
Cinta Yang Tak Pernah Padam
Bab 2
Sudah tiga hari sejak percakapan malam itu.
Tiga hari sejak Nayara tahu siapa Liora, perempuan yang masih menghantui masa lalu Ravian. Sejak saat itu, rumah mereka terasa berbeda. Tidak lagi sebeku dulu, tapi juga belum bisa disebut hangat.
Setiap langkah Nayara di rumah itu seperti berjalan di atas kaca. Ia berhati-hati agar tidak menggores luka yang belum sembuh-baik miliknya maupun milik Ravian.
Pagi itu, ia duduk di ruang makan sambil menatap secangkir teh yang sudah hampir dingin. Pagi tampak tenang, tapi hati Nayara tidak. Sejak tahu kebenaran, tidur malamnya selalu dipenuhi mimpi-bayangan tentang perempuan yang bahkan tak pernah ia temui.
"Liora..." gumamnya pelan, seolah memanggil nama itu bisa menjelaskan semuanya.
"Pagi."
Suara Ravian memecah lamunan. Pria itu berdiri di depan meja, mengenakan kemeja putih dan dasi yang belum sempat diikat. Rambutnya masih sedikit basah, dan aroma sabun dari tubuhnya mengisi udara di ruangan itu.
Nayara buru-buru menegakkan punggungnya. "Pagi juga."
Ravian menatap teh di hadapan Nayara. "Kamu belum sarapan?"
"Belum," jawabnya pelan. "Aku nggak terlalu lapar."
Ravian duduk di seberangnya, diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Tentang malam itu... aku tahu itu tidak mudah buatmu."
Nayara menatapnya sekilas, lalu kembali menunduk. "Aku cuma butuh waktu. Aku nggak menyalahkanmu, Ravian. Tapi jujur, aku belum tahu bagaimana harus bersikap setelah semua yang aku dengar."
Ravian mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Ravian melirik jam tangannya, lalu berdiri. "Aku harus ke kantor. Ada tamu penting hari ini."
"Baik," sahut Nayara pendek.
Tapi sebelum beranjak, Ravian sempat berhenti di dekatnya. "Aku... berterima kasih karena kamu masih di sini."
Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Nayara terasa sesak. Begitu Ravian pergi, ia menyandarkan kepalanya di meja. Air mata yang sudah ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.
Siang harinya, Nayara pergi ke galeri. Ia butuh udara baru, sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari semua kekacauan yang tak pernah selesai.
Reva menyambutnya dengan pelukan hangat. "Aku tahu kamu bakal datang hari ini. Mukamu kelihatan... lebih tenang sedikit."
Nayara tersenyum samar. "Aku berusaha."
"Berusaha buat apa?"
"Buat nggak menyerah."
Reva menatapnya lama, lalu menghela napas. "Kamu itu terlalu baik, Nay. Kadang aku pengin kamu marah, berontak, nunjukin kalau kamu juga bisa sakit hati."
Nayara menatap dinding penuh lukisan di depannya. "Aku marah, Rev. Tapi aku capek marah. Aku cuma pengin ngerti kenapa semuanya harus serumit ini."
Reva menepuk pundaknya lembut. "Kamu tahu kan, aku selalu ada kalau kamu butuh tempat buat nangis."
Nayara mengangguk, menatap sahabatnya dengan mata yang berair. "Terima kasih, Rev. Aku beruntung punya kamu."
Sore menjelang ketika Nayara berjalan keluar dari galeri. Angin dingin menerpa wajahnya, membuatnya menarik syal lebih rapat. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri di depan mobilnya-seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang dan wajah tegas.
"Nayara Maheswara?" tanyanya dengan nada yakin.
Nayara mengerutkan dahi. "Ya, saya. Maaf, kita saling kenal?"
Wanita itu tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya ramah. "Belum. Tapi aku kenal suamimu."
Detak jantung Nayara langsung berpacu. "Maaf, siapa kamu?"
"Namaku Larissa," jawabnya. "Aku... sepupu Liora."
Nama itu seketika membuat dada Nayara menegang. Ia terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Apa yang kamu mau?"
Larissa mendekat selangkah. "Aku cuma ingin bicara. Tentang Ravian. Tentang apa yang sebenarnya terjadi malam Liora meninggal."
Nayara menelan ludah, menatap wanita itu dalam-dalam. "Maksudmu?"
Larissa tersenyum miring. "Apa suamimu pernah cerita padamu kalau kecelakaan itu... bukan sekadar kecelakaan?"
