
Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku
Bab 3
Hujan yang mengguyur Jakarta malam itu seolah menjadi tirai yang menutupi kebingungan dan kegalauan hati Dewi. Ia memandangi lukisan matahari terbitnya, sebuah simbol harapan yang kini terasa begitu rapuh. Artikel di majalah gosip itu, meski Reza sudah merobeknya, meninggalkan jejak yang dalam. Bukan hanya rasa malu, tapi juga ketakutan. Ia takut, bahwa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan akan kembali direnggut oleh masa lalu yang kejam.
Keesokan harinya, Dewi datang ke kantor dengan langkah yang berat. Ia melihat bisik-bisik dan tatapan-tatapan sinis. Beberapa rekan kerja yang biasanya ramah kini menghindarinya. Hatinya mencelos, luka lama yang hampir mengering kembali berdarah.
Saat ia duduk di mejanya, Reza datang menghampirinya, membawa dua cangkir kopi. "Jangan pedulikan mereka, Dewi," ucapnya, menyodorkan secangkir kopi hangat. "Kita punya pekerjaan yang lebih penting."
Dewi menatap Reza, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana saya bisa mengabaikannya, Reza? Semua orang menatap saya seperti saya ini penjahat."
"Biar saja," jawab Reza, dengan suara mantap. "Apa yang lebih penting? Pendapat orang lain yang tidak tahu apa-apa, atau kebahagiaanmu sendiri?"
Kata-kata itu menyentuh hati Dewi. Reza selalu tahu cara menenangkan badai dalam dirinya. "Tapi... reputasi Anda..."
"Reputasi saya tidak dibangun dari gosip murahan, Dewi," potong Reza, "Tapi dari kerja keras dan integritas. Kalau mereka ingin menjatuhkan saya, mereka harus bekerja lebih keras dari ini. Dan saya tidak akan membiarkan mereka menjatuhkanmu."
Pada saat itu, Dewi menyadari bahwa ia tidak sendirian. Reza tidak hanya menawarkan pekerjaan, tapi juga perlindungan. Perlindungan dari dunia yang kejam, yang hanya melihatnya dari satu sisi. Perlindungan dari masa lalu yang terus menghantuinya.
Dewi mulai bekerja, mencoba mengalihkan pikirannya. Ia membenamkan diri dalam desain-desain yang ia buat, mencoba meluapkan emosinya ke dalam karya. Ia melukis dengan cahaya, dengan warna-warna cerah, mencoba melawan kegelapan yang mengancam.
Namun, badai itu belum usai. Sore harinya, sebuah email masuk ke kotak masuk Dewi. Sebuah email dari nomor yang tidak dikenal, dengan subjek "Peringatan Terakhir". Isi email itu adalah foto-foto lama dirinya bersama Pratama, foto-foto yang menunjukkan kedekatan mereka. Di bawahnya, ada tulisan: "Jauhi Reza Abisena, atau foto-foto ini akan tersebar luas dan mempermalukanmu."
Dewi gemetar. Tangannya bergetar saat membaca email itu. Ia tahu, ini adalah ulah Clarissa, yang tidak terima karena ia dan Reza semakin dekat. Clarissa ingin menghancurkannya.
Dewi langsung memberitahu Reza tentang email itu. Reza membaca email itu, rahangnya mengeras. "Clarissa memang keterlaluan," gumamnya. "Jangan khawatir, Dewi. Kita akan menyelesaikan ini."
Dewi menggeleng. "Jangan, Reza. Ini akan membuat masalah semakin rumit. Biar saya yang menyelesaikannya."
Reza menatapnya dengan tatapan penuh tanya. "Bagaimana caranya?"
"Saya akan menemui Clarissa," jawab Dewi, dengan suara yang tegas. "Saya akan membuat dia menghentikan semua ini."
Reza awalnya menolak, khawatir Dewi akan disakiti. Tapi Dewi meyakinkannya. "Saya sudah tidak takut lagi. Saya sudah lelah lari dari masa lalu. Sudah saatnya saya menghadapinya."
Keesokan harinya, Dewi menemui Clarissa di sebuah kafe mewah. Clarissa datang dengan senyum sinis. "Oh, jadi akhirnya kau menyerah?" ucapnya, "Sudah berapa banyak uang yang Reza berikan, sehingga kau berani menemuiku?"
Dewi menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak datang untuk menyerah, Clarissa. Aku datang untuk mengakhiri semua ini."
Clarissa tertawa. "Mengakhiri? Kau pikir kau siapa? Kau hanya seorang wanita simpanan yang dibuang. Kau tidak punya hak untuk mengakhiri apa pun."
"Aku memang bukan siapa-siapa di matamu," jawab Dewi, dengan suara mantap. "Tapi aku punya hak atas hidupku sendiri. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkannya."
Clarissa mengangkat alisnya. "Oh ya? Bagaimana jika aku sebarkan foto-foto itu? Bagaimana jika semua orang tahu, kalau kau hanyalah wanita murahan yang merebut suami orang?"
"Lakukan saja," ucap Dewi, dengan suara yang bergetar namun tetap tegas. "Sebarkan saja. Karena aku tidak akan lari lagi."
Clarissa terdiam. Ia tidak menyangka Dewi akan berani melawan.
