Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta tak terduga dari pembantu menjadi menantu

Cinta tak terduga dari pembantu menjadi menantu

Sari merupakan asisten rumah tangga yang penuh dedikasi di kediaman keluarga Hartanto. Selama bertahun-tahun ia mengabdi tanpa pernah menduga bahwa nasibnya akan berubah drastis. Segalanya mulai bergejolak saat Rendra, putra sulung keluarga tersebut, pulang dari perantauan di luar negeri. Kehadiran Sari yang tulus ternyata menyentuh hati Rendra, hingga ia menyadari betapa berartinya wanita itu. Sebuah romansa tak terduga pun mulai tumbuh di antara mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah pertemuan dengan Runi dan Pak Hartanto, Rendra dan Sari merasa sedikit lega karena mereka mendapatkan kesempatan untuk membuktikan diri. Namun, tantangan nyata baru saja dimulai. Runi, meskipun memberikan kesempatan, tidak menunjukkan tanda-tanda menerima Sari sepenuhnya. Keluarga Hartanto mulai mempengaruhi suasana di rumah, dan ketegangan antara Sari dan anggota keluarga semakin meningkat.

Pagi yang Memanas

Pagi di rumah Hartanto dimulai dengan suasana tegang. Runi duduk di ruang makan sambil memeriksa dokumen penting. Pak Hartanto, yang baru saja selesai sarapan, duduk di sebelahnya, memandangi istrinya dengan khawatir.

"Runi, kamu tampaknya sangat serius pagi ini. Ada apa?" tanya Pak Hartanto, mencoba membuka percakapan.

Runi menghela napas berat dan meletakkan dokumen di meja. "Aku hanya berpikir tentang Sari. Aku tidak bisa membohongi diri sendiri, aku masih merasa tidak nyaman dengan hubungan ini."

Pak Hartanto menatap istrinya dengan prihatin. "Aku mengerti perasaanmu, tapi kita harus memberi kesempatan pada Rendra dan Sari. Aku sudah memikirkan ini dan merasa bahwa mereka pantas mendapatkan peluang."

Runi mengerutkan dahi. "Tapi apa kita harus mengabaikan semua pertimbangan sosial dan status hanya karena mereka saling mencintai? Kita harus menjaga reputasi keluarga."

Pak Hartanto menatap istrinya dengan penuh pengertian. "Runi, aku tahu ini sulit, tapi kita tidak bisa terus-menerus menutup mata terhadap perasaan anak kita. Rendra sudah membuat keputusan, dan kita harus menghormatinya."

**Konfrontasi di Dapur**

Sementara itu, di dapur, Sari tengah bekerja dengan cepat, menyiapkan sarapan untuk keluarga. Ketika dia mengeluarkan nampan dari oven, terdengar suara langkah kaki mendekat. Nella, seorang wanita tua yang juga bekerja di rumah tersebut, datang menghampiri.

"Nella, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sari dengan ramah.

Nella memandang Sari dengan tatapan sinis. "Sari, aku ingin memberitahumu bahwa kamu harus berhati-hati. Beberapa orang di rumah ini tidak senang dengan kehadiranmu."

Sari menatap Nella dengan bingung. "Apa maksudmu?"

Nella mendekat dan berbisik, "Kamu tahu betul bahwa tidak semua orang menerima hubunganmu dengan Rendra. Ada beberapa yang merasa tidak nyaman, terutama Ibu Rendi. Kamu harus lebih berhati-hati."

Sari mengangguk, merasa khawatir dengan situasi yang ada. "Terima kasih atas peringatannya, Nella. Aku akan berusaha lebih hati-hati."

**Pertemuan di Ruang Kerja**

Beberapa hari kemudian, Runi mengundang Sari untuk berbicara di ruang kerjanya. Suasana di ruang kerja terasa tegang saat Runi duduk di belakang meja, sementara Sari berdiri di hadapan Runi dengan hati-hati.

"Selamat pagi, Bu Runi," sapa Sari dengan lembut, mencoba menunjukkan rasa hormatnya.

Runi menatap Sari dengan serius. "Pagi, Sari. Aku ingin kita berbicara tentang posisi kamu di rumah ini dan apa yang diharapkan darimu."

Sari merasa sedikit tegang dan mencoba untuk tetap tenang. "Tentu, Bu Runi. Apa yang ingin Ibu bicarakan?"

Runi menarik napas dalam-dalam. "Aku tahu kamu berusaha keras untuk menyesuaikan diri, tetapi ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. Kami ingin memastikan bahwa kamu tahu tempatmu di rumah ini."

Sari mengangguk. "Saya mengerti, Bu Runi. Saya akan melakukan yang terbaik untuk menyesuaikan diri."

