
CLARITTA, KAMU MILIKKU
Bab 3
Claritta mengumpat dalam hati. Dia menggoyangkan badan Aslan untuk membangunkannya. Namun hasilnya nihil. Aslan sama sekali tak berkutik sedikit pun. Jangankan terbangun, terusik pun Aslan tak. Sungguh pagi ini adalah pagi yang menjengkelkan untuk Claritta.
Claritta mengabaikan Aslan yang masih tertidur dengan pulas. Dia buru-buru melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar mandi. Isi perutnya sudah berontak untuk meminta di keluarkan dari dalam perutnya.
Claritta sedikit berlari karna hajatnya sudah berada di ujung tanduk.
Brakkkk...Claritta menutup pintu dengan kasar. Claritta dengan segera mendudukkan pantatnya di closet.
“Fiyuuhhh..” ujar Claritta.
Dia akhirnya bisa bernafas dengan lega, karna telah selesai menuntaskan hajatnya yang menyiksa perutnya tadi.
Setelah selesai Claritta mencuci muka dan menggosok gigi.
Claritta memandang wajahnya di cermin yang berada di kamar mandi. Menyentuh kulit wajahnya bergantian dari mulai kening, mata, hidung dan terakhir bibir.
“Cantik.” ucap Claritta.
Tangannya turun memegang dua buah gunung kembar miliknya.
“Besar. Kalau ukuran ini mah idaman Lelaki.” Claritta berbicara kepada dirinya sendiri.
Matanya kemudian menatap seluruh tubuhnya di cermin.
Dia mengamati semua gambar lekuk tubuhnya di pantulan cermin.
“Sempurna.”
“Emm...Apakah pria itu tidak normal hingga tidak melihat semua ini?” tanya Claritta pada dirinya sendiri.
“Mungkin dia tidak normal makanya tidak menyentuhku sedikit pun.” putus Claritta.
“Tapi mengapa dia menikahi diriku? Apa karna dia ingin menutupi penyimpangan seksual yang di deritanya dari publik?” Claritta bertanya-tanya tanpa mengetahui jawabannya.
“Aishh...sudahlah itu bukan urusanku.”
Claritta mengakhiri pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya bekerja dengan ekstra.
Claritta membuka pintu kamar mandi. Dia merasa lapar setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
Claritta memencet telepon yang berada di kamar ini. Dia menghubungi pelayan hotel ini untuk meminta mengantarkan sarapan paginya.
Claritta duduk di sofa sambil menunggu sarapan paginya. Tak sengaja mata Claritta memandang wajah Aslan yang tengah terlelap. Claritta tak dapat menyangkal ketampanan yang Aslan miliki. Wajah yang begitu sempurna bak dewa Yunani. Tak heran jika Aslan menjadi idaman semua wanita. Apalagi di tambah harta kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan yang di miliki olehnya, menambah kesempurnaan yang Aslan miliki.
Tapi sayang semua itu tak berarti jika Aslan mempunyai penyimpangan seksual.
Claritta mengasihi dirinya sendiri yang bisa berakhir menikah dengan seorang Aslan. Tapi Claritta mengambil sisi baiknya, yaitu bisa menjadi nyonya muda keluarga Andromeda. Menjadi nyonya Andromeda adalah impian semua gadis di negara ini.
Tokk...tokk....pintu kamar milik Claritta di ketuk dari luar.
Claritta segera menyudahi lamunan paginya yang entah benar atau tidak. Claritta masa bodo dengan semua ini.
Claritta segera bangkit dari posisi duduknya. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu.
Claritta membuka pintu dan tampaklah seorang pelayan yang sedang membawa troli berisi makanan.
“Sarapan paginya Nyonya.” Kata sang pelayan.
Claritta mengambil satu piring nasi goreng favoritnya dan juga segelas susu hangat sebagai minumnya.
“Terima kasih.” Ucap Claritta.
Claritta membawa makanan tersebut ke dalam kamar. Meletakkan nasi goreng dan juga susu hangat di atas meja.
Claritta melangkahkan kakinya menuju gorden, mengumpulkan kain gorden tersebut menjadi satu lalu menyibaknya secara serentak. Sinar matahari pagi langsung masuk ke dalam kamar ini.
Claritta sengaja membuka gorden lebar-lebar supaya tidur Aslan terusik.
Setelah selesai Claritta kembali melangkahkan kakinya menuju sofa. Dia duduk di sana sambil memakan sarapan paginya. Claritta mengamati Aslan yang mulai terganggu dengan cahaya matahari yang menyilaukan matanya. Claritta tersenyum dan terus memakan sarapan paginya dengan lahap.
Aslan mengumpat dalam hati karna tidurnya terganggu. Kira-kira siapa gerangan yang telah membuka jendela kamarnya di pagi ini.
Mungkin Aslan lupa atau sedang amnesia bahwa dirinya sekarang sudah menikah dan tidur satu kamar dengan istrinya.
“Bangun, dasar pemalas.” cemooh Claritta.
Samar Aslan mendengar ada suara seseorang yang sedang memaki dirinya. Aslan mencoba mendengarkan baik-baik suara itu.
