Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Seroja

Cinta Seroja

Seroja Wijaya adalah kembang desa rupawan anak petani di tanah Sunda. Meski banyak pria desa hingga kota ingin meminangnya, ia selalu menolak demi menunda pernikahan. Suatu hari, sang abah menjodohkannya dengan juragan sayur dari kampung tetangga. Sayangnya, pernikahan itu berakhir cerai karena Seroja hanya merasa kecewa. Di tengah luka, ia bertemu Alzidan, teman masa kecil yang sempat pindah ke kota. Pertemuan itu membawa mereka ke pelaminan dan hidup bahagia.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Nggak tahu ah abah. Neng juga bingung," Eza menempelkan dagunya ke bahu kursi.

"Begini saja, sekarang mah keputusan ada di Abah, sebab Eza masih tanggung jawab Abah. Abah memilih siapa pun yang akan jadi calon buat Neng. Neng Eza harus terima, dan ini sudah menjadi keputusan Abah."

"Tapi Bah ... " Eza cemberut. "Kenapa sih harus cepat nikah? Eza gak macam-macam, gak pernah keluyuran malam, paling ke pengajian, ke kebun bantuin Abah dan Umi. Paling ketemu teman-teman! itu pun gak pernah neko-neko, apa ada perilaku Eza yang kurang pantas di mata masyarakat?" ungkap Eza seolah tida memberi zeda dalam berbicara nya kali ini.

"Tidak, tidak seperti itu Neng," elak Umi Marni.

"Neng sudah dewasa. Sudah sepantas nya punya tanggung jawab sendiri, itu saja."

Obrolan pun berakhir, Eza masuk kamar dengan perasaan yang sedikit dongkol. Smentara orang tuanya makan malam bersama adik-adiknya.

Di kamar yang lumayan nyaman Eza menjatuhkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Ambil guling dan memeluknya. "Kenapa sih yang di bahas itu nikah dan nikah, gak ada kata lain apa?" gerutu Eza, sambil melepas kerudung.

Eza bersiap tiduran. Baru ingat belum sholat Isya. "Oh iya, belum sholat isya," Eza langsung bangkit menyimpan guling. Langsung keluar kamar lagi dengan niat ke kamar mandi yang berada dekat dapur.

Selepas sholat Eza barulah membaringkan tubuhnya, di tempat tidur. Terlentang, miring. Terlentang lagi, miring ke kanan. Miring ke kiri sampai akhirnya telungkup. "Iih ... sulit amat tidur malam ini," Eza gedebag-gedebug, tidurnya sangat gelisah.

Pejam mata tak lena, karena masih teringat kata-kata sang Ayah, yang seolah menekan nya untuk menikah. "Ya Allah ... aku harus gimana nih?" Eza memaksa matanya untuk pejam.

****

Pagi-pagi Eza sudah berlari kecil di jalanan. Walau hawa dingin sangat menusuk kulit tidak mematahkan semangatnya tuk berlari pagi, dan itu sudah jadi kebiasaan Eza. Habis sholat shubuh dan mengaji, dia turun ke jalanan, di temani tiga kawannya yang bernama Resty. Kirana dan calon pengantin yang bernama Sinta.

"Kalau kita masing-masing sudah menikah belum tentu kita bisa bersama seperti ini. Setiap pagi lari kecil bersama. Bercanda bersama," ujar Sinta.

"Kenapa gak bisa?" tanya Kirana.

"Nggak bisa lah. Kalau sudah menikah. Otomatis kita ikut suami. Masa mau ikut orang tua mulu." sahut Sinta dengan cepat.

"Oh iya. Sekalipun kita berdekatan, kan pagi-pagi itu kita harus menyiapkan sarapan. Beberes rumah, dapur. Kasur. Itu, kan tanggung jawab seorang istri ya?" ujar Resty membenarkan perkataan Sinta.

"Itu istri apa pembantu? Hehehe," sambar Kirana sekenanya saja.

"Cielaah ... bukan pembantu. Tapi kalau kita ingin dapat banyak pahala harus gitu juga kali ..." sahut Resty mendelik pada sahabatnya yang bernama Kirana itu.

