Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Rumit Tiga Sekawan

Cinta Rumit Tiga Sekawan

Setelah kondisi kesehatannya berangsur membaik, Wenny Sanjaya dihadapkan pada pilihan penting mengenai perjodohan masa kecilnya yang diatur oleh keluarga. Melalui sambungan telepon, sang ibu, Maya Sanjaya, menawarkan opsi untuk membatalkan rencana pernikahan tersebut jika Wenny keberatan pulang ke Kota Jintara. Namun, secara tak terduga Wenny menyetujui perjodohan itu. Ia hanya meminta waktu selama dua minggu untuk menuntaskan segala urusan pribadinya di Kota Hanis sebelum melangsungkan pernikahan.
Bab
Bagikan

Bab 6

Wenny akhirnya berhasil pulih dengan susah payah. Dia bersandar di dinding, memegang obat di tangannya dengan erat sambil menutupi wajahnya untuk menghalangi serbuk bunga masuk lagi.

Belum sempat beristirahat sejenak, terdengar suara Yoga yang bertanya padanya.

Apa kamu benar-benar membenci Hana? Dia baru saja memberikan bunga-bunga ini kepada kita, tapi kamu langsung menghancurkannya!

Tak lama kemudian, suara Sandro yang penuh dengan kemarahan juga menyusul.

Wenny, aku merasa kamu makin susah dipahami belakangan ini, bagaimana kamu bisa berubah seperti ini!

Mendengar kata-kata itu, Wenny menarik napas dalam-dalam.

Seluruh tubuhnya bergetar, marah dan kesal. Ada banyak kemarahan yang ingin diungkapkan, tetapi pada akhirnya, hanya menjadi suara yang terisak dengan mata berair.

Aku yang berubah? Atau sebenarnya kalian yang berubah?

Aku menderita asma dan alergi terhadap serbuk bunga, apa kalian nggak tahu?

Suaranya lemah, tidak ada semangat sedikit pun.

Setiap kata dan kalimatnya seperti petir, meledak dengan keras di telinga Yoga dan Sandro.

Dulu mereka yang paling peduli terhadap Wenny.

Setiap kali Wenny mengalami serangan asma, yang paling cemas adalah kedua orang ini. Meskipun harus memanjat tembok untuk bolos kelas, mereka tetap pulang. Mereka menunggu di depan tempat tidur Wenny dengan mata merah, menyuguhkan teh dan air, tidak ada yang bisa mengusir kedua orang ini.

Namun, sekarang mereka bahkan melupakan hal yang begitu penting ini.

Entah apakah mereka sadar akan kesalahan mereka, ekspresi wajah Yoga berubah setelah beberapa saat, menunjukkan sedikit penyesalan.

"Maaf."

Sandro mengernyitkan alisnya, mengingat kembali bagaimana mereka selalu menemani Wenny saat dia sakit. Mereka tahu betul betapa sakitnya dia. Akhirnya Sandro tidak tahan dan melangkah maju. "Kamu, tadi baik-baik saja, 'kan? Maafkan aku, bunga ini adalah hasil kerja keras Hana yang memetiknya sendiri di alam liar, jadi aku terlalu terburu-buru tadi."

Wenny diam saja dan tidak menjawab.

Melihat dia telah menggunakan obat dan wajahnya perlahan-lahan kembali normal, Yoga dan Sandro segera membawa bunga itu keluar.

Beberapa hari setelah itu, Yoga dan Sandro tidak pulang ke rumah.

Lampu di kamar mereka tidak pernah menyala.

Wenny juga tidak peduli dengan mereka, dia sibuk mengemas barang-barangnya.

Setelah hampir selesai mengemas barang, barulah dia mulai mengamati rumah ini.

Awalnya dia yang membeli rumah ini, kemudian Yoga dan Sandro membeli rumah di sebelah kiri dan kanannya agar bisa lebih dekat dengannya. Setelah digabungkan, barulah terbentuk rumah yang ada sekarang.

