
Cinta Palsu Dalam Pernikahan Kontrak
Bab 2
Aruna POV:
Elvira melangkah anggun ke arahku, senyumnya yang biasa kini berubah menjadi seringai penuh kemenangan.
"Maaf, Aruna. Aku tidak tahu ini tempat parkirmu," katanya, suaranya manis seperti madu tapi tatapannya tajam. "Aku hanya ingin Arkana senang."
Sebelum aku sempat menjawab, Gavin sudah menyela. "Aruna sudah tahu. Dia tidak akan keberatan."
Matanya menyiratkan peringatan, sebuah pesan yang jelas: Jangan membuat masalah.
Arkana, yang duduk di kursi belakang mobil Elvira, menjulurkan kepalanya.
"Tante Elvira tidak salah, Mama Aruna. Mama selalu membosankan. Tante Elvira lebih seru!"
Kata-kata itu menghantamku seperti bongkahan es. Membosankan? Anak yang kubesarkan dengan sepenuh hati memanggilku membosankan?
Aku memejamkan mata sesaat, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk. Aku ingat bagaimana aku menghabiskan berjam-jam bermain dengannya, membaca buku cerita, dan membuatkan makanan kesukaannya.
Aku adalah orang yang menemaninya saat demam, yang mengajarinya membaca. Sekarang, semua itu menguap begitu saja.
Gavin menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin ia menyadari betapa dalam kata-kata Arkana melukaiku.
"Elvira akan menginap di sini malam ini," kata Gavin, nadanya memerintah. "Kamarnya di lantai atas, di samping kamar Arkana."
Jantungku berdebar kencang. Elvira akan menginap?
"Papa, ini bagus! Tante Elvira bisa membacakan cerita pengantar tidur untukku!" Arkana berseru riang.
"Tentu saja, sayang," Elvira membelai rambut Arkana. "Tante akan membacakan cerita terlucu untukmu."
Gavin tiba-tiba tampak linglung, seolah baru menyadari bahwa dia belum memberitahuku tentang ini.
"Elvira hanya akan menginap sementara, sampai dia menemukan apartemennya sendiri," jelas Gavin, mencoba terdengar meyakinkan. "Dia butuh tempat untuk tinggal."
"Aku tidak masalah," kataku, suaraku terdengar jauh dan asing di telingaku sendiri.
Aku tidak masalah. Tidak ada yang masalah lagi bagiku. Aku hanya ingin semua ini berakhir.
Gavin menatapku lagi, kali ini dengan ekspresi tak percaya. Dia mungkin mengharapkan teriakan, atau setidaknya air mata.
Tapi aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan.
"Oh, Gavin, aku bisa menginap di hotel saja. Aku tidak ingin merepotkan Aruna," Elvira berkata, dengan nada pura-pura bersalah.
"Tidak perlu," Arkana menyela, "Tante Elvira adalah temanku! Papa, Tante Elvira lebih baik daripada Mama Aruna. Mama Aruna tidak pernah mengerti apa yang aku mau."
"Arkana!" Gavin membentaknya. Itu adalah pertama kalinya dia membentak Arkana di depan Elvira.
Arkana hanya cemberut. "Tapi itu benar, Papa! Tante Elvira tahu apa yang kusuka."
"Dia benar, Gavin," Elvira tersenyum penuh arti padaku. "Aku rasa Arkana juga tahu siapa yang lebih cocok di rumah ini."
Gavin menghela napas. "Sudahlah. Elvira, ayo masuk. Arkana, bawa Tante Elvira ke kamarmu."
Mereka bertiga masuk ke dalam, meninggalkanku sendirian di depan pintu.
"Aruna," Gavin berbalik. "Tolong ambilkan tas Elvira dari bagasi."
Aku menatapnya. Mataku kosong. Aku tidak ingin melakukan ini. Menjadi pelayan untuk wanita yang menggantikanku? Itu terlalu menyakitkan.
"Aku tidak enak badan," kataku, suaraku serak.
Gavin terkejut. Dia tidak pernah mendengarku menolak permintaannya.
"Ada apa denganmu?" tanyanya, ada sedikit nada khawatir di suaranya. "Kau terlihat sangat pucat."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya. Dia pasti melihat sesuatu di mataku, semacam kepasrahan yang membuatnya mengerutkan kening.
"Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk mengambilnya," katanya, nadanya sedikit melunak. "Tapi kau harus ikut masuk."
Aku tidak punya pilihan. Aku mengangguk pelan.
Aku mengambil tas Elvira dan membawanya ke dalam. Arkana berlari menghampiri Elvira, tangannya memegang sebuah kotak kecil berwarna biru.
"Tante Elvira, ini untukmu! Hadiah dari Arkana!" serunya, matanya berbinar.
Elvira mengambil kotak itu, terkejut. "Oh, Arkana, ini apa?"
"Buka saja!"
Elvira membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati kecil.
Aku kenal kalung itu. Itu adalah kalung yang kubelikan untuk Arkana saat dia mulai sekolah. Kutuliskan namanya di belakang liontin, sebuah pengingat bahwa aku akan selalu bersamanya. Kuberikan padanya sebagai jimat keberuntungan, agar dia selalu merasa kuat dan percaya diri.
"Ini... ini cantik sekali, Arkana," Elvira berkata, tapi matanya melirikku sekilas.
Aku merasakan jantungku mencelos. Kalung itu. Itu adalah simbol ikatan kami. Tapi sekarang, itu ada di tangan Elvira.
"Mama Aruna yang memberikannya padaku," kata Arkana. "Tapi aku tidak menyukainya. Jadi aku memberikannya padamu. Tante Elvira pasti lebih menyukainya."
Rasa sakit itu begitu dalam, tak terlukiskan. Kalung itu adalah harapanku, keberanianku, cinta tak bersyaratku.
Aku menatap Arkana. Anak yang kubesarkan, yang kuberi semua cintaku, dengan mudahnya membuang hadiah dariku pada wanita lain.
Gavin menatapku, matanya dipenuhi rasa bersalah. Tapi sudah terlambat.
"Arkana, itu tidak sopan," Gavin menegur, suaranya rendah. "Kalung itu pemberian Mama Aruna."
"Tapi aku tidak mau! Ini norak! Tante Elvira lebih cantik, jadi dia harus punya kalung yang cantik."
"Tidak apa-apa, Gavin," kataku, suaraku datar. "Arkana benar. Dia tidak menyukainya. Itu bukan apa-apa."
Aku berbalik dan berjalan menuju kamarku. Aku tidak ingin melihat mereka lagi.
Gavin menatapku, matanya dipenuhi kebingungan. Dia tidak mengerti. Dia tidak akan pernah mengerti.
Aku menutup pintu kamarku. Aku bersandar di pintu, air mata mengalir membasahi pipiku.
Seminggu lagi. Hanya seminggu lagi.
Aku hanya perlu bertahan seminggu lagi, dan semua ini akan berakhir.
Aku akan bebas. Bebas dari rasa sakit ini.
Anda Mungkin Juga Suka





