
Contract Love
Bab 2
"Tiara!"
Leo, Farel, dan Siska mereka berlari ke arah Tiara yang terduduk di tengah-tengah ballroom. Keadaan yang berantakan, membuat mereka cemas pada Tiara sekarang. Hancur sudah hati Tiara setelah pernikahannya batal, lamarannya pun di tolak.
Ya, pria yang baru saja diajaknya menikah malah menolaknya, padahal Tiara hanya ingin meminjam pria itu untuk menyelamatkan pernikahannya yang akan memberikan kompensasi, tetapi tidak ada waktu bagi Tiara mengatakannya apalagi sampai mendatangi surat kontrak disaat seperti itu. Dan semuanya gagal, pernikahan memang harus batal.
Kini Tiara menjadi bahan gunjingan semua orang, dan pernikahannya menjadi berita terhangat di seluruh dunia.
Leo dan Siska membawa Tiara ke dalam kamar hotel, gadis itu pasti masih syok, dan Farel mencoba untuk menahan reporter yang kekeh ingin mewawancarai Tiara. Kejadian itu sangat heboh karena Tiara orang yang paling digemari, suaranya yang bagus dan aktingnya yang memukau membuat masyarakat menyukainya. Namun, tidak sedikit para artis lain yang iri dan sekarang tertawa melihat kejadian itu. Apalagi Damian, merupakan produser besar yang disukai banyak aktris.
Pernikahan batal, tidak ada dalam kamus hidupnya. Selama berpacaran Tiara dan Damian baik-baik saja bahkan mereka membina hubungan selama 5 tahun, tapi tiba-tiba Damian pergi di hari pernikahannya.
"Bagaimana keadaan Tiara?" tanya Farel, wajahnya begitu mencemaskan Tiara.
"Sepertinya dia syok," jawab Leo yang meratapi nasib majikannya. Mereka semua tidak pernah ada yang menduga jika pernikahan itu bisa batal, dan mereka belum mengetahui alasan apa Damian harus pergi.
"Biarkan Tiara tenang dulu. Jangan ganggu dia, dan jangan biarkan dia membuka handphone atau menonton TV karena pernikahannya yang batal masih menjadi topik terhangat saat ini."
"Ya, ini pasti berat baginya."
"Seharusnya aku menemukan bajingan itu."
Farel, sebagai manajer sangat kesal dan akan berusaha untuk menutup kasus itu dan membatalkan semua scejule Tiara. Mereka semua sedih, melihat Tiara seolah kehilangan jati dirinya. Tiara tidak melakukan apa pun selain berdiam diri dan melamun.
Di hotel yang sama, riuhnya tepuk tangan dari para tamu, klien, investor, dan owner semua para petinggi konglomerat, pengusaha ternama berada dalam satu ruangan, mereka bertepuk tangan untuk seorang pria yang baru saja mendapat penghargaan sebagai CEO terbaik.
"Nataniel Gionino Atmaja!"
Ketika nama itu di panggil seorang pria berparas tampan, dengan tukxedo berwarna navy dan celana yang senada membuatnya begitu menawan. Melangkah ke atas podium untuk mengambil penghargaan yang kadang membuat para CEO lain cemburu. Karena setiap tahunnya Gio tidak pernah melepaskan piala perak itu kepada orang lain.
"Terima kasih."
Hanya itu yang Gio katakan, pria itu tidak suka bicara panjang lebar apalagi harus berpidato yang hanya membuang waktu. Gio turun dari atas podium yang langsung pergi meninggalkan ruangan. Diikuti Nico sang asisten yang tidak kalah mempesona. Mereka berdua bagaikan malaikat yang turun dari langit.
Tingkahnya memang menyebalkan, mereka pergi sebelum acara selesai, tapi memang seperti itulah Gio, bukan sombong tetapi pria itu tidak suka acara pesta dan keramaian, yang disukainya hanyalah menyendiri, bersantai di tepi danau, menghirup udara segar seraya menikmati keindahan alam di atas puncak.
