
Cinta Sejatimu Kembali
Bab 2
Telepon genggam Lina bergetar di genggamannya. Layarnya menampilkan nama yang sudah ia kenal sekarang, namun masih terasa asing di tengah kehidupannya yang monoton: Daniel. Sudah seminggu sejak percakapan pertama mereka, dan dalam seminggu itu, Daniel seperti badai yang menerjang ketenangan semu dalam hidup Lina. Mereka sering bertukar pesan, sesekali menelepon, dan setiap kali suara Daniel mengisi telinganya, hati Lina berdesir. Bukan desiran cinta masa lalu yang menghantui, melainkan desiran pengakuan. Pengakuan bahwa ada yang hilang dalam hidupnya selama ini, sesuatu yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Daniel.
Lina masih ingat betul bagaimana Daniel mengakhiri panggilan pertamanya. "Lina, aku ingin bertemu. Aku rasa kita perlu bicara, banyak hal." Ia tidak mengatakan apa pun tentang rindu atau tentang cinta. Hanya keinginan untuk bicara, seolah ada beban tak terucap yang perlu dilepaskan. Lina menyetujuinya, jantungnya berdebar tak karuan. Rian tidak akan peduli, pikirnya. Rian tidak akan bertanya. Dan benar saja, suaminya itu bahkan tidak menyadari perubahan kecil di raut wajah Lina, atau senyum tipis yang sesekali muncul saat membaca pesan dari Daniel.
Pertemuan pertama mereka direncanakan di sebuah kafe kecil di pinggir kota, jauh dari keramaian pusat perbelanjaan yang biasa Lina kunjungi bersama Arka. Lina memilih tempat itu agar tidak ada kemungkinan bertemu dengan kenalan Rian atau teman-teman mereka. Ia tidak ingin ada gosip, setidaknya untuk saat ini. Ia perlu waktu. Waktu untuk mencerna, waktu untuk memahami perasaannya sendiri.
Ketika Lina tiba di kafe, Daniel sudah duduk di salah satu sudut, menghadap jendela. Rambutnya sedikit lebih panjang dari yang ia ingat, dengan beberapa helai uban tipis di pelipis. Sorot matanya masih sama, hangat dan penuh perhatian. Ketika pandangan mereka bertemu, Daniel tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, senyum yang selalu berhasil meluluhkan hati Lina.
"Lina," sapa Daniel seraya berdiri. Tangannya terulur, dan Lina menyambutnya. Sentuhan itu, meskipun singkat, terasa seperti sengatan listrik. Hangat, nyaman, dan anehnya, sangat familiar.
Mereka duduk berhadapan. Kecanggungan awal cepat mencair saat mereka mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing. Daniel bercerita tentang perjalanannya di luar negeri, tentang pekerjaan barunya di Jakarta, dan tentang keluarganya. Lina, di sisi lain, menceritakan kehidupannya dengan hati-hati. Ia tidak langsung membuka semua luka, namun ia memberikan gambaran samar tentang pernikahannya yang hampa. Ia berbicara tentang Arka dengan mata berbinar, satu-satunya kebahagiaan yang nyata dalam hidupnya.
"Aku senang kau sudah kembali, Daniel," Lina berkata jujur, menatap mata Daniel. "Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa tentang semua ini."
Daniel mengangguk. "Aku tahu, Lina. Aku bisa merasakannya dari suaramu. Aku minta maaf aku menghilang begitu lama."
"Bukan salahmu," Lina buru-buru menjawab. "Hidup memang punya jalannya sendiri, kan?"
Selama dua jam, mereka berbagi cerita. Daniel tidak bertanya banyak tentang Rian, seolah menghormati privasi Lina. Ia lebih tertarik pada Lina, pada perasaannya, pada impiannya yang mungkin sudah terkubur. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan komentar yang bijak, dan terkadang, melontarkan lelucon yang membuat Lina tertawa lepas. Tawa yang sudah lama tidak ia dengar dari dirinya sendiri.
