
Cinta Sang Majikan
Bab 3
Seperti lelucon, Kala tertawa kecil. Rasanya benar-benar tidak tahu dengan apa yang dipikirkan wanita di dekatnya itu. Wanita yang akan dijodohkan dengan putranya benar-benar terlihat lucu dan membuatnya ingin sekali tertawa keras. Hingga Kala menggelengkan kepala kecil dan memilih kembali menatap ke arah majalah di depannya.
Eveline yang melihat tingkah Kala pun mendesah kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. “Tante, aku takut kalau Gavin memang menyukai Amber,” keluh Eveline kembali. Bibirnya dimanyunkan dengan raut wajah masam. Terlihat jelas kekesalan di wajah wanita itu.
Kala yang masih asyik membalik lembar demi lembar itu pun menghentikannya. Dia menatap ke arah Eveline dan menaikkan sebelah bibir. “Kamu pikir anak tante memiliki selera yang rendah, Eveline?” Kala malah balik bertanya.
Eveline hanya bungkam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia benar-benar tidak bersemangat, tepatnya setelah Amber datang. Melihat Gavin yang menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan Amber membuatnya penasaran. Apa yang menarik dari wanita itu? Biasanya Gavin tidak pernah menerima pekerja secepat itu. Hingga sebuah tangan meraih jemarinya dan menggenggam lembut, membuat Eveline menghentikan pikirannya dan menatap ke arah sang pelaku.
“Jangan cemas, Eveline. Amber, si asisten rumah tangga baru itu tidak akan pernah bisa meraih hati Gavin. Kamu tahu? Gavin memiliki standar yang begitu tinggi kalau masalah wanita. Itu sebabnya tante memilih kamu untuk dia karena memang hanya kamu yang pantas untuk dia,” ucap Kala, penuh percaya diri.
Eveline yang semula cemas pun langsung tersenyum tipis. Kata-kata dari Kala seperti angin segar untuknya. Perasaannya juga sedikit tenang karena mendapat dukungan dari wanita itu. Hingga sebelah tangan Kala beralih, mengelus pipinya pelan.
“Jangan takut kalau kamu akan kalah, Eveline. Sepenuhnya tante akan dukung kamu. Tante gak mau punya menantu seperti Amber, wanita miskin dan gak jelas itu,” ucap Kala dengan sinis.
Eveline langsung mendekatkan tubuh dan memeluk Kala erat. “Terima kasih, Tante. Tante Kala memang yang terbaik,” kata Eveline.
Kala tertawa kecil dan melepaskan dekapan Eveline. “Sudah, lebih baik kita lanjutkan melihat tasnya. Tante mau minta pendapat kamu untuk membelinya.”
“Tante, bisa kita pilihnya nanti? Aku mau kamar Gavin. Aku rasa aku mulai merindukannya,” kata Eveline dan menunjukkan deretan giginya yang rata.
Seperti sudah hafal dengan hal itu, Kala tersenyum manis dan menganggukkan kepala, memberikan izin untuk Eveline. Eveline yang melihat pun dengan semangat langsung bangkit dan menuju ke arah anak tangga.
Sedangkan Amber yang sudah sampai di depan kamar Gavin pun terdiam. Sejenak, dia mencoba mengatur napas dan meminimalisir perasaan gugup. Bagaimanapun ini adalah pertama kali dia melakukan tugas, membuat Amber sedikit was-was. Dia takut kalau akan membuat kesalahan yang memancing emosi Gavin. Apalagi dengan penjelasan Mega yang mengatakan kalau pria itu begitu dingin dan tidak berbelas kasih, membuat Amber semakin tidak karuan.
Amber yang sudah merasa membaik pun mulai mengulurkan tangan, mengetuk pintu di depannya. Dia menunggu seseorang di dalam ruangan itu memberikan dia izin masuk. sesekali, pandangannya menatap sekitar yang benar-benar sepi.
“Masuk.”
Amber yang mendengar suara itu dari dalam pun memegang gagang pintu. Perlahan, dia mulai membukanya dan melangkah pelan. Sebisa mungkin, dia tidak menimbulkan suara sama sekali. Hingga dia yang sudah berada di kamar Gavin pun menghentikan langkah dan menatap sekitar.
