Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DENDAM CINTA

DENDAM CINTA

Fanila tewas mengenaskan akibat pengkhianatan kekasihnya dalam sebuah misi berbahaya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua melalui reinkarnasi ke tubuh Ziana, gadis yang dibenci keluarganya sendiri. Di kehidupan baru ini, Fanila kembali bertemu sang mantan yang ingin ia hancurkan. Masalah rumit muncul karena pria itu adalah kakak dari kekasihnya saat ini. Kini ia terjebak pilihan sulit: menuntaskan dendam lama atau menjaga cinta barunya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tanpa terasa, waktu berjalan lebih cepat. Ia di bangunkan oleh satpam yang sedang berkeliling.

Ternyata itu, sudah waktunya untuk pulang.

Matahari mulai terbenam, dan hari mulai gelap.

"Aku tidak ingin pulang," ucapnya. Ia tahu apa yang sedang menunggunya di rumah.

Shiren kembali masuk rumah sakit. Yang akan disalahkan adalah dirinya.

Tidak ada teman ataupun saudara yang bisa Ia ajak bicara ataupun sebagai tempat berlari disaat seperti ini.

Ziana menyadari bahwa selama ini, dirinya benar-benar sendirian.

Lagi-lagi ziana melihat keatas langit.

"Seharusnya Engkau tidak membuat ku lahir di dunia ini. Jika aku harus menanggung beban hidup yang teramat berat seperti ini. HM... Setidaknya kasihlah aku sedikit saja. Aku kesepian."

Kini Ia menundukkan kepalanya.

Tik...Tik... Suara rintikan hujan.

"Aku bahkan tidak di ijinkan untuk mengeluh...," Ucapnya diiringi deraian air mata.

Waktu menunjukkan pukul 08:30 malam.

Ziana tiba di rumah dalam keadaan basah kuyup.

Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

Melihat ziana yang basah kuyup. Pelayan itu hanya diam saja,tanpa membantunya mengambilkan handuk.

Ia sudah terbiasa akan hal itu. Ia masuk kedalam rumah,dan pergi ke kemarnya yang ada di lantai atas.

Beberapa saat kemudian. Ziana mendengarkan suara teriakan dari lantai bawah. Ia membuka pintunya kamarnya, Ia ingin mendengar apa yang sedang terjadi.

Rupanya, ayahnya sedang mengomeli para pelayan yang membiarkan genangan air berada dilantai.

"Bagaimana jika Iren jatuh saat melewati lantai ini? Dasar bodoh." Ujarnya yang membentak dan memarahi semua pelayan.

Zian segera masuk dan mengunci pintu kamarnya. Ia tahu, bahwa pelayan itu pasti akan melaporkan bahwa dirinya lah yang salah.

Benar saja. Tidak sampai 2 menit. Ayahnya sedang menggedor-gedor pintu kamarnya.

"Ziana... Ziana...! Cepat buka pintunya." Panggilan Tuan Zi yang kini sedang di penuhi amarah.

Ziana yang tidak ingin berdebat,serta menambah luka hatinya. Hanya bisa masuk kedalam selimut, dan menutupi telinganya dengan bantal.

"Aku lelah...," Ucapnya dalam kesunyian.

Masa kecil Ziana benar-benar indah. Walaupun sudah lewat 20 tahun lamanya. tapi, kenangan indah saat dirinya di sayangi oleh kedua orang tuanya, masih samar di ingatannya.

Dirinya sendiri tidak ingat lagi, sejak kapan ibu dan ayahnya berubah. mereka menjadi acuh tak acuh akan dirinya. Ia selalu di abaikan, dan kakaknya selalu di perhatikan. semua perhatian di pusatkan kepada shiren. hingga perlahan membuat shiren yang baru berumur 6 tahun, mulai merasa cemburu dan iri terhadap kakaknya.

Ia bahkan mendorong shiren saat hendak mendekatinya.

karena hal itu, Tuan Zi membentak Ziana. hingga gadis kecil itu terkejut, dan duduk menangis di lantai.

Ziana di abaikan oleh sang ayah yang pergi dengan menggendong shiren di lengannya.

Sejak hari itu. perlakuan tidak adil, dan selalu abaikan yang di dapatkan oleh Ziana.

Pakaian baru, mainan baru, boneka baru. semuanya untuk shiren.