Gio, pria yang introvert, tidak terlalu terbuka walau itu dengan keluarganya.
"Ah, akhirnya selesai juga. 15 menit bagiku waktu yang sangat lama." Gio berkata seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding kursi. Pria itu merasa lelah harus berpura-pura tersenyum seraya berdiri di atas podium, itu hal yang paling tidak dia sukai.
"Tapi dirimu sangat keren tadi. Semua orang terpana melihatmu apalagi Tuan Lucas," ujar Nico setelah duduk di bagian kemudi.
"Kau benar Nico. Aku suka melihat ekspresi wajahnya itu." Gio tersenyum, seperti sedang membayangkan wajah Lucas yang entah seperti apa ekspresi wajahnya saat itu.
"Tapi aku masih kesal. Kamu ingat gadis itu? Beraninya dia melamarku di tempat seperti itu, dia pikir aku tidak bisa mencari wanita. Aku idola semua wanita, wanita macam apa pun akan aku dapatkan. Tapi gadis itu sudah menghinaku, dan itu semua karena kamu Nico!"
"Maaf Tuan muda. Aku salah masuk ruangan."
Ya, semua yang telah terjadi itu kesalahpahaman. Gio ingin menghadiri perayaan penghargaan malah salah memasuki ruangan dan membuatnya bertemu dengan gadis gila. Gio menganggap Tiara gila karena sudah mengajaknya menikah begitu saja. Tentu saja pria itu akan menolak, Gio tidak pernah suka berhubungan dengan orang yang tidak jelas sudut pandangnya, wanita ... baginya sangat mudah mencari wanita hanya dengan satu panggilan saja wanita mana pun dan seperti apa pun akan datang menghampirinya.
"Aku maafkan kali ini."
Senyum Nico mengembang setelah mendengar perintah bosnya. Nico melajukan mobilnya meninggalkan hotel yang menuju mansion mewah. Gio segera turun ketika tiba di depan teras, yang disambut beberapa pelayan. Pria itu langsung berlari ke dalam sudah tidak sabar untuk menemui neneknya.
"Nenek!" teriaknya begitu menggema. Ruangan yang sangat luas, terdapat beberapa lorong dan tangga untuk menemui wanita terkasihnya itu. Sukma, wanita itu asyik menonton siaran televisi di dalam kamarnya tanpa menghiraukan Gio yang sudah membuka pintunya.
Gio hanya tersenyum melihat kebiasaan neneknya itu.
"Nenek," panggilnya yang berjalan ke arah Sukma.
"Gio cucuku! Ayo kemarilah, temani Nenek nonton. Nenek sangat kesal sekali, Fatiah gadis itu sangat licik."
"Fatiah?" Gio terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengerti, jika itu nama salah satu yang ada dalam drama kesukaannya.
"Nenek berhentilah memikirkan Fatiah yang licik. Jangan ditonton lagi jika kesal."
"Ah, kau ini. Jika tidak menonton Nenek pasti ketinggalan update terbarunya, Nenek tidak suka itu."
"Kalau Nenek menyukainya kenapa mengumpat?"
"Nenek bilang kesal. Sudahlah kau tidak akan mengerti, makanya cepatlah menikah supaya Nenek mempunyai teman saat menonton."
"Apa hubungannya dengan menikah?"
"Tentu ada hubungannya, karena hanya dengan wanitalah yang tahu cerita drama, mereka akan sangat mengkhayati dan penuh perasaan, itu sebabnya kau tidak cocok menemani Nenek menonton. Kau terus saja mengomel." Sukma merajuk.
"Baiklah Nenek, sekarang lupakanlah Fatiah, Gio punya sesuatu untuk Nenek."
"Apa? Piala lagi?"
"Ya, Nenek kenapa tahu?"
"Karena Nenek yakin tidak ada yang bisa mengalahkanmu."
"Wah! Nenekku yang terbaik."
Gio memeluk Sukma yang tersenyum hangat padanya, mereka saling memeluk satu sama lain. Hanya kepada Sukmalah Gio terbuka, dan hanya Sukmalah yang mengerti keinginan Gio. Kasih sayang Sukma kadang membuat iri putranya yang lain.
