
Demi Ranjang Panas
Bab 2
Gadis yang masih setengah sadar itu masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Sementara pria cantik itu sudah mengeluarkan tas berwarna pink dengan gliter yang menghiasi, ia juga mengeluarkan beberapa sett make up untuk digunakan.
“Eh cantik, kok masih melamun? Ayo cepat mandi sana! Iih aku sudah dari pagi buta bangun tapi kamu masih enak – enakan tidur!”
“Berisik banget, sih, kamu! Saya juga nggak minta kamu buat datang pagi – pagi ke sini!”
“Idiih calon penganten nggak boleh galak deh. Udah cepet sana kamu mandi!”
Pria cantik itu terus saja berusaha membangunkan Elena yang sebenarnya masih ingin melanjutkan tidur. Entah mengapa ia ingin menghindari semua ini.
“Bentaran lagi deh, saya mau tidur sebentar. Sumpah ngantuk banget!”
Elena tidak menghiraukan suara aneh itu. Padahal ia laki – laki, tapi berlagak seperti wanita. Mimpi apa semalam hingga Elena bisa bertemu banci saat membuka mata.
Pria cantik dengan kaos ketat dan rok mini ketat itu berjalan menuju keluar kamar. Ia memakai heels dan membiarkan rambutnya tergerai. Baru saja keluar kamar, ia sudah bertemu dengan Hendrik yang sudah siap dengan setelan kemeja, hanya tinggal memakai jas, maka hari ini ayah Elena itu akan menjadi saksi atas pernikahan sang putri. Lalu, ia akan terbebas dari hutang sekaligus menjadi pria yang kaya tanpa harus bekerja.
“Heh mau kemana kamu? Sudah jam berapa ini?” tanya Hendrik.
“Aku mau ambil air untuk anakmu yang susah di atur itu,” ucap pria cantik itu dengan manja.
“Ngapain kamu liatin saya kaya gitu? Udah sana kerja yang bener. Bilangin sama Elena kalau pernikahannya sudah menghitung jam. Saya nggak mau tahu, kamu sudah dibayar untuk bekerja. Oh ya satu lagi, jadikan dia cantik dan sempurna! Supaya Darel dan para tamu pangling saat menemuinya.”
Hendrik meninggalkan pria cantik itu begitu saja. Sementara itu, si pria cantik memendam rasa amrahnya karena sudah diperlakukan seenaknya oleh ayah Elena.
Tadinya pria cantik itu ingin bertanya letak kamar mandi kepada Hendrik, tapi karena sikap dan responnya seperti itu, ia jadi mengurungkan niatnya. Lebih baik ia mengelilingi rumah sederhana yang tidak terlalu besar ini, untuk mencari letak kamar mandi. Daripada ia harus mendengar umpatan dan mendapatkan pandangan rendah lagi.
Pria dengan rambut panjang terurai menuju ke kamar Elena dengan jalan yang berlenggak – lenggok, ia mungkin sudah lupa akan jati dirinya, dan sudah menganggap bahwa dirinya adalah wanita. Walaupun wajahnya terlihat cantik karena make up, tetapi bentuk kaki dan tangannya jelas menunjukkan bahwa ia adalah laki – laki.
Ia masuk kembali ke kamar Elena dengan membawa gayung yang sudah terisi air. Perias pengantin itu tidak kehabisan akal untuk membangunkan calon pengantinnya. Terlebih ia menangani semua ini sendiri tanpa seorang asisten.
Pria cantik itu memasukkan sebagian tangannya ke dalam gayung yang berisi air, kemudian membuat cipratan kecil di wajah Elena.
“Hey Elena! Anak perawan bangun!”
Elena hanya menggeser posisi tidurnya tanpa membuka mata.
Tak kehabisan akal, kali ini cipratan air itu kini semakin banyak. Setelah hampir setengah gayung habis, Elena tidak juga mau bangun. Akhirnya keputusan terakhir akan ia lakukan, yakni menyebor sisa air ke wajah Elena yang masih terlelap.
“Elena kalau kamu nggak bangun, jangan salahkan aku kalau wajah, kasur dan bajumu akan basah kuyup! Aku hitung sampai tiga, jika hitungan ketiga kamu masih tidur, lihat ya kejutan di pagi ini.”
“Satu…”
Elena masih beleum merespon.
