemukan pembunuh mu sayang,” lanjut Ardian dengan sorot mata tak dapat di artikan.
Ardian bangkit dari posisinya dan menghampiri kedua orang tuanya yang berdiri di sampingnya. “Pah, mah Ardi pulang ke rumah Mira ya gpp kan?” tanya Ardian.
“Iya nak, gak papa. Pulanglah kerumah sesukamu nak yang penting hatimu tenang. Pak saya titip Ardian ya.”
“Baik pak, Ardian akan baik baik saja,” jawab ayah Mira sambil tersenyum.
Akhirnya Ardian mengikuti ayah mertuanya pulang kerumah, sedangkan orang tua Ardian pun kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah Ardian masuk kamar Mira, disana ada beberapa foto Mira yang masih terpajang dan melihat lihat seisi kamar dengan mata sayu dan berkaca kaca.
Dikamar ini penuh kenangan, meraka pernah bercengkrama tertawa dan bercanda dikamar ini. Dengan tiba tiba ayah mertuanya masuk dengan membawa sebuah buku ditangannya.
“Ini yang pernah ayah janjikan nak, Mira pernah berkata dengan ayah jika sesuatu terjadi padanya berikan ini pada suamiku Ardian yah,” ujar ayah Mira.
“Apa ini yah?” tanya Ardian l yadengan alis berkerut.
“Ntahlah nak, ayah juga tak tahu isinya apa,” sahut ayah Mira lalu keluar dari kamar Mira dan meninggalkan Ardian sendri dikamar itu.
Ardian pun mulai membuka buku itu, membaca satu persatu buku diary dan Ardian pun senyum senyum sendiri ketika membuka diary istrinya.
Tanggal 20 Mei 2019.
Hari ini aku berkenalan dengan seorang pria dia penuh kharismatik dia seorang polisi Ardian namanya senyumnya tawanya sungguh mempesona.
Tanggal 05 Oktober 2020.
Akhirnya mas Ardian melamarku setelah satu tahun kami pacaran sungguh Bahagianya aku nanti malam mas Ardian datang ke rumah bersama orang tuanya.
Tanggal 20 Mei 2021.
Akhirnya hari bahagiaku dan mas Ardian datang hari ini adalah hari pernikahanku semoga aku bisa selalu bersamanya.
Tanggal 19 Maret 2022
Aish, kenapa tiba tiba Riski ingin menemuiku setelah 3 tahun dia dipenjara karena kasus pemerkosaan dan pembegalan? Apa dia masih marah sama aku? Aku memutuskan dia dan menjebloskan dia ke penjara apa dia tidak jera dengan hukuman 3 tahun kenapa dia masih ingin membunuh orang lain?
Tanggal 22 Maret 2022
Tolong, tolong mas Ardi Mira takut, Riski mau membunuh Mira mas Ardi tolong Mira.
Dengan menangis Ardian membaca semua buku dairy istrinya, Ardian pun bergegas turun menuju ruang tengah menemui ayah mertua yang sedang asik menonton televisi dan duduk disamping ayah mertuanya. Ia mengembalikan buku diary milik Mira, Ardian pun meminta ayahnya membaca buku itu juga. Setelah beberapa saat membaca buku itu ayahnya pun kaget membaca buku diary anaknya itu.
“Kenapa yah Mira tak pernah cerita tentang ini pada saya, Riski itu siapa yah?” tanya Ardian dengan masih sesenggukan.
“Setahu ayah Riski pernah pacaran sama Mira, namun ayah tak pernah merestui hubungan Mira dan Riski karena umur mereka terlalu jauh Riski masih anak anak umur 19 tahun sedangkan Mira jauh sepuluh tahun lebih tua dari Riski. Akhirnya Mira kecewa dengan Riski nak karena ternyata Mira memergoki Riski memperkosa temannya dan Riski adalah salah satu kawan begal. Serta Mira lah yang menjebloskan Riski ke penjara,” jelas ayah Mira.
Ardian pun menangis mendengar cerita dari ayah mertuanya dan memeluk ayah mertuanya seperti anak kecil yang ingin dipeluk oleh bapaknya,sambil bersandar dipundak ayahnya sambil berkata, “Yah, izinkan Ardi tinggal bersama ayah sampai Ardi bisa menemukan Riski yah,” ujarnya.
“Iya tak apa, tinggalah disini nak sesukamu.Toh ini rumahmu juga sayang,” sahut ayah Mira sambil mengusap kepala menantunya itu.
Hingga akhirnya Ardian tertidur dipundak sang ayah.
Keesokan pagi Ardian kembali bertugas dikantor, ia sudah berada di depan ruangan pak Wisnu. Dengan segera dirinya mengetuk pintu ruang pak Wisnu.
“Ardian, kamu sudah kekantor? Ga papa kamu udaham, Di?” tanya pak Wisnu.
Ardian menjawab dengan anggukan kepala sambil berkata, “iIya pak ga papa, saya pun sudah punya petunjuk siapa pelaku pembunuh Mira pak.” Ardian menyodorkan buku harian Mira, pak Wisnu pun membaca sejenak buku.
“Kamu yakin Riski pembunuh istrimu? Dia kan masih dipenjara Di? Bagaimana caranya dia dipenjara bisa membunuh istrimu?”
“Tidak pak, menurut informasi yang saya dapatkan dia sudah keluar dari penjara pak, Mohon izin saya menangani kasus istri saya.” Ardian sangat memohon untuk masalah ini.
“Baik saya izin kan tapi ingat jangan menggunakan emosi menangani kasus ini kamu tahukan apa resikonya.”
“Baik pak.”
“Saya serahkan kasus ini sama kamu dan timmu, kumpulkan bukti yang kuat sebanyak mungkin agar kita bisa menangkap Riski lagi.”
Dengan segera Ardian mengumpulkan bukti-bukti dan menemui pak Hendro selaku atasan Mira. Ardian pun masuk keruangan pak Hendro, ketika Ardian masuk beberapa karyawan nguping pembicaraan Ardian dan pak Hendro.
“Mas, maafkan saya kalo saya tahu begini akhirnya saya tidak akan izinkan Mira untuk meliput kasus ini.” Pak Hendro menundukan kepalanya penuh rasa bersalah.
“Tak apa pak,” balas Ardian sambil menyodorkan sebuah foto.
“Pak, andapernah melihat atau bertemu dengan orang ini?” tanya Ardian.
Sambil mengerutkan keningnya dan kaget. “Ini mas, ini yang sering datang kekantor kita sekitar 3 tahun pernah mengancam Mira sampai Mira ketakutan seminggu tidak masuk kantor. Karena ulah orang ini,” jawab Pak Hendro.
“Bapak tahu dia pemerkosa dan begal, dia pernah masuk penjara dan saat ini sudah keluar dari penjara.”
“Apa mas, saya baru tahu tentang ini. Bukan dia dulu pacarnya Mira?” tanya Pak Hendro.
“Menurut dugaan dia pelaku pembunuh Mira pak, jadi mohon kerjasamanya jika ada informasi tentang orang ini tolong hubungi saya pak.”
“Baik mas,” sahut Pak Hendro sambil jabat tangan dengan Ardian. Lalu Ardian pamit kembali kekantor
Ketika Ardian keluar beberapa karyawan yang nguping pembicaraan tadi pun bubar.
Anda Mungkin Juga Suka





