
CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK
Bab 3
“Loh, kamu kenapa di sini” tanya Rusdi pada sosok perempuan yang sedang meneduh di lobby gedung sekretariat yayasan yang dipimpinnya.
“Iya Pak, tadi habis mengembalikan buku pada Pak Gilbert. Ngobrol lama eh hujan. Pak Gilbert nya barusan pulang.” Perempuan itu adalah Wati pegawai baru bagian umum yang seharusnya beda gedung dengan Rusdi.
“Kamu kenapa masih berteduh di sini?” tanya Rusdi bingung. Hari hampir maghrib.
“Saya lupa tadi enggak bawa motor, biasanya saya pakai motor jadi saya nunggu sampai hujan agak reda baru mau pesan ojek online,” jawab Wati lancar tanpa kesan berbohong. Rusdi adalah seorang yang welas asih. Dia tentu bertanya agar bisa ada yang menemani atau mengantar karyawan nya itu.
“Memang kamu arahnya ke mana?” tanya Rusdi, entah mengapa dia bisa tidak ketus pada Wati kali ini. Mungkin karena kasihan sudah sore dan hujan lebat.
“Ke arah Jalan Penang Pak,” jawab Wati.
“Lho itu saya lewati, kamu ikut saya aja. Saya akan turunkan kamu di dekat arah rumahmu. Saya tak akan antar sampai rumah,” Rusdi tentu menjaga agar tak ada salah paham bila ada yang melihat dia mengantarkan karyawan hingga di rumahnya.
“Wah tidak usah Pak, nanti merepotkan,” tampik Wati basa basi.
“Enggak merepotkan karena hanya sampai tempat terdekat dengan rumahmu, bukan sampai rumahmu. Itu hanya sekadar kelewatan saja. Dan hanya satu kali ini saja bukan untuk tiap hari,” jawab Rusdi saat melihat mobil nya sudah sampai di lobby, diambil kan oleh satpam seperti kebiasaannya setiap hari.
Rusdi memang tak menggunakan jasa sopir bila hanya kegiatan rutin sehari-hari. Rusdi lebih suka bawa mobil sendiri. Tak membebani orang. Bukan tak mampu menggaji.
Tak banyak yang dibicarakan dalam mobil dan seperti yang tadi Rusdi katakan, dia menurunkan Wati di halte dekat rumah kost nya. Tidak belok kiri ke arah rumah kost Wati walau masih jalan besar. Rumah Rusdi masih lurus dan dia tak mau direpotkan orang.
Yang Rusdi tak habis pikir, entah bagaimana Rusdi memberikan nomor ponselnya pada Wati. Dia pikir semua karyawan nya juga banyak yang punya nomor ponselnya. Kalau tak dia kasih juga Wati akan dapatkan dari karyawan lainnya. Itu saja pikiran Rusdi saat itu.
***
‘Terima kasih ya Pak saya sudah dianterin dengan selamat,’ itu pesan pertama dari Wati. Rusdi tidak menjawab karena merasa tak perlu menjawab walau hanya bilang sama-sama atau kata-kata basa basi lainnya.
‘Ngapain dia kirim pesan? Kan sebelum turun tadi dia sudah bilang terima kasih?’
Rusdi langsung meletakkan ponselnya dan tak mau peduli lagi pada pesan yang Wati kirim. Dia tak minat berbalas pesan. Dengan tunangannya pun dia biasa langsung telepon. Mereka berbalas pesan bila jam sibuk takut ganggu jam kuliah atau meeting. Biasanya juga kirim pesan hanya tanya bisa telepon atau enggak. Bukan kirim pesan lebay tanya sudah makan belum? Sudah salat belum atau saling ucap selamat pagi atau selamat tidur seperti pacaran jarak jauh pada umumnya.
Sehabis bersih-bersih badan, makan malam juga salat, Rusdi langsung menghubungi Gita di Bandung. Mereka rutin melakukan komunikasi setiap malam. Mereka bertukar info apa yang telah mereka lakukan hari ini juga rencana kegiatan mereka esok hari.
“A’ siapa pengganti bu Puji?’” tanya Gita pada calon suaminya. Sehabis Gita wisuda S2 memang mereka akan menikah.
“A’a enggak cari pengganti. Cukup Diah dan Gilbert aja lah,” balas Rusdi.
