Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DANCING WITH DESTINY

DANCING WITH DESTINY

Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suasana jalanan ibukota malam hari, tampak lebih semerawut dari pada biasanya, mungkin disebabkan oleh pertunjukan musik yang tahunan yang rutin diselenggarakan saat menyambut ulang tahun kota.

Antrian kendaraan di perempatan lampu lalu lintas menjadi saksi betapa kacau nya malam ini. Jerit suara klakson sahut menyahut hingga nyaris memekakkan telinga. Deretan kata-kata kasar yang terdengar dari mulut para pengemudi bersumbu pendek menjadi backsound, mengiringi penat malam ibukota.

Di balik city car bernuansa biru gelap—musik klasik mengalun lembut mengantarkan aura menenangkan bagi seseorang yang duduk di balik kursi kemudi. Melissa Jane Miles memejamkan matanya—merilekskan tubuh dan pikirannya.

Jane, begitu biasanya dia di sapa memusatkan telinga dan pikirannya untuk mendengar alunan musik yang menggambarkan indahnya malam dengan taburan bintang, Nocturne Op. 9 No. 2.

Dia menggeliat—mencari posisi nyaman bagi punggungnya. Seharian ini dia bekerja keras bahkan jauh dari biasanya. Kecelakaan beruntun yang terjadi pagi ini, menyebabkan puluhan korban luka berat dan ringan memenuhi ranjang UGD, bahkan beberapa velbed darurat di turunkan demi menampung jumlah pasien yang terus membludak.

[Tittttt ... Tittt ...]

Kesadaran Jane tertarik kembali begitu suara klakson saling bersahutan, menjerit dari segala sisi. Dia membuka matanya—menginjak pedal gas tapi gerakannya terhenti karena tidak satupun mobil yang beranjak dari posisi.

"Apa yang terjadi?" Jane menurunkan kaca untuk bertanya pada pemuda yang berlari dengan wajah panik.

"Ada orang yang terluka," sahut pemuda itu lalu segera menghilang di balik kerumunan.

Rasa penasaran membawa Jane keluar dari mobilnya untuk mendekati kerumunan. Begitu mendengar jerit kesakitan, Jane segera mencari celah untuk menyusup hingga berhasil masuk ke tengah kerumunan—pusat masalah.

Dua laki-laki ber-setelan lengkap terkapar bersimbah darah. Kemeja putih yang mereka kenakan di balik jas hitam nyaris berubah warna menjadi merah menyala.

Jane bergerak lincah, memasukkan dasi di sela kancing lalu menggulung lengan kemeja. Dia bersiap untuk memeriksa kondisi korban. Namun langkahnya segera dihentikan dua orang berseragam.

"Pergi!"

Jane mengernyit. "Mereka mengalami pendarahan dan harus segera mendapatkan penanganan medis."

"Tidak ada yang boleh mendekat!"

Jane mengeram dalam. "Mereka bisa mati!" sentaknya marah.

Sebagai seorang dokter, nurani Jane terusik. Dia tidak bisa mengabaikan orang yang terluka, itu bertentangan dengan sumpah Hippokrates yang diucapkannya dihadapan almamater.

"Kamu dokter?" tanya wanita yang keluar dari balik mobil.

Jane mengangguk cepat. "Aku dokter di rumah sa-"

Wanita itu mengibaskan tangannya tak perduli. "Selamatkan keduanya." Perintahnya.

Meski terganggu dengan sikap kasar wanita itu tapi Jane tidak ingin membuang waktu . Dia segera jongkok dihadapan laki-laki yang terlihat lebih lemah daripada lainnya.

"Tolong beri jarak, pasien butuh oksigen yang memadai." Perintah Jane tegas pada orang-orang yang merengsek maju lebih dalam untuk mengambil foto maupun video.

Dua orang yang berjaga segera mengerti maksud Jane. Tanpa kata mereka bergerak mengamankan lokasi. Meminta orang-orang untuk mundur—memberi jarak.

Jane menekan tombol satu di ponselnya lalu tombol speaker agar tangannya bebas dari ponsel yang diletakkan di atas aspal. Tidak lama, nada sambung berganti dengan suara wanita bernada berat.

"Unit-"

"Sarah, kirimkan dua ambulan ke perempatan Cambridge dan segera siapkan ruang operasi."

"Dokter Jane?"

"Hubungi Elgan, minta dia untuk bersiap-siap," putus Jane tanpa menunggu jawaban dari balik ponselnya.

Jane bergidik ngeri saat mendapati pisau Rambo bermata pendek yang masih menancap di perut laki-laki yang terkapar bersimbah darah. Lukanya cukup dalam, semoga saja tidak sampai menyentuh ginjal. Kondisi seperti ini diperlukan penanganan serius di ruang operasi. Untuk saat ini, Jane hanya bisa menghentikan pendarahan untuk mencegah shock dan bisa memicu serangan jantung.

