
Dendam Cinta Sang Miliarder
Bab 3
Setengah jam lamanya Luna menunggu, tetapi tidak ada satu pun manusia yang datang ke sana untuk menemuinya.
Luna mulai gelisah. Gadis cantik itu tidak enak diam. Di keningnya, bahkan sudah terlihat peluh mengembun.
Ada yang salah dengan tubuh Luna. Debar jantung gadis itu bertempo cepat, tak terelakan.
Tubuhnya mulai gemetar. Luna tidak bisa lagi hanya duduk diam di sana lebih lama, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi sang adik, guna mendapatkan sebuah kepastian.
Suhu ruangan di sana padahal cukup dingin, tetapi Luna tiba-tiba merasa gerah luar biasa. Deru napasnya menjadi berat, terengah-engah.
Luna menjambak rambutnya sendiri dengan geram selagi menunggu sang adik memberikan jawaban.
"Runa, kau di mana?!" pekik Luna di sela perasaannya yang tidak tenang, mengawali permbicaraan begitu sambungan panggilan suara yang ia lakukan dengan Runa, dijawab.
Luna tiba-tiba berdiri dari duduknya dan memendarkan pandangan. Gadis cantik itu mendekatkan kakinya, rapat-rapat sembari mencengkram geram piyama yang saat itu ia kenakan.
"Aku sudah pulang. Aku sudah di rumah," tukas Runa dengan santainya.
Luna kembali mendudukan diri sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Gadis cantik itu mendongakan kepala, membiarkan manik matanya menatap langit-langit di atas sana.
Deru napas Luna memburu. Area dadanya naik turun dalam tampo yang cukup cepat. Jantungnya berdebar semakin gila cepatnya.
"Kau sudah pulang? Kapan?"
"Baru saja. Sudah, ya. Aku lelah. Aku ingin tidur."
Sambungan panggilan suara itu pun berakhir begitu saja setelah Runa di sebrang sana merampungkan perkataannya.
Namun, Luna tidak protes sama sekali. Ia bahkan dengan pasrahnya hanya membiarkan tangan yang menahan ponselnya terkulai, jatuh di samping tubuhnya.
Peluluk mata Luna mulai berat, bahkan sudah terbuka dan tertutup secara berulang dalam tempo yang begitu cepat.
"Damn it! Apa yang salah denganku?!" jerit Luna, merasa benar-benar geram pada tubuhnya yang tiba-tiba sulit diajak berkompromi.
Tanpa sadar, kedua tangan gadis itu terangkat, mulai membuka kancing piyama yang ia kenakan.
Tubuh Luna masih terkulai di sana, duduk - setengah berbaring di sofa. Pelupuk matanya saat itu memejam.
Luna menggigit bibir bawahnya kala merasakan sensasi aneh semakin kuat, menjalari seluruh tubuhmnya.
Tubuhnya gerah. Perasaan gadis itu semakin resah, tidak menentu. Berulang kali Luna mendesah, melosokan deru napas kuat melalui rongga mulutnya.
Rasanya sangat tidak nyaman, sampai Luna yakin ... jika terus seperti ini, ia bisa menangis di sana kapan saja, kemudian menjadi gila.
"Farel, aku butuh Farel," gumam Luna sembari membiarkan salah satu tangannya meraba-raba permukaan sofa yang ia duduki, guna mencari ponselnya.
Luna merengek kesal sembari mengernyitkan wajah. Tubuhnya semakin aneh dan Luna tidak bisa mengendalikannya.
"Kenapa kau butuh pria lain, saat aku ada di sini, Sweety?" tukas Saga, menggoda.
Saga yang sedari tadi hanya memperhatikan Luna dari kejauhan, akhirnya memutuskan untuk menghampiri gadis cantik itu dan duduk tepat di sampingnya.
Luna sudah benar-benar kehilangan fokus pada apa yang terjadi di sekitarnya. Seluruh fokusnya saat ini hanya tertuju pada tubuhnya yang gelisah dan resah, tidak enak diam.
