Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA LAMA BELUM USAI

CINTA LAMA BELUM USAI

Gina hancur saat mengetahui Abian menikah dan akan menjadi ayah. Ia memilih mundur, namun Abian menolak mengakhiri hubungan mereka. Dengan alasan paksaan sang ibu, Abian bersikeras mempertahankan Gina meski telah memiliki istri. Gina merasa muak dengan janji palsu dan egoisme pria itu yang ingin menjadikannya selingkuhan. Di tengah pengkhianatan dan kehamilan istri sah Abian, Gina terjebak dalam hubungan gelap yang dianggap Abian tidak akan pernah berakhir.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Saya terima nikah dan kawinnya Imelda Sri binti Hartanto dengan mas kawin sepuluh gram logam mulia dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!"

"Sah?"

"Saaaaaaaaaah!"

Gemuruh beberapa saksi dan juga beberapa orang dari kedua mempelai yang sedang di sahkan dalam ikatan suci pernikahan itu.

Walau hanya di hadiri oleh keluarga inti tetapi suara mereka memenuhi ruang tamu berukuran enam kali delapan meter rumah sederhana itu.

"Selamat ya!"

"Selamat ya!"

"Jeng, akhirnya jadi juga kita besanan," ucap seorang wanita kepada wanita lain dengan begitu sumringah setelah kata sah bergema. Keduanya berpelukan seperti teletubbies.

Sang mempelai wanita menadahkan tangan dengan wajah yang berbinar mengikuti ritual doa yang di pimpin oleh seorang pemuka agama yang hadir pada malam itu.

Dia mengucapkan kata 'amin' dengan begitu kencangnya di dalam hatinya. Berharap bahwa apa yang dia dapat hari ini akan kekal selamanya.

"Akulah pemenangnya," lanjutnya masih di dalam hati dengan kedua sudut bibir yang terangkat tipis.

Tak lama, dia mengikuti arahan dari para orang tua untuk mencium tangan sang pria yang sudah sah menjadi suaminya.

Bukan pria yang baru di kenal sehari dua hari. Tapi, pria ini adalah mantan kekasihnya dua tahun yang lalu. Mereka menjalin kasih sejak mereka kuliah tapi harus berakhir setelah lima tahun berpacaran di karenakan ego masing-masing.

Sejak dua tahun lalu, Melda -panggilan akrab wanita itu- sudah mencoba menjalin hubungan dengan beberapa pria, tetapi hanya bertahan seumuran jagung bahkan ada yang hanya satu bulan di karenakan tidak ada yang seperti mantannya ini.

Setiap dia berkencan dengan gebetan ataupun pria yang sudah sah jadi pacarnya, dia selalu membandingkan perlakuan pria-pria itu dengan mantan terindahnya yang bernama Abian. Alhasil, selalu terjadi percekcokan dan akhirnya putus karena apa yang dia inginkan dalam hubungan itu tidak bisa ia dapatkan.

Dan malam ini, pria yang selalu ada di dalam pandangannya kini sudah sah menjadi suaminya. Pria itu adalah Abian Ardiansyah .

"Cium keningnya dengan penuh perasaan!" titah orang tua itu pada Abian tapi kalimat itu tidak masuk ke telinga Melda lagi karena euforia dalam hatinya yang begitu besar.

Deg!

Jantung Melda serasa copot karena terkejut ketika merasakan bibir dingin itu menyapa keningnya. Wanita itu mengepalkan tangannya dan memejamkan mata meresapi ciuman itu. Ada keinginan dalam hati, bahwa dia menginginkan bibir itu mendarat juga di bagian tubuhnya yang lain.

"Apakah rasanya masih sama?" batinnya seraya terkikik.

"Cepatlah acara ini berlalu, aku sudah sangat tidak sabar memeluk Abianku, menciumi seluruh tubuhnya dan menanggalkan pakaiannya. Sungguh pemandangan yang sangat aku rindukan ketika pakaian kami berserakan di lantai," jerit Melda dalam hati.

Agak laen emang pikirannya!

*****

Karena acara yang sakral ini sangat intim dan hanya di hadiri oleh keluarga inti saja, maka tidak banyak acara lain seperti adat istiadat.

Usai sungkem dan meminta doa restu pada orang tua kedua mempelai, mereka lalu makan bersama lalu berbincang-bincang sebentar.

"Apa aku bilang Jeng, dari awal kita kenal, aku sudah punya keyakinan bahwa kita memang akan menjadi keluarga," ucap seorang wanita bernama Lisna. Wanita itu adalah ibunda dari Melda.

Senyum cerah di sertai anggukan dua kali sebagai jawaban dari ibunda Abian yang bernama Romauli.