"Berikan jas mu, CEPAT!" Teriak Jane tiba-tiba.

Jane menerima jas dari salah satu tangan tanpa melihat siapa yang memberikannya.

"Kamu," tunjuk Jane pada pria berbadan kekar dengan brewok tipis menghias sepanjang dagunya.

"Tekan disini, pastikan pasien tetap sadar." Perintahnya untuk menekan letak luka, menghentikan pendarahan.

Salah satu dari mereka segera mendekat dan melakukan apa yang di instruksikan Jane.

Jane berpindah pada korban kedua, "Hei! Kamu bisa mendengar suara ku?"

"Le-her-" rintih laki-laki itu lemah begitu mendengar pertanyaan Jane.

"Ck." desis Jane pelan.

Dia memeriksa lapisan kulit pada jaringan dermis di leher pasien yang terbuka hingga beberapa inci. Jane yakin tidak ada kerusakan pada arteri tapi luka ini harus ditangani dengan prosedur hechting. Dia segera memastikan tidak ada tunnelling atau undermining dan terjadi hemostatis.

Jane menyapukan tangannya yang berlumuran darah ke kemeja putih yang dikenakannya lalu berlari ke mobil dan kembali dengan tas hitam besar. Jane mengeluarkan botol alkohol dan kotak besi. Mengelar kain hijau di atas aspal. Mengguyur tangannya dengan alkohol lalu menggunakan handsconn.

"Sial," desis Jane karena tidak menemukan Lidocaine di dalam tas nya.

"Kamu-" tunjuk Jane pada sosok berjas hitam lainnya yang di balas dengan gelengan takut.

"A-aku takut darah," cicitnya memohon. Pria itu meringkuk ketakutan di belakang temannya.

Jane mendesis kesal. Namun dia melupakan kekesalannya begitu sebuah tangan datang untuk membantu—menata alat dari balik tas ke atas kain.

"Cuci tangan mu dengan alkohol lalu pakai sarung tangan." Jane memberi arahan pada laki-laki disampingnya.

"Nama?"

Jane mengernyit. "Nama pasien?"

"Nama mu?"

Mendengar pertanyaan yang tidak sepatutnya di tanyakan dalam kondisi darurat seperti ini membuat Jane tertarik untuk melihat wajah lawan bicaranya. Jane terdiam sesaat, mengagumi mata yang tengah menatapnya tajam—sebiru langit kala matahari bersinar di puncak hari.

"Nama mu?" tanyanya pria itu lagi.

"Ah, Jane Miles," sahut Jane terbata.

Laki-laki itu tersenyum tipis. "Apa yang harus ku lakukan, Jane?"

Jane terdiam, senyum itu seolah menyihirnya. Beberapa detik kemudian dia disadarkan oleh suara rintih kesakitan dari laki-laki yang terluka.

"Saat ku beri aba-aba, gunting."

Pertama, Jane menyiram permukaan luka dengan alkohol.

"Akhhh." Pria yang terluka meronta, bibirnya mengeluarkan suara lolongan kesakitan.

"Pegang kaki dan tangannya. Pastikan dia tidak bergerak, aku tidak bisa menjamin lehernya tetap utuh kalau tangan ku tergelincir," serunya pada pria berseragam yang tersisa.

Setelah memastikan pasien berada pada posisi supine, Jane membuka kotak instrumen lalu mengambil forceps dan memasang benang sintetis pada jarum cutting.

"Pak, aku tidak memiliki anestesi. Luka mu harus segera di jahit untuk mencegah infeksi. Jadi kamu harus menahan sakit dan berusaha untuk tidak bergerak," jelas Jane.

Tanpa menunggu jawaban, tangan Jane menusukkan jarum pada sudut 90° sekitar 1 - 2 mm di dekat tepi luka hingga melewati jaringan subkutan, kemudian jarum diarahkan ke sisi luka yang berlawanan, menembus jaringan keluar ke arah permukaan kulit sisi yang bersebrangan. Menghasilkan jarak yang sama antara titik masuk dan titik keluar lalu Jane menarik sebuah simpul.

"Cut."

Begitu mendengar aba-aba, laki-laki disamping Jane dengan tenang memotong benang. Keduanya terus melakukan pengulangan hingga luka tertutup dan simpul ditempatkan pada sisi yang sama.

Aksi meja operasi darurat yang dilakukan secara langsung mengundang banyak perhatian. Beberapa penonton bahkan merekam aksi itu dan mengunggahnya ke media sosial. Begitu ambulan datang, kedua pasien segera diangkut menuju rumah sakit.

"JH Hospital, dokter UGD sudah menunggu, mereka akan segera menangani keduanya," pesan Jane.

"Anda tidak ikut bersama kami, dok?" tanya Rex—petugas ambulan.

Jane berpikir sejenak, "aku di belakang kalian," putusnya. Dia harus menunda rencana berendam di dalam bathtub air hangat bersama segelas wine.

