
Cinta Sang Pewaris Lumpuh
Bab 3
Kyle yang tengah membersihkan lantai segera terhenti dan menatap Ezio horor. Seolah baru saja dia menyadari sesuatu.
"Sial! Kau benar! Aku tidak ingin dicambuk lagi, Ezio!!" ratap Kyle, dengan matanya yang membulat penuh.
Ezio mendesah, dia tidak tahu kenapa Kyle bisa begitu berbeda darinya. Dia yakin ketika lahir, otak saudaranya itu terkikis sedikit. Tanpa menjawab Kyle, dia menuntaskan pekerjaan dengan cepat dan menutup troli dengan kain putih layaknya troli dari hotel.
Kyle pun memastikan tidak ada jejak apa pun yang tertinggal. Setelah mereka yakin seluruh kamar telah "bersih", mereka membawa troli keluar dari kamar dengan cepat.
Kyle segera mengeluarkan ponsel dan menekan sejumlah angka, "Kami akan ke bawah. Kau butuh bantuan?"
Terdengar suara di seberang, "Tidak, aku sudah selesai."
Kyle yakin Sebastian akan menyelesaikan tugasnya di ruang CCTV tanpa masalah. Setelah mematikan ponsel, dia segera berjalan cepat mengikuti langkah Ezio. Mereka berjalan hampir tanpa suara, hanya gemeretak troli yang melibas lantai koridor.
Di dalam mobil, Emery mengerang ketika melihat layar ponselnya. Dia dalam perjalanan pulang seorang diri dan panggilan dari kakeknya merupakan pertanda buruk. Apa mungkin pria tua itu menyadari sesuatu? Emery harus menemukan alasan bagus jika Lozardy Farhu Callistee, sang kakek, menginterogasinya.
Emery langsung turun dari mobil di garasi mansion Carlistee. Mansion megah itu berada di tengah hutan, menurut Emery, karena butuh sepuluh menit menembus jalanan tanpa penduduk untuk sampai ke mansion besar layaknya kastil itu. Meski besar, tapi Emery merasa mansion itu terlalu kecil untuk seluruh keluarga Carlistee. Bayangkan saja, tiga keluarga, putra dan putri Lozardy berada di bawah satu naungan atap. Meski sekarang masih banyak kamar kosong, tapi Emery yakin, beberapa generasi lagi, mereka harus menemukan tempat tinggal baru. Seharusnya, sejak saat ini mereka memikirkan untuk menemukan tempat tinggal, bukannya tinggal satu rumah dengan sang kepala keluarga Lozardy yang kejam. Namun, orang tua Emery selalu mengatakan jika mereka tidak bisa pergi begitu saja, mengingat bahaya yang akan mereka hadapi di luar sana, mengingat banyaknya musuh Carlistee dari kalangan konglomerat.
Emery memainkan kunci mobil di tangannya dan berjalan dengan santai memasuki mansion dan langsung menuju ruang kerja sang kakek. Bibi Amber yang melihatnya langsung berdecak.
"Bersiaplah kau, Emery. Kejahatan apalagi yang kau lakukan?" ucap Amber. Emery tersenyum, baru-baru ini bibinya itu mengganti kata 'kenakalan' dengan 'kejahatan'. Sepertinya dia memang sudah sedewasa itu. Benar, usianya tahun ini sudah dua puluh lima tahun.
"Aku baru saja mendapatkan jackpot, Bibi. Bulan depan kau akan aku undang ke peletakan batu pertama hotelku," jawab Emery, menyombongkan diri.
Amber hanya menggelengkan kepala, tapi dia mengikuti langkah Emery menuju ruang Lozardy. Seluruh keluarga harus hadir ketika sebuah masalah terjadi. Dan saat ini, Lozardy menganggap apa yang dilakukan Emery adalah masalah besar bagi mereka.
Emery memasuki ruangan, dia melihat orang tuanya sudah duduk di kursi di hadapan Lozardy, bersama dengan saudara dan sepupu-sepupunya. Dia tersenyum manis melihat sambutan menyeramkan itu. Meski tangannya sedikit berkeringat, tapi dia sangat antusias dengan situasi menegangkan itu.
"Papa, Mama!!" pekiknya melambaikan tangan serambi berjalan mendekat.
Ergio Le Carlistee dan Natasha Morgan menarik napas dalam, meski Emery putri mereka, tapi mereka sangat tahu bagaimana memperlakukan keluarga yang bersalah. Untuk itu, mereka meminta Emery tak mendekati mereka, justru menunjuk kursi "terpidana" yang saat ini kosong di hadapan Lozardy. Emery tahu itu, jadi dia tersenyum dan langsung duduk di sana. Ruangan itu mirip ruangan persidangan dengan Lozardy sebagai hakim.