Kedua mata Amber terbuka lebar ketika melihat pemandangan di depannya. Kamar luas bernuansa abu dengan tatanan yang sempurna. Sebuah ranjang besar dengan dua nakas di setiap sisi. Terdapat televisi besar yang tepat menghadap ke arah ranjang. Kamar mandi yang terbuat dari kaca. Hingga Amber yang menyusuri seisi kamar berhenti di balkon kamar yang mengarah tepat ke bangunan perkantoran yang begitu megah.
“Mau sampai kapan kamu diam, Amber?”
Amber yang mendengar teguran itu pun tersentak kaget. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara dan mendapati Gavin tengah duduk di sofa, tepat di sebelah jendela kamar. Melihat pria itu hanya menggunakan handuk dan membiarkan bagian atasnya terbuka membuat Amber kembali terdiam. Dia benar-benar terpesona dengan tubuh atletis pria itu. Katakan saja dia mesum, tetapi melihat Gavin dalam kondisi seperti saat ini benar-benar cukup menggoda dirinya.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena setelahnya dia tersadar. Amber pun dengan cepat menyingkirkan pikiran kotornya. Dengan tenang, dia melangkahkan kaki ke arah sofa. Dia tidak ingin membuat pria itu menunggu lebih lama lagi. Hingga Amber yang sudah sampai di dekat sofa pun menundukkan tubuh dan meletakkan gelas di depan Gavin.
“Silahkan, Tuan,” ucap Ambr sopan.
Gavin masih saja diam dengan sebelah kaki disilangkan. Dia meraih gelas itu dan menyeruput pelan. Sejenak, dia terdiam dengan raut wajah berpikir. Hingga dia menatap ke arah Amber berada.
“Kamu yang membuatnya?” tanya Gavin.
Amber hanya menganggukkan kepala. Ada perasaan cemas karena pertanyaan itu. Dia benar-benar takut jika ada yang kurang atau pria itu tidak menyukainya.
“Enak,” puji Gavin.
Seketika, Amber yang semula cemas langsung mengulas seyum lebar. Dia menundukkan tubuh dan mengucapkan terima kasih. Amber pun meminta izin keluar. Dengan semangat, dia memutar tubuh dan siap melangkah. Sayangnya, tepat saat itu, kakinya tersangkut sesuatu, membuat tubuhnya tidak seimbang.
Amber yang merasakan tubuhnya akan terjatuh pun langsung melebarkan kedua mata. Bisa dipastikan jika kali ini kepalanya akan mengenai meja di belakangnya. Dia bahkan sudah memejamkan mata, siap menerima rasa sakit dan malu, tetapi bukan hal itu yang didapat. Amber malah merasakan tubuhnya jatuh di sebuah tangan kekar.
Hening. Perlahan, Amber membuka mata. Dia penasaran, sebenarnya dia jatuh di mana. Tepat saat kedua matanya terbuka, tepat saat itu juga dia bersitatap dengan manik mata milik Gavin. Detak jantungnya bahkan langsung berhenti berdetak saat melihat pria itu menatapnya tajam. Tubuhnya benar-benar kaku, tidak dapat berfungsi dengan benar. Pikirannya tiba-tiba saja kosong, membuat Amber sulit bereaksi. Hingga pintu kamar terbuka.
“Gav….” Eveline yang baru saja masuk dibuat tercengang dengan pemandangan di depannya. Rahangnya mengeras, dengan kedua tangan mengepal. Tatapannya terarah tajam, tepat ke arah Amber berada.
Eveline melangkah lebar dan meraih tangan Amber. Dia menarik kasar, membuat Amber yang sempat melamun pun tersentak kaget. Namun, sata sudah berdiri sepenuhnya, Eveline langsung melayangkan tamparan di pipi Amber.
Plak. Amber yang menerima perlakuan itu pun terkejut dan menatap ke arah Eveline. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang akan dilakukan Eveline kali ini. tangannya memegang pipinya dengan air mata menggenag.
“Dasar jalang sialan! Kamu mencoba merayu calon suamiki? Kam—”
“Eveline.”
Eveline yang mendengar suara penuh peringatan dari Gavin pun diam. Pria itu memang tidak membentaknya, tetapi suara penuh penekanan itu sudah membuat Eveline sadar dengan apa yang terjadi. Kali ini dia hanya diam dan menahan emosinya.
“Amber, keluarlah. Lanjutkan pekerjaan kamu,” ucap Gavin dan langsung mendapat anggukan.
Sedangkan Eveline yang melihat Amber melangkah keluar pun menatap lekat. Aku akan buat kamu menderita, Amber, batin Eveline.
Anda Mungkin Juga Suka