"Tidak semua wanita mendapat suami yang kaya. Belum tentu kehidupan kita dimasa yang akan datang senang. Adakalanya yang kaya juga mendadak miskin, kan hidup berputar. Jadi kita harus waspada, berkecukupan syukur, kalau pun biasa-biasa saja juga ikhlas," ujar seorang Eza sambil mengulang-ngulang tangannya.

ketiga teman nya mengangguk. "Jadi intinya kita harus menyesuaikan dengan keadaan. Hidup harus tetap berjalan meski apa pun yang terjadi," sambung Eza. Kemudian jalan berlari- kecil.

"Hem ..." gumam ketiganya lantas menyusul Eza yang sudah lebih dulu ke depan.

Di sana banyak yang lewat, termasuk para pemuda, bersiul menggoda empat sekawan itu. Pemuda di sana dan juga dari kampung lain yang kebetulan lewat ke jalan sana, untuk berangkat aktivitas.

"Jangan bersiul kang. Kami bukan burung yang beterbangan," gumam Resty.

"Tapi ...."

"Bunga yang sedang menanti sentuhan sang kumbang," sambung Resty. sambil ketawa.

"Lahh ... apa bedanya? yang bener itu, kalau si akang suka. Jangan bersiul, tapi ucapkan salam pada Ayah Bunda, dan bilang kalau Aa mau mengajak ke KUA biar halal di mata semua," timpal Sinta.

"Bener-bener, mantap pisan euy," ucap Kirana dan Resty berbarengan.

"Jawabnya, iya A Neng mau di ajak ke KUA di halalin sama si Aa. Tapi jangan sampai setelah halal di KUA, si Aa nya malah mendua, ha ha ha," Eza terkekeh sendiri, di ikuti suara ketawa dari kawan-kawannya.

"Tapi ... ih amit-amit ... amit-amit," ralat Eza mengetuk-ngetuk keningnya.

"Iya lah amit-amit, siapa yang mau. Menikah cuma untuk sakit hati. Ogah," Sinta menggeleng.

"Yuk ah. Pulang, sudah di tunggu suami nih," pekik Eza yang sudah lebih duluan berlari dan kembali pulang.

Kawan-kawannya pun berlarian mengejar Eza sambil cekikikan, tertawa tanpa merasakan beban. Di persimpangan jalan, mereka berpisah. Pulang ke rumahnya masing-masing.

Setelah memberi salam. Eza memasuki rumah, di sana sudah sepi sebab orang tuanya Eza sudah pergi ka kebun, adik-adiknya pun. Fikri sudah berangkat kerja, si bungsu pergi ke sekolah.

Di rumah tinggallah Eza sendiri. Mau mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, mencuci perabot dapur dan bersih-bersih lainnya, begitu aktivitas Eza setiap hari. Kalau itu semua selesai baru lah. Menyusul abah dan umi ke kebun untuk membantunya berkebun.

Eza pernah kerja di toko. Dan di warung makan. Namun tidak pernah lama dengan alasan tidak betah. Lagian di luar sana banyak pria yang menggoda. Membuat Eza merasa risih. Akhirnya dia lebih betah di rumah, dan itu lebih baik baginya dari pada di luaran.

Sekalipun terkadang membantu orang tuanya di kebun. Namun Eza cukup menikmati keseharian nya itu.

"Hem ... nyuci sudah, beres-beres sudah, ke kebun ah." Eza mengunci pintu hendak menyusul orang tuanya. Namun masih juga berdiri di depan pintu, ada dua orang laki-laki berdiri depan teras hendak bertamu.

"Assalamu'alaikum ..." Neng mau kemana atuh Neng cantik teh? pasti Neng yang bernama Eza ya?" sapa laki-laki yang usianya hampir sama dengan Abah nya itu.

"Wa'alaikum salam ... i-iya saya, maaf mau bertemu siapa ya? dan ada perlu apa." Eza kebingungan sebab belum pernah bertemu atau melihat kedua pria tersebut.

"Oh saya mau bertemu Neng Eza sama abah Bani, ada abahnya?"

"Oh, silahkan duduk atuh." Eza menunjuk kursi yang ada di teras, jantung nya berdebar. Entah kenapa suka takut kalau ada tamu pria, sementara di rumah tidak ada siapa-siapa.

Kedua tamunya pun duduk setelah dipersilahkan oleh tuan rumah.

Eza juga duduk agak jauh dari mereka dan bingung mau berkata apa.