Setelah Larissa pergi, kepala Nayara terasa berputar. Ia memegang kemudi mobil tapi belum menyalakannya. Kata-kata Larissa terus terngiang di kepalanya.
"Kalau kau pikir Liora mati karena nasib, kamu salah. Ada hal yang Ravian sembunyikan."
Sesampainya di rumah, Nayara berjalan cepat ke ruang kerja Ravian. Ia membuka laci, melihat lagi foto Liora yang dulu ia temukan. Kali ini ia memperhatikan lebih teliti. Di ujung kanan bawah foto itu ada tanda kecil-seperti noda darah yang nyaris tak terlihat.
Tangannya bergetar. Ia meletakkan foto itu kembali dan bersandar di kursi.
"Apakah semua ini cuma kebetulan?" bisiknya.
Pintu ruang kerja terbuka. Ravian muncul, sedikit terkejut melihat Nayara di sana. "Kamu ngapain di sini?"
"Aku cuma... beresin meja kamu," jawab Nayara cepat.
Ravian mengangguk, lalu berjalan ke mejanya. "Aku dengar kamu ke galeri hari ini."
"Iya." Nayara menatapnya ragu. "Ravian, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Kecelakaan yang menewaskan Liora..." Nayara berhenti sejenak, mencoba mengatur napas. "Kamu yakin itu benar-benar kecelakaan?"
Ravian terdiam. Matanya berubah dingin lagi, seperti menutup pintu yang tadi sempat terbuka. "Kenapa kamu nanya begitu?"
"Ada seseorang datang menemuiku. Namanya Larissa. Katanya dia sepupu Liora."
Ravian menatap Nayara tajam. "Dia mendatangimu?"
"Ya. Dia bilang ada hal yang kamu sembunyikan tentang malam itu."
Ravian mendadak memukul meja. "Dia berbohong!"
Nayara terlonjak. "Ravian-"
Pria itu berdiri, napasnya berat. "Aku nggak mau kamu percaya omongan orang asing. Larissa itu gila. Dia udah lama nyalahin aku atas kematian Liora. Dia butuh kambing hitam, dan kebetulan orang itu aku."
"Tapi kenapa dia sampai datang menemuiku?"
"Karena dia tahu aku nggak akan mau menemuinya. Jadi dia datang lewat kamu."
Nayara menatapnya lama. "Tapi Ravian, kamu bisa aja bilang kayak gitu buat lindungin dirimu sendiri."
Tatapan Ravian berubah tajam, tapi ada luka di sana. "Kamu pikir aku bohong?"
"Aku cuma pengin tahu kebenaran."
Ravian menarik napas panjang, lalu berjalan ke jendela. "Liora dan aku bertengkar malam itu. Aku marah karena dia bilang ingin pergi ke luar negeri. Aku menyetir terlalu cepat. Mobil tergelincir di tikungan. Aku kehilangan kendali." Ia berhenti sebentar, suaranya bergetar. "Aku nggak sempat nyelamatin dia."
Nayara menatapnya, mencoba menemukan kejujuran dalam setiap kata. "Jadi itu aja?"
"Itu aja," jawab Ravian mantap. "Kalau Larissa bilang lain, itu karena dia nggak bisa terima kenyataan."
Nayara mengangguk perlahan, tapi hatinya belum tenang.
Malam itu, setelah Ravian tidur, Nayara duduk sendirian di ruang tamu. Lampu redup membuat bayangan di dinding tampak panjang. Ia membuka ponselnya dan mencari nama Larissa di media sosial. Butuh waktu lama, tapi akhirnya ia menemukannya.
Larissa baru saja mengunggah sebuah foto lama-foto Ravian dan Liora di rumah sakit, tampaknya diambil sebelum kecelakaan. Di caption-nya tertulis:
"Kebenaran akan selalu mencari jalannya."
Dada Nayara terasa sesak. Ia menatap layar itu lama, lalu mengetik pesan:
"Larissa, aku mau tahu semuanya. Tolong temui aku besok."
Keesokan harinya, Nayara menemui Larissa di sebuah kafe di Sudirman. Wanita itu sudah menunggunya, mengenakan blazer hitam dan menatap tajam begitu Nayara datang.
"Kamu datang juga," kata Larissa, suaranya tenang tapi menusuk.
"Aku butuh penjelasan."
Larissa mencondongkan tubuh. "Kamu tahu kenapa aku nggak pernah percaya Ravian? Karena malam sebelum kecelakaan, aku dihubungi Liora. Dia nangis, bilang Ravian marah besar setelah tahu dia hamil."