Ketika mereka berpisah, Lina merasa ada beban yang terangkat dari pundaknya. Ia merasa seperti baru saja menjalani terapi, mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam sendirian. Daniel tidak memberikan solusi, tidak menawarkan jawaban. Ia hanya mendengarkan, dan itu sudah lebih dari cukup.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Lina mulai merasa gelisah. Kehadiran Daniel yang tiba-tiba membuat batas antara masa lalu dan masa kini menjadi buram. Ia mencoba menepis perasaan itu. Ia adalah seorang istri, seorang ibu. Ia tidak boleh goyah. Namun, pikiran tentang Daniel terus berkelebat dalam benaknya. Ia membandingkan setiap interaksi Daniel dengannya, dengan interaksinya dengan Rian. Perbandingannya terlalu mencolok untuk diabaikan. Daniel ingat detail-detail kecil tentang dirinya, tentang makanan kesukaannya, tentang mimpinya untuk membuka toko bunga kecil. Rian, di sisi lain, bahkan terkadang lupa hari ulang tahunnya sendiri.
Puncaknya adalah ketika Daniel mengirimkan pesan singkat. "Aku menemukan toko bunga kecil yang sangat lucu, Lina. Persis seperti yang selalu kau impikan dulu. Mau kutunjukkan?"
Lina menatap pesan itu dengan gemetar. Itu bukan hanya tentang toko bunga. Itu tentang Daniel yang mengingat mimpinya, mimpi yang bahkan Rian pun tidak pernah tahu. Hati Lina terasa seperti ditarik ke dua arah. Satu sisi berkata, "Ini salah. Kau sudah punya keluarga." Sisi lain berbisik, "Tapi apakah ini benar-benar hidup yang kau inginkan? Hidup yang hampa?"
Kebimbangan itu semakin menjadi-jadi di rumah. Rian seperti biasa, sibuk dengan pekerjaannya. Suatu malam, Lina mencoba lagi. Ia mendekati Rian di ruang kerjanya.
"Rian, aku ingin bicara," katanya lembut.
Rian mengangkat pandangannya dari layar laptop, alisnya sedikit bertaut. "Ada apa, Lina? Ini sudah larut."
"Aku hanya merasa kita perlu bicara. Tentang kita."
Rian menghela napas. "Apa yang mau dibicarakan? Semua baik-baik saja, kan? Arka sehat, keuangan kita aman, rumah terawat. Apa lagi?"
Kalimat itu seperti anak panah yang menancap tepat di jantung Lina. "Apa lagi?" Rian sama sekali tidak memahami. Tidak ada "kita" dalam kamusnya. Hanya daftar ceklis yang sudah terpenuhi.
"Tidak ada, Rian," jawab Lina lirih. Ia berbalik dan meninggalkan ruangan itu, menelan kembali semua kata yang ingin ia teriakkan. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi pipinya. Malam itu, ia menyadari dengan sangat jelas, bahwa Rian memang tak pernah mencintainya. Tidak ada celah, tidak ada harapan, tidak ada setitik pun niat untuk memahami. Hatinya telah dikunci rapat oleh Maya.
Pagi berikutnya, Lina memutuskan. Ia tidak bisa lagi hidup dalam kepura-puraan. Ia harus mencari kebahagiaannya sendiri, betapa pun sulitnya. Ia harus berani.
Ia menelepon Daniel. "Daniel, aku ingin melihat toko bunga itu."
Daniel senang mendengarnya. Mereka sepakat bertemu lagi. Kali ini, percakapan mereka tidak lagi penuh kehati-hatian. Lina bercerita lebih banyak tentang keretakan dalam pernikahannya, tentang bagaimana ia merasa tak terlihat dan tak dicintai. Daniel mendengarkan dengan empati, dan untuk pertama kalinya, ia juga membuka diri.
