
Crazy Playboy - Gairah dan Obsesi Aktor Tampan
Bab 2
JAGUAR Adytama mengembuskan napas kasar, lalu mengusap wajah kemudian menyugar rambutnya ke atas, sebelum dia memegangi kening yang kini mulai terasa pening.
"Gue bakal nikahin lo," putusnya, setelah menimang perbuatan yang telah dia lakukan semalam dengan perempuan yang kini sedang duduk di sebelahnya.
Terbangun dalam keadaan telanjang bersama seorang wanita memang bukan hal yang baru untuknya. Yang membuat semuanya jadi rumit adalah wanita yang kini memalingkan wajah dan menghindari tatapan matanya itu ternyata sebelumnya masih perawan.
Jake telah mencuri kehormatannya. Walaupun wanita itu juga ikut andil berbuat salah, karena datang padanya saat sedang mabuk dan langsung mencium bibirnya layaknya seorang wanita penggoda. Namun, Jake yang sepenuhnya salah di sana, karena telah membawa perempuan itu ke hotel, lalu menidurinya tanpa izin.
Jake bisa saja berhenti dan tidak jadi menodainya. Namun, nafsu yang tak terkendali membuatnya tak bisa berhenti sebelum dia bisa memiliki.
Gue emang bajingan sejati, batinnya sambil mendesah kasar.
"Nggak perlu." Perempuan itu bangkit dari ranjang, lalu mulai mencari di mana pakaiannya telah dilemparkan semalam. "Gue nggak mau nikah sama lo."
Jake sontak saja melotot saat mendengar jawaban perempuan itu atas lamarannya.
Dia bilang tidak mau menikah dengannya?
Apa perempuan itu sudah gila?
Jake itu seorang aktor terkenal. Series yang dibintanginya selalu laris di pasaran. Belum lagi keluarga Adytama adalah keluarga bergengsi dengan kekayaan di atas rata-rata. Banyak perempuan yang ingin menikah dengannya agar bisa masuk dan menjadi bagian dari keluarga Adytama.
Jake sendiri selain tampan dan rupawan, dia juga sudah sangat-sangat mapan. Jake telah memiliki rumah pribadi yang telah siap huni. Bisnisnya pun tersebar ke seluruh penjuru negeri, mulai dari vila, hotel, restoran, dan masih banyak lagi.
Jake dengan jelas menjadi sosok laki-laki potensial untuk dijadikan calon suami.
Namun, perempuan ini malah menolak lamarannya, tanpa memandang wajah ataupun memikirkan ulang keputusannya. Dia langsung menolak tawarannya mentah-mentah dan itu sumpah … berhasil merusak seluruh harga dirinya.
"Kenapa?" Jake cukup syok mendengar jawaban yang dia dapatkan, tapi dia mencoba menyembunyikan semua kekagetannya di balik topeng wajah tenang seperti saat ia sedang bersandiwara di depan kamera.
"Lo bisa mikir sendiri, kenapa gue nggak mau nikah sama lo?"
Perempuan itu mendengkus keras seraya memakai bra dan celana dalamnya sambil memunggungi Jake yang masih setia duduk di atas ranjang.
"Pertama, karena kita nggak saling kenal. Gue nggak mau nikah sama orang asing yang baru gue lihat sekali dan bahkan nggak gue ketahui namanya. Kedua, kita hanya bercinta semalam dan lo langsung mau tanggung jawab dengan cara nikahin gue?!" Perempuan itu sontak saja tergelak.
Jake sekilas tampak mengernyitkan dahi, lalu dia bicara, "Gue emang belum kenal sama lo, tapi lo pasti udah kenal sama gue, kan?"
Ayolah! Dia sering muncul di layar televisi. Masa perempuan ini tidak menyadari siapa dirinya sejak tadi? Dia aktor terkenal negeri ini, lho!
Perempuan itu menatapnya lamat-lamat, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak, gue nggak kenal sama lo."
Tenang, Jake … tenang … dia pasti cuma pura-pura nggak kenal aja sama lo!
"Kalaupun lo nggak kenal sama gue, tapi gue udah merawanin lo semalam. Itu udah lebih dari cukup sebagai alasan buat gue tanggung jawab dengan cara nikahin lo."
Perempuan itu membalik tubuhnya dan mencari kembali pakaiannya. "Lo tenang aja, banyak cewek yang udah diperawanin sama pacarnya, tapi akhirnya ditinggalin juga."
Perempuan itu mendengkus dengan keras, kemudian mengenakan pakaiannya hingga akhirnya dia telah berbusana lengkap.