"Kenalkan, saya juragan Anwar dan dia putra saya Dirwan," tamunya memperkenalkan diri serta mengulurkan tangan tuk bersalaman, namun Eza hanya menangkupkan tangan di depan dada serta senyuman ramah.

"Em ... tapi maaf banget. Kalau jam segini abah nya tidak ada di rumah. Nanti sore saja kembali lagi," suara Eza dengan lembut.

"Oo gitu ya, bararti kita salah waktu nih. Aduh sudah jauh-jauh tuan rumahnya gak ada. Sayang banget."

"Kita pulang saja Pak," gumam pemuda tersebut yang baru saja mengeluarkan suaranya.

"Iya, tapi kamu suka gak? cantik kan? sholeh juga pasti anak nya," bisik juragan Anwar kepada putranya yang di balas dengan senyuman dan lirikan pada Eza yang menunduk.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Setan Idaman
9.0
Kehidupan Dita berubah drastis setelah takdir mempertemukannya dengan Raga, sosok pria misterius yang ternyata merupakan jelmaan setan. Meski Raga dikenal sangat pendiam dan irit bicara, ia kerap menunjukkan sisi manis yang tak terduga kepada Dita. Ketegangan muncul saat sang bos tiba-tiba menyatakan perasaan cintanya secara terang-terangan. Dita yang terkejut menganggap pengakuan itu hanyalah bualan belaka, meski kini nasibnya terikat pada pria tersebut.
Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya tewas tragis setelah dikhianati keluarga dan tunangannya demi mendonorkan hati secara paksa. Kini, ia terlahir kembali dengan ambisi membalas dendam dan merebut haknya yang dirampas. Namun, rencananya terusik oleh kehadiran Randy Logan, CEO angkuh nan dingin yang mendadak terobsesi padanya. Di tengah misi pembalasan, pria kaya raya itu justru mengepung Viona dengan kelembutan posesif yang membuat sang wanita merasa sangat terdesak.
Sampul Novel Gadis Simpanan yang Melahirkan Anakku
8.1
Demi membiayai pengobatan ayahnya yang kritis, seorang gadis polos terpaksa menjadi wanita simpanan bagi CEO berkuasa di Amerika. Sang miliarder tidak hanya menginginkan kepuasan, namun juga menuntutnya melahirkan ahli waris karena istrinya mandul. Terjebak dalam kemewahan yang penuh rahasia kelam, ia kini menghadapi konflik batin yang hebat. Ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti benih cinta yang mulai tumbuh di situasi yang salah.
Sampul Novel Gerhana
9.6
Gerhana Putri Alam tak menyangka perselisihannya dengan preman garang bernama Tangguh Langit Ramadhan justru menumbuhkan benih cinta. Meski Tangguh bersikap dingin dan merasa tidak pantas bersanding dengan putri seorang jenderal, Gerhana tetap yakin ada perasaan tulus di balik sikap acuh tersebut. Tangguh bersikeras menepis kenyataan itu, namun Gerhana balik menggoda rahasia sang pria yang diam-diam sering menatap fotonya. Akankah perbedaan status menyatukan mereka?
Sampul Novel Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
8.2
Tiga tahun pengabdian Chelsea berakhir pahit saat sang kekasih mencampakkannya di altar demi wanita lain. Namun, status gadis desa itu hanyalah kedok. Chelsea bangkit sebagai pewaris tunggal konglomerat terkaya dan menguasai kekayaan triliunan. Di tengah gempuran musuh yang iri akan kesuksesannya, ia justru menemukan sekutu tak terduga. Nicholas, pria yang dikenal dingin dan kejam, kini berdiri di sisinya untuk mendukung setiap langkah balas dendamnya.
Sampul Novel Rahasia Tubuh Serena
8.1
Divonis mengidap sindrom MRKH membuat Serena Queen Adhisty hancur hingga sengaja menyakiti Adibara Erlangga agar dibenci. Sebelas tahun berlalu, Serena bertransformasi menjadi wanita angkuh yang menghindari pernikahan. Namun, takdir membawanya kembali pada Adibara di tempat kerja. Situasi kian pelik saat kakak Adibara muncul, memicu dendam lama yang belum tuntas. Akankah Adibara menerima kekurangan Serena, atau justru ada sosok lain yang ditakdirkan untuknya?