"Aku tahu rasanya, Lina," Daniel memulai, suaranya pelan. "Rasanya seperti ada bagian dari dirimu yang mati, karena kamu tahu orang yang seharusnya mencintaimu tidak melihatnya. Aku juga pernah mengalaminya."
"Maksudmu?" tanya Lina, sedikit terkejut. Ia selalu mengira Daniel tak punya masalah dalam percintaan.
Daniel menghela napas. "Setelah kita putus, aku mencoba menjalin hubungan lagi. Tapi selalu terasa kosong. Aku selalu membandingkan mereka denganmu. Aku tahu itu tidak adil bagi mereka, dan juga bagiku." Ia menatap Lina. "Aku tidak pernah melupakanmu, Lina. Kau adalah cinta pertamaku. Dan kau tahu, cinta pertama itu seringkali punya tempat spesial di hati, yang tidak bisa digantikan orang lain."
Hati Lina berdesir mendengar pengakuan itu. Cinta pertamanya. Kata-kata itu terdengar begitu manis, begitu tulus, berbanding terbalik dengan kekeringan yang ia alami selama bertahun-tahun. Ia melihat ketulusan di mata Daniel, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasakan secercah harapan. Harapan bahwa ia bisa dicintai lagi, dicintai dengan sepenuh hati, tanpa syarat.
Namun, harapan itu segera diikuti oleh rasa bersalah yang menusuk. Ia adalah seorang istri, ibu dari seorang anak. Apakah ia berhak merasakan ini? Apakah ia berhak mencari kebahagiaannya di luar pernikahannya yang sah?
"Tapi... aku sudah menikah, Daniel," Lina berbisik, suaranya hampir tak terdengar.
Daniel mengangguk. "Aku tahu, Lina. Aku tidak bermaksud mengusik. Aku hanya... ingin kau tahu. Bahwa ada seseorang yang selalu peduli padamu, yang selalu mengingatmu, dan yang ingin kau bahagia."
Kata-kata Daniel membuat tanggul emosi Lina runtuh. Air mata mengalir deras di pipinya. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan. Lega karena akhirnya ada yang mengerti, ada yang melihat, ada yang peduli. Daniel tidak memeluknya, tidak memegang tangannya. Ia hanya duduk di sana, membiarkan Lina menangis, memberikan dukungan melalui kehadirannya yang tenang.
Kepulangan Daniel, entah bagaimana, memicu serangkaian peristiwa tak terduga.
Suatu sore, ketika Lina menjemput Arka dari sekolah, ia melihat Rian. Tapi Rian tidak sendiri. Ia sedang berbicara dengan seorang wanita di depan gerbang sekolah, senyum tipis terukir di wajahnya. Senyum yang belum pernah Lina lihat sebelumnya. Senyum itu, meskipun samar, memancarkan sesuatu yang asing, sesuatu yang hidup. Dan wanita itu, meskipun sudah menua, Lina mengenalinya. Wajah itu, dengan mata berbinar dan senyum manis. Maya.
Jantung Lina serasa berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi. Ia berdiri mematung, tak mampu bergerak. Rian dan Maya tampak akrab, mereka tertawa kecil, mengobrol santai seolah tak ada beban. Mereka tampak seperti dua orang yang saling mengenal dengan sangat baik, dua orang yang berbagi sejarah yang panjang. Dan dari cara Rian menatap Maya, Lina tahu, hatinya tidak pernah salah. Hati Rian sepenuhnya milik Maya.
Seolah ada dorongan tak terlihat, Lina melangkah mendekat. Rian mendongak, matanya melebar sedikit saat melihat Lina. Senyumnya langsung menghilang.
"Lina," sapa Rian, nadanya datar.
Maya menoleh. Matanya menatap Lina dengan sorot bertanya, namun juga ada jejak rasa bersalah di dalamnya.
"Hai," kata Maya, suaranya lembut. "Aku Maya."
