
Collateral Fate
Bab 2
Mereka bergerak dengan cepat dan senyap menuju tangga darurat yang disebut oleh tim Delta-1. Langkah mereka bergema di dalam terowongan sempit, sementara rasa tegang semakin memuncak. Arya memastikan Alana tetap berada di belakangnya, melindunginya dari kemungkinan serangan mendadak.
Saat mereka mendekati tangga, Arya berhenti sejenak dan menempelkan punggungnya ke dinding. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Alana tetap diam. Dengan hati-hati, ia mengintip ke atas. Tangga itu berkarat, remang-remang, dan di ujungnya terdapat pintu logam tua dengan cahaya samar menyelinap dari celahnya.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari atas. Seseorang berada di sana.
Arya segera mematikan radio dan memberi isyarat kepada Alana untuk mundur sedikit. Ia menarik pistolnya dengan peluru senyap dan bersiap.
Pintu logam itu berderit perlahan, dan dua pria bersenjata muncul. Salah satu dari mereka membawa senapan, sementara yang lain berbicara melalui radio dalam bahasa Arab.
Tanpa ragu, Arya bergerak cepat. Ia menembak pria pertama di kepala, lalu segera menerjang pria kedua sebelum yang lain sempat menarik pelatuk. Dengan cekatan, Arya membungkam mulutnya dan menusukkan pisaunya tepat di antara tulang rusuk. Pria itu mengerang pelan sebelum akhirnya terkulai tanpa nyawa.
Alana yang menyaksikan kejadian itu menahan napasnya. Meski ketakutan, ia tetap mengontrol emosinya.
"Cepat, naik." Arya berbisik sambil memberikan isyarat ke tangga.
Mereka menaiki tangga dengan hati-hati. Setiap anak tangga berbunyi pelan di bawah beban mereka. Saat tiba di atas, Arya memeriksa keadaan di luar sebelum akhirnya mendorong pintu logam sedikit demi sedikit.
Udara malam yang dingin menyambut mereka. Mereka berada di sebuah halaman belakang yang dipenuhi puing-puing bangunan, tak jauh dari batas kompleks yang diawasi ketat oleh militan. Di kejauhan, lampu-lampu sorot menyoroti beberapa titik strategis.
Arya menempelkan telinganya ke radio.
"Delta-1, kami sudah di luar. Apa status evakuasi?"
"Horizon masih belum bisa mendekat. Wilayah udara masih berbahaya. Tapi kita punya kabar buruk, Letnan. Ada kemungkinan keterlibatan pihak luar dalam penyanderaan ini."
Arya menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Kami menerima informasi bahwa penyanderaan ini bukan sekadar aksi teroris biasa. Ada kemungkinan bahwa orang-orang dalam pemerintahan kita sendiri terlibat dalam operasi ini."
Arya merasakan ketegangan menyelimuti tubuhnya. Jika benar ada pengkhianat di dalam pemerintahan, maka misi ini lebih dari sekadar penyelamatan sandera. Ini adalah permainan politik yang jauh lebih berbahaya.
Arya mengepalkan rahangnya. Jika benar ada kekuatan besar yang terlibat, maka mereka harus keluar dari sini secepat mungkin.
Tapi sebelum ia bisa merencanakan langkah berikutnya, suara sirene berbunyi di kejauhan.
"Peringatan, pasukan pencari sedang mendekat. Kau harus pergi sekarang, Letnan," suara Delta-1 terdengar tegang di radio.
Arya segera menarik Alana dan berlari menuju bagian gelap dari reruntuhan bangunan. Suara kendaraan lapis baja terdengar mendekat dari arah utara.
Mereka harus keluar sebelum semuanya menjadi lebih buruk. Tapi dalam situasi ini, siapa yang bisa dipercaya?
Arya harus menemukan jawabannya sebelum semuanya terlambat.
Mereka bergerak dengan langkah cepat tetapi tetap senyap, menyusuri terowongan yang semakin sempit. Udara makin pengap, dan aroma besi tua menyeruak dari dinding yang lembab. Alana tetap berada di belakang Arya, matanya terus mengawasi sekeliling dengan penuh kewaspadaan.
Setelah beberapa meter, mereka tiba di persimpangan kecil yang hanya diterangi cahaya redup dari lampu darurat yang berkedip-kedip. Tangga darurat yang disebut timnya tampak di sisi kiri, mengarah ke permukaan.
Arya mengangkat tangan, memberi isyarat agar Alana berhenti. Ia menajamkan pendengaran, berusaha menangkap suara di atas. Tidak butuh waktu lama sebelum ia mendengar sesuatu, suara langkah kaki berat di lantai besi tangga.
Musuh berjaga di atas.
Arya menoleh ke Alana dan berbisik, "Ada orang di atas. Kita tidak bisa langsung naik."
Alana menelan ludah, lalu berbisik balik, "Lalu bagaimana?"
Arya berpikir cepat. Mereka bisa mencoba menyergap penjaga di atas, tetapi itu berisiko besar. Jika musuh membawa radio, ada kemungkinan mereka akan memanggil bala bantuan sebelum Arya sempat menjatuhkan mereka.
Ia meraih radio di rompinya. "Delta-1, ada musuh di tangga darurat. Bisa beri kepastian berapa jumlah mereka?"
