
Cinta Pertama Dari Istri Kedua
Bab 2
"Saka, aku pulang duluan yah"
"Masih sore ini, kita ngopi lah dulu"
"Maaf yah Saka, kamu tahu kan istriku menunggu dirumah jadi aku harus pulang tepat waktu" ujar Irwan yang membuatku termenung.
Kehidupan rumah tangganya memang selalu membuatku iri, bagaimana tidak? Dia selalu berangkat dan pulang bekerja dengan raut wajah bahagia, karena memiliki istri yang selalu menunggunya dan mengabarinya. Sedangkan aku, isi handphoneku hanyalah prihal pekerjaan , sekalinya Anita menghubungi hanya untuk menjemputnya.
Dihadapan teman-temannya dia selalu berperan sebagai istri idaman dan sempurna, nyatanya tidak pernah ada sedikitpun sikapnya, yang membuatku kagum. Terlebih dia memang tidak pernah tau bagaimana cara menghargai dan memperlakukan suaminya.
Akhirnya, aku memutuskan pulang kerumah walau aku tahu, Anita pasti masih sibuk dengan teman-temannya.
"Selamat sore, tuan Saka" sambut Asisten Rumah tangga dirumahku.
Setiap harinya hanya dia yang selalu menyambutku dengan baik, ketimbang istriku Anita.
"Sore juga bi, istriku sudah pulang?"
"Belum Tuan , nyonya Anita pesan bahwa bibi harus masak makan malam untuk tuan saja"
Aku hanya menarik nafas panjang, mencoba untuk tetap sabar namun, kesabaranku sudah habis, belajar untuk tidak peduli, tetapi Anita masih istriku, mau bagaimanapun dia masih menjadi tanggung jawabku.
Sejak kecil, kedua orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk menghargai perempuan terutama seorang istri. Walau aku bukanlah lahir dari keluarga taat beragama, tetapi melihat ayahku yang selalu sabar menghadapi ibu, membuatku mencoba untuk terus belajar menjadi suami yang baik demi istriku. Walau memang istriku Anita tidak pernah melihat itu.
Dirumah ini, hanya tinggal aku, Anita dan satu asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama denganku dari mulai kamu menikah. Bahkan mungkin dia yang sudah sangat paham dengan sikap istriku.
"Tuan, makanan sudah siap, bibi permisi kedapur dulu yah"
"Tunggu bi, temani saya makan" pintaku pada wanita berusia 50 tahun tersebut, yang sudah aku anggap seperti ibu keduaku.
"Tuan Saka, serius?"
"Serius Bi, aku tidak punya teman bicara"
Rasanya sekalipun tidak pernah aku menikmati makan malam dengan istriku, sejak menikah kerjaan Anita hanya fokus pada teman-temannya dan pekerjaannya, apalagi papa mertuaku memberikannya sebuah butik untuk dikelola, bagi keluarganya seorang wanita fokus dengan karir setelah menikah adalah halnyang wajar. Namun, tidak dengan keluargaku, bagiku seorang istri bertugas melayani suami, dan selalu mendengar perkataannya, jika hal tersebut masih baik.
"Tuan, kenapa melamun? Nanti makannya keburu dingin" sahut Bi Imas.
"Maaf bi, sepertinya aku tidak lapar"
"Tuan Saka pasti sedang memikirkan nyonya Anita yah?"
"Iya Bi, kapan yah aku bisa menikmati makan malam dengan istriku seperti pasangan lainnya, padahal aku dan Anita menikah sudah hampir lima tahun" jawabku pada bi Imas.
"Tuan yang sabar yah, bibi yakin kelak nyonya Anita bisa berubah" ucap bi Imas sedikit membuatku tenang.
Dan ditengah obrolanku dengan bi Imas , tiba-tiba saja Anita pulang tanpa mengucapkan salam, atau menghampiriku dimeja makan.
"Anita tunggu!" Seketika langkah Anita terhenti.
"Apalagi sih, mas saka?" Anita menatapku tanpa rasa bersalah.
"Kamu baru pulang jam segini?"
"Kenapa sih?, aku tadi sibuk maaf"
"Cukup Anita! Hentikan kegilaanmu ini, aku minta kamu fokus pada pernikahan kita!" Jawabku tegas.
Anita menatapku tajam, seolah dia tidak terima dengan permintaan sederhanaku. Mungkin hal tersebut sangat mudah untuk wanita lain yang memang siap untuk menikah, apalagi ketika suami menyanggupi untuk membiayai segala kebutuhannya. Namun, tidak dengan istriku Anita.
"Kamu pikir, kamu siapa mas?"
"Aku, mau menikah denganmu karena terpaksa dan papa yang memintaku" jawab Anita membuatku semakin kesal.
Aku menikahi Anita memang karena perjodohan, orang tua Anita membuatku terjebak dalam pernikahan yang salah. Karena Anita yang ditinggal calon suaminya disaat segala persiapan pernikahan sudah dibuat. Demi nama baik keluarga, aku harus berkorban menikahi Gadis angkuh, dan keras kepala seperti Anita.
Aku yang tidak pernah berpacaran, atau memiliki kekasih, awalnya sangat bahagia karena menikah tanpa pacaran, namun ternyata aku tersiksa seumur hidup.
"Cukup Anita!! Sekarang apa maumu?" Tanyaku menatapnya.
"Aku mau kamu menikah lagi mas, agar kamu tidak lagi ikut campur urusanku, biarlah pernikahan kita tetap berlanjut, toh kita menikah karena hanya ingin statusnya kan" jawab Anita.
"Oke, kalau memang dengan aku berpoligami membuatmu bahagia, aku turuti!"
"Tapi ingat, jangan sampai kamu menyesal!".
Aku langsung pergi keluar, mencoba mencari ketenangan yang membuatku semakin gila berada disamping istriku. Anita tidak menghiraukan aku lagi-lagi dia tidak peduli pada luka yang aku miliki.
"aaaaaaaaaaaa, aku benci pernikahan ini!!" Teriakku di taman belakang rumah.
Aku merasa menjadi lelaki yang lemah dihadapan istriku, bukan karena tidak mampu melawannya , tetapi lepas darinya memang tidak semudah itu. Karena aku tidak mau lagi-lagi kedua orang tuaku yang harus merasakan akibat diriku yang tidak mampu mengendalikan amarah.
Anda Mungkin Juga Suka
![Sampul Novel Call Girl [21+]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/ffe4449b5001834806830391065/vgrIANGZosEA.webp!15491.webp)