Ziana tumbuh dewasa dengan memendam kebencian terhadap kakak perempuannya,dan juga kedua orang tuanya.

Kehidupannya yang pahit pernah di alami oleh setiap manusia. tapi, itu ada batasnya.

**** **** ****

Sebulan kemudian.

Nasib buruk menimpa Ziana.

Hari itu. Ziana di minta oleh ibunya untuk membawa buku catatan shiren yang tertinggal di meja makan. Awalnya Ziana menolak untuk membawa buku itu,tapi sorot mata sang ayah yang menandakan kemarahan, membuat Ziana akhirnya dengan terpaksa membawa buku tersebut ke kampus.

Bukankah ziana takut akan di marahi lagi, tapi lebih tepatnya ziana tidak ingin merusak pagi yang damai itu.

terlebih lagi, Ibunya akan menangis jika dirinya terus bertengkar dengan sang ayah.

walaupun kebencian Ziana begitu besar, namun Ia tetap menyayangi ibunya.

Ia tahu bahwa sang ibu, masih sering datang mengunjungi kamarnya setiap malam dan mengucapkan kata maaf padanya.

Ziana tahu bahwa, Ibunya tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan sang ayah.

Ziana pergi ke kampus naik Bus. Ia turun di stasiun dekat kampus.

dari sana, Ia berjalan dengan begitu santai. tidak ada yang menunggunya. untuk apa Ia harus buru-buru. walaupun saat itu sudah waktunya kelas pagi dosen killer pak Jeo.

Salah satu dosen yang sering memberinya hukuman,dan marah tanpa sebab padanya.

Ziana mengirimkan pesan kepada shiren untuk mengambil bukunya di taman.

Ia akan menunggu shiren di sana.

Shiren segera membalas pesannya.

"Baiklah, thank you. muaaahh..."

melihat pesan dari shiren. hati Ziana sedikit melunak. Ia sadar bahwa shiren selalu baik padanya, walaupun terkadang dirinya memperlakukan shiren dengan kasar.

"Apa aku ajak makan siang bersama ya...?" gumamannya yang sedang berpikir untuk mengajak shiren makan siang bersama.

senyuman terpancar di wajahnya. Ia tidak berharap banyak dengan hubungan baik mereka. Ziana hanya ingin sedikit mengerti akan sang kakak.

Ia duduk di taman sambil menunggu shiren selesai kuliah.

begitu banyak mahasiswa yang berlalu lalang di depannya,tapi kebanyakan menganggapnya tidak ada.

Ziana sudah terbiasa akan hal itu. Ia tidak berkecil hati lagi.

Dua jam kemudian. shiren datang menghampirinya.

Baa... suara shiren mengagetkan sang adik yang sedang duduk melamun.

Ziana segera berbalik kearah sang kakak yang saat itu sedang tersenyum lebar padanya.

"Maaf mengagetkan mu,"

"tidak apa-apa. um... ini buku mu yang tertinggal di atas meja." ujar Ziana sambil memberikan buku yang ia pegang itu kepada shiren.

"Maaf ya... merepotkan mu."

"HM...." balas Ziana.

sebenarnya ziana sedikit canggung untuk mengajak shiren makan siang bersama. Ini lebih berat di bandingkan, dia bicara sendiri tadi.

"Am...begini... Aku ingin..." ucapannya terhenti saat mendengar suara batuk dari shiren.

Uhuk....uhuk....

Ziana segera beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri shiren.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya ziana yang mulai panik. terlebih lagi shiren tidak berhenti batuk dan wajahnya kini memucat.

Menjawab pertanyaan Ziana, shiren menggelengkan kepalanya.

kini tubuh shiren mulai melemah,dan akhirnya jatuh ke tanah.

"Shiren...," panggil ziana yang semakin panik.

"To...tolong... ambilkan obat di tasku." pinta shiren dengan suara yang terbata-bata.

Ziana segera melakukan apa yang di perintahkan oleh shiren.

Ia menggeledah isi tas shiren untuk mencari obat. Ia menemukan botol obat di dalamnya.

"Apa ini obatnya...?" tanya ziana kepada shiren sambil menunjukkan botol obat itu.

shiren menganggukkan kepalanya.

Ziana segera membuka tutup botol obat itu. lalu mengeluarkan beberapa kapsul.

"Berapa banyak yang kau makan?" tanya ziana kepada shiren.

shiren yang melihat obatnya di tangan ziana. segera mengambil dua kapsul dan meminumnya.

