
Cintaku Terhenti Di Kamu
Bab 3
Antoni mendengarkan penjelasan dari Elena dengan seksama. Sesekali dia menyodorkan tisu kearah wanita itu. Sesekali dia mengelus punggung Elena menenangkan.
"Jadi, kamu ingin meminta bantuan apa kepadaku?" tanya Antoni.
"Saat nanti Putra menghubungiku, bisakah kamu katakan jika kamu adalah calon suamiku dan minta dia untuk melupakan aku, jangan biarkan dia mencariku lagi," pinta Elena.
"Apakah kamu yakin? Bukankah seharusnya kamu mempertahankan cintamu untuk Putra," sela Antoni saat mendengar ide Elena.
"Tidak segampang itu mempertahankan cinta kami. Status kami benar-benar berbeda. Bagai langit dan bumi. Aku tidak ingin dia dalam masalah hanya karena mempertahankan aku," jelas Elena.
"Tapi, bukankah kamu juga akan sama terlukanya dengan Putra?" tebak Antoni.
"Aku sudah biasa terluka, kehidupanku tidak pernah berjalan dengan mudah. Selalu banyak rasa sakit yang menghinggapi hidupku. Kurasa, rasa sakit ini akan segera berlalu seiring berjalannya waktu," jawab Elena asal.
Meski hatinya yakin, rasa sakit kali ini akan sulit dia hadapi. Elena tersenyum sumbang ke arah Antoni.
"Bisa yah bantu aku, please!" Elena berlaga sok imut dihadapan Antoni. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali membuat Antoni mendesah.
"Baiklah, tapi kamu yakinkan dia tidak tahu suaraku saat di telpon?" tanya Antoni meyakinkan.
"Aku yakin kok. Dia tidak pernah mendengar suaramu di telpon jadi aman," balas Elena.
"Ok, katakan saja kapan waktunya. Biar nanti aku bantu kamu. Jadi, kapan kamu berangkat?" tanya Antoni.
"Satu minggu lagi," jawab Elena. "Kalau begitu, aku pulang dulu. Nanti sore aku akan kembali untuk kerja!" pamit Elena.
Antoni hanya bisa menghela nafas melihat punggung Elena yang menjauh. Pria itu merasa kasian dengan kisah cinta yang dimiliki oleh Elena.
"Semoga setelah ini semua, ada kebahagiaan untukmu, Na!" ucapnya pelan.
"Elena kenapa, Pak Bos?" Pertanyaan dari seorang wanita mengagetkan Antoni.
"Alina, kebiasaan banget bikin orang kaget!" ketus Antoni.
"Ya maaf, lagian pak Bos sendiri ngapain ngeliat Elena sambil melamun," sungut Alina.
"Ya suka-suka saya dong, saya kan bos kamu disini. Ini juga cafe saya! Mau saya jungkir balik disini kek, terserah saya!" timpal Antoni tidak kalah sengit.
Antoni kadang heran, mengapa dia suka sekali ribut dengan wanita di hadapannya. Dia wanita yang cantik dengan rambut bergelombang jatuh, matanya besar dengan bulu mata lentik, hidungnya tidak bangir tapi manis. Siapapun yang melihat dia pasti menyukainya. Perangai dia pun menyenangkan, apalagi saat menyambut tamu. Keramahan wanita itu patut diacungi jempol. Karena itu pula, cafenya ramai pengunjung.
Tapi, saat berhadapan dengan dirinya. Wanita itu berubah jadi menyebalkan dan sangat mengesalkan. Mereka selalu saja bertengkar. Seperti saat ini, ada saja yang membuat mereka tidak akur.
"Terserah bos saja deh. Lebih baik aku menyambut tamu daripada berantem terus sama bos nyebelin, ih!" Alina menghentakkan kakinya sebal, berlalu dari hadapan Antoni.
"Dasar wanita aneh. Bagaimana bisa aku begitu tahan dengan kelakuannya." Harus Antoni akui, Alina sangat cekatan.
Antoni menggelengkan kepalanya saat melihat Alina yang mengerucutkan bibirnya karena masih kesal kepadanya. Namun, sejurus kemudian. Bibir wanita itu melengkung membentuk senyuman saat datang seorang pelanggan ke cafenya. Antoni kembali ke ruangannya. Dia masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
***
Putra di buat kelimpungan oleh Elena, wanita itu tidak pernah lagi mau dihubungi olehnya. Selalu saja ada alasan untuk menolak telpon darinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gerutu Putra. Berkali-kali dia mengirim chat kepada wanita itu tapi, tidak kunjung di balas.