Nayara terkejut. "Hamil?"
Larissa mengangguk. "Ya. Dan dia bilang Ravian menolak tanggung jawab. Liora pergi dari rumah Ravian malam itu, tapi Ravian mengejarnya. Beberapa jam kemudian, aku dapat kabar mobil mereka kecelakaan."
"Ravian nggak pernah cerita apa-apa soal itu," bisik Nayara, wajahnya pucat.
"Tentu saja tidak. Karena kalau dia mengakui, semua orang akan tahu dia bukan korban, tapi penyebab."
Nayara memejamkan mata, mencoba menahan gemetar di tangannya. "Kamu punya bukti?"
Larissa mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, meletakkannya di meja. "Ini hasil pemeriksaan rumah sakit. Nama Liora tercatat sebagai pasien dengan usia kehamilan dua bulan."
Nayara membuka amplop itu dengan tangan bergetar. Di dalamnya memang ada salinan hasil medis. Semua tertulis jelas-tanggal, nama dokter, bahkan hasil USG kecil di sudut kertas.
"Kenapa kamu kasih ini ke aku?" tanya Nayara dengan suara bergetar.
"Karena kamu harus tahu siapa sebenarnya orang yang kamu sebut suami." Larissa berdiri. "Kamu mungkin wanita baik, Nayara. Tapi berhati-hatilah mencintai seseorang yang belum selesai berdamai dengan dosanya sendiri."
Setelah Larissa pergi, Nayara duduk membisu. Dunia seolah berputar terlalu cepat. Antara percaya dan tidak, antara cinta dan kebenaran yang menghantam keras.
Malam itu, Nayara kembali ke rumah. Ravian sedang di ruang kerja, menatap layar laptop. Nayara berdiri di ambang pintu, memandangi punggung pria itu yang tampak tegar-tapi mungkin menyimpan seribu rahasia.
"Ravian," panggil Nayara pelan.
Pria itu menoleh. "Hm?"
"Aku ketemu Larissa hari ini."
Ravian langsung berdiri, wajahnya berubah pucat. "Kamu apa?"
"Aku butuh tahu, Ravian. Benarkah Liora... hamil waktu itu?"
Hening. Suasana mendadak begitu berat hingga Nayara bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Ravian menatapnya, matanya gelap. "Siapa yang bilang?"
"Larissa. Dan aku punya buktinya." Nayara menunjukkan amplop itu.
Ravian memandang kertas itu lama. Lalu perlahan, ia menunduk. "Ya."
Kata itu jatuh pelan, tapi berat.
Nayara tertegun. "Jadi benar?"
Ravian menatapnya, matanya basah. "Aku nggak tahu sampai dia meninggal. Setelah kecelakaan, dokter yang bilang padaku. Aku nggak siap, Nayara. Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku kehilangan semuanya dalam satu malam."
Air mata Nayara jatuh. "Dan kamu menikahiku karena rasa bersalah itu?"
Ravian menutup wajahnya dengan tangan. "Awalnya, mungkin iya. Tapi lama-lama... aku mulai takut kehilanganmu juga."
Nayara menatapnya dengan mata penuh luka. "Aku nggak tahu mana yang lebih menyakitkan, Ravian. Dicintai karena rasa bersalah, atau dicintai karena pengganti seseorang yang sudah tiada."
Ravian mendekat, tapi Nayara mundur selangkah.
"Jangan sentuh aku dulu," katanya pelan. "Aku butuh waktu buat mencerna semuanya."
Ravian hanya menatapnya, tak mencoba memaksa. "Baik. Tapi tolong jangan pergi. Aku akan ceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. Aku janji."
Nayara memejamkan mata, menahan tangis. "Kalau kamu benar-benar jujur, Ravian, ini satu-satunya kesempatanmu."
Malam itu, mereka sama-sama terdiam.
Hujan kembali turun di luar-deras, tanpa henti, seperti langit ikut menangisi rahasia yang akhirnya terungkap.
Nayara duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar sendiri meski seseorang ada di dekatnya.
Cinta, kebenaran, dan masa lalu Ravian kini bercampur menjadi satu, membentuk badai yang siap mengguncang hidup mereka berdua.
Dan di tengah badai itu, Nayara tahu-pilihan apa pun yang ia ambil setelah ini, tidak akan mudah.
Anda Mungkin Juga Suka