Jadi, sekarang hanya sepertiga bangunan ini yang menjadi miliknya.

Jika dia ingin menjualnya, agak sedikit rumit.

Hari itu, Yoga dan Sandro akhirnya pulang, dan kebetulan bertemu agen properti yang datang untuk membicarakan penjualan rumah dengan Wenny.

Melihat pria asing masuk ke dalam rumah, wajah Yoga langsung berubah dingin. "Siapa kamu? Mau apa di sini?"

Menghadapi dua pasang mata yang sangat mengintimidasi, agen properti itu sangat gugup, tetapi segera menjelaskan.

Selamat siang, Pak. Saya agen properti, katanya pemilik rumah ini mau menjual rumah ini.

Menjual rumah?

Yoga dan Sandro saling berpandangan, keduanya jelas terkejut.

Wajah keduanya langsung berubah, siap untuk menyuruh agen ini pergi, tetapi sesaat kemudian, Wenny turun dari tangga.

Aku yang mau menjual rumah ini, aku sudah berencana untuk membicarakannya dengan kalian.

Mendengar itu, hati Yoga dan Sandro langsung tegang. Serentak mereka bertanya, "Kenapa mau dijual? Bukankah kita baik-baik saja tinggal di sini?"

Sandro teringat kejadian beberapa hari lalu dan mulai mengerti alasannya, langsung bertanya dengan tegas, "Apa kamu masih marah karena kejadian beberapa hari lalu?"

Dia jelas panik, bahkan sampai meminta maaf, hal yang jarang dilakukannya. "Kami nggak sengaja lupa kalau kamu alergi serbuk bunga, apa kamu benar-benar harus sampai sejauh ini?"

Wenny menggelengkan kepala dengan santai. "Itu nggak ada hubungannya dengan kejadian sebelumnya … "

"Tapi, ada hubungannya dengan kalian."

"Aku nggak mau lagi ada hubungan dengan kalian."

Walau dalam hati berpikir begitu, dia tidak mengatakannya. Dia hanya berkata, "Kalian juga tahu kalau aku sudah berhenti kerja, dan nantinya harus mencari pekerjaan baru. Jadi memang nggak cocok lagi tinggal di sini. Apalagi sudah bertahun-tahun kita tinggal bersama, nggak perlu terus-terusan bersama."

Yoga mengerutkan wajah, masih belum mau menyerah.

Kalau soal pekerjaan, kami 'kan bisa mengantar jemput kamu, kamu nggak perlu khawatir. Apalagi, kamu juga bilang kita sudah tinggal bersama bertahun-tahun, kita sama-sama sudah terbiasa, kenapa harus berpisah?

"Ya, aku dan Yoga ada kok, kalaupun nggak bisa, kami bisa siapkan sopir untuk antar jemput kamu. Aku nggak setuju kita berpisah." Sandro juga keberatan.

Melihat bahwa mereka masih tidak bisa diyakinkan, Wenny memijat dahinya, tidak mengerti kenapa mereka begitu keras kepala.

Akhirnya, dia mengeluarkan senjatanya. "Kalau begitu, jual saja rumah ini, beli yang lebih besar, nanti bisa ajak Hana tinggal bersama."

Mendengar nama Hana, mata keduanya langsung berbinar, tetapi ada keraguan sejenak.

Akhirnya Sandro tak bisa menolak dan berkata, "Kalau memang begitu, nggak masalah."

Sementara Yoga tampak lebih berpikir dalam-dalam, tatapannya penuh tanda tanya. "Kamu benar-benar mau … ajak Hana tinggal di sini?"

Entah kenapa, dia merasa ada yang tidak beres dengan semuanya.

Namun, belum sempat dia berpikir lebih lanjut, Wenny tertawa pelan. "Tentu, kenapa nggak mau? Kita semua 'kan teman."