Suara statis terdengar sebelum operator di sisi lain menjawab, "Tiga orang. Tapi ada masalah, Letnan. Kami mendeteksi pergerakan lain di sekitar lokasi kalian. Sepertinya ada unit tambahan yang sedang mendekat."
Arya mengumpat pelan. Waktu mereka tidak banyak. Jika mereka terlalu lama di sini, mereka akan terkepung.
"Apa ada rute lain?" tanyanya.
"Hanya satu lorong pembuangan tua yang berujung ke luar kompleks, tetapi itu berisiko tinggi. Kami tidak tahu apakah jalurnya aman atau sudah dipasangi jebakan."
Arya menarik napas panjang. Tidak ada pilihan yang bagus. Semua jalur yang tersedia memiliki risiko besar.
"Dengar," katanya kepada Alana, "Kita punya dua pilihan. Menyerang tiga musuh di atas dan mengambil risiko bertempur dalam jarak dekat atau kita mengambil jalur pembuangan yang mungkin sudah dipasangi jebakan."
Alana tampak berpikir cepat sebelum berkata, "Jalur pembuangan. Jika kita menyerang, mereka bisa memanggil bantuan, dan kita akan terjebak di sini."
Arya mengangguk. "Setuju. Kita ambil jalur pembuangan."
Mereka berbalik dan menyusuri lorong kecil di sebelah kanan. Bau busuk menyengat semakin kuat, dan lantai menjadi lebih licin akibat genangan air kotor. Di ujung lorong, mereka menemukan sebuah pintu besi tua yang setengah berkarat.
Arya meraih pegangan pintu, lalu menariknya perlahan. Engselnya berderit pelan, pintu itu terbuka perlahan.
Di baliknya, lorong sempit lain menanti lebih gelap, lebih menyeramkan.
Alana menghela napas dan melangkah masuk, diikuti oleh Arya. Mereka bergerak perlahan, menyusuri lorong gelap itu dengan waspada.
Namun, baru beberapa langkah masuk, sesuatu terasa tidak beres.
Arya berhenti mendadak dan menarik Alana ke belakangnya. Ia merendahkan tubuhnya, matanya fokus pada sesuatu di lantai.
Benang tipis hampir tak terlihat membentang di seberang lorong, terhubung ke sebuah alat kecil yang tersembunyi di bawah genangan air.
Jebakan ranjau.
Arya menghela napas pelan. Jika mereka tidak berhati-hati, ledakan di ruang sempit ini bisa membunuh mereka berdua.
Ia memberi isyarat kepada Alana agar tetap diam, lalu merogoh saku rompinya dan mengeluarkan pisau kecil. Dengan hati-hati, ia memotong benang itu tanpa menyebabkan pemicunya aktif.
Setelah memastikan jalur aman, ia menoleh ke Alana. "Tetap dekat dan ikuti langkah saya. Jangan sentuh apa pun."
Alana mengangguk cepat.
Mereka melanjutkan perjalanan, melewati beberapa jebakan lain yang tersembunyi di sepanjang lorong. Beberapa di antaranya berupa kabel peledak, yang lain adalah kawat berduri yang dipasang di ketinggian kepala.
Akhirnya, setelah beberapa menit berjalan dalam kegelapan, mereka tiba di ujung lorong. Pintu lain berdiri di depan mereka, pintu baja besar dengan roda pengunci di tengahnya.
Arya meraih radio. "Delta-1, kami sudah sampai di pintu keluar. Apa ada musuh di luar?"
Suara statis terdengar sebelum operator menjawab, "Negatif, Letnan. Area bersih. Tapi kami mendeteksi aktivitas kendaraan musuh beberapa ratus meter dari lokasi kalian. Kalian harus segera keluar sebelum mereka menemukan jalur ini."
Arya mengangguk dan mulai memutar roda pengunci. Pintu itu berderit, lalu terbuka perlahan.
Udara malam yang dingin menerpa wajah mereka. Di luar, medan berpasir membentang luas, diterangi cahaya bulan yang pucat.
Arya menoleh ke Alana. "Ayo. Kita keluar dari sini."
Namun, saat mereka melangkah keluar, suara raungan mesin terdengar dari kejauhan.
Sebuah konvoi kendaraan militer mendekat dan mereka tidak membawa bendera sekutu.
Alana menegang. "Mereka menemukan kita?"
Arya menatap ke arah kendaraan yang mendekat, lalu meraih radio lagi.
"Delta-1, kita dalam masalah. Musuh datang dari utara. Aku butuh ekstraksi sekarang!"
Suara operator terdengar tegang. "Helikopter sedang dalam perjalanan, tapi butuh waktu lima menit untuk mencapai lokasi kalian!"
Arya menggertakkan giginya. Lima menit bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.
Ia menoleh ke Alana. "Kita harus menemukan tempat persembunyian sebelum mereka melihat kita."
Mereka berlari ke balik bukit pasir, bersembunyi di balik bebatuan besar. Dari kejauhan, mereka bisa melihat kendaraan musuh berhenti di dekat pintu keluar terowongan.
Beberapa pria bersenjata turun, mata mereka menelusuri sekeliling. Salah satu dari mereka berbicara dalam bahasa Arab, "ابحث عنهم! لا بد أنهم في مكان قريب من هنا."
Alana menatap Arya dengan cemas. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Arya menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara pelan namun tegas. "Kita bertahan. Dan kita tidak boleh tertangkap."
Anda Mungkin Juga Suka