Ziana segera berbalik kearah tempat duduknya meraih tas miliknya mengambilkan air minum untuk shiren.

"Minumlah i....," ucapannya terhenti saat melihat keadaan shiren. Ziana begitu syok dan juga takut saat melihat hidung dan mulut shiren yang mengeluarkan darah.

Tubuhnya gemetar, dan suaranya tidak bisa keluar dari tenggorokannya.

"Minggir kau!" teriak seseorang padanya sambil mendorong tubuh Ziana hingga terpental cukup jauh.

orang yang mendorong ziana saat itu adalah pak Jeo yang merupakan dosen mereka.

"Shiren sadarlah... shiren..." panggil pak Joe yang tengah memeluk tubuh shiren yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Pria itu menatap Ziana dengan tatapan jijik. seperti Ia baru saja melihat kotoran.

"Berdoalah, shiren baik-baik saja." ujarnya dengan nada kesal.

Pak Jeo segera membawa shiren ke rumah sakit.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Tamara Levinka, model ternama sekaligus tunangan CEO produsen senjata Roger Jenandra, mendadak hilang tanpa jejak. Meski pencarian besar-besaran telah dilakukan, keberadaannya tetap misterius. Namun, setelah empat puluh sembilan hari, Tamara muncul kembali dengan kabar yang mengguncang semua pihak. Di balik kepulangannya, ada Jeff yang terobsesi memilikinya dan Tamara yang rela mengorbankan segalanya demi pria itu. Cinta mereka tumbuh di tengah konflik yang berbahaya.
Sampul Novel BURONAN
9.5
Sammy, mantan perwira militer yang difitnah dan disiksa di penjara, berhasil melarikan diri sebagai buronan Interpol demi mencari adik angkatnya. Untuk bertahan hidup dalam pelarian, ia beralih profesi menjadi pembunuh bayaran yang dingin. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada gadis jelita bernama Rheyna. Konflik batin memuncak ketika Sammy menyadari bahwa target pembunuhan berikutnya adalah orang terdekat dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Pasca kematian tragis, Juwita Chou terbangun sebagai Sallyana Fedelian, putri bangsawan antagonis yang ditakdirkan mati muda. Meski Sallyana asli dikenal bengis dan agresif, Juwita bertekad mengubah nasib demi bertahan hidup. Ia harus menghadapi kewaspadaan lima tokoh utama pria sambil merusak alur cerita orisinal. Namun, seiring berjalannya waktu, Juwita mulai menyadari adanya rahasia takdir kelam yang menghubungkan dirinya dengan sosok Sallyana yang asli.
Sampul Novel Intuition
9.4
Hanna dituduh menghabisi nyawa orang tuanya sendiri saat berusia sembilan tahun hingga harus mendekam di penjara anak. Setelah sepuluh tahun berlalu, ia berhasil melarikan diri dan bertahan hidup di jalanan yang keras. Pertemuan tak terduga dengan teman lama membawanya masuk ke dalam sebuah komplotan demi menuntaskan dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna justru jatuh cinta pada putra dari sosok yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Sampul Novel Istri Ke-4 Kesayangan Tuan Mafia
8.0
Diculik dan dipaksa menjadi istri keempat mafia kejam Zuan Lee, hidup Aneisha penuh penderitaan. Setelah gagal mengakhiri hidup akibat siksaan suami dan tiga istri lainnya, ia berhasil kabur dan ditolong oleh Xavier, rival bisnis Zuan. Di bawah perlindungan Xavier, Aneisha bertransformasi menjadi wanita tangguh dan mempesona. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali bertemu Zuan yang terobsesi memilikinya lagi. Mampukah Zuan merebut hati wanita yang kini berani menolaknya?
Sampul Novel Pelakor's Hunter
8.2
Siska tewas mengenaskan setelah cairan mematikan melumpuhkan sarafnya dalam sekejap. Di samping jasadnya, pelaku bertopeng meninggalkan pesan misterius bertajuk Malaikat Maut Pelakor. Serangkaian pembunuhan serupa terus menghantui, menyasar para wanita perebut suami orang. Ranti, istri yang hancur akibat pengkhianatan, kini menjadi tersangka utama karena bukti kuat di rumahnya. Benarkah luka hati mendorongnya menjadi pembunuh, atau ada sosok lain di balik dendam buta ini?