Dengan tegas dia segera mengambil keputusan.

Oke, jadi begini saja, jual rumah ini, lalu beli yang baru.

Setelah itu, Yoga dan Sandro terdiam, tidak lagi membantah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO 1 Miliar Won
9.5
Kim Liu, pengacara muda yang selalu berbakti, terpaksa menyetujui perjodohan demi ibunya yang sakit parah. Ia menikah dengan Jung Jisung, CEO TJ Group yang kaya namun trauma akibat penculikan masa kecil. Meski awalnya dingin dan penuh rumor, Jisung perlahan luluh oleh ketulusan Liu. Namun, pernikahan rahasia mereka diguncang oleh kebencian ibu mertua, gangguan mantan kekasih Liu, serta intrik Song Minseo yang ambisius. Bisakah cinta tumbuh di tengah rahasia dan tekanan harta?
Sampul Novel Dia yang Dibawa Pulang, Aku yang Dilupakan
7.9
Sejak Siti Kusuma hadir di hari ulang tahunnya yang ke-16, hidup gadis ini berubah drastis. Sikap ketiga saudara laki-lakinya berbalik dingin; Jason mendorongnya hingga jatuh dari tangga, sementara Anto mengusirnya dari rumah. Kepergiannya secara diam-diam dianggap remeh oleh keluarganya yang justru pergi berlibur ke Franzia. Namun, mereka tidak tahu bahwa ia telah menandatangani kontrak mati sebagai ahli kimia termuda di perusahaan saingan berat mereka, memicu penyesalan yang terlambat.
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.6
Hari pernikahan yang seharusnya indah berubah menjadi mimpi buruk. Secara sepihak, orang tua dan tunanganku memutuskan untuk mengganti posisi mempelai wanita dengan kakak kandungku yang sedang sakit keras. Karena aku menolak mentah-mentah keputusan tidak adil ini, mereka tega mengikatku di dalam rumah agar pernikahan tetap berjalan tanpa hambatan. Namun, kemalangan tidak berhenti di situ. Saat mereka pergi merayakan pesta, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawaku dengan kejam. Ketika keluargaku akhirnya kembali untuk melepaskanku, mereka hanya mendapati jasadku yang telah membusuk.
Sampul Novel Istri Yang Berjuang Sendiri
9.1
Kehidupan pernikahan ini terasa sangat hambar karena suamiku enggan menafkahiku dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Puncak penderitaanku bermula saat dia mendesakku mengambil utang bank demi membelikannya sebuah mobil. Meski sudah berkorban, pengabdianku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit saat aku memergokinya berselingkuh dengan wanita lain. Kini, aku berdiri di persimpangan jalan, mempertanyakan nasib rumah tangga kami yang hancur.
Sampul Novel Jangan Tinggalkan Aku
9.3
Pasca kecelakaan maut yang merenggut orang tuanya, Alvira harus menanggung biaya pengobatan kakaknya yang koma. Di tengah himpitan ekonomi, ia nekat menjual diri di klub malam demi uang cepat. Tak disangka, ia bertemu Damian Verrell, Presdir dingin yang menawarinya kontrak sebagai simpanan dengan bayaran tinggi. Demi keselamatan sang kakak, Avi rela mengorbankan kehormatannya dan terjebak dalam dunia Damian yang penuh kuasa namun memiliki hati yang tertutup rapat.
Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan
9.7
Dua tahun berlalu sejak putus, Cica yang kini berusia dua puluh tahun harus menghadapi kenyataan pahit bertemu kembali dengan Soleh, mantan kekasihnya saat SMA. Pertemuan mereka jauh dari kata romantis karena Cica terperosok ke selokan berlumpur akibat asyik bermain ponsel. Alih-alih langsung menolong, Soleh justru menggoda Cica dengan gombalan receh yang memancing emosi. Tak terima, Cica menarik Soleh hingga mereka berdua sama-sama kotor oleh lumpur busuk itu.