
Cinta Terlarang & Rahasia
Bab 2
Karina memandang ke luar jendela apartemennya, memandangi langit Jakarta yang mulai memerah saat senja menjelang. Hatinya terasa berat setelah pertemuannya dengan Siska kemarin. Sahabat yang dulu menjadi tempatnya berbagi segalanya kini berubah menjadi sosok yang dingin dan penuh kebencian.
"Ma, aku mau es krim," suara Renzo memecah lamunannya.
Karina menoleh ke arah anaknya yang berdiri dengan senyum manis di wajahnya. Tidak peduli seberapa berat pikirannya, melihat senyum Renzo selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik.
"Oke, kita beli di taman aja ya? Mama juga butuh udara segar," jawab Karina sambil mengacak rambut anaknya dengan lembut.
---
Di Taman
Karina dan Renzo duduk di bangku taman sambil menikmati es krim mereka. Renzo sibuk bermain dengan mainannya, sementara Karina memandang sekeliling, menikmati momen tenang ini. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika ia melihat sosok yang sangat familiar berjalan melewati taman.
Itu Evan.
Karina membeku di tempatnya. Pria itu tampak tidak banyak berubah. Sosok tinggi dengan wajah tegas yang selalu ia rindukan, namun juga ingin ia lupakan. Bersamanya, seorang wanita cantik yang Karina tahu adalah Rhea, istri Evan.
Evan tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Rhea, tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Matanya menangkap sosok Karina yang duduk di bangku taman. Wajahnya berubah.
"Karina?" Evan berkata pelan, hampir tidak percaya.
Rhea mengikuti arah pandangan Evan. "Siapa, Evan?" tanyanya, lalu matanya juga tertuju pada Karina.
Karina berusaha tetap tenang, meski hatinya berdegup kencang. "Evan," gumamnya hampir tidak terdengar.
Evan menghampiri Karina dengan langkah cepat. "Apa ini benar kau? Sudah berapa tahun..." Ia terdiam sejenak, lalu matanya tertuju pada Renzo yang sedang bermain di dekat kaki Karina. Wajahnya seketika berubah.
"Ini... anakmu?" Evan bertanya dengan suara bergetar.
Karina mengangguk pelan. "Namanya Renzo."
Evan menatap Renzo dengan ekspresi campur aduk-antara terkejut, bingung, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa Karina baca.
"Evan, apa yang terjadi? Siapa dia?" suara Rhea memecah ketegangan. Ia berjalan mendekat, memandang Karina dengan tatapan curiga.
"Dia..." Evan terlihat ragu, lalu menarik napas panjang. "Ini Karina, teman lama."
Rhea mengulurkan tangan, meski wajahnya tetap dingin. "Saya Rhea, istri Evan. Senang bertemu dengan Anda."
Karina menerima uluran tangan itu dengan gugup. "Karina," jawabnya singkat.
Rhea memandang Renzo, lalu tersenyum kecil. "Anak yang lucu. Kau pasti seorang ibu yang hebat."
Karina hanya tersenyum samar tanpa menjawab. Hatinya terasa sesak berada di tengah situasi ini.
---
Setelah Pertemuan Itu
Malam itu, Karina tidak bisa tidur. Bayangan wajah Evan yang melihat Renzo terus terngiang di pikirannya. Ia tahu cepat atau lambat, Evan akan mencari tahu kebenarannya.
Tepat pukul sebelas malam, ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Dengan ragu, Karina menjawab.
"Halo?"
"Karina, ini aku." Suara Evan terdengar di ujung sana.
Karina terdiam sejenak. "Kenapa kau meneleponku, Evan?"
"Kita perlu bicara. Aku perlu tahu... apakah Renzo adalah..." Evan tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi Karina tahu apa yang ingin ia tanyakan.
"Evan, aku tidak ingin membahas ini. Tolong jangan menghubungiku lagi." Karina hendak memutus panggilan, tetapi suara Evan menahannya.
"Karina, aku mohon. Jika Renzo memang anakku, aku berhak tahu," desak Evan dengan suara penuh emosi.
Karina menghela napas panjang, lalu menjawab dengan suara pelan, "Besok sore. Kita bisa bertemu di kafe dekat taman."
Evan terdiam sejenak, lalu berkata, "Baik. Aku akan ada di sana."
Karina menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia tahu pertemuan besok tidak akan mudah.
---
Keesokan Harinya di Kafe
Karina tiba lebih awal. Ia duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang tidak ia sentuh. Jantungnya berdebar kencang ketika ia melihat Evan masuk ke dalam kafe. Pria itu langsung menghampirinya.
"Terima kasih sudah mau bertemu denganku," kata Evan sambil duduk di hadapan Karina.
"Aku tidak punya banyak waktu, Evan. Apa yang ingin kau tanyakan?" Karina mencoba terdengar tegas meski hatinya goyah.
Evan menatap Karina dalam-dalam. "Renzo... dia anakku, bukan?"
Karina menggenggam cangkir kopinya erat. Ia tahu ini adalah saat yang paling sulit dalam hidupnya. Dengan suara pelan, ia akhirnya menjawab, "Iya, Evan. Renzo adalah anakmu."
Wajah Evan berubah. Ia menunduk, menyembunyikan emosinya yang jelas terpancar. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Aku punya hak untuk tahu, Karina."
"Aku pergi karena aku tidak ingin menghancurkan hidupmu lebih jauh, Evan. Aku tahu posisiku. Aku tidak ingin Renzo tumbuh dalam bayang-bayang kesalahan kita," jawab Karina dengan suara gemetar.
Evan menghela napas panjang, lalu menatap Karina. "Aku ingin bertemu Renzo. Aku ingin menjadi bagian dari hidupnya."
"Tidak semudah itu, Evan. Kau punya keluarga. Aku tidak ingin Renzo menjadi alasan keluargamu hancur," balas Karina dengan tegas.
Evan terdiam. Ia tahu Karina benar, tetapi hatinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan lima tahun bersama anaknya.
Pertemuan itu berakhir tanpa solusi. Karina meninggalkan kafe dengan perasaan yang lebih berat dari sebelumnya, sementara Evan hanya bisa duduk diam, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru ia terima.
Anda Mungkin Juga Suka





