
Cinta Untuk Nadia
Bab 2
BAB 2 : Kembali Bertemu
***
Sudah sekitar dua jam lamanya kutempuh perjalanan. Jalan yang sekarang kulalui adalah jalan masuk ke desa di mana aku tinggal. Desa sederhana yang udaranya terbilang masih bersih. Karena belum banyak kendaraan yang beroperasi di sini.
Mobil angkutan berhenti tepat di depan gang yang menuju ke rumahku. Beberapa meter berjalan kaki, dapat kulihat sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu. Di sekelilingnya tertanam berbagai tanaman sayur-mayur yang biasanya ibu masak, atau kadang dijual kalau memang hasilnya banyak.
Kuketuk pintu kayu bercat warna cokelat itu. Pintu yang gagangnya sudah usang karena termakan waktu. Aku ingat kapan pertama kali ayah membangun rumah ini. Sekitar tujuh belas tahun lalu. Waktu itu, aku baru berusia sekitar delapan tahun.
"Assalamu'alaikum." Sudah tiga kali aku mengucap salam, tetapi pintu rumah tak kunjung dibuka juga. Sebenarnya ibu dan yang lain pada ke mana?
Tak lama kemudian, terdengar suara dari arah belakangku. "Wa'alaikumsalam."
Rupanya Ibu. Beliau membawa sesuatu dalam karungnya. Aku yakin, itu adalah hasil dari berkebun. Bisa kulihat dari pakaiannya yang sudah kotor, dengan tanah yang menempel di mana-mana.
Buru-buru aku mencium tangannya, kemudian mengambil alih karung yang tadi dipegang olehnya. Lumayan berat. Kuintip isinya, ternyata singkong. Asyik juga. Sudah lama aku tidak makan singkong bakar, alhamdulillah. Semoga nanti aku bisa mencicipinya.
***
"Dari sana jam berapa, Nak?" tanya ibu, saat kami sudah duduk di ruang makan.
Selama perjalanan tadi, aku memang menahan lapar. Alhasil, sekarang aku begitu lahap dalam menyantap masakan ibu. Selain karena lapar, aku memang merindukan masakannya juga. Sudah sebulan lebih aku tak merasakan nikmatnya.
"Sekitar jam sembilan, Bu," jawabku kemudian.
"Oh ... ya sudah, kamu istirahat dulu, ya. Ayah masih tidur di kamar, batuknya belum juga sembuh," ujar Ibu.
"Kasihan, Ayah. Mungkin beliau sudah terlalu lelah, Bu. Setiap hari bekerja dengan keras demi kami. Seharusnya aku yang menggantikan beliau bekerja, tapi malah minta mondok." Aku menunduk lesu.
"Jangan berkata seperti itu, Nak! Kami malah bangga karena kau dengan senang hati minta untuk dipondokkan. Dari awal memang cita-cita kami ingin memondokkanmu, Nak, karena kamu satu-satunya anak laki-laki dari keluarga ini. Bagaiman pun juga, tanggungjawabmu pada keluarga lebih besar dari yang lain," terang Ibu, aku hanya mendengarkan dengan saksama.
Setelah selesai makan, aku segera menemui Ayah. Beliau tengah terbaring di atas kasur. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu. Aku ingin mendekat, tapi takut membangunkannya. Akhirnya hanya berdiri di ambang pintu.
Ah, Ayah. Semoga kau segera sembuh. Aamiin.
***
Sudah dua minggu aku di rumah. Alhamdulillah, semua pekerjaan di sawah dan ladang milik Ayah sudah selesai. Ini saatnya aku kembali ke pondok.
Sejak subuh tadi, aku sudah bersiap-siap. Sudah pamit pada Ayah dan Ibu. Alhamdulillah juga, keadaan Ayah sudah membaik. Jadi, aku tidak terlalu khawatir meninggalkan mereka.
"Ayah, Ibu. Azis pamit berangkat dulu, ya, jaga kesehatan kalian. Assalamu'alaikum," pamitku, kemudian mencium tangan keduanya bergantian.
"Wa'alaikumsalam. Kamu juga jaga kesehatan, ya, Nak. Turuti perintah gurumu, insyaallah akan menjadi berkah untukmu." Ayah merengkuh tubuhku.
Tak terasa, sebutir kristal mendesak keluar dari sudut mata, kemudian meluncur dengan mulusnya melewati pipiku. Ah, kenapa aku jadi secengeng ini?
Bisa kulihat kedua orang terkasihku juga melakukan hal yang sama. Kemudian seulas senyum terpancar di bibir keduanya.
"Pergilah. Doa kami selalu menyertaimu," ujar keduanya. Aku mengangguk, kemudian segera melangkah menjauhi mereka.
"Mau ke mana, Mas?" tanya sopir angkudes yang berhenti di depanku.
"Ke Pesantren Al-Falaq, Pak. Bisa antar sampai sana?" jawabku, sekalian bertanya apakah bisa langsung ke tempat tujuan.