“Ada pegawai baru, tapi A’a minta ke pak Mahmud suruh taruh bagian umum aja. Kalau bagian sekretariat dikasih orang baru, kan jadi acak-acakan. Kalau bagian sekretariat butuh orang, ya nanti ambil dari bagian umum yang sudah senior, bukan orang baru,” jelas Rusdi.
***
‘Selamat pagi Pak. Semoga hari ini hari yang indah dan Bapak selalu sehat untuk menjalani hari indah ini,’ Rusdi bingung pagi-pagi ada sapaan selamat pagi selain dari calon istrinya.
Calon istri saja tidak lebay seperti ini. Gita biasa hanya bilang dia telah tiba di kampus atau kegiatan lainnya. Bukan sapaan selamat pagi, siang atau malam seperti yang pegawai barunya ini lakukan.
‘Ngapain sih ni anak?’ Rusdi masih tak ingat tadi malam dia kasih nomor ponsel milikya gara-gara bicara apa. Rusdi malah lupa mengapa dia bisa memberikan nomor telepon pada Wati..
Rusdi memang benar lupa memberikan nomor ponsel pada Wati untuk alasan apa, benar-benar blank.
“Sarapan dulu atuh Kasep,” sang AMAH, mamanya Rusdi menegur Rusdi yang membaca pesan saat di meja makan.
Ini pertama kalinya Rusdi ditegur membaca pesan saat sarapan. Biasanya dia tak pernah, karena Gita dan dirinya memang bukan yang hobby berbalas pesan.
“Iya Mah,” Rusdi meletakkan kembali ponselnya dan berbincang dengan APA’ atau papa serta mamanya. Rusdi memang masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Tapi semua tahu begitu menikah nanti Rusdi akan pindah ke rumah yang sudah dia bangun. Tak jauh dari rumah kedua orang tuanya ini.
***
“Ada apa?” tanya Rusdi heran ketika dia sedang memperhatikan berkas di ruangan nya ada telepon dari Wati.
“Kenapa kamu berani menelepon saya?” belum juga Wati menjawab Rusdi melanjutkan pertanyaan lagi.
“Maaf, maaf Pak. Ini bu Diah terjatuh dari motor,” jawab Wati.
“Lalu kenapa kamu telepon saya? Kan di situ banyak orang? Minta bantuan orang sekitar lah. Kenapa saya yang dihubungi?” Rusdi jelas tak mengerti mengapa dia dihubungi karena Diah terjatuh dari motor.
“Saya kasihan aja Pak, orang terdekat bu Diah yang saya kenal, kan cuma Bapak,” jawab Wati tanpa merasa bersalah.
“Cari orang lain,” kata Rusdi cepat. Rusdi bingung, ada apa sih sama Wati ini kok selalu menghubungi dia.
Dan kenapa Diah bisa jatuh dari motor? Sedangkan Diah itu ke kantor naik mobil. Aneh kan?
***
“Anda kayaknya perlu re-posisi atau apalah karyawan baru hasil rekrutanmu terakhir deh pak Mahmud,” Rusdi langsung menghubungi kepala HRD karena terganggu dengan kelakuan Wati.
Bahkan sekelas pak Mahmud saja tak berani langsung menghubungi nya saat jam kerja membahas hal yang bukan masalah kerjaan. Diah jatuh dari motor kan bukan urusan kepala yayasan walau Diah adalah sekretarisnya.
“Ada apalagi Pak?” jawab pak Mahmud bingung.
“Saya bingung mau bersikap bagaimana pak Mahmud. Ini juga baru kali ini saya alami. Wati pegawai baru tiba-tiba menelepon saya. Ini belum jam istirahat, masih jam kerja dia berani menghubungi saya cuma bilang katanya Diah jatuh dari motor. Pak Mahmud tahu kan Diah itu kerja naik mobil. Bagaimana Diah jatuh dari motor?”
“Bagaimana caranya anda ultimatum dia atau anda pecat dia. Saya tidak mau tahu,” jelas Rusdi kesal.
Untung saat ditelepon tadi dia sedang ada di ruangan nya bukan sedang meeting. Kalau sedang dengan tamu kan tidak sopan tidak menjawab telepon masuk.
Diah atau Gilbert tak pernah menggunakan telepon selular bila urusan pekerjaan dalam yayasan, kecuali mereka sedang tak di kantor. Gilbert dan Diah akan menghubungi dengan nomor sekretariat sehingga Rusdi tahu apa bahwa itu adalah telepon kerja. Tidak asal telepon seperti yang Wati lakukan barusan.
***
Anda Mungkin Juga Suka