Petugas ambulans mengangguk cepat lalu menutup pintu dan beralih ke pintu kemudi. Ambulan segera bergerak meninggalkan gema suara sirine yang meraung-raung.

"Dokter Jane," panggil Mora—polisi wanita yang tiba di TKP beberapa saat yang lalu.

"Mora, maaf aku harus menganggu hari libur mu yang indah," sesal Jane.

Mora tersenyum ramah—menghampiri Jane. Dia cukup menyukai dokter muda itu. Lugas dan tegas namun tidak meninggalkan kesan kesombongan yang berlebihan.

"Oh Jane! Kau tahu, setiap kali mendapat panggilan mu, aku selalu bersiap untuk hasil terburuk. Syukurlah kali ini tidak seburuk itu," balas Mora.

"Yah, syukurlah." Jane mengangguk setuju. "Oh ya, bolehkah aku minta sedikit bantuan?"

Mora mengernyit, "apa itu?"

"Tolong pastikan tidak ada rekaman yang tersebar ke sosial media. Kepala rumah sakit memberikan ku banyak ultimatum untuk tidak terlihat MENCOLOK." Canda Jane yang mengundang tawa Mora. Dia memetik dua jari di udara untuk memberi penekanan pada kata mencolok.

"Baiklah, aku mengerti," kekeh Mora seolah bisa membayangkan ekspresi kepala rumah sakit.

"Aku harus segera menyusul ambulan. Sampaikan salam ku pada suamimu," pamit Jane.

Selesai berpamitan, Jane berbalik menuju mobilnya yang masih terparkir sembarang di bahu jalan tanpa menyadari sepasang mata tengah mengawasinya dengan senyum misterius.

*****

Glosarium :

* Nocturne Op. 9 No. 2 (E Flat Major) - Chopin

* Triage = Sistem klasifikasi untuk menentukan pasien yang diutamakan untuk mendapatkan perawatan medis terlebih dahulu di UGD.

* Sumpah Hippokrates = Sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter.

* Hechting = Menjahit luka

* Tunnelling atau Undermining = Luka berongga.

* Hemostatis = Proses penghentian pendarahan secara spontan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan.

* Handsconn = Sarung tangan medis

* Lidocaine = Anestesi Lokal

* Epinephrine = Anestesi Lokal

* Supine = Posisi Terlentang

* Forceps = Gunting Bedah

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu 2
8.5
Kekaisaran Maxwell berada di ambang kehancuran akibat ulah putra-putra Alfons yang penuh masalah. Konflik cinta masa lalu memicu perang besar antar kelompok Mafia. Hubungan antara keluarga Maxwell dan Hansen pun terancam pecah menjadi pertumpahan darah setelah Fredrick Hansen menghirup udara bebas. Di tengah kekacauan dan dendam yang membara, hanya kekuatan cinta antara Alfons dan Ayu yang mampu meredam amarah serta menyatukan kembali faksi yang berseteru.
Sampul Novel Code Name Amaryllis
8.6
Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Sampul Novel Dominasi Yang Disengaja
8.1
Tiga tahun membina rumah tangga, Dahlia Nicholson memilih untuk menceraikan suaminya, Dustin Rhys. Bagi Dahlia yang kini berada di puncak kesuksesan, Dustin hanyalah beban yang tidak berguna dalam hidupnya. Namun, di balik sikap angkuhnya, ia tidak menyadari sebuah kenyataan pahit. Segala pencapaian luar biasa dan kekayaan yang ia miliki saat ini sebenarnya hanyalah hasil dari campur tangan serta dukungan rahasia sang suami yang selama ini ia remehkan.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa saat mengarungi Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu tersebut. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Isamu kini memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah, yang ternyata adalah mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel Perebutan Hati Kekuasaan
9.5
Upaya Aeliana melarikan diri dari cengkeraman Lord Zorian Valen selalu berujung kegagalan. Meski sang mafia dikenal kejam, pesona Zorian tetap memikat hati Aeliana sejak kecil. Namun, situasi menjadi rumit saat kakak tirinya, Orion Valen, kembali dan memicu perebutan kekuasaan. Terjebak dalam intrik keluarga, Aeliana dipaksa melayani Orion hingga terjerat hubungan gelap yang tak terduga. Kini ia terjepit di antara cinta lama dan ambisi pria yang ingin memilikinya.
Sampul Novel Putri delapan tahun: Feniks terlahir kembali
8.6
Yun Shang terbangun dalam raga dirinya yang berusia delapan tahun dengan ingatan masa depan yang kelam. Pernah menjadi istri yang dikhianati dan ibu yang kehilangan anaknya secara tragis, ia menyimpan dendam mendalam atas kekejaman kakak serta suaminya. Kini, sang putri kerajaan memiliki kesempatan kedua untuk mengubah takdir. Berbekal trauma dan pengetahuan masa lalu, Yun Shang mulai menyusun rencana balas dendam demi membalas setiap penghinaan yang pernah ia derita.