"Aku tahu, Pratama kembali padamu," lanjut Dewi, "Aku tidak akan mengganggu kalian. Tapi tolong, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah memulai hidup baru, dan aku tidak akan membiarkan masa lalu mengganggu masa depanku."
Wajah Clarissa memerah. "Kau... kau berani-beraninya."
"Aku tidak berani," jawab Dewi, "Aku hanya lelah. Lelah dengan semua permainanmu, lelah dengan semua hinaanmu. Aku hanya ingin hidup damai."
Dewi berdiri, dan bersiap pergi. "Aku tidak akan menghapus foto-foto itu, Dewi," ancam Clarissa. "Kau akan menyesal."
Dewi hanya tersenyum. "Mungkin. Tapi setidaknya, aku sudah jujur pada diriku sendiri. Sekarang, giliranmu. Jujurlah pada dirimu sendiri, Clarissa."
Dewi keluar dari kafe itu, hatinya campur aduk. Ia tidak tahu apakah keputusannya benar atau salah. Ia hanya tahu, ia sudah melakukan yang terbaik.
Ia kembali ke kantor dan langsung menemui Reza. "Bagaimana?" tanya Reza, dengan nada khawatir.
Dewi menceritakan semuanya. Reza mendengarkan dengan seksama. Setelah Dewi selesai bercerita, Reza memegang tangannya. "Kamu luar biasa, Dewi. Kamu sangat berani."
"Saya hanya mencoba," jawab Dewi, "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Apa pun yang terjadi, saya akan ada di sampingmu," ucap Reza. "Kita hadapi bersama."
Dua hari kemudian, foto-foto Dewi dan Pratama tersebar luas di media sosial. Hujatan dan cemoohan kembali datang, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Mereka menyebut Dewi sebagai "penggoda," "pelakor," dan "wanita simpanan."
Dewi kembali terpuruk. Ia mengurung diri di rumahnya, mematikan teleponnya. Ia merasa malu, merasa hina. Ia tidak ingin melihat siapa pun.
Saat itulah, Reza datang ke rumahnya. Ia mengetuk pintu, tetapi Dewi tidak membukanya. Reza tidak menyerah. Ia menunggu di depan pintu rumah Dewi, berjam-jam, di bawah hujan yang kembali turun.
Akhirnya, Dewi membukakan pintu. Matanya sembap, rambutnya acak-acakan. "Reza... kenapa Anda di sini?"
"Karena saya tidak akan membiarkan kamu sendirian," jawab Reza, "Saya akan ada di sampingmu, apa pun yang terjadi."
Reza masuk ke dalam rumah, memeluk Dewi dengan erat. "Jangan dengarkan mereka, Dewi. Mereka tidak tahu apa-apa. Saya tahu kamu bukan seperti yang mereka katakan. Saya tahu kamu adalah wanita yang baik, yang tulus."
Pelukan Reza terasa seperti pelabuhan terakhir. Dewi menangis, menumpahkan semua kesedihan dan rasa sakitnya.
Setelah tangisnya reda, Reza mengambil sebuah buku sketsa dan pensil. Ia mengajak Dewi duduk di ruang tamu. "Ayo, kita melukis. Kita ciptakan sesuatu yang indah, yang bisa menutupi semua kejelekan ini."
Dewi menatap Reza. Ia melihat ketulusan di mata pria itu. Ia melihat cinta. Cinta yang tidak menghakiminya, cinta yang tidak menghinanya, cinta yang menerima dirinya apa adanya.
Mereka mulai melukis bersama. Dewi melukis bunga-bunga yang mekar, melukis pemandangan-pemandangan indah, melukis mimpi-mimpi baru. Reza melukis wajah Dewi, wajah yang penuh dengan kesedihan, namun juga penuh dengan keteguhan.
Melalui lukisan-lukisan itu, Dewi perlahan menyembuhkan hatinya. Ia tidak lagi peduli dengan apa kata orang. Ia tidak lagi peduli dengan masa lalu. Ia hanya peduli dengan masa kini, dengan Reza, dan dengan kebahagiaan yang baru saja ia temukan.
Suatu hari, saat mereka sedang melukis, Reza menatap Dewi. "Dewi," ucapnya, "Saya tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi... saya mencintai kamu. Saya ingin bersama kamu, selamanya."
Pengakuan itu membuat Dewi terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Ia menatap mata Reza, dan ia melihat ketulusan yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia melihat masa depan yang cerah, masa depan yang tidak lagi gelap.
Dewi tersenyum. Sebuah senyum yang tulus, senyum yang sudah lama hilang dari wajahnya. "Saya juga... saya juga mencintai Anda, Reza."
Mereka berpelukan, di tengah-tengah lukisan-lukisan yang penuh dengan harapan. Hujan sudah berhenti. Matahari sudah terbit. Dan Dewi, akhirnya menemukan cinta yang berbeda, cinta yang tulus, cinta yang menyembuhkan.
Perjalanan mereka masih panjang. Masih ada tantangan, masih ada rintangan. Tapi kali ini, mereka akan menghadapinya bersama. Sebagai satu tim. Sebagai sepasang kekasih. Sebagai dua jiwa yang disatukan oleh takdir, untuk menyembuhkan luka-luka masa lalu, dan membangun masa depan yang indah.
Anda Mungkin Juga Suka