Dua wanita paruh bayah itu asyik dalam pembicaraan dengan berbagai topik sementara pasangan mereka tidak membahas soal pernikahan anak-anak mereka walaupun mereka duduk berdekatan. Bahkan ucapan selamat karena sudah menjadi besan pun tidak ada keluar dari mulut masing-masing.

Mereka malah terhanyut dalam topik yang di bicarakan oleh orang lain yang duduk bersama mereka.

Menikmati minuman zero alkohol dan berbatang-batang rokok seperti kereta api yang tidak punya rem.

Politik, pemerintahan hingga ke permasalahan para rakyat menjadi topik utama para pria itu. Tak secuil pun masalah pernikahan ini di bahas bahkan kapan acara resepsi sekaligus adat akan di laksanakan tidak menarik perhatian mereka.

Ada apa? Apakah orang tua laki-laki kedua mempelai tidak begitu mengharapkan pernikahan ini? Apakah mereka sekumpulan 'sutis' yang hanya bisa mengangguk pada apapun keputusan istri?

Sungguh ironis sekali!

*****

"Aku ngantuk!" ujar Melda sedikit manja dan sedikit sensual pada Abian.

Dia merangkulkan tangannya pada lengan Abian dan segera menjatuhkan kepalanya di lengan atas pria itu.

Abian meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada ponselnya.

"Kamu dengar aku nggak sih, suami?" tanya Melda seraya menahan senyum ketika mengatakan 'suami'. Ada sesuatu perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan saat kata 'suami' meluncur dari mulutnya. Kata yang sudah lama dia impikan kini sudah sah untuk dia ucapkan setiap hari bahkan setiap detik pada pria pujaannya.

"Kalau ngantuk, pergi tidur, jangan lupa izin dulu sama orang tua!" ujar Abian cuek dan sangat dingin.

Selain mengucapkan ijab kobul dengan kalimat yang lumayan panjang, baru kalimat ini yang keluar dari mulutnya sejak acara ini di mulai.

Melda memanjangkan bibirnya dan membuat mimik wajahnya kesal-kesal manja.

"Temeniiiiiin!" ujarnya dengan rayuan seraya merapatkan pelukan di lengan Abian.

"Ck! Kamu kayak anak kecil aja. Masa mau tidur aja di temenin. Pergi aja sana. Itu kamar aku!"

"Tau!" jawab Melda semakin memanjangkan bibirnya.

"Aku tahu itu kamar kamu dan akan jadi kamar kita mulai malam ini. Aku bahkan tahu letak barang-barang disana karena dulu aku sering masuk ke sana bahkan aku tidur disana. Tapi, masa kamu tega nyuruh aku pergi sendirian kesana sekarang? Aku ini udah istri kamu loh! Ini malam pengantin kita loh, jangan lupa kan itu! Apa kata orang nanti kalau aku pergi sendirian kesana?"

Bara api di kepala Abian sudah mulai menyala setelah mendengar sebaris kalimat dari mulut Imelda. Bisakah dia berteriak sekarang bahwa menjadikan wanita mungil cantik yang bergelayut manja di lengannya ini menjadi seorang istri bukanlah keinginannya tapi karena terpaksa? Sangat terpaksa!

Bisakah dia menyadarkan wanita ini bahwa Melda sendirilah yang melemparkan dirinya untuk di jadikan istri?

"Kam--"

"Sttt! Jangan pasang wajah kayak gitu. Aku nggak suka!" potong Melda. Wanita itu langsung merubah raut wajahnya dalam sekejap. Tidak ada senyum manja-manja lagi.

Perang dingin antar pasangan baru itu mulai bergemuruh.

"Nggak usah munafik Abian, walaupun aku yang mendekati ibumu dan meminta untuk menikahkan aku denganmu, jika kamu tidak punya rasa terhadapku, kamu pasti bisa menolaknya dengan berbagai macam alasan," ujar Melda seraya menarik diri dari lengan Abian.

"Bilang saja, kamu juga merindukan aku, kan? Kamu juga menginginkan aku, kan? Jauh di lubuk hati kamu yang paling dalam, aku masih ada Abian. Jangan bilang nggak karena aku nggak akan percaya!" cecarnya seraya mengerlingkan mata ke arah suaminya itu. Dia juga mulai mengangkat kedua sudut bibirnya. Remeh!

Inilah sifat asli Imelda. Keras dan pemaksa juga manipulatif. Dalam dua detik raut wajahnya bisa berubah. Kadang, kata-kata yang keluar dari mulutnya juga sangat manis tetapi tajam melebihi tajamnya silet.

Lidahnya tidak pernah keseleo ketika mengucapkan hal-hal yang tidak ada menjadi ada. Sama seperti beberapa waktu sebelum hari ini, wanita itu sangat pandai berbicara kepada ibundanya Abian. Mengatakan bahwa mereka masih berhubungan walau sudah sering putus nyambung tapi cinta di antara mereka masih ada bahkan sangat kuat.