Gadis cantik itu bahkan sesekali menggeliat sembari merapatkan kaki dan mencengkram geram pangkuan.
"Ka-kau siapa?" Luna bertanya di sisa-sisa akal sehatnya.
Kepala Luna pening, apa yang saat itu ia lihat seperti berputar-putar, hingga ia memutuskan untuk memejamkan pelupuk matanya yang memang sudah berat.
Tubuhnya resah. Perasaannya tidak karuan, tetapi di saat yang bersamaan ... rasa kantuk pun mulai menyerang.
Hal itu sukses membuat Luna benar-benar hampir gila. Akal sehatnya mulai terkikis. Sesekali ia merengek kesal, bahkan hampir menangis.
Namun, sepertinya di sisi lain, Saga justru menikmati. Ia hanya duduk diam di sana tanpa mengalihkan pandangan, hanya menatap sosok Luna yang tidak bisa tenang.
Pandangan Saga kemudian menunduk, menatap telapak tangan Luna yang meremat kuat permukaan sofa.
Saga menyeringai. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut punggung tangan Luna dengan pergerakan menggoda.
Luna sempat terhenyak dengan kontak pisik yang dilakukan Saga tersebut, tetapi ... kemudian ia mendadak terlihat sedikit tenang, seakan menikmati apa yang Saga lakukan.
Tatapan Saga mulai menjalar, menatap sosok Luna dari ujung kaki, hingga ujung kepala. Melihat kancing piyama gadis cantik itu sudah terbuka sebagian, membuat bra hitam dan lekukan dadanya terlihat.
"Kau ingin aku membantumu, Babygirl?" bisik Saga, menggoda.
Luna menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya masih tidak mau diam, terutama area pangkuannya.
Salah satu tangan gadis cantik itu menekan area sensitifnya kuat-kuat, mencoba meredam sensasi menggelitik yang baginya sangat aneh dan baru kali ini ia rasakan.
Saga mendekat ke arah Luna, mengikis segala jarak yang terbentang, hingga bibir ranumnya menyentuh daun telinga Luna, membuat deru napas panasnya menyapu permukaan kulit gadis itu, hingga sekujur tubuhnya meremang.
Telapak tangan Saga mengusap lengan Luna dengan pergerakan menggoda, membuat Luna semakin hilang akal karenanya.
"Just say you want me and i promise to give you what you need, Baby ...." bisik Saga lagi, menggoda. (Katakan saja kau menginginkanku dan aku berjanji untuk memberikan apa yang kau butuhkan."
Ujung jemari jenjang dari telapak tangan Saga tidak mau diam, hingga terus menjalar, memberi sentuhan lembut dan menggoda hingga ke area leher dan dada Luna, bergerak melingkar di sana.
Semakin lama Saga menyentuhnya, semakin kuat pula sensasi gerah dan resah menjalari seluruh tubuh Luna, terutama bagian sensitifnya yang mulai berdenyut, tidak nyeri ... tapi merasa ingin sekali disentuh dan dijamah.
Tidak hanya tangan, wajah Saga pun terus mendekat, menelusup ke arah leher jenjang Luna, mengendus aroma feromon yang memabukan.
Embusan napas hangat Saga menyapu permukaan kulit Luna, membuat gairah yang sedari tadi mendesak, terus memuncak dalam tubuh gadis cantik itu.
Setiap sentuhan yang Saga lakukan, sukses membuat Luna ingin merasakan lebih dan lebih lagi, sementara matanya ia biarkan untuk memejam.
Akal sehatnya sudah tidak lagi tersisa. Luna akhirnya pasrah, membiarkan gairah laknat itu menguasai tubuhnya, bersamaan dengan rasa frustrasi yang ia rasakan.
Tangan Luna pun ikut bergerak, meraba tubuh Saga, mencengkram kerah pakaian yang pria itu kenakan, lalu menariknya mendekat.
Saga menyeringai, penuh kepuasan, terutama saat akhirnya bibir ranumnya mendarat sempurna, di bibir tipis Luna.