Runi melanjutkan dengan nada yang lebih tajam. "Kami juga ingin memastikan bahwa kamu tidak mengganggu hubungan keluarga kami. Aku berharap kamu bisa menjaga jarak dan tidak terlalu terlibat dalam urusan kami."

Sari merasa hatinya hancur mendengar kata-kata itu, tetapi dia berusaha untuk tetap sopan. "Tentu, Bu Runi. Saya akan menghormati batasan yang ada."

**Ketegangan di Meja Makan**

Ketegangan semakin meningkat saat makan malam di rumah Hartanto. Runi dan Pak Hartanto duduk di meja makan dengan ekspresi serius, sementara Rendra dan Sari duduk di ujung meja, mencoba untuk menjaga suasana tetap tenang.

Runi memulai percakapan dengan nada yang tegas. "Rendi, aku ingin kamu tahu bahwa kita harus memastikan bahwa semua orang di rumah ini merasa nyaman. Kamu harus memastikan bahwa Sari tidak menimbulkan masalah."

Rendra mencoba menenangkan suasana. "Ibu, kami sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Sari hanya ingin menjadi bagian dari keluarga ini."

Sari menundukkan kepala, merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam dari Runi. "Saya hanya ingin membuat semuanya lebih baik dan melakukan yang terbaik."

Pak Hartanto mencoba menengahi. "Runi, mungkin kita bisa memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka bisa mengatasi tantangan ini. Kita tidak bisa terus-menerus berada dalam ketegangan seperti ini."

Runi mengerutkan dahi, tetapi akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi jika ada masalah, kita akan membicarakannya lagi."

**Kesempatan Terakhir**

Beberapa minggu kemudian, Runi meminta Sari untuk datang ke ruang kerjanya sekali lagi. Kali ini, suasananya terasa lebih menegangkan karena Runi tampaknya lebih serius dari biasanya.

"Sari, aku ingin berbicara tentang situasi kita sekarang," kata Runi dengan nada dingin.

Sari merasa cemas, tetapi dia tetap berdiri tegak. "Tentu, Bu Runi. Apa yang ingin Ibu bicarakan?"

Runi melanjutkan dengan nada yang tegas. "Kami memberi kamu kesempatan, tetapi ada beberapa masalah yang harus diselesaikan. Kamu harus lebih berhati-hati dan menjaga batasan. Kami tidak ingin ada ketidaknyamanan di keluarga ini."

Sari mengangguk, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit hatinya. "Saya mengerti, Bu Runi. Saya akan berusaha lebih keras untuk menyesuaikan diri dan menghormati batasan yang ada."

Runi melihat Sari dengan tatapan dingin. "Bagus. Aku berharap kamu bisa memahami betapa pentingnya ini bagi kami."

**Malam yang Sulit**

Malam itu, setelah percakapan yang sulit dengan Runi, Sari duduk sendirian di kamar tidurnya, merasa sangat tertekan. Rendra datang ke kamarnya dan menemukan Sari sedang duduk di tepi tempat tidur dengan mata merah.

"Sari, ada apa? Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Rendra dengan khawatir.

Sari mengangkat kepala dan menatap Rendra dengan penuh rasa sakit. "Rendi, aku merasa sangat tertekan. Aku sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi Ibu Runi tampaknya masih tidak menerima aku."

Rendra duduk di samping Sari dan menggenggam tangannya. "Sari, aku tahu ini sulit. Aku akan terus berjuang untuk kita. Kita akan menghadapi semua ini bersama."

Sari menatap Rendra dengan penuh rasa terima kasih. "Aku percaya padamu, Rendi. Aku hanya berharap kita bisa melewati semua ini."

Rendra memeluk Sari dengan lembut. "Kita akan melewati ini. Aku berjanji akan selalu ada untukmu."

**Percakapan Malam**

Di ruang kerja, Runi dan Pak Hartanto duduk di meja kerja, mendiskusikan situasi yang terjadi. Runi tampak frustasi, sementara Pak Hartanto mencoba memberikan dukungan.

"Runi, aku tahu ini sulit, tetapi kita harus mempertimbangkan perasaan Rendra. Kita tidak bisa terus-menerus menolak dia hanya karena status sosial Sari," kata Pak Hartanto.

Runi mengerutkan dahi. "Aku tahu, tapi aku masih merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Aku khawatir tentang bagaimana ini akan mempengaruhi keluarga kita."

Pak Hartanto mencoba menenangkan istrinya. "Kita harus memberi mereka kesempatan dan melihat bagaimana mereka mengatasi masalah ini. Kita tidak bisa terus-menerus membatasi cinta mereka."

Runi menghela napas dan menatap suaminya dengan tatapan lelah. "Aku hanya berharap bahwa ini semua akan berjalan dengan baik."