Lozardy berdeham dalam, membuat suasana semakin mencekam.
"Apa yang aku dengar itu benar? Kau membawa Olander?" tanya Lozardy tanpa basa basi.
Emery langsung mengangguk. "Iya, Kakek."
"Lalu, apa yang kau lakukan padanya?"
"Aku membunuhnya. Di Hotel Heavenly," jawab Emery mantap.
Jawaban wanita itu membuat semua orang di ruangan itu mendesah.
"Kau punya alasan untuk itu?" tanya Lozardy, tenang.
"Ya, aku butuh perusahaan Olander. Tapi mereka menolak penawaranku mentah-mentah bulan lalu. Aku tidak menerimanya. Jadi, aku meminta langsung pada Olander, tapi dia membuatku kecewa," jawab Emery.
Lozardy menatap cucunya lekat, kemudian tersenyum. "Lalu, apa yang akan kau lakukan jika polisi melacak pelakunya?"
Melihat senyum Lozardy, Emery bernapas lega. Dia tahu, saat ini kakeknya hanya mengetes kesiapannya dalam menjalankan rencana. Tentu saja dia sudah mempersiapkan segalanya. Dia adalah wanita Carlistee, dia bukan wanita bodoh. Dia sudah dilatih untuk membunuh sejak dia dilahirkan ke dunia.
"Aku sudah memastikan mereka tidak akan menemukanku. Jika pun ada detektif jenius yang bisa menemukan jejakku, akan aku pastikan, hari itu adalah hari terakhirnya menghirup udara," balas Emery bangga.
Lozardy menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dan menatap Emery semakin lekat.
"Kau tahu dengan jelas siapa keluarga Cassiene. Mereka tidak akan diam saja membiarkanmu lolos setelah apa yang kau lakukan pada anak kesayangan mereka. Apa rencanamu untuk itu?"
Emery mengerjapkan mata, dia belum memikirkan hal itu. Karena....
"Aku akan serahkan pada Kakek!" balas Emery lantang.
Terang saja, semua orang kembali mendesah, seolah sudah menduga jawaban Emery. Lozardy menatap cucunya tajam. Kali ini dia tersenyum licik. Hal itu membuat Emery merinding.
"Baiklah, hukumanmu kali ini, hadapi keluarga Cassiene tanpa melibatkan aku. Aku sangat sibuk."
Mendengar keputusan Lozardy, membuat Emery cemberut. "Bagaimana kalau aku mati?"
Lozardy langsung tertawa. "Bukankah itu konsekuensi pertama yang harus kau pikirkan sebelum melakukan eksekusi?"
Emery menatap kakeknya tajam, dia bertekad akan membuktikan pada kakeknya jika dia bisa menyelesaikan ini seorang diri. Lagipula apa hebatnya Cassiene.
***
"Mereka membunuh puluhan keluarga kaya, dan keluarga kaya nomor tiga. Jika mereka membunuhmu saat ini, mereka akan lepas dengan mudah, semudah mengembuskan napas."
Sebastian, ajudan nomor satu Emery mengemukakan pengetahuannya. Pria tampan berkaca mata itu tampak tenang, tatapannya tajam, seolah mampu menarik jiwa siapa pun yang menjadi lawan bicaranya keluar. Rambut blondenya sebahu dan terikat rapi ke belakang. Jasnya tampak paling rapi di antara ketiganya. Jelas sekali penampilannya menunjukkan dia pria berpengetahuan.
Emery mengetukkan jemarinya di tepian kursi. Dia tampak berpikir. Sebelumnya dia tidak akan ambil pusing, karena selama ini kakeknya selalu berada di belakangnya. Namun, jika perlindungan kakeknya hilang, dia harus khawatir sekarang, apalagi yang dihadapi ternyata sekelas Cassiene.
"Aku harus mendapatkan perlindungan lebih," ucap Emery, seolah pada dirinya sendiri.
"Anda benar," sahut Bastian cepat.
Kyle dan Ezio tampak pucat, dan kini terbaring di sofa di kamar sang Nona. Mereka bertiga baru saja terkena hukuman cambuk 50 kali, dan hanya Bastian yang tampak tangguh. Ezio dan Kyle sudah hampir muntah.
Anda Mungkin Juga Suka