"Mungkin dia telah menyadari. Jika kamu dan dia itu tidak mungkin untuk bersatu. Kalian bagai langit dan bumi. Sangat amat jauh berbeda!" Suara Ratna mengalihkan perhatian Putra.
"Maksud mama apa? Jangan bilang, mama yang telah membuat Elena menghindar lagi dariku!" desis Putra.
"Jangan menuduh mama seperti itu! Jika benar mama melakukannya. Itu semua karena demi kebaikanmu," sela Ratna tidak terima dengan tuduhan Putra. Meski kenyataannya memang dirinyalah penyebab Elena menjauhi putranya.
Itu sangat bagus, karena ancaman yang ia ucapkan kepada Elena di dengar baik oleh wanita itu.
"Baguslah, dia ternyata cukup tau diri dari yang aku perkirakan," ucapnya lirih.
"Mama bilang apa barusan?" tanya Putra dengan tatapan curiga.
"Mama tidak bilang apa-apa. Sudahlah, mama cape mau istirahat. Kamu juga harus istirahat supaya tubuhmu tidak terserang penyakit malam!" Ratna berlalu meninggalkan Putra yang masih duduk di gazebo. Dia tidak ingin menatap mata putranya yang sangat mengintimidasi dirinya.
Meski curiga, Putra tidak mengatakan apa-apa kepada mamanya. Dia sedang tidak ingin mendengar celotehan mamanya yang jago membela, apa yang menurutnya benar.
***
Elena sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Dengan di bantu Alina dan Antoni. Elena memasukan koper miliknya.
"Maaf ya, aku jadi merepotkan kalian berdua," ucap Elena, setelah semua barang miliknya telah masuk ke dalam bagasi mobil milik Antoni.
" Kalo ga kita yang bantuin kamu, memangnya siapa lagi," celetuk Alina.
"Kamu benar, aku hanya memiliki kalian berdua. Terima kasih!"
Belum sempat Antoni menjawab, panggilan dari ponsel milik Elena mengalihkan perhatian mereka semua.
"Dari Putra, lagi!" tebak Antoni.
"Emmm selama satu minggu ini dia terus-menerus menggangguku baik lewat sambungan telepon ataupun mendatangi rumahku. Apa hari ini, sudah waktunya aku membuat dia kecewa dan sakit hati?" ringis Elena.
Bukan hanya Putra yang sakit hati tapi, dirinya juga. Dia mencoba membohongi perasaannya dengan mengatakan yang tidak seharusnya dia ucapkan. Tapi, semua demi kebaikan semuanya.
"Kamu yakin akan melakukan itu? Aku tahu rasanya diputuskan. Itu sangat menyakitkan! Apalagi cara memutuskannya seperti ini, kamu pikir lagi ya, Na. Jangan sampai kamu menyesal!" tutur Alina.
"Aku akan menyesal jika tidak melakukannya sekarang, Lin. Hubungan kita tidak akan pernah bahagia jika ibunya selalu menghalangi kita. Aku juga sadar diri akan siapa diriku. Kita berdua bagai langit dan bumi. Tidak akan pernah bisa bersama."
Melihat Elena yang murung karena rasa yang masih wanita itu miliki untuk Putra membuat Alina sedih. Wanita itu memeluk Elena, memberikan kekuatan kepada wanita itu.
"Lakukan apa yang menurutmu baik. Berjanjilah, kamu harus kembali dengan versi terbaik dirimu," bisik Alina. Elena memeluk tubuh wanita yang telah dia anggap sebagai kakaknya.
"Terima kasih, aku janji akan kembali dengan versi terbaik diriku," balas Elena.
Antoni hanya mampu menatap kedua wanita di hadapannya dengan doa terbaik untuk Elena.
Elena mengurai pelukannya, dia menghela nafas. Lalu menyerahkan ponselnya kepada Antoni. Agar pria itu mengangkat panggilan dari Putra. Ponselnya berdering tiada henti, membuat Elena kebingungan mencari alasan.
Antoni mengambil ponsel di tangan Elena. Dia menghela nafas sebelum mengangkat panggilan dari Putra. Antoni menggeser tombol berwarna hijau lalu mendekatkan ponsel di telinganya.
"Assalamualaikum," sapa Antoni. Suara berat pria itu terdengar tegas.
Anda Mungkin Juga Suka