Ucapannya yang sangat manis dan pujian yang dia lontarkan pada orang tua Abian membuat wanita paruh baya itu luluh dan segera berbicara pada suami juga Abian bahkan sedikit memaksa dan hasil dari paksaan itu adalah apa yang terjadi malam ini. Pernikahan sakral yang intim kata Melda.

Sifat Melda yang keras dan pemaksa sering kali membuat wanita itu tanpa rasa takut memberikan ancaman secara halus demi memenangkan dirinya sendiri.

"Jangan menatapku seperti itu, kamu tahu aku, kan? Aku tidak bisa melepaskan apa yang aku mau, termasuk dirimu. Lagian..."

Wanita itu menggantung kalimatnya dan mulai bergelayut kembali di lengan Abian. Salah satu tangannya sengaja dia usapkan di paha Abian dengan gerakan lambat.

"Apa kamu nggak antusias untuk malam ini? Ini malam pengantin kita," ucapnya dengan sumringah.

Lalu tanpa rasa malu sama sekali, Melda mengangkat tubuhnya sedikit dan berbisik di telinga Abian dengan begitu sensualnya.

"Aku masih sama seperti dulu. Gurih dan sempit seperti kata kamu dulu."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Don Juan
9.1
Terlahir tampan dan atletis membuat pria ini memiliki pesona yang tak terelakkan bagi para wanita. Tanpa perlu bersusah payah, ia selalu berhasil memikat siapa pun untuk menyerah pada rayuannya. Berawal dari sekadar iseng, ia justru terjebak dalam kecanduan akan hubungan terlarang. Ada kepuasan luar biasa saat ia menjalin perselingkuhan berisiko dengan istri orang lain secara sembunyi-sembunyi. Inilah kisah penuh gairah yang menantang bahaya demi kenikmatan.
Sampul Novel Ambillah , dik !
8.3
Dokter Charlotte Swift Sterling diizinkan Kylen Brown menempuh spesialis kandungan di Jepang dengan janji pernikahan saat kembali. Namun, rencana indah itu hancur seketika saat adiknya, Jessamine, mengaku telah mengandung anak Kylen akibat hubungan terlarang. Di tengah pengkhianatan ini, Charlotte terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap menikahi tunangannya atau merelakan pria itu demi masa depan adik kandung yang sangat ia sayangi?
Sampul Novel Bantu  Mertuaku Ngerjai Pelakor
8.7
Terkenal sebagai wanita blak-blakan yang pantang mengalah saat berdebat, sang protagonis selalu diperingatkan ibunya bahwa tabiat kerasnya akan membawa petaka setelah menikah. Kenyataannya, ia justru mendapatkan suami yang penurut dan ibu mertua yang sangat lembut. Kehidupan rumah tangganya yang damai malah terasa menjemukan karena ia kehilangan panggung untuk beraksi. Namun, segalanya berubah saat masa lalu ayah mertuanya kembali datang mengusik, membuat ibu mertuanya menderita. Kini, menantu yang siap tempur ini tidak akan tinggal diam dan bersiap menghadapi sang pelakor.
Sampul Novel CEO itu Tunanganku
8.8
Dua dekade berlalu, Melisa masih menanti cinta masa kecilnya hingga hatinya mati rasa. Saat mencoba membuka hati, ia justru terjebak pria oportunis. Di sisi lain, Rommy kembali dari perantauan sebagai sosok perkasa namun membawa luka lama. Meski Rommy datang melamar, Melisa justru menolak tanpa tahu mereka telah dijodohkan sejak kecil. Di tengah cobaan yang bertubi-tubi, mampukah rahasia perjodohan itu menyatukan kembali takdir cinta mereka yang sempat terputus?
Sampul Novel Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya
8.8
Lima tahun menikah, identitas asliku terungkap sebagai pengganti Clara, kekasih Baskara. Setelah melahirkan pewaris Adhitama, aku justru disiksa dan dikurung. Puncaknya, Baskara membiarkan putra kami, Banyu, tewas demi menyelamatkan Clara yang bersandiwara. Kini, duka itu berubah jadi dendam dingin. Baskara tak sadar telah menandatangani surat kuasa fatal di balik dokumen arsitekturku. Keangkuhannya akan kuhancurkan lewat hak yang dia remehkan.
Sampul Novel DI ANTARA DUA HATI
8.2
Seorang wanita karier yang mapan kini berada di persimpangan emosi yang sulit. Kehadiran kembali sosok cinta dari masa lalunya memicu gejolak batin yang hebat, sementara di sisi lain, ada suami setia yang selalu mendampinginya. Ia harus berhadapan dengan dilema besar untuk menentukan pilihan hidupnya. Apakah ia akan mengejar memori indah yang sempat hilang atau tetap menjaga masa depan yang telah ia bangun dengan susah payah bersama pasangannya?