Dulu, saat Sukma mengangkat Gio sebagi CEO Atmaja grup, keputusannya mengundang pro-kontra antara putranya dan cucunya. Anjaya Putra Atmaja dan putrinya Sarah Atmaja. Sukma lebih memilih Gio dibanding putranya sendiri Anjaya sangat keberatan karena Gio hanyalah cucu dari Radian Atmaja adiknya yang sudah meninggal, Anjaya pikir setelah kepergian Radian dia yang akan memiliki kekuasaan terhadap Atmaja Grup, Sukma pasti memberikan kekuasaannya pada Jaya tetapi, Gio menjadi penghalang. Ibunya lebih menyayangi cucunya di banding putranya.
"Kau kalah lagi?"
Anjaya menyandarkan tubuhnya pada kursi mengabaikan pertanyaan dari istrinya. Melihat ekspresi wajah Anjaya Viona sudah menduga suaminya pasti kalah lagi dari keponakannya.
"Anak itu memang sangat hebat, dia selalu mengalahkanmu."
"Apa kau tidak mempercayaiku?" Tatap Anjaya tajam. Viona baru saja meremehkannya.
Wanita itu hanya tersenyum. "Jika seperti ini kamu tidak akan bisa menjadi komisaris Atmaja Grup," sambung Viona yang memeluk Anjaya dari belakang.
"Lihat saja nanti, aku yang akan menjadi komisaris saat pemilihan nanti. Aku tidak akan kalah lagi dengan bocah ingusan seperti dia," janji Anjaya mengepalkan tangannya kuat.
Kembali lagi pada Gio, pria itu tercengang saat melihat sebuah iklan di TV. Saking terkejutnya Gio sampai tidak berkata yang melepas pelukan pada neneknya. Melihat perlakuan cucunya yang aneh Sukma mengikuti ke mana arah tatapan Gio, ternyata pria itu sedang melihat wanita dalam iklan body wosh pantai saja matanya tidak berkedip.
"Matamu tidak berkedip, apa kau tertarik?"
"Tidak, tapi Sepertinya aku pernah melihat wajahnya." Gio kembali mengingat gadis gila yang melamarnya hari ini. Gadis itu sangat mirip dengan yang ada di TV.
"Tentu saja semua orang mengenalnya. Dia artis terkenal tidak ada yang tidak mengenalnya di sini. Nenek pun sangat menyukainya."
"Tentu saja karena Nenek penggemar drama, " sanggah Gio menatap Sukma.
"Kalau kamu menyukainya Nenek akan hubungi manajernya. Kamu mau Nenek atur jadwal kencannya?"
"Nenek mulai lagi." Entah kenapa Gio malas membicarakan tentang kencan. Tapi tidak dengan Sukma yang selalu saja membahas pernikahan, berkali-kali Sukma mengatur jadwal kencan untuk Gio tapi Gio selalu tidak hadir, pria itu hampir menolak semua wanita.
Gio tidaK tahu Tiara seorang publik figure, dan gadis yang dianggapnya gila adalah Tiara. Tiara menjadi gila karena pria b*jingan itu. Tiara gadis pertama yang ia benci, yang menghinanya di tempat umum. Dan Tiara wanita pertama yang menghantui pikirannya. Bayangan Tiara terus saja muncul dibenaknya.
"Kenapa aku terus memikirkannya," ungkapnya setelah bangun dari rendaman air hangatnya. Gio menyudahi mandi malamnya berjalan ke luar kamar mandi.
"Kenapa aku terus saja memikirkan gadis gila itu," gumamnya lagi.
Deringan ponsel membuyarkan lamunannya, Gio berjalan ke arah ranjang di mana benda pipih itu tersimpan. Dijawabnya panggilan dari Nico, sang asisten itu selalu menganggunya.
"Ada apa?" tanya Gio demikian.