Bibir mereka bertaut dan saling memberi lumatan bergairah dengan tempo yang saling mengimbangi, terkesan sedikit kasar dan memaksa, tapi Saga merasa tidak keberatan sama sekali, karena pada dasarnya, hal itulah yang sedari tadi sudah ia tunggu-tunggu.
Tubuh Luna menggeliat di bawah kungkungan Saga, terutama saat tangan Saga mulai bergerak nakal, menjamah tubuhnya yang resah.
Selagi membiarkan bibirnya bertaut, Saga meremat gemas pinggang ramping gadis itu dengan salah satu telapak tangannya yang besar.
Sementara tangan lainnya bergerak menggoda, memberikan usapan lembut di area pangkuan Luna, membuat celananya agak tersingkab.
Kedua tangan Luna melingkar di leher Saga, memberitanda bahwa ia ingin lebih lagi, lebih intim daripada sentuhan dan kedekatan yang saat ini tengah terjadi.
Sebuah lenguhan laknat mencuat, berhasil lolos dari mulut Luna kala Saga mulai menjamah area leher jenjang dan dadanya dengan bibirnya, memberi kecupan basah, lumatan dan hisapan lembut di sana, meninggalkan bercak merah.
Saga berhenti, kemudian menatap wajah gelisah Luna dengan tatapan lekat nan dingin. Bibirnya lalu merenggang, mengulas senyum sinis. "Mari lanjutkan sesi pemanasan menuju inti permainan di kamarku, Baby."
Luna merengek kesal. Wajah cantiknya mengernyit. Sementara Saga tersenyum puas melihat gadis cantik di hadapannya itu begitu berhasrat akan sentuhannya.
Tidak ingin membuang lebih banyak waktu, Saga pun akhirnya memutuskan untuk mengangkat tubuh Luna dengan kedua lengannya, membawa gadis itu ke salah satu kamar terdekat.
Saga menurunkan tubuh Luna ke tempat tidur membiarkan manik jelaganya menatap sosok Luna dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan penuh nafsu yang sudah begitu membara.
Mungkin Saga tahu, bahwa tindakan yang saat ini ia lakukan memang sangatlah salah, tetapi ... jika ia perduli, ia pasti tidak akan menjebak Luna sejak awal.
Sekarang ... segalanya sudah terlanjur terjadi. Tidak ada kata mundur di kamus Saga, terlebih lagi ... setelah dirinya melewati sesi pemanasan dengan Luna, ia merasa bahwa dirinya tidak bisa berhenti begitu saja.
Sudah terlanjur basah, kenapa tidak menceburkan diri sekalian? Dari pada berhenti, Saga memilih untuk melanjutkan.
"Please...," lirih Luna, setengah merengek sembari menatap Saga dengan puppy eyesnya.
Akal sehat gadis cantik itu sudah benar-benar hilang, yang tersisa dalam tubuhnya hanyalah hasrat yang membara akan sentuhan Saga, tidak ada hal lain lagi yang ia perdulikan.
Saga menyeringai penuh kepuasan. Rasanya sangat menyenangkan, melihat seseorang yang ingin ia hancurkan, tidak memiliki keberdayaan.
Pria tampan itu kemudian kembali mengungkungi tubuh Luna, memastikan bahwa jarak wajahnya dan wajah Luna berada dalam posisi sedekat mungkin, tetapi tidak saling bersentuhan.
Namun, kemudian tiba-tiba Luna melingkarkan kedua lengannya di leher Saga, membawa Saga mendekat dan kembali membiarkan bibir mereka saling bertaut.
Saga melepaskan pagutan, membiarkan mulutnya menjalari tubuh Luna, mengecup hingga menyesap dan meninggalkan banyak bercak merah. "Kau yang meminta, jadi jangan harap aku berhenti."
Malam itu menjadi saksi, betapa bejatnya lelaki bernama Sagara Tyson Murphy, menjebak gadis malang hanya demi melampiaskan kemarahannya.
Anda Mungkin Juga Suka