"Wah, nggak bisa, Mas, paling cuma sampai terminal. Dari sana Mas bisa naik bus untuk sampai ke pusat desa. Baru setelah itu naik angkudes lagi untuk sampai ke gang masuk pesantren," terang sopir angkudes itu.
Sebenarnya aku sudah tahu, bahkan sudah sering kulakukan. Hanya saja, kali ini aku ingin bertanya. Siapa tahu dia bisa mengantarku langsung ke tempat tujuan, jadi bisa hemat ongkos.
"Oh, begitu ya, Pak. Ya sudah, nggak papa." Kemudian aku segera menaiki angkudes itu.
***
"Assalamu'alaikum, Akhi. Bisa tolong bantu saya?" Sebuah suara menyapa, saat aku baru saja tiba di depan pintu masuk pesantren.
Aku menoleh. Terlihat wajahnya, gadis lugu yang selama dua minggu ini menghiasi pikiranku. Selalu hadir dalam setiap doaku. Dia ... Nadia.
"Wa'alaikumsalam. Bantu apa, Dik?" Ah, kenapa juga sapaan itu yang keluar dari mulutku?
Bukankah memanggil dengan sapaan 'Dik' itu kalau sudah kenal lama, ya, atau sudah mengenal dengan dekat? Ah, biar saja. Toh, sapaan 'Dik' bisa saja berlaku pada orang yang umurnya lebih muda dari kami. Aku lihat, dia memang seumuran dengan adikku.
Dia sedikit mengulum senyum, kemudian menunduk. "Tolong bawakan ini, Mas. Saya mau bawa yang itu," jawabnya, menunjuk sebuah kardus yang harus kubawa dan juga kardus yang lainnya.
Ah, rupanya dia mudah paham, ya. Terbukti dengan sapaannya padaku yang langsung berganti menjadi ... mas. Masya Allah, apakah ini suatu pertanda kalau kami memang ... berjodoh?
"Ah, iya, baiklah."
Aku langsung memengambil sebuah kardus yang dia tunjukkan, begitu juga dengan dia yang langsung membawa kardus lainnya. Entah apa isinya kardus ini, lumayan berat juga. Kulihat, dia juga agak kesusahan membawanya.
"Sini, biar aku saja yang bawa semuanya," ucapku, kemudian meraih tali pengikat kardus di tangannya.
"Tapi, Mas, ini berat," katanya.
"Tidak apa-apa, aku sudah biasa membawa barang-barang seperti ini," ucapku, kemudian melangkah mendahuluinya. Kedua tangan membawa kardus yang sudah diikat dengan tali rafia.
"Oh iya, Dik. Kok, sendirian bawa barang yang berat seperti ini?" tanyaku, sedikit menoleh ke belakang untuk melihatnya.
"Iya, Mas. Tadi aku diantar angkudes, tapi cuma bisa sampai sini. Tadinya aku mau panggil Paman Abdullah, atau siapa saja santri yang berada di dalam untuk membantu membawa ini, tapi ternyata ketemu sama Mas di sini. Jadi, aku minta tolong saja," jawabnya ramah.
Lembut sekali suaranya, terdengar begitu ceria.
"Oh ... begitu, ya," kataku, sebelum akhirnya memasuki gerbang pesantren.
"Maaf, ya, sudah merepotkan." Ada rasa tidak enak dalam suaranya.
"Tidak apa-apa, Dik. Oh, iya, ini mau ditaruh di mana?" tanyaku kemudian, kami sudah memasuki pekarangan rumah Abah Yai.
"Sebentar, ya, biar saya panggilkan Paman dulu." Dia langsung menuju rumah Abah Yai.
Aku mengekor di belakangnya dan berhenti di depan pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka kembali. Muncul sosok Abah Yai di sana.
"Loh, Azis? Kamu sudah kembali?" sapa beliau.
Kuletakkan dua kardus itu di lantai teras, kemudian menyambut tangannya.
"Alhamdulillah sudah, Bah, barusan," ucapku sembari menyalaminya.
"Itu, Paman, titipan dari Ummi sama Abah," ujar Nadia dari balik punggung Abah Yai, tangannya menunjuk kardus yang tadi kubawa.
"Loh, Nadia. Kok, bisa Nak Azis yang membawakan?" tanya Abah Yai dengan heran.
Sebelum Nadia menjawabnya, aku menjawab lebih dulu. "Ehm, iya, Bah. Tadi nggak sengaja ketemu di depan. Terus, Dik Nadia minta tolong sama saya untuk membantunya membawa kardus ini," terangku.
Abah Yai mengulum senyum. "Oh ... begitu." Kemudian menepuk pundakku dengan pelan. "Usaha yang bagus, Nak. Semoga berhasil!" bisiknya kemudian.
Haahh? Apa maksudnya?
***EA***
Anda Mungkin Juga Suka