"Bos, kau harus lihat video yang baru aku kirimkan. Gadis itu ternyata ...,"ucap Nico tertahan karena Gio menutup panggilan itu. Yang segera membuka video yang Nico kirimkan.
Kejadian tadi pagi di hotel, menjadi perbincangan hangat dan sudah tersebar di internet. Pernikahan yang batal sang mempelai pria pergi dengan wanita lain, foto pernikahan Damian dan Karina juga sudah tersebar. Kini semua menyudutkan Tiara ada yang bersedih, ada pula yang berkomentar kejam mereka bilang Tiara terlalu percaya diri. Dan tingkahnya yang melamar Gio merendahkan reputasi Tiara.
"Dia terlalu percaya diri, sungguh tindakan yang merendahkan."
"Apa seputus asanya dia sampai harus melamar seorang tamu dan lebih parahnya tamu itu menolaknya. Jika itu pernikahanku akan ku biarkan saja."
"Mungkin Tiara tidak mau rugi. Pesta yang digelarkan sangat mewah."
"Mungkin saja pria itu seorang produser juga, jadi bisa membayar kerugian pestanya. Sungguh memalukan."
Gio melempar ponselnya ke atas ranjang, pria itu tidak sanggup membaca komentar-komentar pedas itu. Gio merasa bersalah saat ini. Pria itu pun mulai mencari informasi tentang Tiara di internet, ternyata Tiara gadis yang hebat dan berbakat.
"Jadi yang di TV itu ... ah sial! kenapa aku harus terlibat dengannya."
Tiara pun tidak pernah ingin terlibat. Gadis itu terpaksa melakukannya. Kini tidak ada lagi orang yang dipercayainya selain dirinya sendiri. Tiara pergi meninggalkan hotel mencemaskan Farel, Leo, dan Siska. Tiara pergi tanpa memberitahu mereka semua kini mereka panik dan mencarinya.
"Ponselnya tidak aktif."
"Cepat cari dia! Hubungi teman dan keluarganya."
"Iya baik. Aku hubungi Alena."
Kehilangan Tiara membuat ibu tiri dan adiknya bahagia. Alena sangat senang jika kakaknya itu pergi bila perlu mati, supaya tidak ada yang menyainginya dalam karier. "Mama aku punya kabar bahagia!" teriaknya pada Arini.
"Apa?" Arini sangat tidak sabar mendengar kabar bahagia itu dari putrinya.
"Tiara hilang!" teriak Alena dengan riang tetapi Arini malah cemberut seolah tidak senang. "Mama kenapa tidak senang?"
"Mama pikir dia bunuh diri, itu lebih bagus."
"Wah! Mama kau sangat kejam."
"Jika hanya hilang nanti juga ketemu lagi, kalau mati ... dia tidak akan kembali."
"Mungkin setelah ini Mama, Tiara menghilang dia depresi lalu ..." Alena dan Arini saling menatap, senyumnya mengembang seketika. "Bunuh diri," sambung keduanya.
Ibu dan anak itu sepertinya senang melihat penderitan Tiara dan sangat mengharapkan kematiannya, sungguh sangat kejam. Bi Nun yang mendengarnya sangat kesal, tetapi iman Tiara tidak selemah itu yang akan bunuh diri setelah dikhianati seakan roda hidupnya berhenti berputar.
Saat ini Tiara hanya butuh waktu sendiri, di sisi pantai yang sepi gadis itu duduk sendirian tanpa selimut atau baju hangat angin laut tidak terasa dingin baginya, padahal bibirnya sudah menggigil. Entah, apa yang gadis itu cari tatapannya begitu kosong menatap ombak yang semakin naik di malam hari. Air matanya terus saja berlinang sedetik kemudian tangisannya semakin terdengar, punggungnya gemetar hebat hingga menggetarkan seluruh tubuhnya.
"Berhentilah menangis!"
Tiara menoleh pada seorang pria yang baru saja bicara. Gio berdiri tepat di belakangnya, Tiara cukup terkejut melihat pria yang diajaknya menikah ada di sana. Berulangkali Tiara mengucek matanya ingin memastikan apa itu pria yang sama dan ternyata benar. Namun, kenapa Gio ada di sana.