“Dua…”
Perempuan itu masih nyaman memeluk guling dan memeluknya.
“Ti… Tiga…”
Pria cantik yang hendak menuangkan seluruh isi air itu akhinya tidak ia lakukan. Akhirnya Elena terbangun.
Gerakannya jauh lebih cepat daripada gerak tangan pria cantik yang sedang memegangi gayung itu.
“Aduuh! Kamu itu beneran ganggu waktu tidur saya ya!” pekik Elena dengan kesal.
“Terserah kalau pun kamu emang mau marah sama aku. Aku di sini hanya menjalankan tugas dari Om Darel. Sudah cepat sana mandi.”
Elena tidak menghiraukan ucapan pria cantik itu, ia mengambil handuk yang terletak di belakang pintu lalu segera berjalan keluar untuk membersihkan tubuhnya.
“Eh tunggu!” ujar pria cantik.
“Apa lagi? Saya udah mau mandi, nih. Mau bikin mood mandi saya hilang, hah!”
“Jadi cewek galak banget. Untung cantik, pantas saja Om Darel tergila – gila sama kamu!”
“Udah cepetan mau ngomong apa?”
“Nih,” ucap pria cantik itu sembari menyerahkan scrub kopi dan body wash dengan wangi kopi juga. “Pakai ini saat kamu mandi, supaya kulitnya lebih sehat, mulus dan glowing. Jadi pengantin itu harus cantik. Ini juga gayungnya, sekalian untuk kamu mandi.”
Elena mengambil kasar benda yang diberikan oleh penata riasnya. Perasaannya campur aduk pagi ini. Ia berjalan ke kamar dengan bibir yang terus mengumpat. Dari mulai mengumpat ayah, perias banci itu hingga Darel si tua bangka yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Pria cantik itu langsung memalingkan wajah dari Elena, kembali ke meja rias dan menata alat make up yang akan ia gunakan untuk calon pengantinnya pagi ini.
***
Langit yang semula gelap kini berganti dengan warna yang lebih terang. Matahari pagi berhasil menembus celah jendela yang ada di kamar Elena. Perias alias pria cantik itu masih duduk menunggu Elena yang belum selesai mandi sembari memainkan ponselnya.
Ia mengunggah beberapa foto di akun khusus make up yang sudah ia rintis sejak nol. Sekalipun ia bukan wanita tulen, tapi sudah banyak yang jatuh cinta dengan hasil riasannya.
Hasil riasannya terlihat sederhana, elegant dan tidak terlalu norak. Selain itu, ia pun dikenal sebagai perias tegas dan ontime. Tidak pernah menyia – nyiakan waktu atau membuat pelanggannya kecewa. Maka dari itu, saat pagi tadi pria cantik itu sangat berusaha keras untuk membangunkan Elena. Mungkin itulah yang membuat Darel memilihnya untuk merias Elena.
Sudah hampir satu jam Elena belum kembali ke kamar. Pria cantik itu merasa gelisah, kemudian dengan cepat ia berjalan untuk mendatangi Elena.
KLEK.
Baru saja ia akan keluar, Elena sudah masuk. Ia nampak wangi dan segar, menggunakan celana pendek dan tanktop berwarna hitam. Rambutnya yang basah ditutupi oleh handuk agar cepat kering. Terlihat leher yang putih, mulus dan jenjang dari gadis itu. Elena sama sekali tidak merasa sungkan, sebab ia tahu bahwa lelaki yang bersamanya itu hanyalah pria dengan sebuah kelainan.
“Elena, sudah jam berapa ini? Lama banget di kamar mandinya.”
“Yang suruh saya untuk pake scrub siapa? Saya mandi biasa aja bisa sampai satu jam, apalagi ditambah dengan ritual pakai scrub segala. Nggak usah protes deh!” pekik Elena, kemudian ia menutup pintu.
“Makanya kalau dibangunin ya langsung bangun. Waktu nggak akan ngaret kaya gini kalau kamu tepat waktu!” seru pria cantik itu.
“Bawel banget, sih!”
Elena yang sejak pagi sudah sebal, semakin dibuat kesal oleh ocehan pria cantik itu yang semakin menjadi – jadi.
“Ya udah sini kamu duduk. Nurut dan ikutin semua arahanku kalau hasil make up kamu ingin sempurna. Dilarang protes!”
Anda Mungkin Juga Suka