Lina mengangguk kaku. "Lina."
Kecanggungan menyelimuti mereka. Rian mencoba menjelaskan. "Maya kebetulan menjemput keponakannya di sekolah yang sama dengan Arka."
Lina tidak menanggapi. Ia menatap Maya, lalu ke Rian. Di mata Rian, ia melihat kerinduan yang teramat sangat, yang tak pernah Rian sembunyikan. Dan di mata Maya, ia melihat sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa ia tahu betul siapa Rian bagi dirinya.
"Arka," panggil Lina, menarik tangan anaknya yang sedari tadi berdiri diam di sampingnya, merasakan ketegangan yang aneh. "Kita pulang sekarang."
Di dalam mobil, Lina mengemudi dengan pikiran kacau. Air mata tak lagi menetes, seolah sudah kering. Ia tidak marah. Anehnya, ia merasakan sebuah kelegaan yang dingin. Inilah akhirnya. Inilah bukti yang ia butuhkan. Bukti bahwa tak ada yang bisa ia lakukan untuk menaklukkan hati Rian. Bukti bahwa cinta Rian, selamanya, akan menjadi milik Maya.
Malam itu, di rumah, Lina dan Rian makan malam dalam keheningan yang mencekam. Arka sudah tidur. Lina menatap Rian yang asyik dengan makanannya, seolah tak ada yang terjadi. Ia merasa muak dengan sandiwara ini.
"Kau bertemu Maya hari ini," Lina memulai, suaranya tenang, dingin.
Rian mengangkat pandangannya. Ekspresinya tak terbaca. "Ya."
"Apakah itu sering terjadi?"
Rian meletakkan sendoknya. "Tidak. Baru beberapa kali. Dia baru kembali ke Jakarta."
"Oh, aku tahu." Lina tersenyum pahit. "Aku sudah tahu tentang Maya sejak lama, Rian."
Mata Rian melebar sedikit. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu dia cinta pertamamu. Aku tahu kau tidak pernah melupakannya. Aku tahu kau tidak pernah mencintaiku." Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa emosi, seperti sebuah pernyataan fakta yang tak terbantahkan.
Rian terdiam. Ia menatap Lina, ekspresinya tidak lagi kosong, melainkan terlihat terkejut, bahkan sedikit bersalah.
"Lina, aku..."
"Tidak perlu berpura-pura, Rian," Lina memotong. "Aku sudah lelah. Aku sudah mencoba selama empat tahun. Aku sudah mengerahkan segalanya, tapi itu tidak pernah cukup. Aku tahu hatimu bukan untukku."
Hening. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar.
"Apa yang kau inginkan, Lina?" tanya Rian akhirnya, suaranya rendah.
Lina menatapnya lurus. "Aku ingin kebebasan. Aku ingin kebahagiaanku. Dan aku tahu, aku tidak akan pernah menemukannya bersamamu. Kau harus bersama Maya, Rian. Kau berhak bahagia dengan orang yang kau cintai."
Rian tidak menjawab. Ia hanya menatap Lina, tatapan yang tak bisa Lina artikan. Apakah itu lega? Penyesalan? Entahlah.
Di dalam hati Lina, ada sebuah keputusan yang sudah bulat. Ia harus merelakan. Merelakan Rian bersama Maya. Merelakan impiannya tentang pernikahan yang bahagia. Dan merelakan dirinya, untuk memulai lagi, untuk mencari kebahagiaan yang sesungguhnya. Mungkin dengan Daniel. Mungkin tidak. Tapi ia tahu, ia tidak bisa lagi tinggal di sini, terjebak dalam ilusi yang menghancurkan jiwanya. Perjalanan ini akan sulit, sangat sulit. Tapi ia harus melakukannya, demi dirinya, demi Arka, dan demi kebahagiaan yang telah lama ia dambakan.
Anda Mungkin Juga Suka