**Pertemuan Keluarga**

Sari dan Rendra memutuskan untuk mengatur pertemuan keluarga lagi, berharap bisa menyelesaikan ketegangan yang ada. Mereka mengundang Runi dan Pak Hartanto untuk makan malam di luar rumah, berharap bisa berbicara dalam suasana yang lebih santai.

Makan malam dimulai dengan suasana yang agak tegang, tetapi Rendra mencoba membuat suasana lebih nyaman. "Ibu, Ayah, terima kasih telah datang. Kami berharap bisa berbicara lebih lanjut tentang hubungan kami."

Runi mengamati Sari dengan tatapan dingin. "Kami sudah memberi kalian kesempatan. Kami ingin mendengar bagaimana kalian berencana menghadapi tantangan ini."

Rendra menjelaskan dengan penuh keyakinan. "Kami sudah membahas ini dan siap menghadapi segala rintangan. Kami hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa kami bisa bahagia bersama."

Sari menambahkan dengan lembut. "Kami berdua sangat mencintai satu sama lain dan berkomitmen untuk menghadapi segala kesulitan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MGV" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MGV
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cahaya di Antara Bayang-Bayang
8.7
Amir terjebak dalam hampa meski rutin beribadah di bulan Ramadan. Hidupnya berubah usai bertemu Sheikh Ibrahim, guru spiritual misterius yang membimbingnya keluar dari kegelapan. Di tengah atmosfer religius, ia menghadapi ujian iman yang berat. Pertemuannya dengan anak jalanan dan wanita misterius memberinya pelajaran mendalam tentang cinta serta pengorbanan. Ini adalah kisah inspiratif tentang transformasi batin dan pencarian makna hidup yang penuh cahaya.
Sampul Novel Cinta Pertama Dari Istri Kedua
9.4
Kehadiran suami yang nyaris tanpa cela ternyata tak mampu memberikan kepuasan bagi sang istri. Dalam sebuah keputusan yang ceroboh, ia justru memilih untuk mendatangkan istri kedua ke dalam rumah tangga mereka. Alih-alih memperbaiki keadaan, tindakan tersebut malah menjadi pemicu bencana besar yang mengancam keutuhan pernikahan. Kini, hubungan yang semula stabil harus menghadapi badai kehancuran akibat kehadiran sosok baru yang tak terduga.
Sampul Novel Dicintai Adik Ketemu Gede
9.1
Vivi, remaja tujuh belas tahun, jatuh hati pada Agam Permana, pria dewasa yang telah ia kenal selama satu dekade. Meski Agam menganggapnya adik, Vivi nekat mengajaknya menikah setelah lulus sekolah. Situasi kian pelik saat Fadlan, sahabat Agam, turut mencintai Vivi. Agam pun terjebak dilema antara menjaga persahabatan atau mengikuti perasaannya yang mulai tumbuh. Akankah cinta beda usia ini bersatu tanpa merusak ikatan yang ada di antara ketiganya?
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Ajeng Kirei Aswari dijual ayahnya ke tempat prostitusi saat berusia 18 tahun. Selama sepuluh tahun, ia menjalin hubungan dengan Reynold Bill Timur, CEO sukses yang menjadi tumpuan hidupnya. Namun, keluarga Bill menentang status Ajeng dan menjodohkan Bill dengan wanita sederajat. Tak mampu menolak, Bill tetap membawa Ajeng ke dalam skandal di tengah pernikahannya. Mampukah Ajeng bertahan bersama Bill meski harus menyakiti perasaan wanita lain yang tak bersalah?
Sampul Novel Ketika Kapal Tenggelam, ⁠Tunanganku Menolong Cinta Pertamanya
9.7
Saat kapal pesiar tenggelam, Zayden memilih menyelamatkanku hingga Caitlyn tewas. Meski kami menikah, Zayden menyiksaku selama lima tahun karena dendam atas kematian Caitlyn. Setelah kematian tragis yang menyatukan kami kembali, aku terbangun di hari kecelakaan kapal itu. Dalam kesempatan kedua ini, aku memutuskan menyerahkan tempat di sekoci kepada cinta pertamanya demi mengubah takdir kelam kami.
Sampul Novel Menikahi Ayah Sahabatku
9.0
Almira Devara terpaksa akan dinikahkan ayahnya dengan juragan desa demi melunasi hutang. Selina, sahabatnya yang kaya, merasa iba dan meminta ayahnya sendiri, Diran Mahendra, untuk menikahi Almira. Meski awalnya enggan, duda sukses itu setuju demi menolong Almira. Kini, Almira harus menjalani rumah tangga dengan pria yang jauh lebih tua. Di sisi lain, Diran masih menutup hati akibat trauma masa lalu. Bisakah cinta tumbuh di antara mereka?