"Jangan bilang aku mengikutimu," ujar Gio seolah tahu apa yang dipikirkan Tiara. "Aku tidak sengaja melintas, dan melihatmu di sini. Apa kau sedepresi itu karena sudah aku tolak?"
Tiara membelalakkan matanya, mulutnya menganga lebar tidak percaya dengan semua perkataan Gio. Bisa-bisanya mengatakan dia depresi karenanya.
"Apa kau bilang? Depresi ... jika pun aku depresi itu bukan karenamu mengerti!" Tunjuk Tiara dengan kesal.
"Syukurlah, aku pikir kamu depresi karena aku tolak. Kamu tidak berniat untuk bunuh diri, kan? Menenggelamkan diri ke lautan jika itu terjadi ... aku tidak akan bisa memaafkan diriku."
"Kau pikir hanya satu-satunya kau di dunia ini?" tanya Tiara dengan nada tinggi.
"Kalau bukan, kenapa kau melamarku?"
"Aish! Menyebalkan sekali," gumam Tiara lalu pergi meninggalkan Gio.
Tiara benar-benar tidak bisa menjelaskan. Tadi itu terpaksa entah mendesak, dan kenapa dirinya harus memilih pria itu di antara banyaknya tamu undangan. Tiara bisa saja memilih Farel manajernya untuk menggantikan Damian, tapi gadis itu malah memilih Gio yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Hei tunggu! Kau tidak akan bunuh diri, kan?"
"Ah sial! Kenapa pria itu terus megikutiku." Tiara terus menggerutu sepanjang langkahnya dan kenapa Gio terus saja mengejarnya. Tiara lelah hingga ia berhenti dan berbalik pada Gio.
"Maaf, tadi itu salah paham aku terpaksa melakukannya," ucap Tiara demikian.
"Apa karena kekasihmu itu?" tanya Gio. "Siapa namanya ... Damian! Ya, aku masih ingat pria itu kabur dari pernikahanmu dan menikah dengan wanita lain. "
"Karina," sanggah Tiara.
"Apa?" Gio bingung kenapa Tiara menyebutkan nama Karina.
"Nama wanita itu Karina, sahabatku."
Mulut Gio menganga lebar, pria itu tidak habis pikir ada seorang sahabat yang merebut kekasih sahabatnya dan membatalkan pernikahannya. Tiara, gadis itu sangat menyedihkan. Dia dikhianati kedua orang tercintanya. Gio merasa kasihan ia merasa bersalah karena sudah menolak ajakan wanita itu.
"Aku tidak pernah berpikir, pernikahan yang sudah kami siapkan batal begitu saja. Aku bingung, yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah melanjutkan pernikahan aku tidak peduli siapa pria itu dan aku melihatmu saat itu aku tiba-tiba saja memilihmu, aku tahu kamu pasti terkejut, ada wanita gila yang mengajakmu menikah, aku sungguh sudah gila, tapi semuanya percuma ... semua orang sudah tahu pernikahanku batal dan Damian memilih wanita lain."
"Apa kamu mau mengulanginya?"
"Apa?"
"Pernikahan, kau bisa melamarku lagi aku akan menerimanya sekarang."
Mata Tiara membulat sempurna dia tidak habis pikir dengan pria yang dia temui, pertama menolak sekarang menawarkan diri.
"Jika ku pikirkan kau yang gila. Kau menolakku dan sekarang kau menawarkan diri."
Gio memejamkan matanya sesaat lalu mengembuskan nafasnya dan berkata, "Begini ... anggap saja ini contract love."
"Conract love?"
"Kita saling membutuhkan aku mebutuhkanmu dan kau membutuhkanku. Kita buat kesepakatan,"
"Kesepakatan?"
"Pernikahan kontrak."
Entah, apa tujuan Gio mengajaknya menikah kontrak. Apa pria itu merencanakan sesuatu?"
Anda Mungkin Juga Suka