Dia berbalik, menatap Jake yang belum juga beranjak, lalu berucap, "Anggap aja yang semalam kita sama-sama khilaf. Lo nggak perlu mikirin tanggung jawab, karena gue yakin itu bukan gaya lo banget. Lagian lo pasti udah terbiasa nidurin cewek selama ini, terus kenapa lo tiba-tiba aja mau ngajak nikah cewek yang nggak sengaja udah lo perawanin?"
"Lo—"
"Dan lagi, gue yakin kalaupun gue mau nerima tawaran lo buat nikah, lo nggak akan serius dengan pernikahan itu, karena lo cuma mau tubuh gue doang. Setelah lo bosan, lo bakal buang gue kayak cewek murahan lainnya. Jadi sori aja, gue nggak perlu rasa tanggung jawab lo itu."
Jake mengepalkan kedua tangannya yang bersembunyi di balik selimut. Dalam hatinya dia sedikit membenarkan perkataan perempuan yang berada tak jauh darinya itu.
Jake mau melamarnya selain karena rasa bersalah, juga karena dia telah mengganggap jika perempuan itu sedikit istimewa baginya. Dia telah merasakan tubuhnya dan dia pun menyukai sensasinya.
Dia menginginkan perempuan itu menjadi miliknya, tapi rasa ketertarikan yang berasal dari tubuh seseorang tidak akan bertahan selamanya.
Sama seperti yang dikatakan perempuan itu sebelumnya. Setelah Jake bosan dengan tubuhnya, maka hubungan pernikahan mereka tidak akan bisa lagi dipertahankan. Semuanya akan berakhir di tengah jalan dan itu bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh seseorang yang benar-benar serius dengan yang namanya pernikahan.
Perempuan itu ingin menghindari sesuatu seperti itu. Dia serius dengan pernikahan dan dia tidak ingin bermain-main dengan sumpah sakral untuk setia dengan satu pasangan seumur hidupnya.
Dan Jake telah menodai rencana sempurna milik perempuan itu sebelumnya.
"Kalau lo masih merasa bersalah sama gue, mending lo bayar gue."
Jake kontan saja melotot mendengar peryataan tiba-tiba yang dikeluarkan perempuan itu padanya. Dia sudah gila? Apakah dia masih waras? Otaknya masih ada di tempat asalnya, bukannya berpindah tempat ke dengkulnya, kan?
Ditawari sebuah pernikahan yang jelas-jelas akan sangat menguntungkan dari segi finansial, malah ditolak mentah-mentah dan minta buat dibayar.
Jake jadi semakin geram dengan kelakuannya. "Lo minta berapa?"
"Seratus juta."
Perempuan itu nyengir kuda. Jujur saja, senyumannya memang manis, tapi sayang isi otaknya sudah tidak ada. Masa dia hanya minta seratus juta untuk nilai lepas keperawanannya?!
"Oke."
"Oke? Lo nggak mau nego dulu?" Perempuan itu jadi terkejut sendiri.
"Nggak perlu, seratus juta nggak ada apa-apanya buat gue."
Jake mendengkus geli. Seratus juta? Dia minta seratus milyar saja, Jake sanggup memberikannya!
"Wah, bagus dong kalau gitu. Kapan lo mau transfer uangnya ke gue? Atau lo mau ngasih dalam bentuk cash aja?"
Jake langsung memejamkan mata. Dia sudah tidak tahan dan mau berteriak sambil mengatakan jika perempuan ini sudah gila, nggak punya otak, dan masih banyak lagi makian yang dia siapkan khusus untuknya.
Namun, dia menahan mulutnya sekuat tenaga. Bagaimanapun juga, dia masih seorang publik figur yang harus bisa mengendalikan emosi dan pembawaan dirinya.
Kalau perempuan itu sampai tahu siapa dirinya, mungkin dia akan kembali untuk bertekuk lutut di bawah kakinya dan memohon agar mereka bisa menikah bulan depan.
Kalau hal itu benar-benar terjadi. Jake bersumpah akan mengurungnya di kamar pengantin mereka selama sebulan penuh untuk bisa dia nikmati tubuhnya.
"Sebutin nomor rekening lo, gue transfer sekarang juga," katanya, seraya mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Perempuan itu menyebutkan beberapa angka yang merupakan nomor rekeningnya. Jake langsung mengirim uang seratus juta yang diminta ke nomor rekening atas nama Arsyila Putri G.
Namanya Arsyila, bagus juga.
"Wah, uangnya udah masuk. Terima kasih, ya? Babay!"
Perempuan itu langsung keluar dari kamar hotel dengan santai. Benar-benar pergi dari sama tanpa menolehkan kepalanya lagi. Dia benar-benar meninggalkan Jake tanpa beban, seperti mereka tidak pernah melakukan apa pun sebelum ini.
Dan hal itu sukses membuat Jake emosi.
Setidaknya kasih ciuman perpisahan dulu atau gimana, kek?!
Anda Mungkin Juga Suka