“Bangun, mau sampai kapan kamu tidur terus heh.”
Aslan bertanya-tanya dalam hati. Siapakah seseorang yang sedang ada di kamarnya sepagi ini. Apakah dia adalah bidadari dari kahyangan? Tanya Aslan dalam hati.
Aslan mencoba membuka matanya perlahan-lahan. Rasa kantuk masih menggelayuti matanya. Tetapi Aslan mencoba mengusir rasa kantuk itu.
Hal pertama yang Aslan lihat adalah sosok Claritta yang sedang asyik memakan nasi goreng. Aslan diam. Dia masih berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatannya.
Dan astaga Aslan baru ingat bahwa dirinya sudah menikah dengan Claritta . Aslan juga mengingat bahwa dirinya tadi malam mengatakan tidak akan sudi tidur satu ranjang dengan Claritta. Ini malah dirinya ketiduran dan tertangkap basah ikut tidur satu ranjang dengan Claritta. Betapa malu dirinya pada Claritta. Aslan malu sungguh dirinya malu saat ini.
“Sudah bangun heh. Dasar pemalas.” ulang Claritta lagi.
“Siapa yang pemalas?” tanya Aslan mencoba berkilah.
“Ya kamulah masak setan.” jawab Claritta.
“Sepertinya tadi malam ada yang berkata nggak sudi tidur dengan diriku. Tapi kenapa tengah malam ada yang pindah dari tempat tidurnya dan memeluk diriku sampai pagi datang? Dasar tukang modus.” tukas Claritta.
Setelah berkata seperti itu Claritta menyuapkan lagi nasi goreng ke dalam mulutnya. Dia menatap tajam wajah Aslan.
Aslan diam, dia tidak membantah ucapan Claritta. Dalam hati dia merutuki kebiasaan tidurnya yang lupa waktu. Padahal tadi malam rencananya, sebelum Claritta bangun dia harus bangun lebih dulu dan pindah kembali ke sofa. Namun naas dia malah terlalu pulas dengan tidurnya. Dan bangunnya malah di dahului oleh Claritta. Dasar nasib sial.
“Kenapa diam?” tanya Claritta.
Aslan menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Aslan memandang lekat wajah Claritta. Claritta masih acuh tak acuh. Claritta masih menikmati sarapan paginya.
Aslan bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah Claritta.
“Mana sarapan untukku?” tanya Aslan.
Claritta menautkan kedua alisnya. Claritta heran dengan Aslan yang dengan tidak punya urat malu sedikitpun.
“Pesan saya sendiri. Emangnya aku pembantumu.”
“Pesankan saya makanan sepertimu. Saya mau mandi dulu.”titah Aslan.
Setelah berkata seperti itu, Aslan berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin mandi sekarang.
Claritta mencibir Aslan yang berbuat semaunya sendiri. Claritta mencabut rasa kagum di dalam hatinya terhadap Aslan. Sekarang Claritta benar-benar tidak sudi menjadi Nyonya Andromeda jika diperlakukan seperti ini.
Dengan perasaan yang jengkel Claritta tetap memesankan sarapan pagi untuk Aslan. Biar bagaimanapun juga Aslan adalah suaminya dan tugas istri adalah melayani suami. Hal itulah yang sekarang tertanam dipikiran Claritta.
Aslan keluar dari kamar mandi. Aslan merasa badannya jauh lebih segar sekarang. Aslan mengusap kepalanya dengan handuk. Mengeringkan rambutnya yang basah.
Hidung Aslan mencium bau harum nasi goreng di meja. Hati Aslan menghangat dengan ini. Tadi Aslan berpikir bahwa Claritta tidak menuruti ucapannya. Tetapi Aslan salah ternyata Claritta bisa patuh kepada dirinya.
Aslan melihat Claritta yang sedang asyik membaca majalah mode ditangannya. Aslan geleng kepala dengan penampilan Claritta yang berantakan. Walaupun penampilan Claritta berantakan tetapi Claritta tetap terlihat cantik dan seksi.
Aslan melemparkan handuk bekas rambutnya ke arah Claritta.
“Mandilah.” Titah Aslan.
Claritta kaget karna lemparan handuk dari Aslan. Claritta mengumpat kepada Aslan yang mengganggu konsentrasinya.
“Mandi atau tidak mandi itu urusanku.” teriak Claritta.
Aslan mengangkat sebelah alisnya.
“Kamu malas mandikan? Aku tak menyangka super model yang terkenal di seluruh dunia ini ternyata mempunyai hobby malas mandi.” kekeh Aslan.
“Itu bukan urusanmu.” Jawab Claritta.
Claritta mendengus. Sungguh paginya kali ini benar-benar rusak karna seorang Aslan. Claritta benar-benar merasa sial karna telah menjadi istri menyebalkan seperti Aslan.
“Sudahlah cepat mandi sana.”ucap Aslan.
“Setelah mandi bersiap-siaplah kita akan pulang hari ini juga.” Imbuh Aslan.
Belum sempat Claritta menjawab, Aslan sudah mendorong Claritta untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Anda Mungkin Juga Suka





